Monster berpinggul besar itu masuk ke dalam ruangan dengan senyum sinis. Langkahnya yang berat sudah terdengar dari jarak beberapa meter sebelum tiba diambang pintu. Ia melewati mejaku begitu saja tanpa kata. Tapi raut sombong dan sinis itu seolah menyiratkan kemenangan. Ya mungkin bagi dia. Aku sudah tahu kok kalau sebentar lagi bakal dipanggil oleh HRD. Tuuut … telepon di meja berbunyi. Aku segera meraihnya. “Kamu siap-siap ke ruangan HRD,” ucap bu Yenti sebelum aku sempat menjawab telepon itu. Aku hanya mengangguk pura-pura baru dengar. “Hallo,” jawabku menerima telepon itu. “San, tolong ke ruang HRD ya,” suara Mbak Dina. “Baik Mbak,” Gagang telepon kembali ku letakkan. “Saya permisi dulu Bu,” kataku. Dia yang berdiri di dekat mejaku hanya menjawab dengan senyum sinis. Aku langs

