"Pak, Alamat kantor ini gak jauh kan dari sini?" tanyaku pada Bapak ojek online yang kupesan.
Padahal jaraknya sudah terlihat lewat aplikasi, tapi rasanya lebih puas kalau bertanya langsung.
"Gak Mbak, kurang lebih sepuluh menit." jawabnya sambil menyodorkan helm.
Artinya jaraknya sama dengan dari kos Rachel ke stasiun.
Sepanjang jalan kuamati gedung-gedung yang kami lewati. Belum ada bayangan seperti apa kantor pusatku nanti. Selama ini aku hanya melihatnya dari gambar.
Kami tiba di depan sebuah gedung tinggi menjulang bak menara. Halamannya mewah, pintu kaca yang bisa terbuka sendiri seperti di Mall. Pintu parkir otomatis, dua orang security serta petugas parkir yang berseragam seperti pegawai hotel bibtang lima.
"Sudah sampai Mbak," kata Bapak ojek ketika motor berhenti sempurna.
"Hah? Udah sampai Pak?"
"Iya, iya kantor tujuan Mbak,"
Aku melangkah turun dari motor. Apa benar? Aplikasi di ponsel menunjukkan kami sudah tiba di titik tujuan.
Aku melotot dan mengucek mata berkali-kali. Perasaan di gambar kantor pusat tidak semewah ini. Kupandangi sekali lagi gedung yang berdiri gagah ini. Oh my God, mewah sekali, pasti di dalamnya lebih mewah.
"Mbak, ongkosnya," suara Bapak Ojek membuyarkan lamunanku.
"Eh, iya iya, maaf ini Pak,"
Setelah menerima ongkos Bapak ojek itu akhirnya pergi. Pelan-pelan ku melangkah mendekat ke pintu masuk.
"Pagi Mbak, mau cari siapa?" Pak Satpam menyapaku. Gelagatku yang kebingungan rupanya bisa terbaca olehnya.
"Pagi Pak, maaf saya karyawan pindahan dari Bandung Pak,"
"Bisa lihat kartu identitas karyawannya?"
"Oh, ok."
Kukeluarkan kartu identitas dari dalam tas. Satpam itu memeriksanya beberapa detik lalu mengembalikannya padaku.
"Silahkan Mbak, pintu masuknya sebelah sana." tunjuknya dengan sopan.
"Terimakasih Pak,"
Kuteruskan berjalan dan melewati pintu masuk otomatis itu. Tiba di dalam meja resepsionis besar menyambut. Sayangnya masih kosong. Mungkin aku tiba terlalu pagi. Waktu sudah pukul 08.15 WIB. Belum ada tanda-tanda orang berdatangan. Seorang Office Boy sedang mengepel lantai diujung sana. Penasaran, aku menghampiri pria yang sedang sibuk dengan alat kebersihannya itu.
"Permisi Mas, maaf, kalau ruang bagian finance di lantai berapa ya?" tanyaku.
Ia menengadah lalu memperhatikanku sesaat seperti melihat orang asing. "Mbak cari siapa?" tanyanya. Sama seperti satpam tadi.
"Saya karyawan pindahan dari Bandung." jelasku.
"Oh, begitu, ruangan finance ada di lantai lima Mbak," jawabnya.
Aku mengangguk. "Eng, naiknya lewat lift yang itu ya Pak?"
"Iya Mbak," ia lalu melanjutkan mengepel lantai.
Bingung juga di kantor baru begini. Kalau aku langsung naik, aku belum tau ruang kerjaku. Atau aku tunggu di sini saja?
Kuputuskan duduk di sofa lobi. Menit terus berlalu. Satu persatu orang berdatangan ketika waktu menunjukkan pukul 08.30 WIB.
"Hai," ujar seseorang yang tiba-tiba menghampiriku.
Dari kejauhan saat ia baru melangkah masuk aku sudah menyadari ia memperhatikanku dari jauh. Aku sengaja menunduk tapi dia malah mendekat.
"Karyawan baru?" tanyanya.
Aku menengadah. "Saya pindahan dari Bandung Pak," jawabku.
Kemejanya rapi dilengkapi dasi. Posturnya tinggi dengan wajah yang lumayan tampan dan berkulit putih.
"Oh kamu pindahan dari kantor cabang Bandung? Bagian finance ya?" ia seperti langsung paham.
"Iya," jawabku lagi.
"Perkenalkan, saya Banyu. Accounting Manager di sini," ucapnya mengulurkan tangan.
Aku berdiri dan menjabat tangannya. "Saya Sandra Pak,"
Ternyata dia Accounting Manager di sini. Secara tidak langsung, dia atasanku juga.
"Jangan panggil 'Pak' lah, santai aja, panggil Banyu aja," ia tersenyum dan memperhatikanku dari atas hingga bawah. Aku risih melihat tatapannya. Kalau bukan Manajer di sini sudah ku damprat dia berani-berani menatapku dengan cara seperti itu.
"Ehm, iya Pak Banyu … eng-maksud saya Banyu,"
"Nah gitu dong, kan jadi lebih akrab."
Aku mengangguk saja malas menjawab.
"Kamu pasti masih bingung ya ruang kerja kamu di mana, kita langsung ke atas aja yuk,"
"Hah?" entah kenapa pikiranku jadi yang tidak-tidak.
"Iya ke atas, ruang finance ada di atas." jelasnya.
"Oh, iya-iya Pak,"
"Tuh kan panggil Pak lagi," matanya sedikit mengerling membuatku jijik.
"Eng-maaf iya Banyu, Banyu," kataku sambil nyengir terpaksa.
"Mari," tangannya mempersilahkan aku berjalan duluan sembari menunjuk ke arah lift.
Kami beriringan menuju lift. Ia menekan tombol dan lift itu terbuka.
"Silahkan," ucapnya.
Aku melangkah ke dalam lift, ia menyusul dan berdiri agak dekat di sebelahku. Padahal lift ini cukup luas dan tidak perlu berdiri berdekatan begini kalau hanya berisi dua orang.
Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat seorang wanita berlari ke arah kami. Sepertinya ia juga ingin naik lift ini. Reflek aku menekan tombol untuk menahan pintu lift. Banyu menahan tanganku.
"Maaf," ucapku dengan agak bingung.
Raut Banyu memberi isyarat tapi aku tidak paham.
Wanita itu masuk menyerobot begitu saja. Dengan sangat kasar dia menyenggolku sampai terhempas ke dinding lift. Banyu mendadak memasang wajah kaku dan dingin. Aku melongo, ingin marah tapi kutahan. Tidak sopan! Bukannya berterimakasih sudah kubukakan pintu lift malah menyerobot dengan kasar begini.
Wanita bertubuh tambun dengan pinggu besar yang tadi ia gunakan untuk menyenggolku itu kini berdiri di tengah diantara aku dan Banyu. Posturnya 10 cm di bawahku. Dengan pantofel tinggi serta rambut disanggul serta kacamata tebal.
"Pagi Pak Banyu," suaranya menyapa dengan nada kemayu yang dibuat-buat.
Kulirik sekilas. Ia tersenyum genit sementara Banyu tak menoleh dan mendadak berubah angkuh. Tak seperti saat menyapaku tadi.
"Pagi juga Bu," jawabnya datar.
Aku menunduk diam. Semoga saja aku tak akan berurusan dengan wanita tidak sopan ini.
"Tumben Pak Banyu pagi datangnya," ia bertanya lagi dengan nada genit.
"Saya ada seminar di luar kantor nanti jam sepuluh, makannya saya datang pagi," suara Banyu tetap terdengar dingin.
"Oh gitu, Pak Banyu belum sarapan kan? Saya bawakan sarapan spesial lho untuk Pak Banyu, saya masak sendiri,"
Aku ingin tertawa geli tapi kutahan.
"Gak usah Bu, gak usah …." Banyu kedengaran ketakutan dengan suara tergagap. "Maksud saya terimakasih Bu Yenti, kebetulan saya sudah sarapan." suara berubah tegas.
Aku tak berani melirik. 'Tahan Sandra jangan tertawa', batinku. Tidak terbayang wajah Banyu seperti pasti anak kecil yang menolak disuapi ibunya.
Eh, tunggu dulu. Kalau aku tidak salah dengar Banyu memanggilnya 'Bu Yenti'? Deg! Jantungku tiba-tiba terasa mau copot. Kupandangi diam-diam wanita di sebelahku.
Pak HRD Manager di kantor lamaku sempat mengatakan saat aku sepakat menerima tawaran pindah kalau atasanku di kantor ini bernama Bu Yenti.
Sial, apa maksudnya Bu Yenti yang ini?
"Kamu siapa?" ia melirik sinis.
Tajam juga firasatnya, baru saja aku membatin tentang dia.
"Saya Sandra Bu, karyawan pindahan dari Bandung." jawabku.
Ia memelototiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Jadi kamu yang katanya karyawan terbaik di kantor cabang Bandung?" tanyanya dengan nada sinis. "Saya memang kurang orang, dan minta anak buah baru yang recomended. Jadi kamu yang bakal jadi calon anak buah baru saya?" Kali ini nadanya meremehkan.
Aku terpaksa mengangguk saja.
Aduh, nasib. Ternyata wanita berperangai monster ini adalah atasanku. Mau tidak mau aku akan terus berurusan dengannya.