Sepanjang jalan aku tak banyak bicara. Banyu fokus menyetir dan sesekali ia melirik petunjuk jalan di aplikasi.
"Ini bukan, jalan masuk kosnya San?" tanya Banyu ketika kami hampir sampai.
Kuperhatikan lagi dengan teliti rumah-rumah dan bangunan disekitarnya.
"I-ya sih kayaknya. Kalau lihat di aplikasi sih benar."
"Lah kamu ini San, jalan pulang ke kos saja belum hapal nekat mau pulang sendiri. Kalau dibawa kabur sama tukang ojek gimana?"
"Hahahaha," aku reflek tertawa mendengar kalimat Banyu.
Banyu tersenyum. "Kamu cantik banget kalau ketawa gitu."
Dasar. Belum apa-apa gombalnya sudah mulai.
"Udah ah, fokus nyetirnya, sebentar lagi sampai." kataku.
Kuperhatikan sekali lagi bentuk rumah-rumah yang kami lalui. Jalanan komplek ini masih membuatku terkecoh. Kalai tidak dibantu aplikasi bisa-bisa nyasar lagi.
"Nah yang itu rumahnya," aku menunjuk ke sebuah rumah kos yang berjarak tak begitu jauh dari posisi kami.
Banyu melambatkan laju mobilnya. Mobil berhenti sempurna.
"Yakin gak salah rumah?" ledeknya sambil tertawa jail.
"Yakin lah, tuh baca aja 'rumah kos putri'." Aku menunjuk tulisan yang terpasang di gerbang.
Banyu malah tertawa keras. "Hahahaha,"
"Ih, kok ketawa sih?"
"Aku juga udah lihat tulisan itu Sandra, tapi emang kamu gak nyadar? Sepanjang jalan ini udah berapa rumah yang ada tulisannya kayak gitu? Komplek ini banyak rumah kos. Makannya aku tanya, kamu yakin gak nyasar?" jelasnya setelah tawanya reda.
"Bener kok, itu lihat aja di aplikasinya berhenti kan di titik ini?"
"Hahaha, kamu memang benar-benar polos ya San. Ya sudah kalau gitu aku antar cukup sampai sini aja ya. Atau mau diantar sampai masuk rumah?"
"Gak gak usah," sahutku cepat.
"Tenang aja aku gak gitu kok. Aku mengantar kamu cuma pengen memastikan kamu sampai rumah kos dengan aman dan selamat."
Hmm, semoga saja kata-katanya barusan benar-benar tulus.
"Iya, thank banget ya Nyu, dari pagi aku udah banyak banget ngerepotin."
"Ssst," Banyu meletakkan telunjuk di depan mulutnya. "Gak ada yang merasa direpotkan. Anytime kamu butuh bantuan aku siap."
Lah dia mulai gombal lagi.
"Ya udah, aku pamit dulu ya,"
tiba-tiba ponselku berdering. Rachel memanggil.
"Sorry bentar aku angkat telpon dulu. Ini temanku yang kos di sini," kataku. Banyu mengangguk.
"Hallo Chel, iya gue udah di depan."
"Lu kemana aja lama banget? Tadi waktu gue telpon kan lu udah di stasiun?" Rachel langsung nerocos.
Kalau naik mobil memang memakan waktu dua kali lebih lambat karena macet parah. Rachel pasti khawatir karena aku lambat tiba di kos.
"Iya nanti gue ceritain. Gue udah di depan kok. Udah ya," kuputus sambungan telepon Rachel. "Banyu, sekali lagi thank. Gue turun dulu ya, hati-hati di jalan." ucapku pada Banyu.
"Iya kamu juga baik-baik ya," balasnya.
Aku melangkah turun. Banyu membuka kaca jendela dan melambaikan tangan. Kubalas lambaian tangannya. Ia berlalu perlahan.
"Woi!" Rachel menepuk bahuku dari belakang dengan keras. Sontak aku terkejut.
"Ih, lu bikin kaget aja,"
"Eh, siapa itu? Lu pulang naik mobil itu? Bukannya tadi gue telpon lu udah di stasiun?" Rachel memandangi mobil Banyu yang masih terlihat meski kian menjauh.
"Ceritanya panjang nanti gue ceritain. Ayo masuk. Gue capek banget pengen istirahat."
Aku berjalan masuk sementara Rachel mengekor.
"Eh kaki lu kenapa? Kok jalannya gitu? Jatuh atau kenapa lu?" Rachel kembali nerocos ketika melihat aku berjalan dengan agak menyeret kakiku yang masih terasa sakit.
"Iya nanti gue ceritain semua. Sekarang gue mau mandi dulu."
***
Aku memeluk guling. Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB
"Hah? Sumpah apaan banget atasan lu kayak gitu?" Rachel melongo dan melotot setelah mendengar ceritaku tentang sosok Bu Yenti. "Aduh, bakalan betah gak lu? Kalau gue sih gak bakal kuat punya atasan killer kayak gitu."
Aku bercerita dengan mata yang sudah mengantuk karena lelah dengan semua aktivitas hari ini.
"Yah dibetah-betahin lah chel, gimana lagi."
"Tapi tadi, yang ngantar lu pulang siapa?" tanyanya penasaran.
"Banyu."
"Siapa? Banyu? Siapa tuh?"
"Chel gue cape banget. Kaki gue juga sakit. Besok aja ya ceritanya," mataku sudah semakin berat untuk dibuka.
"Gue penasaran, Sandra, San?" Samar-samar aku mendengar suara Rachel namun rasanya kesadaranku sudah pindah ke alam mimpi.