Diva
Nathan...
Ketik Diva pada kolom pesan dihandphonenya. Dan tanpa berpikir banyak lagi, dia langsung mengirimkannya pesan itu sebelum rasa ragunya muncul lagi seperti tadi yang membuatnya menghapus dan mengetik hal yang sama sampai berulang kali.
Beberapa saat setelah pesan itu terkirim, handphone Diva bergetar dan menunjukkan nama Nathan dilatarnya.
"Halo," sapa Diva senang namun tetap dengan nada yang diusahakannya senormal mungkin.
"Ya. Ada apa?" Tanya Nathan yang berada di seberang sana.
"Mmm... Aku...Aku..." Diva tampak tidak sanggup melanjutkan perkataannya karena dia ragu dan tidak yakin kalau Nathan akan menyetujui permintaannya.
"Diva." Panggil Nathan setelah dia membiarkan Diva diam beberapa saat.
"Mmm... Nathan, bisakah kamu menemaniku besok seharian?" Tanya Diva dengan suara yang begitu pelan.
Suasana kembali hening karena tidak ada jawaban dari Nathan. Hal itu membuat Diva merasa tidak enak dan panik, hingga membuatnya dengan cepat-cepat memberikan jawaban atas pertanyaannya sendiri.
"Kalau kamu memang tidak bisa, tidak apa. Aku akan minta Deva atau Divo untuk menemaniku besok." Ucap Diva dengan tidak enak, berharap Nathan tidak usah merasa terganggu dan terbebani karena permintaannya.
"Kalau begitu sudah dulu ya. Terimakasih," ucap Diva segera mematikan sambungan teleponnya sebelum Nathan mengatakan apapun kepadanya.
Setelah sambungan telepon itu benar-benar terputus, Diva memandang kosong pada layar HP-nya itu, lalu kemudian tersenyum miris. Miris karena masih harus bersikap sungkan dan kaku pada orang yang telah dipacarinya lebih dari satu setengah tahun ini. Hal itu membuat dia kembali mengasihani dirinya sendiri, sampai sebuah suara mengganggunya.
"Bagaimana kalau gue yang menemani lo dihari ulang tahun lo besok?" Raja tiba-tiba saja sudah duduk di sebelah Diva yang duduk dipinggiran taman sekolah mereka.
Seolah tidak mendengar pertanyaan Raja, membuat Diva tidak menjawab pertanyaan Raja saat itu juga. Diva malah memandang sendu pada layar handphone-nya yang menunjukkan foto dia dan Nathan yang diambilnya sekitar setahun yang lalu. Foto yang bahkan harus dimintanya dengan segan-segan dari Nathan karena dia tidak mau Nathan merasa risih dengannya.
"Baiklah. Aku pikir itu adalah ajakan yang menarik." Jawab Diva akhirnya dengan suara yang pelan, sambil memberikan senyuman sendu kepada Raja.
Tidak memberikan kesempatan untuk Raja menayakan hal lain atau melihat keadaannya yang menyedihkan saat ini, membuat dia segera meninggalkan Raja. Dengan melakukan itu, paling tidak menurutnya cukup dia saja yang mengasihani dirinya. Tidak perlu ada orang lain yang perlu tau betapa goyahnya dia saat ini. Goyah yang perlahan-lahan akan membuatnya jatuh, lalu hancur karena orang yang dianggap kekasih.
Sayangnya, tindakannnya itu malah membuat Diva tidak melihat bagaimana raut wajah Raja saat itu. Raut wajah yang sebenarnya menunjukkan sesuatu, sesuatu yang seorangpun tidak ada yang tau itu untuk apa.
***
"Kamu yakin, kamu tidak apa-apa?" Tanya Divo yang duduk di pinggir tempat tidur Diva sambil memainkan boneka miliknya.
Diva memutarkan tubuhnya, lalu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, aku nggak papa kok. Lagian Deva sudah pulang dari Semeru kan lusa." Kata Diva lagi untuk membuat Divo lebih tenang.
Bukannya terlihat semakin tenang, Divo malah menunjukkan sedikit kegusarannya diwajahnya yang biasa tenang. "This is not just about I will leave you alone. Tapi tentang aku, Deva atau mama papa yang tidak mungkin bisa menemani kamu besok. Jadi lebih baik kamu ikut dengan aku. Bagaimana?" Tanya Divo kembali meminta Diva agar ikut bersamanya ke Singapore mengantarkan berkas penting dan rahasia milik papa mereka.
Mendengar perkataan Divo, membuat Diva tersenyum lalu mengerucutkan bibirnya, agar Divo tau kalau dia benar-benar serius kalau dia tidak apa-apa kalau harus ditinggalkan sendiri oleh kakak laki-lakinya itu. "Iya, aku tau kalau tidak satupun dari kalian bisa menemani aku besok. Tapi aku nggak papa kok. Kalian saja bisa santai dan biasa saja tentang ulang tahun kita, tentu aku juga bisa santai dan biasa saja seperti kalian." Terang Diva sambil tersenyum yang tulus karena dia tau kalau Divo tidak akan bisa tenang meninggalkannya sendirian mengingat besok adalah ulang tahun mereka.
Buat Deva dan Divo, ulang tahun bukanlah sesuatu yang istimewa, jadi tidak perlu ada pesta atau perayaan khusus untuk hari jadi mereka itu menurut keduanya, cukup dengan doa agar mendapat yang terbaik dan menjadi yang terbaik saja, sudah cukup buat mereka. Berbeda dengan Deva dan Divo, Diva tentu saja menginginkan perayaan yang istimewa, namun karena penolakan kedua kembarnya akhirnya Diva mau tidak mau harus merasakan ulang tahun tanpa perayaan. Mungkin karena merasa bersalah akan tidak adanya perayaan inilah kenapa Deva, Divo atau keduaorangtuanya bergantian menemaninya seharian dihari ulangtahunnya.
"Lagi pula, aku sudah punya janji dengan Nathan besok." Kata Diva masih dengan tersenyum.
Berharap dengan begitu Divo tidak tau kalau saat ini dia berbohong. Bohong karena sebenarnya Diva tidak memiliki janji dengan Nathan besok, dihari ulang tahunnya. Karena jelas sekali tadi siang Nathan tidak mengatakan kalau dia tidak bisa menemui dan menemaninya besok seharian. Itulah kenapa akhirnya Diva menerima tawaran Raja untuk menemaninya besok seharian selama hari istimewanya itu.
Bodohnya Diva kadang lupa lupa kalau Deva dan Divo adalah kembarnya. Tidak perlu untuk mereka bertatap muka atau melakukan apapun untuk tau apa yang terjadi pada salah satu diantara mereka. Mungkin itu adalah salah satu berkat yang diberikan Tuhan kepada mereka bertiga sebagai kembar. Jadi jangan heran kalau Divo bisa tau dan menangkap kegelisahan hati Diva karena kebohongannya.
"Nathan ya... Apakah kamu bahagia?" Tanya Divo sambil memusatkan tatapannya pada Diva yang kini telah mengalihkan wajahnya untuk menghindari tatapan Divo.
"Ya, aku pikir aku bahagia." Kata Diva akhirnya, sambil kembali menatap Divo dengan senyum sendu miliknya yang belakangan ini seringkali Diva tunjukkan.
Divo terdiam, dia dan Diva membiarkan keheningan menemani mereka hingga beberapa saat. Sampai Divo kembali membuka suara, "Va, dulu kamu pernah bertanyakan, kenapa Deva dan aku sangat menentang perasaan kamu ketika kami tau kalau kamu suka Nathan." Kata Divo dengan jeda sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Saat itu kamu berpikir, kalau kami menentang perasaan kamu ke dia karena Nathan sama seperti laki-laki lain yang mendekati kamu kan?"
Mendengar perkataan Divo, membuat Diva hanya tersenyum kecil karena dia membayangkan kembali kejadian satu setengah tahun yang lalu. Saat dimana dia mengakui pada kedua kembarnya kalau dia menyukai Nathan, kemudian menangis seharian karena Deva dan Divo menentangnya. Berbeda dengan Divo yang dengan tenang mengatakan penentangannya, Deva malah memilih mendiamkan dan menghindari Diva. Barulah keesokan harinya Deva mendatangi dia dan memberikan ijinnya. Saat itu Deva dalam keadaan berantakan seperti sehabis berkelahi, lalu tanpa benar-benar masuk kekamarnya, Deva berkata 'Lakukan apapun yang memang ingin kamu lakukan. Tapi saat kamu sudah memilih melakukan sesuatu itu, lakukan semuanya dengan baik dan tuntas. Jangan pernah menyesal dengan pilihanmu karena penyesalan adalah hukuman paling berat dari sebuah kesalahan'. Setelah itu Deva langsung meninggalkan Diva dan kembali bersikap seperti biasanya. Kejadian itu sebulan sebelum Diva menyatakan perasaanya pada Nathan.
"Kamu harus tau Va kalau Nathan bukanlah laki-laki b******k, sama seperti laki-laki yang selama ini kami coba jauhkan dari kamu. Jadi bukan alasan itu yang membuat kami menentang perasaan kamu." Divo mengatakannya sambil menatap langsung pada Diva.
"Aku tidak tau bagaimana hubunganmu dan Nathan sekarang ini. Akupun tidak tau seberapa banyak Nathan telah memenuhi janjinya pada Deva. Saran aku, mulai sekarang, mulailah berkata apa yang ingin katakan pada Nathan." Kata Divo sebelum bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Diva dikamarnya.
***
"Nih, pakai." Kata Raja sambil memberikan sebuah helm kepada Diva. Diva menyambut helm itu, lalu menggunakannnya sesuai yang dikatakan Raja.
Hari ini Raja benar-benar memenuhi janjinya, dia datang untuk menemani Diva menghabiskan hari ulang tahunnya. Sebelum Raja datang menjemputnya tadi, Diva memastikan terlebih dahulu kalau Divo berangkat ke Singapura. Dia tidak mau kalau kembarannya itu marah, lalu melarang Raja menemaninya hari ini. Diva membutuhkan Raja, teman satu-satunya yang dimilikinya saat ini, menurutnya.
"Kita kemana?" Tanya Diva saat Raja sudah mengemudikan motornya di jalanan.
Raja tidak mengatakan kemana tepatnya tujuan mereka, dia hanya berkata kalau dia akan membawa Diva bersenang-senang menghabiskan hari istimewanya bersama laki-laki itu.
Dimulai dari taman bermain, lalu jajanan pinggir jalan dan tempat-tempat yang memang Diva ingin temui, semuanya Nathan dan dia kunjungi hari ini. Semua itu membuat Diva lupa sejenak akan ketidakbisaan Nathan untuk menemani dia hari ini.
"Kita kemana lagi Ja? Apa masih adalagi tempat yang ingin kamu tunjukkan padaku?" Tanya Diva bersemangat, setelah dia dan Raja baru saja mengunjungi pasar malam hanya untuk membeli gulali.
Raja tersenyum misterius, kemudian berkata. "This is not ending honey. Let's go to the highlight of your birthday."
Seharusnya Diva sudah ada dirumahnya saat sudah malam seperti ini. Semua orang rumahnya akan khawartir dan sibuk mencarinya jika dia belum di rumah bahkan pada pukul jam 7 malam, apalagi jam 9 malam seperti ini. Tapi Diva sedang ingin melupakan semua kegalauan dan kesedihannya, dia juga ingin melupakan pemikirannya tentang Nathan yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Dalam otak Diva sudah ter-set kalau Nathan memiliki perasaan pada perempuan lain dan perempuan lain itu adalah Raina menurutnya.
"Baiklah. Ayo kita pergi." Kata Diva dengan anggukan pasti lalu menyambut uluran tangan Raja untuk naik ke motor pria itu.
"Tapi, pertama-tama ayo kita ubah penampilanmu dulu." Kata Raja, lalu membawa Diva ke suatu tempat agar dia benar-benar bisa menjalankan rencananya.
***
"Raja, aku mau pulang." Kata Diva panik saat tau kemana Raja ternyata membawanya.
"Oh tidak Diva. Puncaknya ada di dalam dan gue nggak akan biarin lo pulang sekarang." Balas Raja tetap berjalan di depan Diva, mengabaikan Diva yang kelihatan ketakutan akan tempat yang akan dikunjunginya itu.
"Ja, plis aku mau pulang." Sekali lagi Diva memohon.
Kali ini Raja berhenti, kemudian dia memutarkan tubuhnya untuk bisa melihat Diva secara langsung. "Look Diva, ini hanya diskotik. Lo nggak perlu setakut ini, gue bakalan ngejagain lo kok. Lagipula, lo harus ke dalam karena kejutan buat lo ada disana." Kali ini Raja mengatakannya dengan nada penuh penekanan. Raja juga masih tersenyum, kali ini dengan senyum misterius yang kini terang-terangan ditunjukkannya.
Meski agak takut, akhirnya Diva mau mengikuti Raja yang kini sudah menggenggam tangannya. Raja menuntun Diva ketempat yang selama ini tidak berani Diva kunjungi karena Deva dan Divo dengan tegas melarangnya ketempat itu. Selain itu, dia memang tidak pernah berminat datang ke diskotik karena dia tidak menyukai dentuman-dentuman musik yang pasti terdengar kuat di tempat itu.
Seperti dugaan Diva, tempat itu benar-benar tidak cocok dengannya. Buktinya dia langsung merasakan pusing dan mual, saat dia bahkan baru saja memasuki tempat itu.
"Tunggu disini." Ucap Raja sambil mendudukkan Diva di sudut ruangan diskotik itu.
Dari tempatnya itu, Diva bisa melihat tempat DJ, lantai dansa yang dipenuhi orang-orang yang bergoyang heboh dan juga bar tempat bartender bekerja di diskotik itu.
"Va, looked there." Tunjuk Raja pada sebuah titik yang mampu membuat Diva merasa tubuhnya kaku seketika.
Saat itu Diva seolah berubah menjadi tuli dan bisu. Semua indra yang seharusnya bisa dia gunakan untuk memproses dan menindak lanjuti apa yang terjadi, seketika berhenti bekerja. Membuat dia hanya bisa menatap bodoh dengan d**a yang sesak, saat melihat Nathan dan Raina yang menggunakan seragam yang sama, lalu Nathan dan Raina yang terlihat bahagia akan candaan mereka disela-sela kerjaan mereka. Tidak ada yang bisa tangkap dikepalanya saat ini, selain dari Nathan yang ternyata bekerja di tempat yang sama dengan Raina. Itu artinya Nathan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Raina yang memungkinkan kalau Raina adalah pemilik hati Nathan semakin besar.
Semua rasa sesak di hati Diva selama ini akhirnya tumpah juga. Rasa sesak yang selama ini dia coba ingkari karena takut akan pemikirannya sendiri, tentang Nathan yang ternyata tidak memiliki perasaan yang sama kepadanya dan juga bayangan Nathan dan Raina yang mungkin sudah bersama kalau bukan karena ada dia. Pemikiran-pemikiran inilah yang membuat Diva ingin berhenti dan menyerah saja karena dia merasa sudah terlalu sakit dan lelah.
Seolah tidak cukup dengan tawa kecil dari Nathan tadi, kini Diva harus menyaksikan bagaimana Nathan yang menunjukkan kemarahannya. Kemarahan karena Raina diganggu oleh seorang pelanggan mereka, hingga membuat suasana disekitaran mereka berpusat pada Nathan, Raina dan orang yang mengganggu Raina tadi. Padahal selama ini Nathan sangat tidak suka jika dia menjadi pusat perhatian. Itulah kenapa Diva tidak pernah terang-terangan bersama Nathan saat mereka di sekolah.
Melihat itu Diva hanya menertawakan dirinya, dia mengasihani dirinya yang bahkan tidak pernah melihat Nathan menunjukkan sedikitpun emosinya pada Diva. Nathan tidak pernah tersenyum saat bersamanya, Nathan tidak pernah juga marah kepadanya, bahkan Nathan tidak pernah menyatakan kalau dia mencintai atau bahkan menyukainya. Semua itu membuat dia merasakan sesak dan sakit akan patah hati yang kali ini benar-benar diakui hatinya.
"Kalau aku yang ada diposisi Raina saat ini, apakah kamu akan melakukan hal yang sama?" Tanya Diva saat dia kini sudah berada tepat di samping Nathan yang masih memukul pelanggan diskotik itu.
Saat itu juga pukulan Nathan berhenti. Dia menegakkan tubuhnya untuk melihat Diva yang kini sudah melihatnya dengan airmata yang sudah bersiap meluncur dari matanya. Tapi Diva mencoba bertahan untuk tidak menangis dengan menggigit kuat bibir dalamnya, dia tidak mau lebih menyedihkan lagi dari sekarang ini. Tidak ada ekspresi apapun didapati Diva di wajah Nathan saat dia mendapati Diva berdiri disampingnya saat itu. Membuat Diva merasa kalau dia sudah kalah, meski begitu dia masih merasa kalau dia belum bisa melepas Nathan sekarang.
"Ayo kita pergi dari sini." Kata Nathan kemudian menarik Diva segera bersamanya. Nathan tidak membiarkan Diva mengatakan apapun lagi di tempat itu. Dia seolah tau kalau sebentar lagi Diva akan akan mengatakan sesuatu yang ada diluar akal sehatnya.
***