"Lu kemana aja sih?! Maen pergi-pergi aja gak bilang," mata Rachel melotot.
"Lho, gue udah bangunin lu dari waktu alarm pertama lu bunyi, tapi lu gak bangun. Gue juga udah bilang sama lu, lu cuma jawab 'hmm' doang berkali-kali." jawabku tak terima.
"Tapi lu gak boleh pergi sembarangan gitu dong, mana pakai acara ngunciin gue dari luar lagi."
"Gue tadi laper banget Chel, terus gue pikir cari sarapan dekat, ternyata lumayan jauh dan gue pulangnya nyasar. Gue kunci karena lu masih tidur takut ada orang masuk sembarangan."
Suasana benar-benar tidak nyaman. Wajah Rachel merah menahan kesal sementara perutku yang lapar rasanya sudah tak selera lagi dengan bubur ayam ini.
"Ya udah, mana sini sarapannya? Laper juga nih gue nungguin lu sambil kesel gara-gara dikunciin." ucap Rachel.
Lega aku mendengarnya. Aku paling tidak bisa ribut-ribut dengan orang satu atap. Dengan Tante Ratih saja aku tidak pernah bertengkar.
"Nih, gue beli bubur ayam." Kusuguhkan bubur ayam yang kubeli.
"Hehe, sorry ya San lu kelaperan nginep di kos gue. Nanti gue beli stok makanan deh,"
"Gak usah, nanti gue aja yang beli." kataku. "Sebagai permintaan maaf gue udah ngunciin lu,"
Kami makan bubur ayam bersama. Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB saat kami selesai makan. Kantor kami masuk pukul 09.00 WIB.
"Chel, ini kita mau berangkat jam berapa?" tanyaku.
"Sekarang lah, kapan lagi," Rachel membereskan alat makan kami. Dan mencucinya di wastafel dapur. "Buruan tas dan apa aja yang mau lu bawa ke kantor siapin sekarang." ujarnya.
"Serius nih kita naik kereta?" aku serasa masih tak percaya.
"Iya lah Sandraa, mau naik apa lagi? Bajaj? Taxi? Mahal boros."
"Hufft, ok lah."
Rachel mematikan peralatan listrik di kamar. Kami keluar kamar dan mengenakan sepatu di depan pintu.
"Eh, lu punya masker gak?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Emang naik kereta harus pakai masker?"
"Harus lah buat kesehatan. Jorok lu kalau gak pakai masker. Kita desak-desakan sama orang jaraknya dekat banget. Nanti kalau ada orang bersin, batuk," cerocos Rachel. "Tunggu sini." Rachel melepas sepatunya lalu kembali masuk kamar.
"Ini lu pakai sisanya lu simpan buat besok," ia menyodorkan satu pack berisi 3 buah masker.
"Ok, thank, gue pakai ya,"
Kami keluar rumah. Rachel memesan ojek online dia juga memintaku memesan ojek online dengan tujuan yang sama. Stasiun.
Rak sampai lima menit menunggu, ojek pesanan kami datang.
Tak sampai sepuluh menit, kami tiba di stasiun. Jantungku mulai berdebar. Kerumunan orang menyemut. Tak bisa kubayangkan aku akan menjadi bagian dari mereka berjejalan bersama-sama.
"Nih, tiket lu," Rachel menyodorkan satu buah tiket elektronik. "Kita masuk," ajaknya.
Kuperhatikan ia menempelkan tiket pada palang pintu sebelum sebelum masuk. Aku mengikutinya. Ada banyak sekali jalur. Kalau salah naik kereta bagaimana ini?
"San, lu tunggu di jalur ini. Tuh baca di atas, itu stasiun tujuan lu, dekat kantor lu. Nanti sampai sana pakai ojek online aja ya," Rachel mengajariku sembari menunjukkan tulisan yang terpampang di atas. "Gue naik kereta dari jalur sebelah sana. Tujuan kita gak sama. Tenang aja, lu gak bakalan nyasar. Tinggal baca tuh tulisan ada dimana-mana."
"Tapi Chel, lu anterin gue deh sekali aja, besok baru gue berangkat sendiri." Aku memegangi tangan Rachel sambil merengek.
"Lah kayak anak TK aja sih minta dianter segala. Ini baru Jakarta San, gimana kalau lu di luar negeri?" Rachel geleng-geleng kepala. "Tenang aja, pokoknya percaya sama gue ly gak bakalan nyasar. Nanti di dalam kereta lu pasang telinga baik-baik. Dengerin. Setiap sampai di stasiun mana nanti disebutin," jelasnya.
"Tapi Chel, kalau sistem komputernya mati gimana? Terus ga diumumin sampai stasiun mana. Nanti gue bingung gimana?" Aku nerocos panik.
"Ampun dah si Sandra ya, jangan norak banget kenapa? Kalau sampai terjadi kayak gitu, lu kan bis tanya orang." ujarnya kesal. "Udah ah, keretanya udah mau datang. Gue kesana dulu."
Rachel meninggalkanku. Aku mulai panik mendengar pengeras suara dari ruang informasi mengabarkan kalau kereta sesaat lagi akan tiba.
Suara bell khas stasiun berbunyi. Barisan orang yang menyemut ini merapat. Dan tiba-tiba berdesakan persis di depan garis kuning tanda batas aman boleh berdiri. Aku tidak berani berdiri paling depan. Mereka berjejalan dan aku terhimpit di tengah.
Kereta tiba di depan mataku. Pintunya terbuka. Pengeras suara menyuarakan untuk memberi jalan lebih dulu pada penumpang yang hendak keluar. Aku celingukan. Tubuhku terdesak ikut terdorong arus mereka. Aku bingung. Imbauan dari pengeras suara itu tampaknya hanya seperti angin lewat. Sebelum penumpang yang baru tiba turun, penumpang naik berjejalan tanpa memberi kesempatan. Dalam hitungan detik, kereta penuh.
Aku berdiri di tengah meraih pegangan yang bergelantung di atas. Ini persis seperti kondisi bus trans Jakarta saat jam pulang kantor yang kulihat kemarin.
Untung saja di kereta ini ada pendingin udara. Setidaknya para penumpang tidak kepanasan dan berkeringat. Tidak bisa kubayangkan kalau berjejalan begini dan semua orang penuh keringat? Hii ….
Benar kata Rachel. Kalau begini kondisinya, masker benar-benar menjadi barang wajib.
Ayolah jalan kereta. Aku sudah tidak tahan. Kakiku pegal, tanganku pegal, tidak bisa bergeser dan tidak bisa bergerak.
Terdengar pengumuman lagi dari pengeras suara. Kereta akan berangkat pukul 07.45 WIB. Kulirik jam di pergelangan tangan. Baru pukul 07.30 WIB. Artinya lima belas menit lagi kereta ini baru akan berjalan.
Huaaaa ingin menangis rasanya. Kulepaskan tangan dari alat pegangan yang bergelantung di atas. Penumpang masih saja berdatangan. Gerbong ini makin sesak. Pendingin udara makin tak terasa.
Bell tanda kereta akan berangkat akhirnya berbunyi. Buru-buru kuraih pegangan di atas kepala. Tiba-tiba seseorang dibelakangku meraihnya lebih dulu. Aku kebingungan. Sepertinya situasi begini, aku harus memiliki naluri yang sama dengan mereka. Berani berebut, bertahan yang penting selamat. Kupaksakan ikut meraih alat pegangan itu walau hanya sedikit memegangnya.
Kereta mula berjalan. Lajunya membawa tubuh kami semua bergoncang. Berayun ke kanan-kiri mengikuti irama laju kecepatan kereta.
Satu demi satu stasiun terlewati. Benar yang diajarkan Rachel tadi. Pengeras suara terus memberikan info perjalanan kereta.
Kuperhatikan cara mereka turun. Persis seperti tadi. Berebut dengan calon penumpang yang akan naik.
Aduh, aku bisa tidak ya, kenapa rasanya mengerikan sekali. Aku harus ekstra hati-hati jangan sampai kakiku terjepit saat turun nanti.
Tepat 45 menit kereta tiba di stasiun tujuanku. Tubuhku terdorong mengikuti arus manusia yang berduyun-duyun turun.
Fokus Sandra, fokus! Aku terus melihat ke bawah menjaga langkahku agar jangan sampai terjepit saat melangkah turun.
Kuhirup napas dalam-dalam saat sudah berhasil keluar. Aku menyandarkan tubuh pada dinding stasiun. Tak ada tempat duduk kosong. Semua penuh.
Ini baru hari pertama Sandra, cerita di kota ini masih panjang ….