Makan Siang Dengan Banyu

1018 Kata
"Silahkan Nona cantik," Banyu membukakan kursi untukku. Ruangan ini kosong. Bentuknya sama seperti ruang kerjaku. Luar untuk staf dan satu ruang khusus untuk manager. Sepertinya para staf Banyu sudah keluar makan siang. Ruangan Banyu lebih luas dari ruang Bu Yenti. Ada meja kerja, dan satu set meja dan kursi kosong. Sepertinya khusus untuk menerima tamu. Aku duduk di sana. Mataku meloncat berkeliling. Ruang ini dipenuhi bingkai piagam penghargaan dan foto-foto Banyu seorang diri. Narsis juga rupanya dia. "Terimakasih," ucapku. "Sebentar ya," Banyu melangkah ke meja kerjanya lalu menekan tombol telepon. "Hallo, Bu Darsih, lagi sibuk gak? Mau minta tolong dong. Tolong bawakan dua piring, gelas dan sendok juga ya, ke ruangan saya." Banyu kemudian duduk berhadapan denganku. "Sebentar ya, tunggu Bu Darsih ambilin piring sama gelas buat minum." Tak sampai lima menit terdengar suara ketukan pintu. "Permisi Pak Banyu." Bu Darsih melangkah masuk. "Ini Pak piring dan gelasnya." Ia meletakkannya di meja. "Terimakasih Bu," ujarku dan Banyu bersamaan. Kami lalu saling tersenyum. Entah kenapa tatapan Bu Darsih tak seramah tadi. Ia tampak kurang suka. Apa ada yang salah dengan keberadaanku di ruangan ini? "Permisi Pak, Mbak Sandra," Bu Darsih berlalu. Aku melihatnya melangkah tergesa-gesa kemudian menutup pintu. "Eng, Banyu, gak apa-apa nih kita makan berdua di ruang kerja kamu?" "Hahaha, kamu ini, masih takut sama peraturan Bu Yenti ya? Gak usah diambil hati. Biasalah, gak ada larangan makan di ruang kerja di kantor ini Sandra," Banyu berkelakar. "Maksud aku bukan gitu Banyu, tapi kita cuma berdua di ruangan ini. Takutnya orang mikir yang gak-gak," "Hahahaha, ya ampun kamu beneran polos banget Sandra," ia tertawa sampai deretan gigi putihnya terlihat. Sebenarnya Banyu ini tampan, tapi aku gak yakin dia baik seperti ini cuma sama aku. Mungkin semua Karyawan baru di kantor ini pernah dia kasih kurus modus macam ini. "Udah-udah ayo dibuka dulu makan siangnya, suka gak?" Banyu rupanya sudah menyiapkan menu yang sama untuk makan siangnya. "Makasih ya," ucapku. "Suka gak makan siangnya?" tanyanya lagi. "Suka. Kok bisa pas banget ya? Ini makanan kesukaan aku." "Oh iya? Wah kita sehati ya, ini juga makanan favorit aku lho," Tuh kan mulai gombalnya. "By the way, kamu udah lama kerja di kantor cabang Bandung?" "Hmm, udah. Sejak aku lulus kuliah." jawabku. "Jadi perusahaan ini tempat kerja pertama kamu?" "Hmm," aku mengangguk. Spaghetti nya enak juga, dimana dia beli ya? Banyu juga kelihatan lahap menyantapnya. "Kalau aku, ya kerja di sini hitung-hitung cari pengalaman aja," katanya setelah meneguk segelas air putih. "Aku lulusan luar negeri. Sebelumnya aku sudah pernah bekerja di beberapa perusahaan. Kamu lihat kan, piagam penghargaanku sudah berderet." Hmm, narsisme nya tinggi rupanya orang ini. "Dan yang perlu kamu tahu, aku punya saham cukup besar lho di perusahaan ini." Tuh kan, mode pamernya tambah 'on'. Kalau benar punya cukup banyak saham kenapa cuma jadi Manager? Gak Direktur sekalian? "Oh iya," aku terpaksa nyengir menyambut sederetan kalimat pamer darinya. "Kamu di sini tinggal sama siapa?" "Eng, oh aku koe sama teman." "Teman? Wah cepat dapat teman ya, dimana kamu kos?" Aduh dia mulai kepo. "Aku bukan cepat dapat teman tapi, temanku sudah lebih dulu tinggal di kota ini. Dia teman sekolahku. Jadi aku datang sementara menumpang kos di tempatnya." "Oh begitu? Jadi kamu belum punya tempat kos sendiri?" Rautnya penasaran. Aku menggeleng. "Belum," "Kos teman kamu dekat kantor ini?" "Gak," "Dimana?" tanyanya sekali lagi. Duh, kenapa dia makin kepo begini … aku beri tahu atau jangan? "Sandra?" Ia menaikkan alis. Tampak sekali penasaran menunggu jawaban. "Eng, jauh Banyu. Naik kereta empat puluh lima menit di sebelah kota ini." Kami terus mengobrol basa-basi. Sesekali Banyu menceritakan masa-masa kuliahnya di London. Meraih gelar master dengan predikat cumlaude. Sesekali ia bercerita tentang prestasinya di kantor ini. Aku seperti sedang mendengarkan dongeng sebelum tidur. Tidak apa-apalah, lumayan. Setidaknya ia baik. Tidak membuatku pusing seperti Bu Yenti. Tanpa terasa jam makan siang berakhir. Sayup-sayup kudengar diluar para staf Banyu sepertinya sudah kembali. "Kayaknya waktu istirahat udah habis deh, aku kembali ke ruangan dulu ya, thank banget makan siangnya." "It's ok, besok mau kan makan siang sama aku lagi?" "Hah?" Enak sih gratis, tapi …. "Permisi Pak Banyu," suara seorang staf mengetuk. "Ya sudah aku balik ke ruangan dulu ya, bye." Aku buru-buru pamit. Kakiku masih belum bisa berjalan cepat. Ketika membuka pintu aku berpapasan dengan staf Banyu. Lirikannya tajam seperti tidak senang. Di ruangan luar juga sama. Dua orang staf lain melirik sinis lalu pura-pura berpaling saat kutatap balik. Ada apa sih? *** Pukul 16.00 WIB. Akhirnya, waktu pulang tinggal satu jam lagi. Dari setelah jam makan siang Bu Yenti tidak keluar dari ruangannya. Juga tak memanggilku. Syukurlah. Entah dia sedang bersemedi atau apa, aku tidak peduli. "Permisi Mbak Sandra," Bu Darsih masuk membawa seperangkat alat kebersihan. "Iya Bu," sambutku dengan senyum. Bu darsih cekatan mengepel lantai dari sudut ke sudut. Tapi ia tidak mengetuk ruangan Bu Yenti. "Mbak Sandra," Bu Darsih yang sudah beres mengepel mendadak mendekat lalu berbisik-bisik. "Iya kenapa Bu?" "Sstt," telunjuknya di depan bibir pertanda memintaku melirihkan suara. "Ibu mau ngomong sebentar boleh?" "Boleh," jawabku pelan. "Ibu gak nge pel ruangan Bu Yenti?" "Gak berani Mbak, kalau ditutup saya gak berani masuk," "Ooo," "Mbak, tadi makan siang sama Pak Banyu ya?" Aku mengangguk. "Sebaiknya Mbak Sandra jangan mau didekati Pak Banyu. Pak Banyu itu banyak ceweknya," celoteh lirih Bu Darsih dengan ekspresi meyakinkan khas emak-emak gosip. "Mbak Sandra harus hati-hati sama Pak Banyu. Apalagi …." Bu Darsih diam sesaat. Matanya melirik kanan kiri bak maling takut ketahuan. "Apalagi apa Bu?" "Apalagi Pak Banyu itu incerannya Bu Yenti dari dulu. Pokoknya cewek yang dekat sama Pak Banyu kalau dia kerja di kantor ini pasti dimusuhi sama Bu Yenti." Sudah kuduga. "Sudah beberapa karyawati yang didekati Pak Banyu. Awal-awal saja dirayu-rayu. Nanti kalau ada yang baru lagi langsung ditinggal. Belum lagi ancaman dari Bu Yenti. Dia gak akan tinggal diam sama cewek yang lagi didekati Pak Banyu." Ekspresi Bu Darsih makin serius. "Mbak Sandra bisa banyak dimusuhi kalau mau dengan Pak Banyu," Oh, ini rupanya jawaban dibalik sikap sinis para staf Banyu tadi. Jangan-jangan mereka dulu diperlakukan seperti aku ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN