Yang namanya Kiara itu orangnya gak pandai bergaul. Terbukti dengan temannya yang cuma itu itu aja. Iya. Silva. Kalau ada yang lihat dia banyak di sapa orang, itu cuma karena dia good looking. Pun ramah orangnya.
Jadi Silva sebagai teman satu satunya Kiara sejak SMP itu bakalan bela Kiara paling depan kalau Kiara dapat masalah.
"Fan. Taruhan sama Gue. Reno pasti Kena tampar Kiara." Suma yang ngomong bisik bisik waktu lihat Reno berjalan mendekati Kiara.
Hari ini malam kelulusan mereka. Mereka udah resmi nih lepas seragam putih birunya. Dan barusan Reno sudah Resmi menjadi pemilik uang 500ribu dan Handphone yang Zulfan dan Suma janjikan.
"Gak mungkin lah. Gue udah janjiin dia 500ribu lagi kalau sampai dia berhasil nyium Kiara. Dia pasti lakuin apa aja lah buat itu. Menang banyak dia. Di cium iya, 500ribu juga dapet."
Tapi dasar emang anak sultan yang ini juga gak pada punya akhlak. Mereka manfaatin temennya sendiri sebagai bahan kegabutan mereka.
Zulfan yang nantang Reno buat nyium Kiara malam ini. Dan anak lelaki itu akan hadiahkan Reno uang 500ribu yang kedua jika sampai Reno bisa lakukan itu.
"Tapi gue yakin sih, tuh anak bakalan kena tampar. Kiara gak bakalan segampang itu lah."
"Iya juga sih." Mereka juga baru pacaran kan. Baru juga 2 bulanan. Kecuali Reno ada bakat Playboy mungkin bisa aja Kiara tergoda.
"Kasih gue PS terbaru ya kalau sampe Kiara nampar Reno."
"Oke"
Saat tangan mereka berjabatan, saat itu jugalah b****g mereka kena tendang. Silva pelakunya.
Kebetulan bangat Silva lewat waktu Suma dan Zulfan ngomongin soal taruhannya.
"Ceritain semua sama gue. Atau lo berdua gue jadiin perkedel!"
*****
Ini malam kelulusan mereka. Memang masih di bawah umur semuanya. Makanya acara di mulai jam 5 sore dan akan selesai di jam 9 malam. Mereka juga harus dan wajib di antar jemput orang tua.
Siswi yang datang sudah pasti tampil cantik dengan balutan dress. Yang siswa juga tampan kenakan stelan jas.
Dan yang sudah pasti mencuri perhatian adalah Kiara. Bintangnya malam kelulusan SMPnya itu datang dengan berbalut midi dress silk hitam sederhana dengan aksen pita di pinggangnya. Warna hitam yang senada dengan higheelsnya itu justru membuatnya semakin terlihat stunning.
Apalah Reno yang jadi pasangannya malam ini di acara itu. Reno di pilih jadi Rajanya karena dia dapat nilai ujian paling tinggi di sekolah. Gak nyangka kan? Bukan lagi nomor satu di kelas. Tapi nomor satu seangkatan. Para guru pun di buatnya heran. Kemana saja otak cerdasnya selama ini?
Anak laki laki kebanyakan kenakan stelan jas. Sedangkan jas yang Reno kenakan hanyalah jas tetangga yang dia pinjam tadi pagi. Itu pun terlihat kebesaran dan warnanya sudah tidak hitam pekat. Sepatu yang dia gunakan juga cuma pakai sepatu sekolah. Beda sama teman temannya yang lain yang kebanyakan pakai sepatu hitam mengkilap atau bahkan sepatu kets baru.
Gak apa lah. Seperti ini juga Reno senang kok. Dia bisa membanggakan orang tua dengan dapat nilai bagus. Besok akan Reno beli sepatu baru dari uang taruhan Zulfan yang ia menangkan.
"Pacar aku ganteng bangat sih"
Reno tahu kok, Kiara bohong. Sebelah mana gantengnya sih Reno? Atau jangan jangan mata Kiara sudah mulai rabun.
"Ra, kamu gak malu pacaran sama aku?"
Pasalnya sedaritadi Kiara tidak pernah melepaskan tautan tangannya pada Reno. Jujur saja. Reno mulai risih.
Kiara itu banyak yang suka. Tapi Reno gak tahu kenapa Kiara mau terima ajakan pacarannya Reno. Padahal sebelum Reno bilang suka sama Kiara, Reno liat kalau ada yang ngajakin Kiara pacaran juga hari itu.
Makanya waktu itu Reno pesimis. Sama yang ganteng dan tajir macem mantan ketua OSIS aja di tolak sama Kiara. Apalagi Reno.
Tapi tahu tahu Kiara bilang : Aku mau jadi pacar kamu.
Kalimat yang membuat Reno mendekat pada hadiah taruhannya.
"Kenapa harus malu sih? Pacar aku paling pinter di sekolah. Aku justru bangga." Gemas. Kiara cubit pipi Reno.
Kebiasan Kiara tuh suka cubit cubit pipinya Reno. Padahal Reno gak gemoy. Dia malah kurus. Kan kalau di cubit gini sakit ya. Mana nyubitnya kenceng, pula.
Dug
"Duh. Sorry, Ren. Gue gak sengaja."
"Aldi, kalau jalan lihat lihat dong! Jasnya Reno kan jadi basah."
Iya. Aldi. Cowok yang dulu sempat Kiara taksir. Dia gak sengaja, eh sengaja sih. Dia sengaja nabrak Reno dan numpahin minuman ke badan Reno. Karena dia gak suka lihat Kiara pacaran sama Reno.
Dia suka sama Kiara. Cuma gak seberani Reno buat ngajakin Kiara pacaran. Ah. Aldi sekarang nyesel. Dia di kalahin sama anak miskin macem Reno dari berbagai hal. Bukan cuma Kiara yang di rebut darinya. Tapi juga posisi rangking di kelas. Bahkan posisi peringkat pertama nilai ujian yang seharusnya bisa Aldi dapat, justru Reno yang memilikinya.
"Gak apa apa, Ra. Bisa di bersihin kok."
Reno tarik Kiara waktu Kiara sudah melangkah mendekati Aldi. Jangan sampai udah dandan cantik gini Kiara jadi bar bar.
"Ya udah sini aku bersihin."
"Biar aku aja, Ra. Nanti baju kamu ikutan kotor."
"Gak bakal Ren."
"Tapi, Ra..."
"Ya udah sih, tinggal lo berdua bawa ke WC apa susahnya sih bersihin disana!"
Kiara dan Reno tersentak. Aldi yang di kenal pendiam dan kalem bisa membentak juga ternyata.
"Ren, kok Aldi serem ya." Bisik Kiara ketika Aldi sudah pergi menjauh.
Serius. Kiara kaget. Yang disekitar juga. Aldi terkenal irit bicara. Gak pernah tuh dia ngobrol ngobrol ketawa haha hihi sama temen sekelas. Waktunya di habiskan dengan belajar. Tapi karena ganteng, ya gak kayak kutu buku. Makanya pas tau seorang Aldi membentak seperti itu semua bertanya tanya.
"Dia gak kesambet setan lewat kan."
Maka Reno mengerling malas atas respon yang Kiara ucapkan barusan.
****
Reno perhatikan. Kiara kucek noda pada jas itu di bawah air mengalir. Dia gosok pakai sabun cuci tangan yang ada di wastafel.
Gak tahu kenapa, cewek taruhan ini baik bangat sama Reno yang bukan apa apa. Sewaktu PDKT, tiap malam minggu, dia rela nungguin Reno menelponnya. Karena kadang Reno telpon seringnya di atas jam 10. Itu karena dia harus cari temen yang bersedia meminjamkan ponsel untuknya.
Cewek ini juga pernah bilang, : Aku gak mau putus sama kamu meskipun setelah lulus SMP kita beda sekolah. Kamu harus tetep kasih kabar ke aku setidaknya seminggu sekali. Gak apa gak telepon juga. Kirim SMS sekali aja udah cukup kok buat aku.
"Ra."
Kiara begumam menjawab panggilan Reno.
"Kamu sesuka itu ya sama aku?"
Kiara hentikan aktivitasnya.
Maksudnya?
"Apa sih yang kamu suka dari aku? Aku kan ..."
"Ssttt..." Kiara tempelkan telunjuknya di bibir Reno. Jarinya wangi jeruk lemon dari sabun cuci tangan.
"Aku tuh suka kamu apa adanya. Aku suka kamu yang pinter. Aku suka kamu yang baik. Aku suka sama kamu yang .."
Kiara melotot di tempat. Di remas kuat jas yang dia pegang. Sementara Reno sebaliknya. Dia terpejam saat menginvasi bibir Kiara. Ah mereka baru 15 tahun. Dan ini ciuman pertama keduanya.
Kiara dorong tubuh Reno.
Plak.
Pipi Reno yang memerah. Silva yang menampar.
"Jahat bangat lo Ren. Jadiin temen gue barang taruhan!"
Kiara melotot lagi. "Maksudnya apa?"
"Si b*****t ini, macarin lo cuma buat dapetin duit sama handphone baru dari temennya." Kembang kempis d**a Silva saat katakan itu. Silva kesel maksimal. "Dan yang barusan juga itu taruhan. Dia bakal dapet duit kalau dia bisa nyium lo, Ra!"
Kiara tutup mulutnya. Dia merasa jijik. Saat itu juga dia tinggalkan Reno.
"Ra.. tunggu.."
Silva halangi langkah Reno. Dia katakan, "Cukup sampai disini. Lebih baik, lo gak usah ketemu Kiara lagi. Kiara pantes dapet yang lebih baik dari, Lo!"
***
"Kenapa?"
Adalah pertanyaan yang harusnya Kiara katakan. Kenapa Reno abaikan semua pesan Kiara?
"Kita kan udah putus."
Oh itu kenyataan yang belum bisa Kiara terima.
"Ngapain kamu ngechat aku pagi siang sore malem? Gak punya kerjaan?"
Kiara tertohok di tempat. Iya. Kiara belum bekerja. Dia gak punya kerjaan. Betul kok. Tapi, "A, kamu kenapa sih? Salah aku apa sama kamu?"
Oh Banyak. Masa sih harus Reno sebutkan satu satu. Daftar hitam Kiara gak muat satu buku kalau di tuliskan pun.
"Aku lagi kerja. Kita cukup sampai disini. Lebih baik kita gak usah ketemu lagi."
Kenapa? Kenapa tiba tiba bilang gitu?
"Aku dapet yang lebih baik dari kamu."
*****