"Selamat pagi dokter Diva," Sapa Gideon saat Diva memasuki ruangan anak.
Diva tersenyum, lalu membalas sapaan pasiennya itu, "Selamat pagi juga Gi. Ada keluhan nggak sayang?" Tanya Diva pada anak yang sudah dikenalnya sejak kecil itu.
Gideon tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya lemah.
Ketika dia bilang sayang pada Gideon, Diva tidak bohong, dia benar-benar sayang pada anak itu. Bukan hanya karena Gideon pasiennya, makanya Diva menyayangi anak itu. Tapi juga karena anak itu mengajarkan Diva untuk tetap bertahan meski keadaan hidup kita tidak baik. Seperti Gideon yang selalu tersenyum dan bersemangat, meski dia mengidap penyakit dan tumbuh dikeluarga yang tidak harmonis.
Saat ini Gideon hanyalah bocah berumur 5 tahun yang terlahir dengan keadaan jantung yang lemah. Awal Diva bertemu dengan Gideon, anak itu masih berumur 4 tahun dan dia masih aktif dan ceria layaknya anak seumurannya, meski dia tau jantungnya tidak baik-baik saja. Saat itu Diva sudah menganjurkan operasi jantung pada orangtua anak itu, tapi mereka menolak dengan alasan ekonomi dan belum siapnya mereka secara mental untuk operasi itu. Sampai akhirnya keadaan Gideon semakin memburuk karena Gideon hanya menjalani perawatan begitu saja, barulah kedua orang tuanya sadar dan memberikan ijin operasi buat Gideon.
"Dokter Diva, kemarin aku udah ketemu dengan dokter Nathan. Katanya dokter Nathan ya yang akan mengoperasi aku?" Tanya Gideon dengan wajah masih tersenyum meski terlihat sangat lemah.
Diva tersenyum kecil, lalu melepaskan stetoskop dari tubuh Gideon setelah yakin kalau untuk keadaan anak itu stabil untuk sekarang. Lalu dielusnya kepala Gideon dengan sayang lalu berkata, "Dokter Nathan adalah dokter hebat, jadi kamu tidak perlu takut untuk operasi nanti. Nanti dokter Diva juga akan menemani kamu kok."
Diva mencoba memberikan dorongan positif kepada Gideon karena meskipun Gideon terlihat biasa saja ketika berbicara tentang operasinya, Diva tau kalau anak itu sebenarnya merasa takut kalau seandainya operasinya itu tidak berjalan lancar. Gideon terlalu pintar untuk anak seumurannya, hingga dia tau kalau keberhasilan operasi ini sangatlah kecil. Lubang dijantungnya sudah terlanjur sangat besar ketika orangtuanya setuju untuk menjalani operasi itu.
"Kalaupun tidak selamat, aku nggak papa kok dok. Aku sudah lihat mama papa baikan, itu sudah cukup buat aku."
Dengan tatapan menerawang Gideon mengatakan hal itu pada Diva, membuat Diva semakin merasa kasihan pada anak itu. Meski Diva tidak tau apa yang terjadi dikeluarga Gideon, Diva tau kalau keluarga Gideon memang bermasalah. Mama papa Gideon terlihat tidak akur sama sekali bahkan ketika mereka berdiskusi tentang keadaan Gideon. Jadi ketika mendengar perkataan Gideon yang seperti tadi ada kemarahan tersendiri di hati Diva pada orangtua anak itu.
"Kamu tau dokter Nathan itu adalah dokter yang hebat, jadi dia pasti bisa menyelamatkan kamu. Dan kamu juga, tidak boleh berpikir kalau kamu tidak selamat, dokter yakin kalau kamu kuat." Diva memberikan semangat pada Gideon sebelum dia meninggalkan anak itu untuk melanjutkan tugasnya.
***
"Jadi bagaimana keadaan Gideon hari ini?" Pertanyaan Nathan membuyarkan lamunan Diva akan apa yang dikatakan Gideon padanya tadi.
"Em... Eoh... Eh... " Diva terlihat gelegapan saat dia sadar kalau kini dia sedang bersama Nathan sekarang. Mereka sedang ada di kantin rumah sakit untuk makan siang sekaligus berdiskusi soal Gideon.
Nathan menaikkan satu alis matanya, tapi tetap dengan raut wajah datar miliknya. Hal itu membuat Diva semakin salah tingkah.
Meski sudah satu minggu berlalu sejak kejadian di ruangan William, Diva masih belum terbiasa dengan keberadaan Nathan. Padahal Nathan selalu bersikap biasa saja kepada dia, sama seperti Nathan memperlakukan dokter lainnya. Tapi Diva, dia masih bereaksi seperti sebelumnya setiap kali bertemu Nathan, meski reaksi itu perlahan-lahan mulai berkurang.
Sejak kejadian itu juga, Nathan sering menemui Diva hanya untuk sekedar menanyakan perkembangan keadaan Gideon. Menurut Diva itu merupakan hal yang wajar karena Nathan perlu tau perkembangan Gideon setiap harinya karena kondisi Gideon akan mempengaruhi operasi si anak. Dan untuk itu walau kadang masih canggung, Diva selalu berusaha keras agar bisa menjelaskan kondisi Gideon seprofesional mungkin kepada Nathan.
"Keadaannya semakin melemah. Menurut keterang suster Anna, Gideon sekarang jauh lebih sering membiru dan berkeringat berlebihan lebih sering dari biasanya." Jawab Diva untuk pertanyaan Nathan tadi.
Nathan terdiam sesaat, lalu dilemparkannya tatapannya ke taman yang terletak di samping kantin rumah sakit mereka. "Kamu taukan kalau VSD Gideon itu sudah masuk dalam tingkat VSD terberat yang kalau tidak ditangani akan mengakibatkan dia gagal jantung?" Tanya Nathan lagi dengan suara tenang namun beratnya.
Diva menganggukkan kepalanya tanda dia tau apa yang akan dijelaskan oleh Nathan.
"Iya aku tau," jawab Diva dengan pelan.
"Ternyata, lubang itu sudah mengalami infeksi parah karena sepertinya orangtua Gideon tidak teratur memberikan obat pencegah endokarditis infektif pada lubang itu. Itulah yang membuat keadaan Gideon semakin memburuk." Terang Nathan pada Diva.
Mendengar itu, Diva marah. Dulu waktu orangtua Gideon menolak operasi karena alasan ekonomi dan belum siap, Diva bisa terima alasan itu. Meski Diva tidak percaya kalau seorang kontraktor dan pemilik butik punya ekonomi yang pas-pasan. Saat orang tua Gideon menolak operasi anak mereka, Diva tidak mau memaksa dan mendesak mereka karena alasan mereka yang katanya tidak siap untuk kehilangan Gideon. Tapi mendengar mereka yang tidak mengurus Gideon dengan telaten hingga semakin memperburuk keadaan anak itu membuat Diva marah. Pengakuan mereka berbanding terbalik dengan perlakuan mereka terhadap Gideon, padahal Diva saja peduli dengan anak itu.
Sebelum setuju dioperasi, Diva selalu menyempatkan diri untuk menanyakan keadaan Gideon setiap hati. Sekalian dia datang untuk membujuk kedua orangtua anak itu agar mereka mau memberikan ijin untuk Gideon menjalani operasi. Untungnya saat mereka setuju untuk operasi, sudah ada jantung yang cocok buat Gideon.
"Apa yang sebenarnya mereka pikirkan." Geram Diva pada 2 sosok yang hanya ada dalam bayangan Diva. "Aku tidak mengerti dengan mereka. Tidakkah mereka menyayangi Gideon? Lalu kenapa mereka tampak tidak peduli dengan kesehatan anak mereka." Ucap Diva lagi dengan keadaan marah.
Nathan tidak menjawab apapun. Dia memilih diam dan membiarkan Diva melemparkan kemarahannya. Sampai akhirnya dia berkata, "Bukankah seharusnya kamu yang lebih tau, kalau ada alasan disetiap tindakan?"
Diva langsung terdiam karena perkataan Nathan barusan. Diva tau kalau Nathan sedang menyindirnya saat ini.
***
Tangan Diva terasa begitu dingin. Jantungnyapun ikut berdetak karuan hingga menunjukkan betapa gelisahnya dia saat ini. Sudah berapa kali dia mencoba untuk mengalihkan pikiran dan perhatiannya, namun selalu gagal karena hati dan pikirannya selalu membawanya pada kenyataan. Kenyataan kalau dia perlu bersiap-siap untuk mengantarkan Gideon untuk menjalankan operasi jantungnya, operasi yang membuatnya gugup setengah mati.
Tingkah Diva ini membuat dia terlihat seperti dokter amatiran yang tidak berpengalaman sama sekali. Padahal Gideon bukanlah pasien pertamanya yang punya keadaan separah ini, dia sudah pernah menangani yang lebih parah lagi, tapi baru Gideon ini yang membuat dia segugup ini. Merasa perlu mendapatkan kepastian agar dia lebih tenang, membuat Diva memutuskan untuk menemui Nathan. Dia seakan lupa dengan perasaan yang menyergapnya setiap kali bertemu dengan Nathan.
Dengan langkah tergesa, Diva berjalan menuju ruangan Nathan. Namun, waktu dia sudah berdiri di depan pintu ruangan Nathan, Diva tiba-tiba ragu untuk menemui Nathan. Perasaannya yang ketakutan dan menyesal setiap kali menemui Nathan, membuat dia menghentikan niatnya itu. Padahal perasaan itu tidak sebesar yang dulu lagi, tapi tetap saja membuat Diva masih ketakutan setiap kali bertemu dengan pria itu.
Semua pemikiran itu membuat Diva akhirnya hanya bisa berdiri di depan ruangan Nathan seperti orang kebingungan. Sampai sebuah suara menyentak Diva kealamsadarnya.
"Kamu ingin bertemu dengan aku?"
Diva terlonjak, lalu dengan otomatis dia memutarkan tubuhnya hanya untuk melihat pemilik suara itu meski dia sudah tau siapa itu. Pemilik suara itu adalah, Nathan. "Emmm, iya." Katanya ragu dan langsung menggigit bibir bawahnya agar mengurangi sedikit rasa gugupnya.
Setelah mendapatkan jawaban Diva, barulah Nathan membuka pintu ruangannya, lalu mempersilahkan Diva untuk masuk terlebih dahulu.
"Masuk," kata Nathan untuk mempersilahkan Diva masuk.
“Terimakasih," ujar Diva sungkan.
Setelah keduanya sudah berada di dalam ruangan Nathan dan duduk di tempat mereka masing-masing, suasana hening menemani keduanya. Perasaannya pada Nathan terlalu mendominasi, hingga membuat Diva lupa dengan tujuannya datang ke tempat ini.
"Ada apa?"
Suara tenang Nathan kembali memecah lamunan Diva, membawa Diva kembali ke dunia nyata. Namun Diva tidak langsung menjawab pertanyaan Nathan, dia kembali sibuk berpikir bagaimana dia harus menyampaikan kerisauannya akan operasi yang akan dijalani oleh Gideon. Saat kembali sibuk dengan pikirannya, sebuah sentuhan dikeningnya, tepatnya diantara kedua alisnya membuat Diva terkejut dan tubuh Diva berubah kaku saat itu juga. Apalagi saat didapatinya Nathan sudah berdiri di samping kursinya dengan tubuh yang sedikit dia dudukkan dipinggiran meja kerjanya.
"Kalau kamu ingin menanyakan keadaan Gideon, kamu tidak perlu khawatir. Aku dan tim akan berusaha memberikan yang terbaik agar operasinya bisa berjalan baik dan lancar. Hingga Gideon bisa bermain lagi seperti anak lainnya." Kata Nathan dengan suara yang tenang dan juga ibu jari yang masih mengelus kening Diva yang berkerut.
Diva tidak bereaksi apapun. Dia tidak tau harus bagaimana harus menggambarkan perasaannya akan perlakuan Nathan ini kepadanya. Raut wajah Nathan yang kosong dan tatapan mata yang tidak terbaca milik Nathan itulah yang membuat Diva tidak tau harus bereaksi seperti apa pada laki-laki itu. Jujur saja, ada sedikit rasa bahagia dalam hati Diva saat dia menyadari kalau Nathan masihlah Nathan yang dulu. Nathan yang selalu mengelus keningnya kalau dia terlihat kebingungan.
"Soal malam itu..."
Perkataan Nathan memecah pikiran Diva yang tadi sempat menjelajah kemasa lalu mereka. Lalu Diva menatap Nathan yang sudah melepaskan sentuhannya pada kening Diva, berharap dengan melihat Nathan dia bisa tau malam mana yang dimaksud oleh pria itu. Seketika Diva tau malam mana yang dimaksud Nathan karena hanya ada dua malam yang penting antara dia dan Nathan, malam kebersamaan mereka. Dan dalam dua malam itu dia dan Nathan melakukan hal yang sama, namun dengan kondisi dan cerita yang berbeda.
Segera mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Nathan tadi, membuat Diva terkejut dan merasa tidak siap dengan pembicaraan yang akan mereka bahas. Diva tidak menyangka kalau Nathan akan mengungkit kejadian yang telah terjadi beberapa minggu lalu. Jelas saja hal itu membuat Diva gelagapan dan mengeluarkan apapun yang bisa keluar dari mulutnya, tanpa dia pikir dulu apa akibatnya.
"Jika kamu berbicara tentang malam itu. I think we could pass that. It's just s*x no string attached. Ya, itu hanyalah sex." Katanya dengan cepat, namun begitu lirih dibagian terakhirnya. Saat kalimat itu sudah keluar, saat itu Diva sadar kalau dia salah. Wajah Nathan berubah mengeras, tatapannya mata birunya juga berubah sama dingin. Lebih dingin dari saat mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun lalu mereka tidak berpisah.
"Baiklah, kalau ini semua hanyalah tentang s*x. Ayo kita lanjutkan semua ini dengan kamu yang akan menjadi partner sexku. Kamu yang dulu memberikannya pertama kali buat aku dan aku rasa aku berhak memintamu untuk memberikannya terus kepadaku sampai aku menemukan oranglain yang bisa memberikan itu kepadaku." Kata Nathan begitu dingin dengan tatapan yang dingin pula.
***