Saat melihat Zara, Raka langsung teringat kejadian lima tahun lalu saat di rumah ya. Saat Zara dengan lancangnya mengusik kehidupan pribadi Raka.
“Sedang apa Anda di sini?” Tanya Raka dengan nada tinggi.
“Raka.. hai.. ternyata ini perusahaan Lo yah? Gue di sini ngelamar pekerjaan. Hebat banget Lo bisa punya perusahaan sendiri.” Zara terus berbicara, meskipun dalam hatinya sangat takut akan sikap yang ditunjukkan oleh Raka.
“PERGI ANDA DARI SINI !!! saya nggak akan menerima sekertaris seperti Anda. Lucu sekali yah, Anda masih berani berbicara selancar itu dengan saya, ternyata anda tidak berubah sama sekali.” Kata Raka. Raka sangat marah dan sangat tidak ingin melihat Zara.
Suara teriakan Raka sampai terdengar oleh karyawan - karyawan lainnya. Zara sangat malu di tonton oleh banyak orang. Amarah Zara juga tiba - tiba memuncak karena tidak sanggup di permalukan seperti itu dengan Raka.
“Ohhh ternyata Lo juga masih sama seperti lima tahun yang lalu, masih arogan dan pemarah. Apa bos kalian ini bersikap dingin sama kalian? Atau nggak bicara sama sekali sama kalian?” Seru Zara sambil melihat di sekelilingnya.
Semua karyawan yang tadinya menonton sangat kaget mendengar ucapan Zara.
Sementara di sisi lain Prilly sibuk menghubungi Andika karena takut terjadi apa - apa dengan Zara dan juga Raka.
“Halo.. halo.. woi Lo dimana sih? Kenapa Lo ninggalin nih anak baru sendirian“
"Hah? Emang kenapa sih? Gue udah kasih tau Raka juga kok, gue ada urusan tadi.”
“Aduh lebih baik Lo cepat ke kantor deh, suasananya panas banget nih. Bos Lo itu bertengkar sama si anak baru.”
“Raka? Kok bisa? Gimana sih? Kenapa bisa bertengkar?”
“Isshh makanya Lo cepetan kesini biar kita semu bisa tau kenapa mereka bisa bertengkar. Sekarang cuma Lo doang yang bisa masuk ke ruangan Raka, anak - anak yang lain nggak ada yang berani.”
“Apa lagi sih yang Raka lakuin hufftt.. ya udah tunggu gue udah hampir sampai kantor, gue langsung naik kok.”
“Iya cepetaaannn.”
Prilly menutup teleponnya dan kembali melihat situasi yang di dekat ruangan Raka.
“Gimana - gimana? Andika udah dimana?” Tanya Bella.
“Isshh jangan berisik, nanti kedengaran tuh sama si macan pufftt.” Jawab Prilly sedikit tertawa.
“Hahaha parah Lo prill, masih aja Lo bilang si Macan.” Kata Bella.
“Kalian berdua sama aja berisiknya tau nggak. Gimana Andika? Sudah ke sini kan?” Tanya Ardya.
“Iya katanya udah deket kok.” Jawab Prilly.
“Bagus deh.. tapi ngomong - ngomong kenapa yah Raka sampai bertengkar begitu sama tuh karyawan baru? Mereka berdua udah saling kenal apa gimana?” Tanya Ardya.
“Kayak sih, dari yang gue denger tadi mereka ada nyebutin lima tahun lalu.” Jawab Prilly.
“Mantannya Raka kali.” Celetuk Bella.
“Masa iya sih? Kayaknya gue nggak pernah denger Raka punya pacar deh.” Kata Prilly dengan wajah khawatir. Prilly diam - diam sangat mengagumi sosok Raka.
“Hahah nggak usah tegang gitu muka Lo, emangnya kenapa kalau cewek itu mantannya Raka? Lo cemburu?” Ledek Bella.
“Ishh apaan sih. Gue tuh cuma kagum sama Raka nggak lebih.” Jawab Prilly.
“Ehh, itu Andika udah datang tuh.” Seru Ardya.
Prilly, Bella, dan Ardya juga adalah teman - teman sekelas Raka saat SMA dulu, mereka juga sangat dekat dengan Raka saat masih sekolah. Tapi setelah lulus sekolah, mereka tidak pernah lagi bertemu dengan Raka. Saat bertemu kembali dengan Raka, mereka semua sangat kaget akan perubahan sikap Raka yang menjadi sangat dingin. Cuma dengan Andika, Raka bisa berkomunikasi dengan baik.
Terlihat Andika yang sedang berlari memegang sebuah berkas.
“Eh gimana? Dimana Raka? Masih bertengkar?” Tanya Andika ngos - ngosan.
“Ishh iya masih tuh.. cepetan masuk, kasian tuh anak baru, pasti malu banget di bentak - bentak gitu sama Raka.” Ujar Prilly.
Sementara itu di ruangan Raka, Zara dan Raka masih berdebat. Zara yang tidak bisa lagi menahan emosinya, mengeluarkan semua kekesalannya yang dia simpanselama ini.
“Lo itu harusnya sudah bisa sadar, Lo punya banyak orang - orang di sekeliling Lo yang bisa Lo ajak ngomong, bercanda, makan bareng dan nggak menutup diri kayak gini. Sampai kapan Lo nggak jujur sama diri Lo sendiri, kalau Lo juga mau berbicara dengan baik sama semua orang?”
“KELUAR.. KELUAR DARI KANTOR SAYA !!!” Teriak Raka.
Zara hanya bisa membeku malu saat di usir oleh Raka.
“Semoga aja Lo bisa sadar akan sikap Lo selama ini. Berhenti untuk Menutup diri dan menyalahkan orang - orang yang tidak bersalah.” Ujar Zara dengan tegas lalu mengambil tasnya, dan pergi meninggalkan ruangan Raka.
“Ehh Mba Zara.. mau kemana? Ada apa sebenarnya?” Tanya Andika menahan Zara untuk tidak pergi dulu.
“Silahkan bapak tanyakan sendiri sama bos bapak yang gila itu.” Jawab Zara lalu membanting keras pintu ruangan Raka.
Semua karyawan yang mendengar dan melihat Zara, sangat tidak percaya bahwa ada seseorang yang bisa membentak dan bersikap kasar terhadap bos mereka. Karena selama ini tidak ada yang berani bersikap seperti itu terhadap Raka.
“Raka ada apa sih? Siapa cewek tadi? Lo kenal? Kok sampai bikin keributan seperti ini sih? Dan kata anak - anak Lo katanya marah banget. Kenapa sih?” Tanya Andika sembari duduk di sofa ruangan Raka.
“Lo kenapa sih milih tuh cewek jadi sekertaris gue? Apa nggak ada yang lain?”
“Gue pilih dia ya karena dia yang paling terbaik di antara pelamar - pelamar lainnya. Memangnya cewek tadi siapa? Kenapa Lo sampai seperti ini? Gila banget Lo sampai ngebentak anak orang di depan semua karyawan.” Kata Andika.
“Dia itu Zara. Zara cewek yang pernah gue ceritain ke Lo. Yang tetangga gue di rumah.” Jawab Raka menghela nafasnya.
“Zara? Zara yang bingkai fotonya Lo lempar? Zara yang itu? Ya Ampun pantas aja namanya Familiaf gitu tadi di ingetan gue. Astagaaaa.. kenapa Lo sampai marah gini sih? Lo dendam sama Zara?” Tanya Andika sembil melihat data - data milik Zara.
“Yah gue cuma nggak suka aja sama dia, gue jadi teringat masa lalu pas ngeliat dia tadi.”
“Wahh udah gila Lo sampai segininya. Emangnya dulu dia kenapa sih? Sumpah yah gue aja lupa woi apa yang Lo ceritain dulu.” Kata Andika.
Raka menceritakan kembali apa yang terjadi dulu di antara dirinya dan juga Zara.
“Sumpah yahh.. Parah banget tau nggak sih Lo.. Zara itu cuma mau ngebantuin Lo dulu, ya emang sih dia lancang. Tapi kan niatnya baik, Lo bakalan menyesal kalau nggak jadi nerima dia jadi sekertaris Lo.”
Setelah bercerita panjang lebar dengan Andika, dan Andika memberikan saran untuk Raka. Raka menyesal akan apa yang telah dia perbuat dengan Zara. Raka mengingat seluruh ucapan Zara dan membuat Raka sadar kalau semua ucapan Zara benar.
“Hmm.. Ya udah, gue mau terima dia sebagai sekertaris gue. Apa dia masih mau? Dia udah gue usir tadi, bagaimana ini. Lo bisa kan menghubungi dia lagi, lo coba ketemu dia yah.” Kata Raka pelan.
“Tuhkan kalau udah kayak gini gue lagi yang jadi sasarannya.” Ujar Andika.
“Tolong yah.. kalau gue, dia pasti nggak akan mau.”
“Iya iyaa.. lagian kita butuh orang seperti Zara untuk bekerja di sini. Lo liat aja nih hasil interview dia tadi, nggak ada yang salah dari jawaban - jawabannya.” Kata Andika sambil memperlihatkan laptop yang berisi hasil tes Zara.
Raka mengamati dan membaca semua data - sata Zara, sesekali Raka tersenyum saat membaca hasil dari tes Zara. Raka sangat tidak menyangka kalau Zara adalah perempuan yang sangat cerdas.
====
Raka bersama Andika mendatangi rumah Zara , tapi hanya Andika yang masuk ke rumah Zara.
“Lo yakin nggak mau masuk bareng?” Tanya Andika.
“Nggak.. gue mau masuk ke rumah gue aja yah.” Jawab Raka lalu turun dari mobilnya.
“Ya udah deh.. doain semoga dia mau terima tawaran gue lagi.” Ujar Andika.
“Iyaa..” kata Raka berjalan masuk ke rumahnya.
Tingg tonggg tingg tongggg... (Bell rumah Zara)
“Assalamualaikum.” Seru Andika.
“Walaikumsalam.” Jawab Zara yang kebetulan berada di ruang tamu rumahnya.
“Loh Pak Andika? Kok bisa ke sini? Tau rumah saya dari mana?” Tanya Zara heran sambil membukakan pintu pagarnya.
“Kan data - datanya ada di kantor. Lagian ternyata rumah Mba Zara pas sekali di samping rumah Raka.” Jawab Andika.
“Oh iya juga yah.. lupa saya kalau data - dataku udah di kantor bapak. Ehmm.. kenapa bapak ke sini? Kan saya udah di usir sama bos bapak yang punya rumah di sebelah itu.” Kata Zara sambil tertawa.
“Mba Zara nggak marah?” Tanya Andika.
“Kenapa harus marah? Saya sudah tau sikap bos bapak seperti itu, saya sudah tidak kaget lagi kok.” Jawab Zara.
“Ehh.. Pak.. bisa kita panggil namanya saja? Rasanya canggung banget kalau begini hahah. Bisa tidak?” Tanya Zara sambil mempersilahkan Andika masuk.
“Iya boleh - boleh.. saya juga dari tadi canggung sekali hahah.. Lo gue juga nggak papa, lagian kita juga seumuran.” Ujar Andika.
“Hahah udah gue duga kalau kita seumuran.. eh nggak papa kan Lo gue gini?” Tanya Zara kembali.
“Iya nggak papa.. santai.”
“Kalau gitu tunggu sebentaran yah, gue buatin minum dulu.” Kata Zara.
“Eh nggak usah, nggak usah repot - repot.” Seru Andika.
“Ih nggak boleh.. nyokap gue biasanya marah kalau ada tamu nggak di kasih minum hahah.” Kata Zara lalu berlari masuk ke dapurnya.
Tidak lama kemudian, Zara kembali membawa dua gelas minuman dan juga sedikit cemilan.
“Jadi maksud Lo jauh - jauh ke rumah gue ada apa?” Tanya Zara sambil memberikan minuman untuk Andika.
“Ehmm.. jadi gini Zara.. gue udah ngomong sama Raka, kalau kantor sangat butuh orang seperti Lo. Raka juga minta maaf atas sikapnya tadi, sepertinya dia sangat menyesal soal perbuatannya tadi.” Jelas Andika.
“Jadi maksud Lo Raka mau gue masuk ke kantornya lagi setelah dia mengusir gue tadi?” Tanya Zara dengan tegas.
“Ehmm iya Zara.” Kata Andika.
“Hahaha nggak usah tegang gitu kali.”
“Gimana nggak tegang, muka Lo serius banget.” Ujar Andika sambil meminum minuman yang di berikan Zara.
“Hahah.. gimana yahh, kalau di fikir - fikir gue malu banget kalau sampai datang ke kantoe lagi. Lo tau kan semua orang yang ada di kantor melihat gue di usir sama Raka tadi?”
“Iya gue tau kok.. tapi tenang aja, mereka semua menyalahkan Raka kok, mereka semua malah bangga sama Lo. Karena mereka nggak pernah mendengar ada orang yang berani ngatain Raka gila hahahah.” Kata Andika sambil tertawa.
“Hahah beneran? Beneran nggak pernah?” Tanya Zara.
“Iya nggak pernah.. makanya mereka semua bilang Lo itu keren banget, apalagi pas ngebanting pintu ruangannya Raka. Gue aja sampai kaget tadi.” Jelas Andika.
“Hahaha apaan sih. Gue refleks ajaa.. dalam hati gue juga deg - degan tadi, takut pintunya pecah hahahah.” Kata Zara tertawa terbahak - bahak.
“Ya ampun hahaha.. ehmm jadi gimana Zara? Lo mau kan jadi sekertaris Raka?” Tanya Andika lagi.
“Hmm.. karena Lo udah baik banget sama gue, gue terima kembali deh. Tapi inget yah, gue terima tawaran ini karena Lo, bukan karena si gila itu.” Jawab Zara.
“Alhamdulillah... makasih banyak yah Zara. Eh, Tapi kan Raka juga yang nyuruh gue ke sini.”
“Iya gue tau.. tapi kan elo yang ngomong sama gue, kalau Raka langsung yang ngomong sama gue sekarang, kayaknya gue sama dia jadi bertengkar lagi hahah.” Ujar Zara.
“Hahahah kalian jangan sampai bertengkar lagi besok di kantor.”
“Hmm.. tapi gue juga mau sih kalau Raka yang ngomong langsung dan minta maaf sama gue.” Kata Zara sembari meminum minumannya.
“Itu pasti.. Raka pasti akan minta maaf langsung besok sama Lo Zara.”
“Hmm okey dehh.. jadi besok gue udah mulai masuk kantor kan?” Tanya Zara.
“Iya besok.. jangan lupa yahh. Ehmm kalau gitu gue ke sebelah dulu yah Zara, Raka ada di rumahnya. Makasih banyak Lo udah mau terima tawaran kita lagi.” Ujar Andika sambil berdiri.
“Oh, Raka ada di rumahnya? Bagus deh kalau dia inget pulang ketemu orang tuanya.” Kata Zara.
“Iya Zara, maklumin aja deh. Gue sebagai sahabatnya tahan - tahan emosi aja kalau sama dia. Hahah.” Ujar Andika.
“Ya Ampun hahahah.. hati - hati yahh, makasih udah datang ngebujuk gue hahah. Salam yah sama si Bos.”
“Hahah iyaa.. Sama - sama Zara, sampai ketemu besok di kantor.”
====