Bingkisan Makan Siang

1115 Kata
"Pelan-pelan Mbak Sandra, duduk sini," Bu Darsih mebukakan kursi untukku dan dan membantuku duduk. "Sini coba saya pijat ya," "Aduh," pergelangan kakiku terasa nyeri saat tangan Bu Darsih memijitnya. "Ada apa ini?" Bu Yenti keluar dari ruangannya. "Darsih, ngapain kamu di sini?" Tidak sopannya dia memanggil Bu Darsih dengan nama saja. Padahal jelas usia bu Darsih jauh lebih tua darinya. "Ini Bu, Mbak Sandra sakit kakinya. Tadi jatuh di tangga." "Hemp! Jatuh? Ceroboh." Bibir tebal dengan lipstik merah itu mencebik. Tak ada empati sedkitpun. "Namanya juga musibah Bu, mana ada orang kepengen jatuh." Bu Darsih membelaku. "Iya maaf Bu, saya yang kurang hati-hati tadi," kataku. "Terus mana dokumen saya?" Aku melirik Bu Darsih dan meminta kertas yang ada di tangannya. "Ini Bu," "Iiih, apa ini lecek begini?" "Maaf Bu, saya tidak sengaja." "Kamu ini ya, gak becus! Masih banyak yang harus kamu fotocopy, baru segini udah banyak alasan. Jatuh lah … apa lah," Ingin kuremas mulut kasarnya itu. "Yang biasa fotocopy kan Pak Darman Bu, kalau banyak biasanya juga suruh Pak Darman. Kenapa Mbak Sandra di suruh bolak-balik fotocopy?" dengan polosnya Bu Darsih berujar. Oh, aku paham sekarang. Jadi si Monster ini mau mengerjaiku rupanya. Ok, sementara aku mengalah. "Gak usah ikut campur kamu Darsih! Sana kembali kerja!" Bu Yenti tampak kesal. "Sebentar Bu, biar saya pijitin kaki Mbak Sandra yang terkilir dulu. Kasihan Mbak Sandra," "Eh, gak ada ya pijit-pijitan di jam kerja! Udah kamu keluar!" "Sebentar saja Bu, kasihan Mbak Sandra kakinya sakit." Bu Darsih terus memijat pergelangan kakiku. "Sudah Bu, gak apa-apa," aku memintanya berhenti. Bu Darsih menggeleng. "Cepat sana kelu …." Kalimat Bu Yenti terhenti. "Ada apa ini?" Bapak HRD tiba-tiba muncul di depan pintu. Bu Yenti salah tingkah. "Bukan apa-apa Pak, ini Darsih pekerjaannya belum selesai malah di sini," "Saya cuma mau nolongin Mbak Sandra Pak sebentar. Mbak Sandra jatuh di tangga, kakinya terkilir. Saya mau pijat sebentar. Karena saya biasa menyembuhkan orang yang terkilir. Bapak tahu kan?" jelas Bu Darsih. Pak HRD tersenyum. "Ya sudah, kamu tolong Sandra dulu," "Terimakasih Pak," ucapku. "Pekerjaan Darsih itu belum selesai Pak," Bu Yenti kelihatan tidak suka. "Nanti biar OB lain yang melanjutkan." Pak HRD lalu pergi. "Hemp!" Bu Yenti melengos kembali ke ruangannya dan menutup pintu dengan keras. Aku dan Bu Darsih menghela napas bersamaan. Huuft. "Mbak Sandra jangan terlalu mengalah sama dia. Harus diberaniin. Kalau gak, dia semakin menginjak-injak." bisik Bu Darsih sambil terua memijat. "Makanya, gak pernah ada staf yang betah di bagian ini." "Iya Bu," jawabku lirih takut kedengaran. Ponsel Bu Darsih berdering. "Sebentar ya Mbak, saya baca WA dulu." Bu Darsih membaca pesan di ponselnya. Aku coba menggerakkan kakiku. Rasa nyerinya sudah sedikit berkurang meski belum sepenuhnya. "Mba Sandra, gimana masih sakit gak? Saya harus keluar kantor beli makan siang buat orang-orang. Sekarang sudah hampir jam sebelas, saya bisa telat kalau gak segera berangkat." "Iya Bu, gak apa-apa pergi saja. Kaki saya udah agak enakan gak terlalu sakit kayak tadi," "Ya sudah, Ibu pamit ya Mbak," Bu Darsih buru-buru berlalu. "Terimakasih ya Bu," Menit berlalu. Jam makan siang tinggal lima menit lagi. Aku tadi tidak terpikir titip makan siang pada Bu Darsih. Dimana kantin kantor ini? Kakiku rasanya juga masih sakit kalau dibawa berjalan jauh. Aduh, bagaimana nanti pulang naik kereta? Kalau naik taxi ongkosnya pasti mahal. Kosan Rachel kan sangat jauh dari kantor ini. "Permisi," suara seseorang