Kunaiki satu persatu anak tangga. Menuju kamar Rachel. Hari ini dia tidak menelponku saat jam pulang seperti biasa. Pintu kamarnya sedikit terbuka. Berarti Rachel sudah pulang. Ada suara orang menangis sesenggukan di dalam selimut. Ruangan terasa dingin karena pendingin udara sementara lampunya tidak dinyalakan. Gelap. "Chel, Rachel?" Aku yakin sih kalau itu Rachel. Tapi entah kenapa kalau suasananya begini, gelap dan ada suara orang menangis yang bersembunyi di dalam selimut jadi teringat film horor. "Chel, lu udah pulang?" tanyaku lagi. "Udah," jawabnya di tengah suara sesenggukan. Kunyalakan lampu. Rachel menurunkan selimutnya sebatas kepala dan menampakkan wajah. Segera kututup pintu lalu menguncinya. "Ya Allah Chel, lu nangis dari jam berapa? Mata sampai bengkak begitu?" "Gue t

