Pintu lift terbuka, harusnya Barra segera masuk ke dalam untuk menuju lantai atas tetapi dia tidak jadi masuk karena melihat Belvina yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Gadis itu belum menyadari keberadaan Barra karena dia sedang memainkan ponselnya. Barra menjauh dari pintu lift dan memilih menunggu lift berikutnya agar bisa bersama Belvina. Ketika Belvina sudah berada di dekatnya, Barra memasang wajah ketus dan sikap dinginnya. “ Selamat pagi, Mr. Barra. “ Sapa Belvina seraya memasukkan ponselnya kedalam tas. “ Pagi. “ Jawab Barra dengan ekspresi datar, ia memasukkan kedua tangan kedalam sakunya agar terlihat cool. “ Lagi nunggu lift ya? “ tanya Belvina basa – basi, tapi malah terdengar bodoh. Barra menoleh. “ Lagi nunggu angkot. “ Jawabnya. Belvina menaha