membuyarkan lamunanku. "Banyu? Eng, Pak Banyu?" sapaku setelah melihat sosoknya melangkah mendekat. "Kaki kamu masih sakit?" tanyanya. Eh, dari mana dia tahu aku jatuh? "Aku lihat waktu kamu jalan dipapah Bu Darsih." "Oh, eng, udah baikan kok," Perhatian banget Banyu ini. "Kamu udah pesan makan siang belum? Jangan jalan jauh-jauh dulu," matanya menatap tajam tapi lembut. "Saya belum pesan makan siang. Biar nanti saya …." "Aku udah beli buat kamu. Kebetulan seminarnya dijadwal ulang. Aku gak jadi pergi. Terus aku lihat waktu kamu dipapah Bu Darsih, ya sudah langsung aku pesankan makan siang buat kamu." Ia meletakkan satu buah kantong plastik di atas mejaku. Seketika tercium aroma yang begitu lezat. Aku bisa tebak ini aroma spaghetti bolognese dan satu lagi aroma spicy chicken. Itu dua menu favoritku, kenapa bisa pas sekali? Perutku juga rasanya sudah keroncongan. Duh, jangan sampai berbunyi …. "Eng, terimakasih Pak Banyu, seharusnya Bapak gak usah repot-repot." "Kamu masih panggil Bapak aja, panggil Banyu aja," "Tapi Pak," "Sstt," Banyu menghentikan kalimatku. "Ok, kalau jam kerja kamu boleh panggil Bapak. Tapi di luar jam kerja panggil Banyu aja ya, ok?" "Ok," jawabku dengan senyum terpaksa. "Janji ya, jangan sungkan lagi," ia memainkan alisnya seperti menggoda. "Ehem," suara Bu Yenti berdehem. Rupanya ia mendengar percakapanku dengan Banyu. Seketika ia keluar dari ruang semedinya. "Eh ada Pak Banyu," Aku enggan menoleh. Hii, geli mendengar monster itu kembali bernada genit seperti pagi tadi di dalam lift. "Iya Bu, Bu Yenti gak makan siang?" "Belum Pak, saya lagi diet, saya makan buah aja," "Oh begitu, padahal tadi saya mau belikan makan siang sekalian untuk Bu Yenti. Ya sudah kalau sedang diet," Aku tahu maksud Banyu sengaja meledeknya. "Ah, eng … enggak apa-apa sih Pak kalau makan sedikit," Bu Yenti berusaha meralat kalimatnya. "Jangan lho Bu, sayang kalau dietnya gagal." Banyu terus meledek. Aku bisa membayangkan wanita monster itu salah tingkah. Biar sajalah. Aku diam saja. "Saya mau numpang makan siang di sini bersama Sandra boleh?" lanjut Banyu. Terdengar langkah berat dari belakang kursiku mendekat. Bu Yenti berdiri tepat di samping mejaku. "Sandra kamu ingay kan peraturan yang saya ajarkan tadi pagi?" "Ingat Bu," "Poin soal makan, ingat?" Suaranya penuh penekanan. "Iya, tidak boleh makan di ruangan ini," ujarku. Aku sedikit melirik. Melihat mata bulat itu melotot, ingin sekali tertawa tapi kutahan. "Oh gitu peraturannya. Saya baru dengar." Banyu tersenyum tipis lalu melihat angka pada arlojinya. "Udah masuk waktu makan siang nih, ya sudah Bu Yenti, permisi dulu ya." Banyu mengambil kembali kantong plastik berisi makan siang yang tadi ia letakkan di mejaku. "Ayo Sandra, kita makan siang di ruangan saya. Di ruangan saya bebas tidak ada larangan makan," Banyu melangkah dan memberi aba-aba agar aku mengikutinya. Hehehe, ini kesempatan membalas perlakuan buruk Bu Yenti padaku sejak pagi. Hatinya pasti panas membara kalau melihat aku makan siang dengan Banyu. Aku berdiri dan melangkah mengekor Banyu. Tiba-tiba,"Aduh," teriakku reflek saat pergelangan kakiku terasa nyeri sekali. Banyu seketika berbalik dan menahanku agar tidak jatuh. Deg! Aku sedikit salah tingkah. "Gak apa-apa Banyu, aku bisa sendiri. Tadi cuma kaget aja. Baru dipakai melangkah, yang tadi terkilir masih sakit. Pelan-pelan bisa kok," dengan halus aku meminta tangan Banyu menyingkir dari bahuku. "Ok, kita jalan pelan-pelan aja ya," Banyu berjalan di sisiku. Wajah Bu Yenti merah bak ketel uap yang kepanasan nyaris meledak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN