Langit hampir berubah warna. Dari biru menjemput senja. Sandra keluar dari kantornya seperti biasa ada jemputan yang sudah setia menanti. Marwan berdiri lalu jalan mondar-mandir seperti setrikaan tidak sabar menunggu Sandra. “Ah, biasa Mbak ini kalau pulang santai-santai gak kasihan sama yang nunggu. Udah setengah jam ini lho aku nungguin,” keluhnya saat melihat Sandra mendekat. “Ya sorry, menjelang weekend nih, apa-apa yang mau ditinggal libur di selesaikan dulu.” “Alah, perasaan tiap hari ya gitu, gak menjelang weekend doang.” “Terus kamu sebel suruh nungguin aku?” “Ya gak sebel, terpaksa. Kalau aku jemputnya gak on time ibu marah,” “Sukurin, itu deritamu,” ledek Sandra. Mereka siap melaju. Sandra bersandar pada sandaran kursi terlihat lelah dengan pekerjaannya seharian. Sambil m

