Ch 6. STUPID GAME

1794 Kata
Josh pikir malam yang panas ini juga akan berakhir seperti malam yang biasa. Tidak peduli siapapun nama yang disebut Brie saat mencapai klimaksnya yang penting nafsunya sudah tersalurkan. Lagipula gadis ini ternyata bukan perawan, meskipun tampangnya imut dan tak berdosa tapi dari aksinya yang sangat vokal dan bahkan bisa dibilang lumayan binal di tempat tidur Josh bisa menebak jika Brie sudah cukup berpengelaman ditiduri pria. Hanya saja Josh tidak mengira jika nama yang disebut gadis ini adalah Greg. Rekannya sesama model yang dia kenal sebagai seorang playboy. Apakah gadis ini ada perasaan khusus pada lawan mainnya di film? Apakah mereka pernah tidur bersama? Josh hanya tersenyum geli, hal yang baru diketahuinya ini baginya sungguh lucu dan menarik. Di sebuah Klub Malam di Kota Jakarta Suara musik EDM menggema diseluruh ruangan diskotik, lantai dansa sudah penuh dengan orang-orang yang menari berdempetan dan tanpa malu b******u dengan pasangan masing-masing. Klub malam di Jakarta memang tidak kalah liar dengan klub-klub di luar negeri. Ya beginilah kehidupan kaum hedonis di ibukota, pemandangan yang sudah biasa bagi Josh dan bisa dibilang menjadi rutinitas malamnya sehari-hari. "Ayo lah, babe! Udah lama kita tidak berkencan, apa kau sudah lupa padaku, huh?" rayu seorang gadis bermake up tebal yang sedari tadi duduk disebelah Josh. Dia bersender dan bergelayut mesra ke lengan kekarnya. Josh yang sedang duduk di bar sambil menikmati minumannya merasa terganggu oleh ulah dan kehadirannya. "Maaf, aku sedang tak selera..." jawab Josh enteng sembari menepis tangan wanita itu dari tubuhnya. "Uuh, kenapa sih?! Jangan bilang kau sedang terkena demam Brie? Sejak acara natal itu kau jadi aneh! Padahal aku bisa memberimu service lebih daripada gadis ingusan itu..." bujuk gadis itu sembari memamerkan buah dadanya yang besar dan kencang. "Kau ini bicara apa?! Kalau aku tak mau jangan memaksa!" Bentak Josh tiba-tiba sembari membanting gelas birnya di meja dan mengagetkan gadis genit disebelahnya. Suasana hati Josh sungguh sangat buruk saat ini, entah kenapa semenjak terakhir kali dia menghubungi Brie saat acara fanmeet di Tianjin, Josh sulit untuk menghubunginya kembali. Gadis itu seolah hilang ditelan bumi. Tapi kenapa juga Josh harus merasa khawatir, sejak awal dia memang tidak pernah serius dengannya kan? Brie hanya salah satu dari sekian partner one night stand Josh, atau bisa dibilang hanya s*x buddies. Namun entah kenapa hingga saat ini Josh tidak bisa melupakan wajah cantik gadis itu dari ingatannya, bahkan saat dia tidur dengan orang lain. Apa dia sudah mulai gila? Atau dia sudah mulai terjebak asmara? "Hey, Josh apa kabar!" Suara dengan nada dingin monoton yang menyapa membuat bulu kuduk Josh merinding seketika. "Eh, Kak Greg kau disini juga rupanya..." sapa Josh dengan senyum ramah yang kaku. Dia berusaha akrab sekaligus menjaga formalitas dengan Greg karena meskipun postur mereka sepantaran, Greg masih setahun lebih tua darinya dan juga senior dibidang modeling, karenanya Josh memanggilnya dengan sebutan Kakak. "Kenapa kaget? Apa kau tidak suka melihatku?" Alis Greg terangkat satu dan masih menatap Josh dengan tatapan tajam, tanpa diundang malah duduk di sampingnya di bar dan memesan sebotol Jack Daniels pada bartender. "Oh, tumben kau datang sendiri Kak? Mana Kak Cheryl??" Josh mencoba memecahkan suasana yang canggung dengan sedikit basa-basi. "Kami sudah putus." Jawaban Greg yang pendek dan terkesan ketus malah membuat suasana semakin canggung. Josh melirik dari sudut matanya cara pria itu minum seperti yang sedang mengalami bad mood. "Oh, sorry! Aku tidak tahu kabar itu! Aku turut berduka cita mendengarnya, Kak! Tapi tidak perlu khawatir, orang ganteng sepertimu pasti mudah mencari gantinya, benar kan?" Josh tertawa kecil mencoba sedikit bercanda sekaligus menghibur tapi sayangnya ekspresi Greg tetap datar. Tanpa bicara sepatah kata, Greg malah dengan tenang dia meneguk botol birnya sampai habis. Gadis genit yang tadi duduk di sebelah Josh hanya terdiam memperhatikan interaksi kedua pria tampan itu dengan penasaran. "Apa kau masih sering berhubungan dengan Brie?" Pertanyaan Greg yang tiba-tiba dan topik pembicaraannya yang berubah haluan membuat Josh terheran. "Oh soal itu! Aku sering mencoba menelpon dan mengirimnya pesan tapi tidak pernah dijawab, mungkin karena dia sibuk. Memangnya kenapa, Kak?" Josh balik bertanya. "Sebaiknya kau hentikan itu." Sekali lagi reaksi Greg sangat tidak terduga, jawaban yang dingin membuat hati Josh bertanya curiga. "Maksudmu apa, Kak?" Josh menatap Greg dengan penuh tanya, senyuman terpaksa tersungging di bibirnya. Alih-alih menjawab, Greg malah beranjak dari bangkunya. Telapak tangannya mendarat di bahu Josh sebelum kemudian dia mendekatkan wajahnya ke telinga pemuda itu dan berbisik. "Karena apapun rencanamu padanya, kau tidak akan pernah berhasil. Camkan itu!" Itu adalah kalimat terakhir yang dikatakan Greg sebelum dia berlalu pergi. Josh masih tertegun menatap pungung Greg yang perlahan menghilang dibalik lautan orang-orang yang menari berjingkrak di lantai dansa. Suara lagu EDM yang berisik tidak terdengar lagi oleh Josh, yang tersisa hanya kata-kata Greg yang terngiang di telinganya. Apa maksudnya ini? Apa Greg sudah tahu semuanya? Apa dia memiliki perasaan juga pada gadis itu? Tapi bagaimana juga dengan perasaannya sendiri pada Brie? Begitu banyak pertanyaan muncul dalam benak Josh, batinnya kini mulai berkecamuk. ‘Apa peduliku? Memangnya aku suka pada Brie? Well, iya sih tapi kan hanya suka tidak lebih...’ pikir Josh sambil mengedikkan bahunya berusaha mengenyahkan pikiran liarnya. *** Brittany’s POV 31 Desember 20XX Delapan jam lagi menuju pukul 00.00, aku menarik nafas dalam saat terduduk di kursi rias, dengan pasrahnya membiarkan make up artist Kak Tony memoles wajahku. Terdengar suara bising hiruk pikuk di luar salon karena ulah fans yang tidak sabar menunggu hanya sekedar untuk melihat atau mengambil fotoku. "Coba perlihatkan dahinya, dek? Uuh luas sekali, kita bisa main golf disini!" "Aargh, JANGAAAN!!" Aku yang panik spontan berteriak kekanakkan sambil menutupi jidat lebarku dengan tangan. Gelak tawa orang-orang yang berada salon terdengar riuh. Om Oscar yang merupakan manajer sekaligus bosku hanya menggeleng kepala melihat tingkahku yang kekanakan. Lagi-lagi Kak Tony dengan usilnya memajang reaksi konyolku di instastory. Dia senang sekali menggoda dan memperlakukanku seperti anak kecil. Bisa dibilang hampir semua orang dewasa yang bekerja disekitarku selalu memperlakukanku bak anak kecil. Tapi aku sudah terbiasa dan aku menikmatinya karena aku pikir itu adalah bentuk kasih sayang mereka padaku. Aku sering merepotkan mereka karena itu aku selalu berusaha menunjukkan sifat riang agar mereka tak perlu mengkhawatirkanku. Ya dengan begitu tidak ada yang tahu isi hatiku yang sebenarnya. The loneliest people are the kindest. The saddest people smile the brightest. Kalimat itu sangat menggambarkan tentang diriku. Aku pikir diriku bukanlah seorang terpelajar seperti senior yang lain yang mengenyam bangku kuliah ataupun sudah lulus kuliah. Hingga saat ini di sela kesibukanku aku masih mencoba menyelesaikan sekolahku yang sempat drop out karena nekat kutinggalkan demi terjun ke dunia entertainment. Kutipan itu hanya kutemukan di google, tapi itu ada benarnya juga, karena saat ini aku mulai merasakannya. Bekerja di dunia entertainment ini begitu lelah dan menyiksa, tak hanya fisik tapi juga mental. Pekerjaan ini mengharuskanku untuk memasang senyum manis di depan kamera dan berakting ceria. Tidak ada yang mengetahui saat hatiku ingin menangis dan berteriak, tapi di antara semuanya mungkin ada satu orang yang tidak bisa ku kelabui. "Hei, gendut! Sudah siap?" Suara Kak Simon membuyarkan lamunanku. Saat aku menoleh dia sudah berdiri di belakangku dan menatapku dengan ekspresi jahil khasnya. "Ck, Brie... berhentilah bercermin! Kau ini sudah cantik tapi kacanya bisa tidak muat oleh pipimu yang gembil!" Godanya lagi sambil mencubit keras kedua pipiku dan menariknya ke arah yang berlawanan. Rasa sakitnya tentu saja membuatku otomatis mengaduh dan berteriak keras. "AAARGH!” “SIMON HENTIKAN! Jangan hancurkan make upnya! Apa kau tahu aku sudah 3 jam merias gadis pecicilan yang tak bisa diam ini?!” Kak Tonny membentak dan menghardik tangan Kak Simon sebelum lanjut mengomelinya panjang lebar. “I-iya, maaf Kak!” Kak Simon terlihat menunduk malu dan tampak menyesal. Melihatnya dimarahi seperti itu aku jadi tak bisa menahan menggelika, tidak perlu aku yang membalas ‘senjata sudah makan tuan’. “Kak Simon aku lapar, punya makanan tidak?" Celetukku tiba-tiba saat mendengar perutku bersuara. Kami berdua masih duduk di kamar rias menunggu giliran Kak Citra yang sedang didandani. "Makan terus yang diotakmu, dasar gembul! Nih!" Gerutu Kak Simon sambil menyuapi sebungkus permen ke mulutku langsung dengan plastiknya. “HUEK! Apa-apaan ini?!” Aku spontan tersedak sedangkan Kak Simon malah tergelak, kami kembali bertengkar seperti anjing dan kucing. “BERISIK! Kalian bisa diam tidak!? Aku sedang pakai kontak lens!” tegur Kak Citra pada kami berdua. Dia adalah aktris yang menjadi kekasih Kak Simon dalam film yang kebetulan kami perankan bersama. Semenjak audisi dan awal syuting aku merasa sudah akrab dengannya seperti keluarga, Kak Citra juga sudah terbiasa dengan tingkah usil dan kekanakkan kami berdua. Itulah hal yang paling aku suka dari Kak Simon dibanding cast yang lainnya. Meskipun jahil dan kata-katanya kasar saat bercanda, tapi sikapnya yang penuh perhatian seperti seorang kakak dan membuatku semakin lengket padanya. Semua kru film juga sudah memaklumi kelakuan kami berdua yang selalu tidak bisa serius saat dalam set. Seandainya saja hubungan pertemananku dengan Kak Greg juga seperti ini, murni persahabatan atau persaudaraan biasa tidak serumit seperti yang sekarang ini. Mengingat nama dan wajahnya saja membuat hatiku terasa berat dan nafasku sesak. Mimpi buruk itu kembali berputar di kepalaku. Tuhan! Aku mohon kuatkan lah hatiku saat bertemu dengannya! Aku menggigit bibirku dan berdoa dalam hati agar hari ini bisa bersikap seperti biasa di panggung. Setiap kali aku melihat wajahnya batinku kembali tersiksa tapi aku harus bertahan. Aku tahu jika pun aku ungkap skandal yang terjadi di antara kami ini pada publik, bukanlah keadilan yang akan aku dapatkan melainkan rasa malu dan caci maki. Fans Kak Greg jauh lebih banyak dibandingkan fansku, terutama setelah dia menandatangani kontrak untuk bergabung dalam proyek film mayor. Mereka tidak akan percaya betapa b***t perbuatan lelaki itu padaku, mereka akan tetap berpihak padanya dan menyalahkan kebodohanku dan pada akhirnya yang akan menderita tak hanya aku tapi juga keluargaku yang harus ikut menanggung malu. Beberapa menit kemudian, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu pun sudah tiba. Dengan kaos lengan panjang warna pink yang senada dengan baju yang ku pakai yang memang dresscode kami berdua yang disiapkan oleh team wardrobe. Seperti biasa Kak Greg selalu terlambat tapi beruntung tidak ada kru yang berani menegurnya. Dia adalah aktor pendatang baru tapi semua kru akui, sosoknya lah yang menjadi alasan dari popularitas film ini. Meskipun aktingnya bisa dibilang masih kaku, wajah tampan dan penampilannya yang sempurna bak seorang Adonis di dunia nyata, pesonanya menutupi kekurangan bakat aktingnya. “Hai guys, maaf aku terlambat! Jalanan macet!" Kak Greg tersenyum cerah dan menyapa kepada semua kru yang sudah menunggu, dia datang bersama Kak Eddy, asisten manajernya yang tampak sibuk membawa tas perlengkapannya. Jantungku berdegup semakin kencang saat tatapan kami tak sengaja beradu. Batinku ingin berteriak keras, memaki dan mengumpatnya namun yang bisa aku lakukan hanya diam dan gemetar. Aku menolehkan wajahku ke arah lain, berpura-pura mengacuhkannya dan kembali mengajak Kak Simon bercanda. Beruntung Kak Simon seperti bisa membaca ekspresiku, dia meladeni candaanku dan kembali membuatku tertawa dengan leluconnya, meskipun tawaku hanya palsu. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN