Diantar Pulang Banyu

705 Kata
Tepat pukul 17.00 WIB. Bu Yenti pulang melengos begitu saja lewat depan mejaku. Ah, peduli apa? Yang penting sekarang aku bisa segera pulang. "Mbak Sandra," panggil seorang driver ojek online. Kulihat plat nomor kendaraannya. Sama. Ok aku naik. "Stasiun ya Pak," "Ok Mbak," ia menyodorkan helm padaku. "Saya duluan ya Bu," aku pamit basa-basi pada Bu Yenti yang berdiri dua meter di sampingku. Bibirnya mencebik dan tak menjawab. Biar saja lah. Baru saja aku mengenakan helm tiba-tiba Banyu berlari mendekat. "Sandra tunggu," napasnya terengah-engah karena berlari. Bukannya langsung menjawab panggilan Banyu aju justru melirik ke Bu Yenti lebih dulu. Penasaran bagaimana ekspresinya. "Kenapa Banyu?" tanyaku. Bu Yenti buang muka pura-pura tak melihat. "Kamu mau pulang naik ojek?" "Iya," "Ke Stasiun?" "Iya," "San kaki kamu yang terkilir kan masih sakit." Duh, jangan bilang maksud Banyu mau menawarkan untuk mengantar pulang. Mana di depan Bu Yenti lagi. "Gak apa-apa kok," "Udah di cancel aja ya, aku antar kamu sampai kos. Kamu gak usah naik kereta." Ih, seenaknya saja Banyu ini. Kan kasihan driver ojek onlinenya kalau di cancel. Lagipula, memang Banyu ke kantor naik apa? Kan kos Rachel jauh. Kalau naik motor …. "Ya San, mau ya aku antar pulang?" "Eng, jangan deh Banyu gak enak," jawabku asal. "Gak enak? Gak enak sama siapa?" Mata Banyu menajam. "Maksud aku … gak enak kalau di cancel kasihan tukang ojeknya." Tidak mungkinkan aku bilang tidak enak sama Bu Yenti. "Tapi kan kaki kamu sakit," "Its ok kok, masih bisa buat jalan. Udah dulu ya kasian tukang ojek nunggu kelamaan. Bye," aku langsung naik ke atas motor dan minta pada driver ojek online agar segera memacu sepeda motornya. Akhirnya aku terlepas dari tatapan monster Bu Yenti. Kalau tadi aku menerima tawaran Banyu, bisa-bisa besok dia memberiku pekerjaan lembur sampai tengah malam. *** Setelah sedikit bermacet-macet kami akhirnya tiba di depan pintu gerbang Stasiun. "Terimakasih ya Pak," aku menyerahkan ongkos sekaligus helm. "Sama-sama Mbak," driver ojek lalu pergi. Kulihat arus manusia berbondong-bondong masuk. Langkahnya tidak ada yang santai. Semua berjalan cepat seolah takut tidak kebagian sesuatu. Hah? Ini sih lebih parah dari tadi pagi waktu berangkat. Aduh, apa tidak ada pilihan lain ya? Sebenarnya kakiku juga masih lumayan sakit. Drrrttt ...ponselku bergetar. Panggilan dari Rachel. Aku menepi supaya tidak tertabrak orang yang berbondong-bondong masuk. "Iya Chel," jawabku. "Lu udah di stasiun belum?" Suara Rachel bercampur hiruk pikuk keramaian ditambah suara bell khas stasiun kereta. "Udah. Lu juga udah di stasiun?" tanyaku agak kencang sambil menutup sebelah telinga. "Udah. Ya udah, kereta gue sebentar lagi datang. Lu hati-hati ya," Sambungan telepon terputus. Kumasukan lagi ponsel ke dalam tas. Kupegang tas erat-erat dan meletakkannya di bagian depan. Kata Rachel di Stasiun harus hati-hati dengan copet. "Sandra," seseorang memanggil ketika aku baru saja hendak melangkah ke loket untuk membeli tiket. "Banyu?" Sebutku ketika menoleh. Kenapa dia bisa ada di sini? dia mengikutiku? "Untung aku gak telat. Kalau kamu sudah masuk aku pasti susah carinya." "Kamu ngapain ke Stasiun?" tanyaku. Banyu tersenyum. "Aku cari kamu," Ih, maksudnya apa sih? "Tolong jangan ditolak lagi ya, aku khawatir karena kaki kamu yang terkilir masih sakit. Kamu lihat kan, naik kereta jam pulang kantor begini pasti penuh sesak. Kalau kamu gak lagi sakit kakinya, aku gak akan maksa kok. Tapi plis, ini buat kebaikan kamu," wajah Banyu meyakinkan sekali. "Tapi," memangnya naik kendaraan apa sih? "Ayo," ia menganggukan kepala seakan memberi kode agar aku mengikutinya. Dih Pede banget sih, aku kan belum bilang 'iya'. Banyu berjalan ke parkiran stasiun. Entah kenapa aku begitu saja mengekor. Ia berhenti di depan sebuah mobil berwarna putih. Lalu tiba-tiba membukakan pintu mobil itu untukku. "Silahkan Sandra," Hah? Jadi ini kendaraan Banyu? SUV Lexus keluaran terbaru. Oh My God! Sumpah ini mobil mahal. Jadi ceritanya tadi siang tentang kepemilikan saham di perusahaan itu benar? Hmm, pantas saja dia bisa tebar pesona sana-sini. "Sandra, silahkan masuk," ia mengagetkan aku yang tanpa sadar melongo. "Ha? Eng i-iya," aku duduk di dalamnya mengenakan seat belt dan Banyu duduk di kursi kemudi. Enak juga kalau setiap hari bisa diantar pulang mobil sekeren ini. Setidaknya aku cukup naik kereta sekali saja waktu berangkat. Oops! Aduh bicara apa aku barusan? 'Tidak Sandra, tidak!' Jangan mudah terlena!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN