Chapter 3

1891 Kata
Raka meninggalkan Zara yang masih duduk seperti patung karena kaget akan sikap yang beru saja di tunjukkan oleh dirinya.   “Raka.. Rakaaa !!! Heii apaan - apaan kamu? Kenapa nggak sopan seperti itu sama tamu?” Kata Ibu Fara sambil memegang tangan Raka, menahan Raka untuk tidam pergi.   “Mama yang apa - apaan ?!?!?!!! Membiarkan orang asing masuk ke rumah kita dan membiarkannya berbicara seenak jidatnya. Mama kenapa juga menceritakan hal pribadi ke orang asing seperti dia ?!?!!! Mama kira dengan dia berbicara seperti itu sama aku, aku bakalan ngerubah sikap aku sama Mama ???? NGGAK MAAAA !!!!” Ujar Raka dengan penuh amarah.   “Raka.. Zara cuma membantu kamu Nak, mama menceritakan semuanya ke Zara karena Zara anak yang baik, Zara pernah berada di posisi seperti kamu Nak. Mama nggak bermaksud apa - apa kok, kalau pun kamu belum bisa memaafkan mama, setidaknya kamu bisa bersikap baik dengan orang lain.” Ujar Ibu Fara memberi penjelasan dengan Raka.   “Nggak bermaksud gimana apanya Maaa ?? Perempuan asing itu sudah lancang membericarakan Apa yang aku alami, mama jangan berfikir kalau perempuan asing itu pernah berada di posisi yang sama seperti aku, tapi kita berbeda Maaa. Sekarang lebih baik Mama usir dia dari rumah kita, dan jangan pernah membukakan pintu lagi untuk dia.” Ujar Raka sambil melihat sinis ke arah Zara.   “Rakaa.. Mama nggak pernah yah mengajarkan kamu untuk bersikap tidak sopan seperti ini. Sekarang kamu minta maaf dulu sama Zara.” Kata Ibu Fara.   “Mama ini kenapa sih...” ujar Raka. “Ehh.. maaf Tante.. Rakaa.. lebih baik Zara pulang sekarang.” Ujar Zara berjalan ke arah Raka dan Ibu Fara.   “Bagus deh kalau Lo sadar.” Celetuk Raka.   “Maaf yahh Tante.. Raka.. Zara udah membuat kalian bertengkar. Zara sangat tidak bermaksud untuk seperti ini. Maafin Zara tantee.” Ujar Zara yang sudah mulai mengeluarkan air mata.   “Heii Nakk.. kamu nggak salah apa - apa kok.” Kata Ibu Fara sambil memeluk Zara.”   “Dihhh.. Drama queen.” Raka berjalan meninggalkan Zara dan juga Ibu Fara.   “Raka.. maafin gue yah, maaf banget udah lancang. Gue nggak bermaksud untuk menyinggung perasaan Lo. Maaf banget.” Ujar Zara melepaskan pelukan ibu Fara.   Raka tidak menggubris apa yang di katakan Zara, Rama terus berjalan menuju kamarnya.   “Maafkan anak tante yah Zara. Tante nggak tahu kalau dia sampai berbuat seperti itu. Kamu pasti kaget banget yah Nak?” Tanya Ibu Fara menghapus air mata Zara.   “Nggak papa kok tante. Zara emang sudah yakin banget tadi untuk berbicara sama Raka. Zara yang salah, mungkin Raka emang belum bisa untuk mengubah sikapnya. Tapi tenang aja Tante, Zara nggak akan menyerah dan nggak kapok karena kejadian hari ini. InsyaAllah Zara akan bantuin tante.” Ujar Zara yang mulai tersenyum. “Aduh Zara.. tante sangat menghargai apa yang mau kamu lakukan sayang. Tapi tante khawatir sama kamu, bagaimana kalau Raka bisa lebih marah lagi dan berbuat yang lebih kasar lagi. Lebih baik tidak usah sayang. Biar tante dan Papanya Raka yang berusaha membuat Raka berubah. Tante nggak mau melibatkan kamu. Kamu dengar sendiri kan tadi, Raka sampai bilang kamu itu orang asing. Maafkan tante yah sayang.” Ujar ibu Fara sembari memberikan air putih untuk Zara.   “Hmm.. tapi tante nggak ngelarang Zara untuk datang main ke sini lagi kan?” Tanya Zara sambil meminum air putih yang di berikan Ibu Fara.   “Nggak kok sayang.. kalau kamu mau main kesini, datang aja. Tante nggak ngelarang kamu, seperti apa yang tadi di katakan oleh Raka. Pintu rumah tante terbuka lebar untuk kamu, lagian tante juga biasanya kesepian kalau di rumah. Ujar Ibu Fara memberikan senyuman untuk Zara.   “Yeyyy.. Makasih tante.. sekali lagi Zara minta maaf yahh, sampaikan maaf aku untuk Raka tante. Zara pulang dulu. Sepertinya Zara udah di cariin nih.” Kata Zara sambil melihat ponselnya yang dari tadi sudah berdering.   “Iya sayang.. makasih yah nak. Salam sama mama kamu.” Ujar Ibu Fara. - RUMAH ZARA -   “Assalamualaikuummmm.. Zara pulaangggg.” Teriak Zara memasuki rumahnya.   “Sini Lo.. cepetan duduk.” Seru Julian.   “Apaan sih?” Tanya Zara.   “Tadi Lo di sebelah kenapa? Lo di apain sama tuh anak tetangga? Lo nggak kenapa - kenapa kan?”Tanya Julian sambil melihat Zara dari ujung kaki sampai kepala. “Juliaaannn.. nggak usah heboh kayak gitu deh. Kamu liat sendiri kan adik kamu pulang dengan selamat.” Kata ibu Nadine sambil membawakan minuman dan cemilan untuk kedua anaknya.   “Memangnya apa yang terjadi di sebelah Zara? Kenapa Mama liat Raka, marah banget sama kamu?” Tanya ibu Nadine lagi. “Kalau bukan karena mama yang ngehalangin gue ke sebelah, udah gue bonyokin tuh si Raka.” Ujar Julian dengan penuh emosi.   “Dihh.. gaya banget lu. Hahahah..” Seru Zara sambil tertawa.   “Ketawa lagi.. gue serius tau.. cowok kasar itu sampai ngelempar bingkai foto yang Lo bawa, gue yg di sini aja tadi kaget, apa lagi Lo. Gila banget tuh cowok.. kasar kok sama perempuan. Banci tau nggak sih.” Kata Julian.   Julian sangat marah karena adiknya Zara diperlakukan sekasar itu. Julian sendiri pun tidak pernah berbuat kasar kepada adiknya. Julian selalu ada untuk melindungi adiknya.   “Udah.. udah Julian.. kamu tuh selalu emosian seperti ini yah, kalau ada yang mengganggu adik kamu. Semua tuh bisa di selesaikan baik - baik Julian. Sekarang coba kamu ceritain Zara apa yang terjadi tadi?” Ujar Ibu Nadine.   “Julian kayak gini kan karena sayang sama Zara. Enak aja.. Aku aja yang jadi kakaknya nggak pernah kasar sama adik sendiri. Dia malah seperti itu.” Ujar Julian lagi sambil tertawa.   “Ohh jadi mau kasarin gue juga nih?” Tanya Zara. “Iya hahahahah..”   “Dihh sini Lo.. gue kasarin duluan. Hahahahah.” Ujar Zara lalu menjambak rambut Julian. “Aduh kalian berdua ini yahhh. Udahh dongg.. Mama penasaran nih apa yang terjadi tadi.” Seru Ibu Nadine.   “Hahah ciee ada yang penasaran.. Jadi gini Maa.. Mama sama kak Julian udah tau kan tujuan Zara tadi kesebelah untuk apa sambil membawa ini?” Kata Zara sambil menunjukkan bingkai foto yang sudah rusak karena di lempar oleh Raka.   “Ya Ampun.. sampai rusak begini. Iya tau kok sayang.” Kata Ibu Nadine sembari mengambil bingkai foto dari tangan Zara.   “Iyaa.. jadi tadi Zara ceritain kalau Zara juga pernah berada di posisi yang sama seperti Raka sekarang ini. Pas aku nunjukkin foto ini, dia langsung marah Maa, dan ngelempar bingkai foto ini. Terus dia nerikan aku, katanya itu yang dia rasain.” Jelas Zara.   “Tuhkan.. gue kan udah bilang sama Lo tadi kalau Lo nggak usah ngurusin urusan keluarga orang lain. Durhaka kan Lo sama kakak sendiri.” Ujar Julian.   “Iyaa iyaa.. gue tau gue salah kok.. gue udah lancang mengusik masalah pribadi Raka. Gue cuma mau ngebantuin Tante Fara kok.” Kata Zara.   “Hufftt ternyata Raka sesensitif itu Maa.” Kata Zara lagi sambil menyenderkan kepalanya di bahu milik Ibu Nadine.   “Hmm.. udah nggak papa kok.. kamu kan udah berniat naik, mau bantuin Tante Fara.” Kata ibu Nadine mengelus rambut halus Zara.   “Lo nggak usah lagi ke sebelah, nggak usah gangguin keluarga orang. Lebih baik Lo fokus tuh sama kuliah Lo.” Kata Julian.   “Maaa.. gimana menurut mama? Zara nggak usah ke rumah Raka lagi yah?” Tanya Zara mendongakkn kepalanya.   “Kalau menurut mama sih, yah nggak papa kamu ke rumah Raka. Toh, kamu ke rumah Raka juga cuma untuk ketemu Tante Fara kan. Kalau ada Raka, Kamu cukup senyumin aja, kalau memang dia nggak mau ngobrol sama kamu. Kasian juga kan tante Fara selalu sendirian, dia paling selalu ngobrol sama pembantu rumah tangganya doang.” Jawab Ibu Zara. “Hmm.. iya Maa.. kata Tante Fara juga tadi kayak gitu, dia biasanya kesepian. Mana kalau Raka pulang dari kampus, nggak ngomong juga sama Tante Fara.” Kata Zara.   “Dihh ngapain sih.. Kalau Lo di jahatin lagi sama Raka gimana? Eh tapi ngomong - ngomong kenapa Raka sampai semarah itu yah sama Lo? Padahal kan Lo ngomongnya juga baik - baik sama dia.” Tanya Julian.   “Yahh mungkin itu hal yang sensitif buat Raka. Makanya dia nggak suka hal itu di ungkit - ungkit.” Jawab Zara.   “Julian.. Zara.. setiap orang tuh berbeda, ada orang yang bisa biasa aja dengan suatu keadaan, ada orang yang nggak bisa melepas kepergian seseorang yang sangat di sayangi, bahkan ada juga orang yang sampai bunuh diri karena di tinggal seseorang nak. Dan Raka adalah seseorang yang sulit berdamai dengan keadaan. Yah kita nggak tau yah, bagaimana kehidupannya dulu bersama adik dan juga eyangnya. Mungkin Raka perlu waktu yang lebih lama untuk berdamai dengan keadaan, berbeda sama kamu Zara. Kamu beruntung bisa bangkit kembali setelah kepergian sahabat kamu sayang. Jelas Ibu Nadine.   Zara yang juga dulu sempat kehilangan sahabatnya, bisa bangkit dan mencoba memaafkan orang yang membuat sahabatnya itu meninggal. Zara berfikir bahwa itulah yang terbaik yang Tuhan berikan untuk sahabatnya. ==== Esoknya, saat pulang kampus Zara melihat Raka yang juga baru saja pulang. Zara berniat untuk mampir ke rumah Raka untuk bertemu dengan Ibu Fara. “Duhh.. mampir nggak yahh.. takut banget gue sama si pemarah itu.” Batin Zara sambil melihat ke arah rumah Raka. Ibu Fara yang kebetulan berada di depan pintu menunggu Raka masuk, melihat Zara yang berdiri di samping rumahnya. “Zaraaa !!! Kamu baru pulang kampus yah sayang? Sini mampir dulu yuk. Tante habis buat puding nih.” Teriak Ibu Fara. “Aduhh tante Fara ngeliat gue lagi.” Batin Zara. “Ehh.. iya tante.. aku mampir deh.” Teriak Zara. Raka yang saat itu memarkir mobilnya, melihat Zara berjalan menuju rumahnya dengan tatapan sinisnya. “Mama ngapain sih manggil dia lagi? Aku kan udah bilang untuk tidak menyuruh dia datang lagi ke rumah kita.” Gumam Raka di dalam mobilnya. “Assalamualaikum tantee..” kata Zara mengambil tangan kanan milik ibu Fara untuk di salimi. “Walaikumsalam.. sini masuk nak.” Kata ibu Fara mempersilahkan Zara masuk. “Zara di sini aja deh tante.. ada Raka tuh, aku nggak mau Raka marah lagi sama tante.” Kata Zara. “Aduhh nggak papa sayang.. kalau kita seperti itu terus, Raka nggak akan berubah. Dia kana terus - terusan menutup dirinya.” Ujar Ibu Fara. “Tante husshh.. orangnya datang.” Kata Zara. “Hahaha.. sini nak.. kamu makan dulu, terus nanti tante bungkusin juga yah buat orang di rumah kamu.” Ujar Ibu Fara sambil menyiapkan puding untuk Zara. Raka masuk tanpa memberi salam, bahkan melewati Zara begitu saja. “Raka.. sini nak makan dulu.” Panggil Ibu Fara. Ibu Fara sudah tahu kalau Raka pasti tidak akan mau untuk makan bersama. “Udah kenyang.” Kata Raka datar sambil menaiki anak tangga satu persatu. “Raka.. nggak sopan nak, ada tamu begini kamu nggak menyapanya.” Kata ibu Fara memanggil Raka kembali. “Itu tamu Mama bukan tamu Raka.” Seru Raka. “Tante.. tante.. nggak usah deh tante, Zara nggak mau kalau Raka makin marah sama Zara, nanti tante bertengkar lagi sama Raka. Nggak usah di panggil yah tante Rakanya. Zara cuma mau ketemu sama tante kok, dan makan puding buatan tante. Zara nggak mau ketemu sama Zara hehe. Ujar Zara sambil tertawa kecil. Zara masih sangat takut kalau kedatangannya membuat Raka semakin marah, dan bertengkar lagi dengan Mamanya. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN