Chapter 4

2012 Kata
Setelah kejadian yang membuat Raka marah, Zara hanya sesekali mengunjungi rumah Raka. Zara hanya bertemu dengan Ibu Fara dan Pak Gibran, mama dan Papa Raka. Zara dan Raka selalu berpapasan saat di rumah Raka, tapi Zara bahkan tidak berani untuk bertegur sapa dengan Raka. Begitupun dengan Raka, Raka sudah menyimpan amarah untuk Zara. Ibu Fara juga tidak bisa membuat Raka untuk bersikap baik ke Zara, karena ke orang tuanya sendiri pun Raka belum bisa merubah sifat dinginnya itu. Lima tahun berlalu begitu saja, Raka yang sudah lulus kuliah dan menjadi CEO di perusahaan yang sudah ia rintis sendiri, Raka memilih untuk membeli apartemen dan tinggal sendiri.   “Raka apa kamu yakin akan seperti ini?” Tanya Pak Gibran. “Iya Nak.. apa kamu yakin dengan keputusanmu ini? Tolong lah Raka, tinggal kamu seorang yang bisa menemani Mama dan Papa di hari tuanya. Mama mohon kamu tetap tinggal di sini nak.” Ujar Ibu Fara mengeluarkan kembali pakaian - pakaian Raka yang sudah di masukkan ke dalam koper. Raka hanya diam, dan kembali mengemasi pakaian - pakaiannya. “Rakaa.. kalau memang kamu nggak mau meneruskan perusahaan Papa dan Mama.. nggak papa kok, Papa masih bisa mengurusnya. Papa juga sudah punya orang kepercayaan untuk membantu Papa. Tapi Papa mohon sama kamu untuk kamu tetap tinggal di rumah ini, apa kamu tidak kasian sama Papa dan Mama? Rumah ini semakin sepi kalau kamu nggak ada Raka.” Ujar Pak Gibran. “Kasian? Papa sama Mama kemana aja selama ini? Papa sama Mama dimana waktu Raka dan Rivka kesepian? Papa sama Mama di mana waktu Raka sama Rivka butuh perhatian? Apa kalian lupa anak - anak kalian dulu?” Tanya Raka dengan mata yang mulai berkaca - kaca. “Iya Raka.. Mama mengerti maksud kamu, maafin mama.. maafin Papa.. dulu kami memang sangat sibuk, tapi kami ngelakuin itu semua untuk masa depan kalian. Kalau kami tidak seperti itu, bagaimana mungkin kita bisa punya semuanya sampai sekarang Raka?” Kata Ibu Fara. “Nahh iya.. sekarang Raka juga pergi. Raka nggak akan memikirkan bagaimana kesepiannya kalian tanpa Raka. Raka juga nggak mau terus - terusan menjadi beban untuk Mama dan Papa.” Jelas Raka yang sudah bersiap untuk pergi. “Raka pleasee !!! Mama minta tolong sama kamu, jangan pergi. Kamu tinggal di sini saja Nak, mama mohon sama kamu.” Ujar Ibu Gibran. “Kasiani mama kamu Raka.. Mama kamu akan sangat kesepian tanpa kamu di rumah ini.” Ujar Pak Gibran. “Raka nggak bisa, keputusan Raka untuk pergi sudah benar - benar bulat. Raka pamit yah, jaga diri kalian.” Ujar Raka menahan tangisnya. “Oke oke Raka.. Mama ngebiarin kamu pergi, tapi tolong kasih alamat kamu, biar mama bisa mengunjungi kamu.” Kata ibu Fara menarik koper Raka. “Nggak usah.. biar Raka yang datang ke rumah, mengunjungi Mama sama Papa.” Ujar Raka dengan nada yang sangat datar. “Nggak.. nggak.. Mama mau alamat kamu, biar mama bisa kapan aja ketemu kamu nak. Yahh, please Nak.” Ujar Ibu Fara sambil memeluk Raka. Sontak Raka melepaskan pelukan hangat yang di berikan Mamanya itu. “Apaan sih.. nggak usah peluk - peluk. Nanti aku kasih alamatku, sekarang belum waktunya.” Kata Raka berjalan menuju mobilnya. “Kamu ini sangat keras kepala Raka.. kamu benar - benar nggak punya hati. Kamu mau jadi anak yang durhaka iya?” Kata Pak Gibran yang mulai emosi. “Paaa.. nggak usah Paa.. biarkan Raka melakukan apa yang dia mau, mama pantas mendapatkannya.” Kata Ibu Fara menenangkan Pak Gibran. Raka tidak menjawab apa yang di katakan oleh Pak Gibran, Raka sibuk memasukkan koper ke dalam mobilnya. “Aku berangkat.. jaga diri kalian.” Kata Raka sambil membuka pintu mobilnya. “Rakaa nak.. tunggu.. Mama mohon kamu jangan pergi, atau kamu mau apa Nak? Mama akan lakukan permintaan kamu? Kalau kamu nggak mau mama ganggu saat ada di rumah, mama nggak akan ganggu kamu nak, yang penting mama bisa melihat kamu. Mama mohon tinggal lah di sini, siapa yang akan merawat kamu saat kamu lelah bekerja? Siapa yang akan membuatkanmu makanan nak?” Kata Ibu Fara terbata - bata, pipinya sudah di basahi oleh begitu banyak air mata. Raka tetap tidak memperdulikan apa yang di katakan Ibu Fara. Raka sudah sangat ingin tinggal sendirian dan membangun sendiri perusahaan yang ia miliki. Raka tidak ingin meneruskan perusahaan kedua orang tuanya, karena Raka berfikir bahwa kantor tersebutlah yang membuat kedua orang tuanya tidak punya waktu untuk dia, Rivka dan juga Eyang Lili. ==== Malam harinya, Raka sudah sampai di apartemen yang sudah ia beli. Raka membereskan barang - barang yang ia bawa dari rumahnya. “Eyang.. Maafkan Raka kalau perbuatan Raka sekarang tidak Eyang suka. Tapi Raka berfikir kalau ini yang terbaik untuk ku , dan kedua orang tuaku Eyang.” Gumam Raka sambil memegangi foto Eyang Lili. “Rivka.. kakak pergi karena kakak nggak bisa tinggal dirumah, kalau kakak di rumah kakak akan selalu mengingat kenangan - kenangan kita dulu. Dan kakak juga nggak mau menambah dosa kakak terhadap Mama dan Papa. Kakak memang marah sama Mama dan Papa tapi kakak tau apa yang mereka rasakan. Kakak cuma belum bisa memaafkan mereka. Kakak harap kamu juga mengerti.” Gumam Raka lagi sambil melihat foto Rivka. Tingg tonggg tingg tongg.... (suara bell apartemen Raka) “Woooiiii !!!” Teriak Andika lalu merangkul Raka. “Ckckckck beri salam dulu kek kalau masuk ke rumah orang.” Ujar Raka melepaskan tangan Andika. “Hahah iyaa Assalamualaikum.. gue lupa hahahah.” Seru Andika. “Walaikumsalam.. Ngapain sih Lo kesini? Gue kan udah bilang kalau Lo nggak usah kesini. Gue bisa sendiri.” Kata Raka. “Aduh masih aja yah nih manusia robot. Lo itu nggak usah kayak gitu sama gue, kita udah bersahabat sangat lama Raka, gue udah tau sikap Lo. Lagian Lo kok tega sih ninggalin kedua orang tua Lo.” Kata Andika. “Lo udah tau kan alasan gue kenapa? Lagian gue nggak ninggalin orang tua gue, gue cuma mau hidup mandiri, sekarang kan gue juga udah punya penghasilan sendiri. Gue nggak mau ngebebanin orang tua gue lagi.” Jawab Raka. “Kenapa sih Lo nggak bisa maafin kedua orang tua Lo? Lo sendiri juga pasti sadar kan kalau perbuatan Lo selama ini salah?” Tanya Andika lagi. “Lo kalau mau ngebahas ini lagi, lebih baik Lo pulang deh. Gue di sini butuh ketenangan, gue nggak mau mengungkit hal yang membuat gue teringat sama Eyang dan juga Rivka. Lo nggak tau gimana kesepiannya gue tanpa Eyang dan Rivka.” Kata Raka sambil membuka kulkas yang berukuran lumayan besar. “Iya iya.. gue cuma mau ngingetin Lo doang kok. Gue sebagai sahabat yang baik, nggak mau kalau sahabatnya itu adalah anak yang durhaka.” Ejek Andika. “Diem deh Lo. Nihh lebih baik Lo revisi kembali tuh materi untuk meeting besok.” Kata Raka sembari melemparkan satu minuman kaleng untuk Andika. “Revisi lagi?” Tanya Andika dengan wajah memelas. “Iya.. apalagi kalau nggak di revisi. Makanya kalau kerja tuh yanh serius, jangan kebanyakan bercanda sama karyawan di kantor.” Ujar Raka sambil membuka Laptopnya. “Ehh buseettttt !!!! Gue bercanda aja di larang. Ckckckck bos apaan sih ini.” Seru Andika sangat kesal. “Hahahah yah nggak gue larang. Gue cuma ngomong doang kok. Hahahah.” Kata Raka sambil tertawa. “Sialan Lo !!! Ehh.. tapi gue mau nanya deh sama Lo, Lo jangan marah dulu, gue cuma penasaran aja nih.” Kata Andika. “Lo mau nanya apalagi sih?” Tanya Raka. “Apa Lo nggak menyesal dengan tindakan Lo ini?” Tanya Andika. “Maksud Lo?” “Iya.. maksud gue, kan sekarang nyokap bokap Lo kan cuma punya Lo doang, terus sekarang Lo nggak tinggal bareng lagi sama mereka, Lo nggak kasian sama mereka kalau mereka akan kesepian? Pasti mereka juga sedih banget Lo sampai tinggal sendirian seperti ini. Mereka pasti di hantui rasa bersalah yang amat mendalam, terlebih lagi Nyokap Lo yang merasa kalau kata - kata Lo dulu itu benar, kalau Rivka meninggal yah karena orang tua Lo datang terlambat.” Ujar Andika. “Gue butuh waktu Andika.. jujur aja, saat gue berada di rumah dan melihat nyokap bokap gue, sampai sekarang amarah itu masih ada, gue selalu teringat akan kejadian waktu itu. Gue belum bisa memaafkan kedua orang tua gue.” Jawab Raka menyenderkan kepalanya di sofa sambil menghela nafas. “Hmm.. mungkin udah berapa kali yah gue bilang ini sama Lo, tapi itu bukan kesalahan mereka Raka, Rivka di panggil yang maha kuasa itu sudah jalannya, sudah takdir yang di berikan untuk Rivka. Tuhan pasti memberikan yang terbaik, dan ini cobaan untuk Lo sendiri Raka. Cobalah untuk memaafkan kedua orang tua Lo.” Jelas Andika. Raka hanya menghela nafas panjang mendengarkan ucapan Andika. Andika adalah sahabat Raka dari kecil, Raka sangat percaya dengan Andika. Andika di jadikan manager oleh Raka, karena Andika mempunyai kepintaran dalam bidang bisnis. Hanya Andika yang mampu berbicara sesuka hati dengan Raka. Di Kantor Raka tidak pernah tersenyum, Raka di kenal sebagai sosok Bos yang sangat arogan. “Haaaahhhh ya udah dehh.. gue sebagai sahabat Lo, orang yang bisa Lo denger, gue cuma bisa nasehatin Lo, memberikan saran yang menurut gue baik. Selebihnya Lo yang jalanin, Lo mau menerima atau tidak itu terserah Lo.” Ujar Andika sambil memperhatikan materi meeting yang ada di depannya. “Hmm.. thank you.” “Lahh gitu doang, gue udah ngomong panjang lebar juga.” Ujar Andika sambil tertawa. “Kita bahas kantor aja.. gimana besok ada interview lagi kan untuk posisi sekertaris gue?” Tanya Raka. “Oh iya.. aduh gue hampir lupa lagi. Besok gue yang interview langsung, karena Prilly yang bagian Human Resource Development (HRD) lagi ikut seminar besok.” Jawab Andika. “Ohh dia jadinya yang ikut sama gue besok?” Tanya Raka. “Iya sama yang lain juga sih. Besok gue arahin langsung ke Loby bareng sama Lo.” Ujar Andika. “Okey deh Lo urus yang bener yah.” “Siap bos robot.” “Sialan Lo.” ==== Zara datang ke perusahaan milik Raka untuk melamar pekerjaan sebagai sekertaris. Zara sama sekali tidak mengetahui perusahaan yang ia tempati melamar pekerjaan adalah perusahan milik Raka. Zara sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Raka. Zara memasukki ruangan, dimana Andika sudah menunggu untuk menginterview Zara dan beberapa pelamar lainnya. Andika memberikan banyak sekali pertanyaan dan beberapa tugas yang harus di selesaikan. Zara yang saat itu sudah S2, berhasil menjawab semua pertanyaan dan tugas - tugas dengan sangat benar. Andika sampai tercengang melihat kepintaran yang di miliki Zara. Pada hari itu juga, Andika langsung menerima Zara sebagai sekertaris Raka. “Mba Zara bisa tunggu di sini dulu yah. Pimpinan lagi seminar, kita butuh persetujuan dia dulu. Karena mba Zara akan menjadi sekertarisnya.” Kata Andika mempersilahkan Zara menunggu di ruangan Raka. “Iya Pak.. makasih banyak. Kira - kira berapa lama yah saya harus menunggu di sini? Soalnya ini sudah jam makan siang.” Kata Zara. “Eh ya Ampun.. aduh maaf banget yah Mba. Mba Zara boleh makan dulu di kantin kantor, apapun yang mba mau insyaAllah akan ada di kantin heheheh.” Kata Andika selesai menepuk jidatnya. “Hahah nggak papa kok Pak. Saya makan di luar saja pak, nggak enak sama yang lain. Saya masih malu juga, saya kan belum pasti di terima sama pimpinan.” Ujar Zara. “Ihh Mba Zara nggak mungkin lahh. Saya sendiri aja salut sama mba bisa menjawab dan menyelesaikan tugas - tugas tanpa adanya kesalahan sedikit pum. Pasti Mba Zara di terima kok.” Ujar Andika. “Aamiin deh hahaha.. kalau gitu saya keluar dulu yah Pak.” Kata Zara sambil mengambil tasnya. “Oke Mba, kalau sudah selesai langsung naik ke ruangan ini saja yah mba.” Andika mengirim pesan ke Raka, bahwa ada seorang pelamar yang menunggu di ruangannya karena ia harus kembali menginterview untuk posisi yang lainnya. Setelah makan siang, Zara kembali naik dan menunggu di ruangan Raka. Setengah jam Zara menunggu, akhirnya Raka datang. Dan saat Raka dan Zara saling melihat, mereka berdua sangat kaget. Zara tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Raka kembali. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN