Ospek Dari Bu Yenti

1354 Kata
Setelah mendengar dari hampir seluruh penghuni kantor tentang kesan kurang baik dari wanita ini. Aku agak lebih berdebar sekaligus sedikit lebih tenang. Setidaknya, bukan hanya aku saja yang menerima perlakuan kurang menyenangkan darinya. "Ehem," ia berdehem. Tangannya membetulkan kacamata lalu berjalan mondar mandir di depanku. "Duduk." serunya. Aku seperti kucing yang takut pada majikan baru. Segera kutarik kursi dan duduk. "Saya bisa menerima kamu di sini sebagai staf saya dengan beberapa syarat." Menyebalkan. Seolah-olah aku adalah karyawan baru yang tidak becus dan harus melewati masa uji coba lagi. Padahal statusku sudah karyawan tetap. "Saya tidak suka staf yang berangkat kesiangan, saya tidak memperbolehkan bermain ponsel di jam kerja, saya tidak suka staf yang mengobrol, saya tidak suka staf ceroboh, dan saya tidak suka staf yang berdandan di kantor. Saya tidak suka staf yang ngemil atau makan saat bekerja, dan saya tidak suka staf genit." Glek. Aku menelan saliva. Rasanya lebih mengerikan dari ospek jaman kuliah dulu. Dia ini sebenarnya lahir tahun berapa? Kenapa cara berpikirnya seperti jaman kolonial. "Paham?" Wajah bulat dengan dagu bertumpuk dilengkapi kacamata tebal itu hampir menempel di pipiku. Dengan ekspresi melotot yang berlebihan. "Paham Bu," jawabku datar. "Jangan kamu kira mudah ya, saya lihat dulu kinerja kamu." Ia seperti tak terima. "Kalau saya nilai kamu gak bisa, siap-siap aja pergi jauh dari kantor ini." "Baik Bu," Ia duduk dan membuka berkas lamaran kerja yang entah sejak kapan ada di mejanya. "Kalau lihat dari berkas-berkas kamu sih, lumayan juga. Nilai kamu waktu kuliah bagus-bagus." "Terimakasih Bu," "Jangan senang dulu!" Duh, orang ini sepertinya benar-benar tidak suka melihat orang lebih darinya sedikit saja. "Berkas ini cuma tumpukan kertas bagi saya. Semua yang saya sebutkan di awal tadi adalah penentu nilai kamu di mata saya." Ia berjalan ke arah pintu lalu memberi kode dengan jari gemuknya agar aku menyusul. "Sini." ucapnya. "Iya Bu," "Itu meja kerja kamu." Tunjuknya. Ada tiga meja berderet di ruangan itu. Ruang finance tidak terlalu luas. Hanya sekitar lebar enam meter dan panjang delapan meter. Terbagi menjadi dua ruangan. Satu untuk staf yang berisi tiga meja ini. Dan satu ruang khusus tertutup khusus Bu Yenti. Tapi kemana staf yang lain? Dari tadi tidak ada orang lain di ruangan ini. "Kamu harus bisa bekerja cepat. Gak boleh lelet, santai, pokoknya semua harus cepat dan tepat. Silahkan kamu duduk di situ," Aku buru-buru meletakkan tas di atas meja yang ia tunjuk. Posisinya di tengah sementara kanan dan kiri kosong. "Itu dan itu, isinya dulu orang-orang bermental lemah. Dan kamu, kalau mental kamu juga lemah, akan bernasib sama seperti mereka. Angkat koper. Paham?!" What?! Artinya staff finance harusnya tiga orang dan sekarang hanya ada aku. Mereka keluar pasti karena tidak tahan dengan sikap Bu Yenti. Aku melirik ke kanan dan kiri. Jangan bilang semua pekerjaan mereka lantas dilimpahkan semua kepadaku. "Ya sudah, jangan banyak bengong. Nyalakan komputer kamu, dan mulai bekerja. Gak usah saya ajarin lagi ya, kamu udah bisa semua kan?" "Iya Bu," "Komputernya gak ada yang pakai password, jadi tinggal buka aja. Kamu baca-baca dan pelajari sendiri ya, saya mau kembali ke ruangan." Pinggul besarnya akhirnya menghilang dari hadapanku. Ia menutup pintu dengan agak keras. Sejurus kemudian terdengar dering ponsel lalu kudengar terbahak. "Hallo … hahahaha, iya," Rupanya ia sedang menerima telepon. Daar menjengkelkan. Katanya tidak boleh main ponsel atau ngobrol saat jam kerja, tapi dia sendiri begitu. Benar-benar b*****h. kubuka file di komputer dan membaca beberapa berkas yang bertumpuk di meja. Pantas saja mereka minta staf dari kantor cabang dan tidak mencari orang baru. Seharusnya karyawan keluar mengajukan permohonan pengunduran diri satu bulan sebelumnya. Dan serah terima dulu dengan staf pengganti. Mungkin mereka sudah buru-buru kabur karena sudah tidak tahan. Tiga puluh menit berlalu. Telepon di mejaku berdering. "Hallo, selamat pagi," jawabku ragu. Ini telepon internal, pasti panggilan ini berasal dari meja lain. "Ini sudah siang! Ngapain kamu pakai bilang selamat pagi, pemborosan kalimat! Kamu kan tau ini telepon internal, jawab 'halo' sudah cukup," cerocosnya. Aku sedikit menjauhkan gagang telepon dari telinga. Bersamaan kudengar suara dan kalimat yang sama dari dalam sana. "Iya Bu ? Maaf," padahal ingin sekali kuremas mulut cerewetnya. "Kamu ke ruangan saya." "Baik Bu," Aku mengetuk pintu tiga kali. "Masuk," jawabnya. "Permisi Bu, ada yang bisa saya bantu?" "Ini," tanpa basa-basi ia menyodorkan setumpuk kertas di meja. "Fotocopy semua." Aku melotot. Apa isinya sampai sebanyak itu? Tumpukan kertas itu kira-kira setebal novel Harry potter. "Semua Bu?" Tanyaku. "Iya semua." Kuambil tumpukan kertas itu dari mejanya. "Jangan coba-coba fotocopy di mesin printer ya, mesin fotocopy ada di atas. Di ruang marketing." "Oh, ok Bu, saya permisi dulu." "Sandra," ia memanggil lagi ketika aku sampai di depan pintu. "Ingat ya, jangan pakai printer!" Aku hanya mengangguk lalu menutup pintunya perlahan. Iiihh! Menyebalkan. Kubawa tumpukan kertas itu menuju lantai enam ruang marketing. "Hai, Mbak Sandra datang lagi," sambut salah seorang. Ruangan ini sudah tidak seramai pagi tadi. Mungkin sebagian besar dari mereka bekerja di luar kantor. "Hehe, iya Mas, mau pakai mesin fotocopy," jawabku dengan senyum. "Oh, itu silahkan di sebelah sana mesin fotocopynya. Kalau kertasnya habis, ambil di meja saya aja," Ruangan ini memang ramah sekali. Kontras dengan aura di ruanganku. "Ok, thank ya, saya fotocopy dulu," Satu demi satu lembar aku fotocopy file-file di kertas itu. "Mbak Sandra, Mbak Sandra," staf marketing tadi memanggilku dari mejanya sambil melambai dan menunjuk telepon. Mejanya dengan mesin fotocopy berjarak lumayan. "Iya," kuhentikan sesaat pekerjaan yang sedang kulakukan. Buru-buru aku berlari mendekat. "Iya Mas, ada apa?" "Ini, Bu Yenti," ia menyodorkan gagang telepon. Huh, ada apa lagi ini. Ini juga belum selesai. "Iya Bu," "Sandra, bawa kembali berkas yang tadi saya kasih. Kamu sudah selesai fotocopy belum?" "Belum Bu, baru separuh." "Buang saja yang sudah terlanjur kamu fotocopy. Saya salah kasih berkas." Apa? Iiiih benar-benar menjengkelkan. "Baik Bu," Ku letakkan kembali gagang telepon. "Terimakasih ya Mas," ucapku. Kubereskan kertas yang menumpuk di mesin fotocopy. Membuang yang sudah terlanjur tercetak dan membawa kembali berkas asli. Sesampainya di depan pintu lift, ada kertas menempel di dekat tombolnya. 'Lift sedang dalam perbaikan' begitu tulisan yang tertera pada kertas itu. Haduh, tambah lagi deritaku. Terpaksa aku harus lewat tangga darurat. Untung cuma satu lantai. Tanpa buang waktu aku segera menuju tangga darurat. "Permisi Bu, ini berkas yang salah," napasku tersengal-sengal akibat turun lewat tangga darurat. "Kamu sih, gak dibaca dulu. Ini kan berkas tahun lalu, harusnya kamu baca dan ingatkan saya." Iiiih, dasar! Mana aku tahu kalau berkas itu salah. Aku pikir kan, memang dia membutuhkannya. "Iya maaf Bu," "Ya sudah, ini yang harus kamu fotocopy." Ia menyerahkan tiga lembar kertas. "Ada lagi Bu?" Tanyaku. Tertukar kok bisa beda jauh? Yang tadi satu tumpukan, sekarang cuma tiga lembar. "Gak ada, itu aja," "Maaf boleh saya fotocopy di printer Bu? Ini kan hanya tiga lembar, lagipula liftnya sedang dalam perbaikan," "Gak boleh, apa susahnya naik tangga? Sudah cepat sana!" Terpaksa aku naik lagi ke ruang marketing. Aku langsung menuju mesin fotocopy. Mas-mas staf marketing itu memandangku seperti kasihan. Selesai fotocopy aku bergegas kembali ke ruangan. "Ini Bu," kusodorkan berkas itu padanya. "Saya lupa, ini ada yang ketinggalan lagi," ia menyodorkan satu lembar kertas. Iiiih, benar-benar menjengkelkan! Tadi kutanya katanya tidak ada lagi. "Baik Bu," Ok, aku harus bersabar dulu. Sampai aku paham permainan apa yang diinginkan wanita ini. Lagi aku menuju ruang marketing. Naik tangga darurat, memfotocopy berkas yang cuma satu lembar itu dan bergegas kembali. Aku berjalan pelan-pelan menuruni anak tangga tiba-tiba ada sesuatu merambat di kakiku. "Aaargh!" Kuhentakkan kaki sambil melompat geli dan takut. Kecoa. Kecoa itu barusan berjalan diatas kaki dan naik ke betis. "Hiiii, aduh!" Aku kehilangan keseimbangan dan terpeleset di tangga. "Aduh, aduh sakit banget," aku tersungkur di lantai dan mengusap kakiku yang terasa nyeri. Susah sekali rasanya untuk berdiri. "Ya Allah, Neng, kenapa?" Bu Darsih tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan membawa ember dan alat pel. "Tadi ada kecoa Bu, saya kaget, kepleset deh jatuh," "Duh maaf Neng, ini Ibu baru aja mau ngepel di sini. Kok bisa ada kecoa ya, ya sudah mari Ibu bantu Neng," Bu Darsih memungut kertas yang tergeletak di lantai dan memapahku menuju ruangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN