CHAPTER 13

1732 Kata
Seharusnya Diva memilih untuk pulang atau menunggu diruangannya saja waktu operasi Gideon berlangsung. Tidak duduk sendiri di depan ruangan operasi Gideon seperti apa yang seharusnya dilakukan orangtua atau wali si pasien. Tapi Diva sudah terlanjur janji pada Gideon untuk menemani anak itu selama operasi, makanya dia ada disina meski pikiran dan perasaannya masih kacau dengan apa yang baru terjadi diantara dia dan Nathan. "Diva, lo belum pulang? Bukannya lo sampai sore doang ya dinasnya buat hari ini?" Tanya Kian, teman Diva yang bekerja sebagai dokter saraf kepada Diva. Mengembalikan kesadarannya karena kehadiran Kian, barulah Diva menanggapi pertanyaan teman seprofesinya itu. "Gue nungguin Gideon operasi Yan." Jawab Diva dengan nada yang pelan. Kian menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dia tidak lagi bertanya, tapi memilih untuk duduk di sebelah Diva, sebelum dia menyanderkan tubuhnya pada kursi tunggu tempat dia dan Diva duduk. Sama seperti Diva yang juga telah melepas jas kedokterannya, Kian juga melepaskan jas itu dari tubuhnya tanda dia juga telah menyelesaikan tugasnya untuk malam ini. Diva memutarkan tubuhnya kearah Kian, lalu berkata kepadanya, "Lo nggak balik? Bukannya lo janjian sama Halley ya malam ini?" Kian langsung mendengus mendengar perkataan Diva, membuat Diva langsung tau kalau Halley dan Kian dalam keadaan yang tidak baik-baik saja sekarang. "Nggak jadi karena ada operasi dadakan tadi. Makanya dia lagi ngambek dan nggak mau ngejawab semua pesan dan panggilan gue." Dengan wajah kecut dan kesal Kian mengatakan hal itu pada Diva. Diva terkekeh geli karena dia merasa aneh dengan hubungan kedua temannya ini. Mereka selalu mengaku teman, tetapi Halley selalu meminta Kian untuk memperhatikannya lebih istimewa dari teman-teman Kian yang lain. Sedangkan Kian, dia selalu memanjakan Halley. Dia melakukan apapun yang diminta oleh Halley kepadanya, meskipun permintaan Halley itu kadang-kadang tidak tau kondisi dan tempat. "Kalian aneh. Kalian tidak mau terikat hubungan yang lebih dari pertemanan, tapi kalian bersikap layaknya pasangan yang akan mati jika pasangannya tidak ada." Sindir Diva secara terang-terangan pada Kian. "Kalian aneh dan tidak jelas." Lanjut Diva menyindir teman prianya itu. Mendapat sindiran Diva, membuat Kian memutarkan bola matanya, lalu berkata, "Lo nggak pantes nyebut gue dan Halley tidak jelas dan aneh karena lo sama dokter Nathan jauh lebih nggak jelas dan aneh." Diva terdiam seketika saat mendengar perkataan Kian. Dia terkejut karena Kian bisa mengatakan hal itu padanya. Padahal seingat Diva, dia tidak pernah sekalipun membicarakan soal dia dan Nathan kepada siapapun. Selain itu, Diva juga merasa tidak pernah bertingkah aneh pada Nathan saat teman-temannya ada bersama dia. Melihat Diva yang terdiam karena pernyataannya tadi, membuat Kian akhirnya menegakkan badannya dan memilih berbicara serius dengan Diva. "Jangan pikir gue, Farrel, Kate dan Hall nggak tau kalau lo sama dokter Nathan ada hubungan. Sikap lo yang selalu tegang dan terlihat tidak nyaman setiap kali dokter Nathan ada dekat lo cukup untuk ngebuat kita sadar kalau lo sama dokter Nathan ada hubungan lebih dari teman yang seharusnya." Kata Kian dengan dengan nada mengintimidasi. Diva kehilangan kata-katanya, dia tidak menyangka kalau teman-temannya ternyata menangkap tingkah anehnya saat bertemu dengan Nathan. Seandainya dia tidak teledor, mungkin teman-temannya tidak akan menyadari tentang dia dan Nathan. Diva sungguh menyesal karena sudah bersikap lalai selama ini. Membuat dia harus memikirkan cara agar apapun nama hubungan dia dan Nathan tidak perlu terbongkar kepada teman-temannya. "Selain itu, gue ngelihat lo nangis dan berciuman dengan dokter Nathan malam itu." Lanjut Kian yang membuat Diva menghentikan niat berbohongnya. Mendengar perkataan Kian yang ini, membuat niat Diva untuk menyangkal perkataan Kian sebelumnya hilang sudah karena Kian bukanlah orang bodoh. Orang bodoh yang akan mempercayai kalau dia dan Nathan hanyalah teman kerja. Teman kerja mana yang bisa saling berciuman bahkan berhubungan badan seperti dia dan Nathan. Kian menghela napasnya kuat, lalu berdiri dari duduknya dengan tapan simpati pada Diva. "Lo tenang aja, masalah lo yang nangis, ciuman dan pergi bersama dengan dokter Nathan, hanya gue yang lihatnya saat itu. Selain itu, soal hubungan lo sama dokter Nathan, gue pikir kita nggak akan coba menanyainya ke lo. Sampai lo-nya sendiri yang ngasih tau ke kita." Kata Kian akhirnya dengan ditemani senyuman darinya. Diva benar-benar lega mendengar perkataan Kian. Seharusnya dia tidak perlu khawatir dengan teman-temannya karena setaunya keempat temannya itu bukanlah tipe orang yang suka ikut campur, meski Catherine dan Halley kadang memiliki tingkat kekepoan yang berlebih. "Ya udah gue balik dulu Va." Kata Kian lagi. Namun sebelum dia benar-benar meninggalkan Diva, dia masih menyempatkan diri untuk memberi saran pada Diva, "Va, menurut gue ya, lo nunggu operasinya Gideon di ruangan lo aja. Lo taukan operasi ini bakal berlangsung lebih dari 4 jam. Gideon nggak bakal marah kalau lo nunggu dia di ruangan lo. Lagipula, orangtuanya dia udah datang tuh." Kian menunjuk kedatangan orang tua Gideon yang baru saja datang dari kantin dengan dagunya. Barulah setelah mengatakan itu Kian benar-benar meninggalkan Diva sendiri. Setelah Kian pergi, Diva memutuskan untuk menuruti apa yang diminta oleh Kian tadi. Lagipula Diva tidak akan tahan tinggal bersama pasangan yang menurut Diva tidak jelas itu. *** "Diva, ayo pulang," Kata sebuah suara yang terdengar sayup-sayup di telinga Diva, setelah suara itu, Diva merasakan tepukan pelan dipipinya. Panggilan dan tepukan itu berulang beberapa kali sampai akhirnya kesadaran Diva muncul dari alam tidurnya. "Ayo aku antar pulang." Kata Nathan yang duduk dipinggiran sofa tempat dimana Diva sedang berbaring tidur. Menyadari kalau orang itu adalah Nathan, membuat Diva segera mendudukkan dirinya. "Nathan..." Katanya dengan nada pelan. Nathan tidak menjawab, dia hanya diam menunggu Diva menyelesaikan perkataannya. Melihat ekspressi Nathan, membuat Diva memutuskan untuk tidak menyinggung hal apapun yang bisa merusak suasana tenang antara dia dan Nathan saat ini. "Bagaimana keadaan Gideon?" Tanyanya akhirnya. "Operasinya berjalan lancar. Tinggal menunggu sadarnya dia, untuk pemeriksaan lanjutan lagi." Jelas Nathan. Diva menghembuskan napasnya pelan. Dia merasa lega mendengarkan berita operasi Gideon yang berjalan baik. "Syukurlah kalau begitu." Kata Diva dengan bahagia dan tanpa disadarinya, dia tersenyum dengan lebarnya pada Nathan, hingga membuat matanya sampai menyipit. Lalu dia berkata, "Terimakasih." Nathan tidak membalas ucapan Diva, dia hanya melihat Diva dengan tatapan yang Diva tidak bisa jelaskan. "Maafkan aku." Ucap Nathan akhirnya. Mengubah suasana diantara mereka kembali intense. Baik Diva dan Nathan saling menatap. Saling menatap ke dalam bola mata masing-masing, mereka seolah menilai apa yang dipikirkan orang yang mereka tatap. Jujur saja, meski telah saling tatap begini, Diva tetap tidak bisa tau apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh Nathan melaui bola mata biru gelapnya itu. "Aku mau." Kata Diva dengan suara pelan dengan mata yang tetap menatap bola mata Nathan. Meski suara Diva tadi begitu pelan, Diva yakin kalau Nathan mendengarnya. Tapi Nathan tidak menjawab, dia tetap menatap Diva dengan tatapan tidak terbacanya. Karena sikap Nathan itu, Diva hanya bisa menggigit bibirnya dengan kuat, setelah menyampaikan keputusan bodohnya. "Aku mau jadi teman tidurmu selama apapun kamu mau. I'm okay if it's just s*x about us. That time you find someone and want to stop, I will let you go." Ujar Diva dengan nada begitu rendah. Kepalanya tertunduk begitu dalam, tangannya saling menggenggam kuat untuk menghilangkan rasa gugup dan takut dari dalam dirinya. Saat kalimat itu keluar dari mulut Diva, Diva tidak menyadari ada kilat kemarahan dan terluka yang sempat mampir di mata Nathan. Namun itu hanya sekilas karena selanjutnya tatapan itu berubah datar dan dingin lagi. Kemudian Nathan memilih bangkit dari duduknya kemudian berkata, "Baiklah kalau begitu, sekarang kita keapartemenku." *** Bodoh. Diva tidak peduli juka kata itu disematkan kepadanya. Kenyataannya Diva memang bisa bersikap dan bertingkah bodoh seperti ini karena cintanya pada seorang Nathan. Lagipula tidak hanya Diva, dia tau banyak orang yang mau bertingkah bodoh karena cinta yang mereka miliki, meski mereka tau kalau cinta mereka itu sebenarnya bisa melukai mereka lebih dalam dan parah dari sebuah pisau. Cinta, adalah sebuah perasaan yang banyak digunakan orang sebagai pembelaan jika dia melakukan sesuatu yang salah. Perasaan yang sampai sekarang masih mempunyai arti ambigu karena orang memiliki pengertian masing-masing tentang perasaan itu. Seperti Diva, Diva memiliki pengertian tentang cinta yang berbeda dengan orang lain, bahkan dari kedua kembarnya karena buat Diva, cinta itu adalah Nathan. Lihatlah apa yang Diva lakukan, dia bertindak gila dan menyedihkan demi cintanya. Seperti sekarang ini, ketika Nathan membawanya keatas ranjangnya, Diva mau menurut begitu saja. Padahal terlalu banyak yang belum terselesaikan antara mereka yang seharusnya cukup untuk membuat Diva bisa berpikir lebih baik hingga tidak perlu melakukan hal bodoh ini. "Ahhh..." Diva mendesah ketika Nathan memberikan ciuman dikulitnya. Satu tangan Diva juga langsung mencengkram seprai yang menutupi ranjang Nathan untuk menahan dirinya agar tetap waras dari segala ransangan yang diberikan Nathan kepadanya. Sedangkan satu tangannya yang lain berpegang pada bahu Nathan agar pria itu bisa dia kendalikan, meski hanya sedikit. "Na...than...hhhh." Lagi-lagi Diva mendesah karena sentuhan Nathan. Dari apa yang Diva rasakan, sentuhan dari Nathan itu masih sama seperti sentuhan yang diberikan Nathan kepadanya waktu mereka masih SMA. Sentuhan itu penuh kelembutan dan kehati-hatian. Kalaupun ada yang berbeda dari s*x mereka yang dulu dengan yang sekarang, hanya ada di keahlian Nathan. Kalau dulu, saat mereka pertama kali melakukan hubungan ini, dia dan Nathan masih amatiran. Mereka melakukannya berdasarkan insting mereka sebagai laki-laki dan perempuan yang tengah b*******h. Saking amatirannya mereka saat itu, Diva harus rela merasakan sakit yang amat sangat waktu itu. Sedangkan sekarang, semuanya berjalan dengan lancar. Nathan terlihat begitu ahli dalam memperlakukannya, hingga dia tau untuk memberikan ransangan yang tepat untuk Diva. Membuat Diva hanya merasakan gairah, kenikmatan dan kepuasan. *** Diva kelelahan? Tentu saja. Pagi tadi dia harus mengantarkan papa mamanya ke bandara karena mereka mau menemui Deva untuk membicarakan hubungannya dengan Anila. Sepulang dari sana dia harus langsung ke rumah sakit dan bekerja hingga sore. Dilanjutkan hingga malam hari karena hari ini adalah hari operasi Gideon, dia harus ikut memastikan operasi Gideon berjalan lancar. Setelah dia memastikan Gideon masuk ruang operasi, Diva masih menunggui Gideon operasi. Lalu setelah semua itu selesai, dia dan Nathan masih melakukan sesuatu, sesuatu yang meresmikan kalau dia kini partner sexnya Nathan. Jadi wajarkan kalau dia kelelahankan? Tidak hanya lelah badan, tapi lelah pikiran dan hati juga. "Sleep tight. All is well." Meski dengan suara kecil seperti bisikan, Diva masih bisa mendengarkan suara itu. Diva tau siapa pemilik suara itu karena suara itu adalah suara orang yang mengenalkannya pada jatuh cinta dan patah hati sekaligus. Sayangnya, meski Diva tau kalau suara itu milik Nathan, Diva tidak tau apakah itu kenyataan atau mimpinya saja karena Nathan tidak mungkin berlaku semanis itu kepadanya. Setelah bisikan itu juga, Diva bisa merasakan ada seseorang yang memberikan sebuah kecupan ringan dikeningnya, dengan kecupan itu Diva meyakini kalau semua itu hanyalah mimpi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN