Bapak HRD Yang Ramah

1043 Kata
Pintu lift terbuka. Kubiarkan wanita tambun berperangai monster itu turun lebih dulu. Banyu sempat melirikku dengan menyunggingkan senyum kecil sesaat sebelum melangkah turun. Mataku langsung menjelajah mengabsen setiap tulisan yang ada di setiap pintu di lantai ini. Bu Yenti berlenggak-lenggok berjalan di depan aku dan Banyu. Tak lama ia masuk ke ruangannya. Sepertinya ruang kerjaku di sana juga. "San, itu ruangan kamu di sana," ucap Banyu menunjuk ruangan finance. Sejujurnya aku bingung. Apa aku langsung saja masuk ruangan dan bertanya mengenai jobdesk pada Bu Yenti? "Iya, terimakasih Banyu, tapi …." Kalimatku belum selesai Banyu keburu pamit. "Ruangan aku di sini. Kalau ada apa-apa panggil aku aja ya, aku masuk dulu," Ragu-ragu aku meneruskan langkah masuk ke ruang finance. Pintunya terbuka jadi aku masuk begitu saja. Ada tiga meja dengan tiga buah komputer. Tapi ruangan ini masih kosong. Dan ada satu buah ruangan lagi di dalamnya dengan pintu tertutup rapat. Sepertinya itu ruang Bu Yenti. Kemana para penghuni meja ini? Kenapa semua masih kosong? Apa mereka belum datang? Berani sekali datang terlambat dan atasan datang duluan. "Hei?! Ngapain kamu di situ?!" Bu Yenti tiba-tiba keluar dari ruangannya. Aku terperanjat. Ia melotot memandangku seperti tatapan orang yang memergoki maling. "Ma-maaf Bu, sa-saya," aku mendadak tergagap saking gugupnya. Ia melangkah mendekat dan mendongakkan kepalanya melotot tajam tepat di depan wajahku. "Ngapain kamu masuk ruangan tanpa permisi?!" ia makin menyudutkanku. "Saya, eng," aku mengatur napas sejenak. "Saya bermaksud menemui Ibu, untuk bertanya jobdesk saya di sini. Kebetulan tadi pintunya terbuka jadi saya langsung masuk." jelasku. "Menemui saya?!" Ia tambah melotot. "Hei kamu yang katanya karyawan terbaik, kamu tahu etika gak? Tahu aturan main masuk kantor baru gak?" cerocosnya. "Iya maaf Bu," sahutku. "Maaf-maaf, enak aja kamu ngomong. Saya gak suka lihat kamu masuk ruangan saya semaunya begini. Sana kamu temui HRD!" bentaknya. Sial, makhluk ini benar-benar arogan. Baru bertemu sudah selangit lagak kesombongannya. Memangnya tidak bisa ya bicara baik-baik? "Baik Bu, saya permisi," kataku sembari melangkah mundur. Sebentar, ruang HRD ada di sebelah mana? "Ruang HRD dimana Bu?" tanyaku polos. Ia semakin nampak tak senang. "Kamu pikir saya resepsionis tempat orang bisa nanya-nanya?" ucapnya sembari berlenggak lenggok dengan sengaja menjauh dan kembali masuk ke ruangannya meninggalkanku begitu saja. Baiklah aku harus ekstra sabar menghadapi manusia jenis ini. Aku keluar dan bergegas menuju lift untuk bertanya pada resepsionis. "Sandra," suara Banyu memanggilku. "Iya," aku menoleh. "Kok mau naik lift lagi? Mau kemana?" "Mau ke resepsionis untuk tanya ruang HRD," jawabku. "Ruang HRD ada di lantai tiga, memang Bu Yenti gak kasih tahu kamu?" Aku menggeleng. "Kamu untuk apa ruang HRD?" Banyu kedengaran sok peduli. "Seharusnya saya menemui HRD dulu sebelum masuk ruangan Bu Yenti." jelasku. "Oh iya," Banyu menepuk keningnya. "Aku terlalu terkesima bertemu kamu, sampai lupa. Harusnya aku antar kamu bertemu HRD ya, Malah langsung mengarahkan kamu ke ruang finance, sorry ya San." "Gak apa-apa. Saya permisi ke lantai tiga dulu," "Oh, ok. Aku antar sampai lift ya," Ia berjalan beriringan denganku sampai depan pintu lift. Tangannya lalu menekan tombol untuk membuka pintu lift dan mempersilahkan aku masuk setelahnya. "Sandra," panggilnya sekali lagi. Langkah kaki kuhentikan sesaat. "Bu Yenti memang galak. Kalau dia macam-macam, bilang aja sama saya ya," ucapnya. "Ehem," suara orang berdehem dari ujung sana. Sepertinya wanita tambun itu menguntit gerak-gerikku atau gerak-gerik Banyu. "Saya permisi Banyu," buru-buru aku masuk lift dan menekan tombol. Pintu lift tertutup. Semoga saja Manager HRD di kantor ini tak sama monsternya dengan Bu Yenti. Pintu lift terbuka tepat di lantai tiga. Aku melangkah keluar. Entah kenapa aura lantai ini terasa lebih ramah dan bersahabat ketimbang lantai ruang finance. "Permisi, ruang HRD sebelah mana ya?" tanyaku pada seseorang yang kebetulan lewat. "Di sana, tuh yang ujung. Kebetulan Bapak HRD baru masuk ruangan." "Oh, ok, terimakasih ya," Aku mendekat ke ruangan itu. Kuketuk pintu tiga kali. "Permisi," "Ya, silahkan masuk." "Selamat pagi Pak, saya …." "Sandra Qanita, dari kantor cabang Bandung," Bapak HRD langsung mengenaliku sebelum aku selesai memperkenalkan diri. "Iya Pak," sambutku sembari membungkukkan badan tanda memberi salam. "Mari silahkan duduk Sandra," Dua orang staf HRD dengan meja berjajar tersenyum ramah padaku. Aku melangkah mendekat ke meja Pak Manager. Ia tak memiliki ruangan khusus terpisah seperti Bu Yenti. Kubuka kursi lalu duduk berhadapan dengan Pak HRD. Rasanya hatiku lebih tenang di ruangan ini. Tak berdebar penuh ketakutan seperti di ruang finance tadi. "Sandra, gimana? Sudah siap bekerja di kantor ini?" tanyanya dengan suara penuh wibawa. Pembawaannya teduh mirip almarhum Papa. "Insya Allah siap Pak," "Job desk kamu sama persis seperti di kantor cabang Bandung. Jadi, saya rasa kamu tidak akan mengalami kesulitan. Apa lagi, kamu termasuk karyawan berprestasi di sana. Saya yakin kamu mampu cepat beradaptasi di kantor ini." Aku tersenyum menghormati perkataannya. "Saya akan berusaha sebaik mungkin Pak, semoga tidak mengecewakan," "Kamu kapan tiba dari Bandung?" tanyanya. "Semalam Pak," "Ada kerabat di sini?" "Kebetulan ada teman yang juga bekerja di Jakarta Pak," "Oh," ia mengangguk sembari membetulkan kacamatanya. "Anak saya kira-kira seusia kamu. Jadi kalau lihat karyawan seusia ini, dari luar kota, saya pasti banyak tanya. Karena saya teringat anak saya. Kebayang aja, kalau anak saya yang merantau ke luar kota, lalu tidak ada kerabat." ujarnya bercerita. "Oh, iya Pak," sahutku bingung harus merespon apa. "Ya, itu hanya intermezo saja ya San," ia Pak HRD ini tertawa basa-basi tapi aku merasa nyaman dan suasana terasa cair. "Kamu sudah keliling-keliling kantor ini belum?" "Tadi sempat ke ruang finance Pak," "Kamu sudah ke sana?" tanyanya seperti heran. "Iya saya salah tadi langsung ke sana. Harusnya saya menemui Bapak dulu." "Oh, gak apa-apa, kan kamu jadi langsung tahu ruang kerja kamu." katanya. Berbeda sekali dengan wanita monster yang sombong itu. "Kamu berarti sudah bertemu Bu Yenti?" Malas sekali rasanya mendengar nama itu. "Sudah Pak," "Hahaha, kamu jangan terlalu ambil hati ya kalau Bu Yenti bicara macam-macam." Aku mengerutkan kening. Bingung. Apa perangai wanita itu sudah terkenal di seantero kantor ini? "Bu Yenti itu orangnya baik, hanya saja dia tegas. Kadang terlampau tegas. Selain itu, dia biasanya sinis dengan karyawan baru. Anggap saja ujian mental ya Sandra. Tetap bekerja secara profesional. Orang akan menghargai kita karena perilaku baik, dan prestasi." Pak HRD memberikan wejangan. Kuhela napas panjang. Ternyata aku benar-benar akan berhadapan dengan monster.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN