Prass begitu terkejut. bukan karena suara Rachel yang mengagetkannya tapi kehadiran Sandra yang benar-benar tidak di sangka-sangka. “Sandra,” pertanyaan dari Rachel seolah tak terdengar. Prass langsung bangkit dari kursi. Ketika berdiri ia kelihatan sedikit limbung dan memegangi kepalanya. “Biar saya bantu Pak,” Melva reflek memegangi lengan Prass. seketika itu juga Prass menepis. “Saya gak apa-apa kok, bisa sendiri.” Ucapnya. Sandra masih berdiri di tempat. Merasa serba salah. Ini tak seperti harapannya. Hatinya penuh tanya. Rasanya ingin langsung lari pulang. Tapi tak mungkin. Mendengar wanita yang ia lihat di hadapannya memanggil Prass dengan sebutan ‘Pak’ jelas Sandra paham kalau wanita ini rekan kantor. Tapi kenapa mereka harus berada di rumah ini berdua? “Sorry tadi … eng, kebet

