Pintu ruangan Barra sudah terbuka, Belvina pun berjalan masuk mendekati Barra yang kini duduk di kursinya dengan raut wajah penuh amarah. Kedua tangannya yang terkepal dia letakan di atas meja, matanya menyoroti wajah Belvina yang semakin mendekat ke arahnya. “ Mr. Barra? saya ketuk pintunya berkali – kali kenapa tidak direspon? “ Belvina terlihat santai saja, ia duduk didepan Barra yang kini terdiam. “ Saya kesini mau bilang terimakasih karena gaji saya full dan tidak dipotong 20%, padahal saya masuk bukan dari awal bulan. “ Bibirnya melengkung membentuk senyuman. “ Semoga Allah membalas kebaikan Mr. Barra. “ Ungkapnya. Barra diam tidak merespon. Tatapan nya semakin menajam tetapi Belvina masih juga tidak mengerti, gadis itu terus saja bicara. “ Oh iya, saya juga mau ngomo

