5

1085 Kata
Hari itu Kiara sedang sibuk sibuknya. Kiara dan Amel ditunjuk untuk mendampingi siswa yang akan ikuti lomba OSN tingkat Kota. Ya ampun, Kiara deg degan. Pasalnya selama tiga minggu ini mereka juga ikut membimbing siswa itu dalam belajar. Yang ikut lomba tuh ada 3 orang. Satu yang ikut OSN Matematika, satu yang ikut OSN IPA, dan yang satu lagi ikut OSN IPS. Karena dari Universitasnya hanya ada Mahasiswa Pendidikan Matematika saja, jadi mau gak mau Amel dan Kiara yang ikut mendampingi mereka. "Tegang amat, Ra." Kiara terima sebotol air mineral yang di sodorkan saat menunggu para siswa yang sedang tes. "Gue takut dia gak lolos seleksi, Ka" Azka terkekeh karenanya. Di lihat lihat Kiara lucu juga ya. Ekspresi tegangnya bikin Azka gemes. "Santai kali, Ra. Amel juga biasa aja tuh." Iya. Amel mah selow orangnya. Lagian kalau gak lolos bukan salah Mahasiswa PPL kok. Mereka kan sudah berusaha. Siswa yang ikut lomba juga pasti berusaha semampunya. Tapi mungkin, memang keberuntungan yang belum berpihak. Lagian berdoa saja supaya semuanya berjalan lancar dan sesuai rencana. Gitu sih Amel mah. "Lo tahu ga, Ka. Daritadi tuh Kiara ada kali 10 kali bulak balik ke toilet." Cerita Amel. "Iya, gitu?" Amel angguki. Azka tuh dari tadi mondar mandir gak jelas bareng Bapak kurikulum sekolah. Mungkin urus ini dan itu. Jadi dia gak tahu kalau ternyata Kiara sepanik itu. "Sekarang lo ngasih dia air minum, semenit lagi juga dia ke toilet lagi." "Ya ampun, lucu bangat sih lo, Ra" Kiara mematung di tempat. Azka katakan itu sambil mengacak rambutnya Kiara. Jantung Kiara rasanya berhenti berdetak. Interaksi macam apa ini? Hey, kaum adam. Anda tahu tidak. Yang tadinya tidak ada rasa, kalau tangan anda sudah mendarat di kepala, kaum hawa bisa kepikiran kemana mana. Tolong dong tangannya di kondisikan. Kiara salah tingkah. "Pegangin. Gue mau ke toilet." Langsung ngibrit gitu aja. "Tuh kan, gue bilang juga apa. Emang beser tuh anak." Azka yang pegang botol minum senyum senyum deh tuh liat kelakuan Kiara yang menurutnya aneh. Ada gitu ya cewek kayak Kiara. Bikin Azka penasaran aja. **** Berkali kali Kiara tarik nafas dan hembuskan nafasnya. Kali ini tegangnya nambah berkali kali lipat. Ini semua terjadi karena Azka berikan senyuman untuk Kiara. Apa itu tadi? Habis ngacak ngacak rambut terus senyum manis gitu. Azka ngapain sih? Bisa bisanya juga Kiara gugup di depan seorang Azka. Tapi, ah. Kiara kan emang gitu orangnya. Ngerasa semua cowok suka sama dia hanya karena wajahnya yang cantik. "Gak boleh baper, Ra. Inget. Lo punya Reno" gumamnya sendiri saat bercermin di toilet. Memang benar, saat ini hubungan Kiara dengan Reno sedang ada di fase ketidakpastian. Tapi Kiara harus ingat, jika masih inginkan Reno, Kiara gak boleh macem macem sama cowok lain. Kalau sampai Reno salah paham lagi. Kelar sudah. Oke. Setelah ini, dia gak boleh gugup di depan Azka. Mau cowok itu senyum atau skinship apapun Kiara harus inget posisi. Ada hati yang harus dia jaga. Tapi, ah. Omong kosong. Kiara balik badan waktu Azka nongol di depan toilet. "Ra." Aduh. Kenapa Azka pegang tangan Kiara? Pipi Kiara pasti merah kayak tomat deh. "Mau kemana?" "Gu.. gue.. gue mau ke toilet." Gagap gagap gak jelas. "Nervous bangat ya, Ra?" Eh. Kiara balik badannya. Sekarang mereka jadi berhadapan. Saling menatap. Kiara yang mendongak sedang Azka yang menunduk. Duh tinggi badan mereka kontras bangat sih. Tapi tatapan Azka begitu hangat. Pun ada tangan yang menggenggam di bawah sana. "Lo ikutin gue deh." Maksudnya? "Tarik nafas pelan pelan." Kiara naikan sebelah alis matanya. "Tarik nafas pelan pelan, Ra. Biar gak tegang lagi." Oh, oke. Kiara ikuti ucapan Azka. Dia menarik nafasnya dalam. "Keluarin pelan pelan." Di hembuskan perlahan. "Jangan lewat belakang ya" Padahal baru dihembuskan setengah. Tapi Azka sudah sukses membuat gelak tawa. Kiara bahkan pukul lengan Azka. Keras. Wah, emang beda ya kalau mahasiswa PJKR tuh. Pasti Azka rajin olahraga. Kiara jadi penasaran, seperti apa otot ototnya Azka. Astaga. Mikir apaan sih. "Udah gak tegang lagi kan?" Kiara terkesiap. Selanjutnya dia berikan anggukkan kepalanya. "Ya udah, yuk." "Eh, Ra." Lagi tangannya di cekal. "Ini punya lo kan?" yang ada di tangan Azka adalah sebuah gantungan ponsel bentuk beruang kecil. "Loh kok bisa ada di, Lo?" Azka pindahkan gantungan itu ke tangan Kiara. Selanjutnya dia berjalan mendahului sambil berkata, "Tadi jatoh waktu lo buru buru ke toilet." Kiara berlari kecil mengejar ketertinggalannya dari Azka. Sambil dia pasangkan kembali gantungan itu di ponselnya Kiara katakan, "Makasih ya udah nemuin dan balikin ini ke gue." "Sama sama. Lain kali hati hati, ya. Kayaknya ini berharga." Seketika Kiara menoleh pada Azka. Ucapannya benar. Ini bukan sekedar gantungan biasa. Memang sangat berharga. Karena selain ada beruang kecil disana, ada juga logam berbentuk hati dengan tulisan inisial R?K. "Aw." Kiara limbung. Untung Azka cekatan menangkap tubuh Kiara. Hingga tubuh mungil itu tidak perlu terjatuh. "Lo emang harus hati hati, Ra. Jangan sampe jatoh. Karena yang ini lebih berharga." Segera Kiara berdiri tegak. Dia bilang, "Makasih" dan Kiara ngibrit lagi. Duh. Kenapa harus ada acara kesandung segala sih? Bikin malu aja. Gak tahu deh, kayaknya Kiara gak bisa ketemu Azka lagi deh. Kiara malu. Sumpah. **** Sore hari Kiara baru sampai rumah. Lelah. Dia lempar tasnya sembarang. Pun dia lempar tubuhnya ke kasur. Baru juga mau terpejam. Ponselnya berdering. Dia rogoh saku almamaternya. Tanpa melihat lagi siapa yang menelpon dia menjawab, "Halo" "Lemes amat lo? Udah pulang?" Oh, Kiara tahu siapa suara ini. Si Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris. Silva namanya. "Baru sampe rumah." "Gimana hasilnya tadi?" "Belum keluar lah hasilnya." "Yah gue kira langsung ketahuan hasilnya." "Nggak. Kata kurikulum sih hasilnya nanti diumumin lewat website." "By the way lo berapa kali ke toilet, Ra?" Ada kekehan yang tidak Kiara pedulikan di seberang sana. Sebab mendengar kata toilet Kiara malah jadi ingat Azka. Ya ampun, mukanya tanpa sadar mengeluarkan rona merah dengan sendirinya. "Sil udah dulu ya" Langsung di putus teleponnya. Emang temen gak ada akhlak mah gitu. Orang nanya bukan di jawab malah di matiin teleponnya. Kan ngeselin. Untung Silva sabar. Kesabarannya sudah teruji secara klinis untuk Kiara. Waktu Kiara tekan tombol merah di layar, dia lihat notif pesan di bar atas ponselnya. Ketika dia lihat, seketika matanya terbuka lebar. "RENO?" Sekarang sudah pukul 4 sore. Sedang pesan itu sampai pukul 8 pagi. Ya ampun. Sudah 8 jam Kiara abaikan pesan penting itu. Bodoh bangat. Langsung saja Kiara telpon saat itu juga. Sekali, dua kali. Tidak di angkat. Kiara Resah. Reno pasti marah. Padahal susah payah dia usaha biar di notice. Sekarang giliran ada timbal balik malah kiara lewatkan. Sampai pada panggilan ke 18, "Kenapa?" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN