Perkenalan

1266 Kata
"Sudah, jangan dipikirkan soal Bu Yenti, kalau kamu bisa menunjukkan prestasi kerja yang baik, Bu Yenti pasti akan respect sama kamu." Deg! Pak HRD ini rupanya bisa membaca pikiran yang menari-nari di kepalaku. "Iya Pak," "Nah, kamu sekarang perkenalkan diri dulu ke semua rekan yang ada di kantor ini." Aku melotot. "Semua Pak?" "Iya semua. Sudah menjadi kebiasaan di sini selalu seperti itu. Supaya kalau kamu besok-besok kesana sini untuk urusan pekerjaan gak ada orang bingung lagi. Dan gak akan tanya 'kamu siapa?' Begitu." Duh, bagaimana caranya aku memperkenalkan diri ke semua orang di kantor ini? Keliling dari lantai ke lantai? Kalau mereka menertawakan aku bagaimana? Kalau ada yang mengacuhkan aku bagaimana? Atau kalau ada yang sejenis Bu Yenti Bagaimana? "Kamu gak usah bingung. Nanti staff saya yang akan antar kamu keliling." ucapnya. Wah, tidak diragukan lagi, Pak HRD benar-benar bisa membaca pikiranku. "Kamu, tolong temani Sandra. Perkenalkan ke semua ya, dia staff finance." Pak HRD memerintahkan salah satu stafnya untuk mengantarku. Perempuan berkerudung dan berkacamata yang kelihatannya sebaya denganku itu menyambutku dengan ramah. "Ayo Sandra aku antar," ucapnya. "Ya silahkan," Pak HRD mempersilahkanku. Aku berdiri dan membetulkan kembali kursi ke posisi semula. "Saya permisi Pak," Ia mengangguk dengan senyum penuh wibawa. "Aku Dina, ini Mita," staff HRD ini memperkenalkan diri lebih dulu sebelum mengajakku berkeliling. "Sandra," sebutku sembari berjabat tangan. "Kita ke lantai enam dulu ya, kantor kita ada enam lantai. Keseluruhan dari gedung ini, ada dua puluh lantai. Jadi gedung ini di sewa oleh beberapa kantor gitu. Bukan punya kantor kita semua. Kita cuma sewa enam lantai," jelasnya. Aku mengangguk dengan mulut membentuk O sempurna syukurlah. Kupikir aku harus berkeliling 20 lantai untuk memperkenalkan diri. Dina mengantarku ke lantai 6. Pintu lift terbuka dan ia lebih dulu turun. "Woi Mbak Dina, makin cantik aja, bawa siapa tuh? Bolehlah kenalan," seloroh seseorang iseng. Aku mengedarkan mata sesaat. Meja-meja berjajar satu ruangan penuh. Ada yang sibuk menelpon, ada yang sedang minum kopi, ada yang sibuk di depan komputer. "Lantai enam ini, untuk bagian Marketing. Dan marketing di sini semua laki-laki." Jelas Dina. "Oh iya," jawabku. Terang saja semua marketingnya laki-laki. Perusahaan tempat aku bekerja adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksi material building. Semacam semen instan, bata ringan dan benda-benda lain yang berhubungan dengan pekerjaan bangunan. Jadi para marketing ini biasanya berhubungan dengan para customer yang bergerak di bidang properti. Seperti pembangunan apartemen, perumahan, dan sebagainya. "Wah, tambah lagi aja nih orang cantik di kantor ini, nanti sering-sering mampir ke lantai enam ya Kak," seloroh salah satu diantara mereka. Aku senyam-senyum saja. "Biasa San, jangan di dengerin. Pada iseng di sini. Maklum, cowok semua." Dina mengajakku ke tengah ruangan. Duh, aku agak gugup jadi pusat perhatian begini. "Pagi Bapak-bapak," suara Dina menggema. "Pagi," mereka semua menjawab. Yang semula sedang minum kopi, sibuk dengan ponsel, sibuk dengan komputernya semua menoleh. Aku semakin gugup. "Ini ada karyawan baru ya, pindahan dari kantor cabang Bandung. Dia di bagian finance. Namanya Sandra." Dina lalu memberi kode agar aku memperkenalkan diri secara langsung. "Pagi semua, saya Sandra," aku tersenyum dengan sedikit membungkukkan badan. Pipiku rasanya bersemu. Semua mata tertuju padaku. "Oh, namanya Mbak Sandra, selamat bergabung ya Mbak Sandra. Semoga betah," sambut mereka. Aku menyalami mereka satu persatu. "Mba Sandra punya pacar gak?" "Mba Sandra, nanti kalau butuh apa-apa panggil saya aja ya," "Mbak Sandra, minta nomor ponselnya dong," Mereka berkerumun dan berceloteh sekenanya. Aku tidak begitu mengingat satu persatu nama mereka. Tak tahan bibir ini tersenyum-senyum. Lucu melihat tingkah mereka. Ramah tapi konyol. Tidak terbayang bagaimana suasana kerja di lantai ini setiap hari. "Udah ya, udah kenalan kan, udah dulu." Dina menggandeng tanganku. "Ayo San," Kamu kembali masuk ke dalam lift. "Lantai lima terakhir aja ya, sekalian aku serahin kamu ke Bu Yenti," alisnya naik turun seperti meledek. "Iya, atur aja deh," kataku. Andai saja Dina ini satu tim denganku. Mungkin aku akan merasa nyaman di kantor ini. Punya teman yang cepat akrab begini. Pintu lift terbuka. tombol menunjukkan angka 4. "Lantai empat, yang ada di sini bagian purchasing sama IT," Dina menggandengku lagi. Kali ini aku tak begitu gugup seperti tadi. Suasana ruangan ini sedikit lebih serius dibanding ruang marketing tadi. Mereka sibuk di depan komputer masing-masing. Dina membawaku mendekat ke salah satu meja. "San, ini kepala Purchasing." bisiknya. "Permisi Pak, ini mau memperkenalkan karyawan baru. Bagian finance. Sandra namanya." ucapnya pada seorang pria paruh baya yang sedang fokus pada komputernya. "Oh iya," pria itu menoleh dan tersenyum ramah. "Pagi Pak, saya Sandra." Aku mengulurkan tangan dan menjabat tangannya. "Pagi juga, selamat bergabung ya Sandra," sambutnya. "Saja ijin perkenalkan Sandra ke yang lain ya Pak," "Iya, silahkan." Dina mengantarku berkeliling ke meja lain dan memperkenalkanku satu per satu. Tidak seperti di ruang marketing tadi ia langsung bicara dengan suara menggema di tengah ruangan. "Nah, tinggal lihat-lihat lantai satu, terus aku antar kamu ke lantai lima ya," "Ok," "Di lantai satu gak dipakai untuk ruang kerja, cuma ada beberapa ruang yang dipakai untuk ruang meeting. Terus ruang pantry tempat Office Boy sama Office Girl." jelasnya. Ia mengajakku berkeliling. Kami masuk ke ruang pantry. "Permisi," "Eh, ada Mbak Dina," seorang Ibu berusia sekitar empat puluhan mengenakan seragam office girl menyambut Dina. "Iya nih Bu, mau ngenalin ini, karyawan pindahan dari Bandung, Sandra namanya." "Pagi Mbak Sandra, masya Allah, Mbak Sandra cantik banget kayak artis," ucap ibu itu polos. Kusambut jabatan tangannya. "Terimakasih Bu, ibu bisa aja," sahutku. "Yang lain pada kemana Bu?" tanya Dina. "Biasa Mbak, lagi pada beres-beres," "Nah, ini Ibu super yang mengurus kantor ini San, panggil aja Bu Darsih, biasanya makan siang kita juga Bu Darsih yang beliin." Aku mengangguk saja. "Iya Mbak Sandra. Pokoknya butuh apa-apa tinggal telpon saya aja, gak usah repot. Emangnya Mbak Sandra di bagian apa?" "Finance Bu," jawabku. "Iya, stafnya Bu Yenti," Dina menimpali. "Waduh, Bu Yenti?" Bu Darsih melongo. "Wah, yang sabar-sabar ya Mbak, semoga betah." Aku semakin yakin perangai buruk wanita itu benar-benar terkenal di kantor ini. "Ya udah Bu, kita mau ke atas dulu," Jantungku mendadak tak karuan lagi. Setelah ini, hari-hariku akan terus berurusan dengan wanita itu. "San, kita ke ruang accounting dulu ya," Baiknya aku tidak usah katakan kalau aku sudah berkenalan dengan Banyu. "Permisi Pak," Dina mengetuk tiga kali ruang manager accounting lalu meminta ijin masuk. Aku sudah tau siapa sosok yang ada di dalam ruangan ini. "Masuk," ucap yang di dalam. Aku melihat Banyu duduk di balik mejanya. "Permisi Pak Banyu, saya mau memperkenalkan karyawan baru. Sandra namanya, bagian finance." Banyu masih fokus dengan komputernya. Ia lalu berdiri menatap ke arahku dan tersenyum. "Morning Sandra," ia mengulurkan tangannya. Baiklah aku menyambut jabatan tangannya untuk yang kedua kalinya pagi ini. Anggap saja kali ini perkenalan formal. Dina membawaku keluar ruangan setelahnya, lalu memperkenalkanku pada satu persatu staf Banyu. "San, eng, nanti di ruang Bu Yenti aku gak lama-lama ya," Dina seperti ketakutan saat semakin dekat ruang finance. "Iya, gak apa-apa Din, terimakasih ya udah nemenin," Dina mengetuk ruang Bu Yenti. Jantungku mendadak tak karuan. "Masuk," suara lantangnya menyahut. Pintu dibuka perlahan. "Permisi Bu," raut Dina berubah tak seceria tadi. "Iya, ada perlu apa?" Manusia satu ini benar-benar kaku. Padahal ia sudah melihat Dina bersamaku. Seolah-olah dia bersikap tidak mau kenal denganku sebelum dikenalkan secara formal oleh Dina sebagai perwakilan dari bagian HRD. "Ini Bu, Sandra Qanita. Karyawan pindahan dari Bandung yang akan menjadi staf ibu," suara Dina terbata. "Ya sudah, biarkan saya bicara sama dia. Kamu boleh kembali ke ruangan." "Baik Bu," Dina berlalu. Tinggal lah aku berdua dengan monster ini di ruangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN