Ch 7. NEW YEARS PARTY

1787 Kata
Brittany's POV Tidak ada sepatah kata yang terlontarkan di antara Aku dan Kak Greg saat briefing. Aku hanya diam mendengarkan arahan dari panitia dan pura-pura membaca skrip rundown acara di tanganku, mencoba mengingatnya secepat mungkin. Aku sempat memberanikan diri mencuri pandang ke arahnya, ekspresi Kak Greg datar seperti sama sekali tak antusias untuk berada disini. Mungkin itu juga alasannya bermalas-malasan datang ke acara ini. Acara small gathering ini diadakan di sebuah Mall pusat kota. Meskipun tempatnya kecil tapi hatiku bergetar dan telingaku rasanya sakit mendengar suara bising sorak sorai fan yang melihatku di panggung. Berbeda dengan fans yang datang ke fanmeet kami di luar negeri dan harus mebayar tiket masuk, acara ini gratis karena itu pengunjung yang datang le tempat ini membludak. Aku sangat terharu dengan antusias mereka hanya untuk bertemu denganku. Kebisingan itu semakin menjadi saat Kak Greg satu panggung denganku. Melihat sambutan fans yang begitu luar biasa saat melihat kami berdua membuat rasa takut dan khawatirku seketika sirna. Aku memberanikan diri beraksi di luar skrip yaitu dengan bercanda dan bertingkah konyol dengan sang MC. Seperti biasa Kak Greg dengan image-nya yang kalem hanya merespon tantangan konyol itu seadanya, tapi cukup membuat fans kami berteriak histeris dan menganggapnya sebagai momen yang lucu. Siapapun tidak ada yang bisa menebak mood pria yang katanya bipolar ini, tapi bagaimanapun aku harus bersyukur karena acara berjalan lancar tanpa kendala berarti. *** Beberapa jam selanjutnya saat hari sudah malam, acara berpindah tempat ke sebuah stadium olahraga terbesar di area Senayan Jakarta, disana kami akan ikut serta dalam acara konser tahun baru yang disiarkan langsung oleh stasiun TV swasta. Seluruh team casting dari dari film kami sudah berganti dress code dari baju berwarna pink ke setelan baju warna biru. Make up dan gaya rambutku sudah ditata ulang sehingga penampilanku berbeda dengan tadi sore menjadi sedikit sporty. Sesampainya di sana mataku terkesima karena tidak hanya artis pendatang baru sepertiku saja yang hadir di acara ini melainkan selebritis papan atas, merekalah yang menjadi sebagai bintang utama acara ini. Berada di tengah para selebritis papan atas itu membuatku gugup, mereka datang dengan penampilan berbeda. Di saat aku dan team hanya diberi tahu panitia untuk memakai fashion yang trendi, mereka malah datang dengan setelan formal gaun mewah dan setelan tuxedo seolah ingin memperlihatkan perbedaan kelas. Rasa gugup membuatku sengaja menempel terus pada Kak Simon seperti anak ayam pada induknya. “Kau kenapa, Brie?” Tanyanya saat aku tanpa sadar telah menggenggam erat tangannya. “I’m so nervous, Kak! Aku jadi ingin pipis!” jawabku jujur. Mungkin kedengarannya menggelikan dan kekanakkan tapi entah kenapa sejak kejadian mengerikan di Tianjin itu aku jadi memiliki rasa ketakutan untuk pergi ke toilet sendirian. “Lalu? Apa kau mau ke toilet? Apa perlu kuceboki? Kenapa kau tidak pakai popok saja!” “YAH, KAK SIMON!” Aku tanpa sadar berteriak kencang hingga tak sengaja menarik perhatian semua orang. Wajahku memerah karena malu namun berubah pucat saat mendengar suara familiar itu. "Apa kau bisa berhenti bercanda!" Suara dingin Kak Greg di telingaku membuatku tersentak, jantungku rasanya berhenti berdetak terutama saat merasakan tangannya meraih pundakku. Adegan kebrutalan yang dia lakukan di malam itu muncul di ingatanku. Mataku kembali berair, aku tidak menjawabnya hanya melempar senyuman terpaksa karena sadar banyak kamera yang merekam interaksi kami. Aku mencoba mengalihkan perhatianku pada hal lain selain tangannya yang terasa seperti bara api panas di pundakku. 'Lelaki seperti itu tidak berhak kau tangisi, Brie! Tidak ada yang perlu ditakuti darinya.' Kalimat itu ku ulang-ulang terus dikepalaku untuk mengenyahkan dirinya dari dalam pikiranku. "5... 4... 3... 2... 1 HAPPY NEW YEAR! SELAMAT TAHUN BARU! WOOOOO!!!" Suara ledakan kembang api diatas langit gelap kota Jakarta gegap gempita, dibarengi dengan suara terompet dari ribuan massa yang memadati venue acara ini. Aku terkesima menatap langit yang dipenuhi dengan ledakan kembang api, begitu indah dan artistik. Air mata tanpa sengaja memenuhi mataku dan membuat pandanganku sedikit kabur. Malam yang begitu indah untuk perasaan hati yang kacau balau. Tapi bagaimanapun aku harus bersyukur karena tahun kemarin adalah tahun yang baik untuk karirku dimana aku bisa mencapai kesuksesan seperti ini. Aku sendiri masih tidak menyangka ini bisa terjadi. Begitu banyak aktris cantik dan seksi di dunia entertainment ini, sedangkan aku hanya gadis yang mengandalkan wajah baby face yang menurut sebagian orang imut. Tapi saat ini aku tidak peduli lagi dengan anggapan itu, justru aku menjadikan hal ini sebagai kelebihan yang aku miliki. "Brie! Selamat tahun baru! Sukses terus ya cantik!" Ucapan Kak Simon lagi-lagi membuyarkan lamunanku, dia memelukku erat sambil mengucapkan kalimat yang tidak bisa kudengar saking berisiknya. Dia lanjut memeluk semua orang yang dikenalnya satu persatu, sedangkan aku seperti anak kecil malah kembali larut dalam keindahan pemandangan kembang api di langit. "Brie!" Suara Kak Greg membuatku terperanjat dari posisiku, dia membuka lengannya seperti mengajak berpelukan. Tubuhku gemetar, aku tidak ingin memeluknya tapi tatapan semua orang dan juga kameramen yang melihat ke arah kami seolah sedang menunggu responku. Aku tidak ingin menimbulkan kecurigaan siapapun. Mungkin kedengarannya bodoh aku ingin memberitahukan pada lelaki ini bahwa kekejaman yang dia lakukan padaku sama sekali tak berefek padaku. Aku ingin terlihat kuat dan tegar. Dengan terpaksa aku membalas pelukannya dengan singkat dan memajang wajah senyuman palsu hadapan kamera. Malam sisa acara itu, aku habiskan dengan menatap langit yang masih dihiasi cahaya kembang api. Perasaanku campuraduk, aku harusnya membenci lelaki itu, tapi pelukan hangatnya yang singkat tadi menjalar dan menggetarkan hatiku lagi. Aku benar-benar lemah. Dalam kegalauan pikiranku menerawang jauh ke rumah, aku tiba-tiba jadi merindukan keluargaku terutama Mama dan Papa. Berbeda dengan Mama yang selalu mendukungku dan masih intens berhubungan denganku via telepon, Papa masih bersikap dingin padaku. Awalnya Papa tidak setuju saat aku berhenti sekolah dan memutuskan pergi ke kota besar sendirian hanya untuk menjadi aktor. Meskipun aku saat ini bisa dibilang sukses sebagai aktris pendatang baru tapi hingga saat ini Papa tidak pernah menyemangatiku atau bahkan mengucapkan selamat untukku. Aku ingin tahu apa reaksinya jika melihatku bermain dalam film dimana mengharuskanku berciuman panas dengan seorang aktor. Apalagi jika dia mengetahui kalau aku juga nyatanya sudah tidak perawan lagi dan sudah tidur dengan lelaki tanpa ikatan pernikahan bahkan ikatan cinta. Papaku yang berkebangsaan Amerika Serikat mungkin lahir dan tumbuh di negara yang sudah menganggap lumrah hal tersebut. Tapi tetap saja bukan berarti hal mudah bagiku untuk mengatakan hal semacam iini padanya. Terutama mengingat bagaimana dia membesarkanku sebagai putrinya yang innocent. Aku pikir tak ada seorang Ayah yang mau putrinya menjadi gadis yang murahan. Sedangkan saat ini aku sudah mengecewakannya. Aku bukanlah Brie gadis lugu polos penggemar film drama, sekarang aku adalah Brie yang penuh rahasia dan penuh drama. Beberapa jam kemudian setelah pesta kembang api malam tahun baru. "Huahm!" aku menguap lebar, bersandar manja pada sofa tepat disebelah Kak Simon yang terdengar masih sibuk dengan leluconnya diikuti gelak tawa rekan kru film yang lain. Sehabis menghadiri acara tahun baru, Om Oscar mengajak kami semua untuk merayakannya kembali sambil makan dan minum di sebuah bar & resto miliknya. Om Oscar sendiri bukan sekedar manager, dia adalah bos pemilik agensi tempat aku, Kak Simon dan Kak Citra bernaung, dia juga memproduseri film pertama kami dan turut andil dalam pemilihan cast di masa audisi. Karena itu untuk merayakan kesuksesan film ini di akhir tahun baru ini dia juga mengundang Kak Greg beserta managernya dan para kru film lainnya untuk menghabiskan malam di tempatnya. Beberapa gelas dan botol minuman keras berserakan di meja, dan bau pekat alkohol menguar di udara bersama dengan asap rokok yang mengepul di ruangan. Suara musik EDM berdentum keras hampir menulikan telinga, aku tidak tahu saat ini sudah jam berapa tapi situasi ini sudah berlangsung cukup lama dan aku mulai bosan karena aku bukan peminum, lagipula Om Oscar dan Kak Joana sudah mengingatkan agar aku hanya minum sedikit saja. Lagipula terakhir kalinya aku mabuk hal buruk terjadi, seperti tiba-tiba terbangun di tempat tidur bersama orang asing yang baru dikenal. Aku tidak ingin hal itu terulang kembali, cukup sekali saja dengan Kak Josh yang saat ini sedang aku coba hindari untuk tidak menemuinya lagi. Luka yang ditorehkan Kak Greg membuatku trauma untuk berhubungan intim dengan siapapun lagi, termasuk dengan Kak Josh. "Sekarang giliranmu Greg! Ayo pilih Truth or Dare!" seru Kak Simon dengan suara slengeannya, pria bertinggi kurus itu sudah tampak mabuk. Sebaliknya denganku mendengar nama Greg disebut membuat telingaku awas dan rasa mengantuk ku hilang seketika. "Truth" jawab Kak Greg singkat dengan wajah bersemu merah yang menunjukkan dirinya juga sudah mabuk. Rupanya mereka sedang bermain 'truth or dare' sambil memutar botol bir. "Apa perasaanmu pada gadis di sebelahku ini?!" celetuk Kak Simon sambil tiba-tiba merangkul pundakku. “Uuh, ciee ciee, Ehm! Baby Brie! Jangan pura-pura tidur! Sini dengarkan pengakuan Adonismu!” Kak Citra dan Kak Tia bersahutan menggodaku, sedangkan Kak David yang memang paling pendiam sedari tadi hanya duduk dipojok dan menonton sambil tertawa geli. Ya selain Kak Greg, Kak Simon dan Kak Citra, masih ada dua orang lagi aktor lagi yang menjadi pemeran dalam film Fever of Love bersamaku, mereka adalah Kak Tiara dan Kak David. Sebenarnya karakterku dalam film hanya sebagai peran figuran, yang menjadi tokoh utama film itu sebenarnya adalah Kak Simon dan Kak Citra, hanya saja adegan yang cukup panas antara karakterku dan Kak Greg seolah mencuri spotlight dari karakter utama. Aku sendiri tidak tahu mengapa itu bisa terjadi. Aktingku biasa saja bahkan bisa dibilang masih kaku dan amatir. Tapi mungkin karena adegan yang kami lakukan bisa dibilang kontroversial di negara ini, mereka otomatis jatuh cinta pada karakter kami dimana saat itu kami berperan sebagai Aphrodite dan Adonis. "Perasaan? Tentu saja tidak ada perasaan apa-apa... kita hanya teman, benarkan?" jawab Kak Greg yang sekarang tatapannya mengarah padaku, senyuman palsu yang tersungging dibibirnya membuatku merasa muak. "HUUU BOHONG! Kau harus minum karena sudah berbohong!" Seru Kak Simon seraya memberi satu botol penuh bir pada Kak Greg yang malah balas menatapnya kebingungan. "Heh, apa maksudnya aku berbohong?" Kak Greg tertawa kecil, sepertinya menganggap semua ini adalah lelucon. "Yakin kau jujur dengan jawabanmu?" tanya Kak Simon lagi dengan nada meledek. "Lalu... bagaimana perasaanmu jika kau melihat ini!" 'What-The?' Aku tersentak dan tubuhku kembali mematung. Tidak tahu apa yang ada di otak Kak Simon yang sedang mabuk saat itu, tapi yang terjadi selanjutnya dia menarik wajahku dan... 'Mmchh...' Mataku terbelalak lebar saat merasakan bibirnya mendarat tepat di bibirku. Tanpa peringatan lelaki yang sudah kuanggap sebagai kakak kandung sendiri ini menciumku dihadapan semua orang. Meskipun dia tidak menggunakan lidahnya tapi bau alkohol yang menyengat dari mulutnya cukup membuat wajahku memerah dan perutku serasa bergolak ingin muntah. "WHOAAAA! KYAAAA!" Aku mendengar suara Kak Citra dan Kak Tia serta pengunjung klub malam yang lain riuh rendah menyoraki adegan ciuman kami. Tubuhku rasanya lemas seperti tidak ada tenaga dan hanya terduduk kembali di sofa saat Kak Simon melepaskan wajahku, seringai musang tergambar jelas diwajahnya, tapi yang terjadi berikutnya sungguh tidak terduga. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN