Chapter 24

1589 Kata
Melihat Zara yang sudah ketiduran, Pak Ardani menggendong Zara sampai ke kamarnya di lantai dua seperti anak kecil. Ibu Nadine juga menemani Pak Ardani ke kamar Zara. Saat sampai di kamar Zara, ponsel Zara berdering. Ibu Nadine dengan sigap mencari ponsel Zara yang ada di dalam tas Zara. Ibu Nadine melihat ada pesan yang masuk dan itu dari Raka. "Hai Zara.. Maaf kalau gue menganggu Lo malam - malam begini , gue cuma mau bilang terima kasih banyak untuk hari ini. Kalau bukan karena Lo, gue nggak akan bisa makan bersama dengan Ardya, Prilly, dan juga Bella, yah makan ramai - ramai. Makasih untuk saran - saran positif dari Lo. Gue akan mencoba berusaha untuk lebih baik lagi. Thank You Zara, good night and have a good dreame." Ibu Nadine tersenyum membaca pesan dari Raka. "Kenapa Maa? Dari Raka yah?" Tanya Pak Ardani. "Iya Pahh, ini pesan dari Raka. Kayaknya Zara nggak berhenti untuk membantu Raka biar nggak bersikap dingin lagi deh sama orang Pahh." Jawab Ibu Nadine. "Ohh, bagus sih kalau begitu. Kalau anak ini senang ngelakuinnya, yang penting dia nggak di kasarin lagi sama Raka." Ucap Pak Ardandi. "Mama percaya kok sama Raka, Raka itu anak yang baik, cuma waktu itu memang dia sangat merasa kehilangan orang - orang yang di cintainya. Semoga aja Zara sama Raka bisa berteman dengan baik." Ucap Ibu Nadine. "Hmm.. semoga yah. Keluar yuk Maa.. biarkan Zara istirahat." Ucap Pak Ardani lalu berjalan keluar dari kamar Zara. "Good night sayang." Ucap Ibu Nadine kemudian mencium kening Zara. Pak Ardani dan Ibu Nadine berjalan keluar dari kamar Zara. - APARTEMEN RAKA - Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Raka masih menatap ponselnya setelah mengirimi pesan singkat untuk Zara di bawah selimut yang begitu tebal. "Hmm.. sepertinya Zara udah tidur yah." Gumam Raka dari dalam selimutnya. Drrrttt dddrrtt drrrtttt (ponsel Raka berdering) Tanpa melihat siapa yang menelfonnya, Raka cepat - cepat menerima telefon tersebut. "Halo." Ucap Raka dengan semangatnya. "Halo.. Raka—" "Yahh Elo Andika?" "Hah? Iya gue.. apaan sih? Lo lagi nunggu telepon dari seseorang yah?" Tanya Andika. "Ah? Nggak.. ada apa sih? Udah tengah malam juga, masih gangguin aja." "Lahh biasanya gue juga nelpon Lo lebih dari jam segini kan gila? Kenapa sih Lo aneh banget." "Nggak.. gue lagi ngantuk banget ini, capek banget habis karokean. Apaan cepetan ngomong?" "Dihh sok capek Lo, di tempat karoke juga Lo nggam ngapa - ngapain, cuma senyum - senyum doang, capek apaan coba." "Yahh, capek senyum." Kata Raka. "Dihh ngeles aja Lo. Ini Gue ada nerusin Lo file yah di email Lo, kerjaan anak baru itu. Lo cek dulu deh, kan Lo yang nyuruh langsung ke dia." "Ohh iya - iya.. besok deh, gue capek banget." "Terserah Lo, kan Lo juga bosnya. Udah yah byeee." "Dasar !!! Kebiasaan banget sih tuh anak gangguin gue tengah malam begini. Kayaknya gue harus nyariin dia cewek deh, biar dia nggak gangguin terus." Kata Raka lalu melemparkan badannya ke tempat tidurnya. "Lahh.. kalau gue nyariin dia, lebih baik untuk gue aja yah hahah. Tapi cewek - cewek yang mau sama gue pasti ngincer duit gue aja. Haaahh. Tidur aja deh, ngapain sih mikirin yang aneh - aneh." Gumam Raka lalu menarik kembali selimutnya dan mulai tertidur. Esoknya, di apartemennya yang begitu luas, yang hanya di tinggali seorang diri Oleh Raka, sinar matahari pagi yang menembus kamar jendela kamar Raka membuat Raka terbangun tanpa bantuan Alarm. Raka mengingat kembali bahwa tadi malm ia menunggu balasan pesan dari Zara. Raka bangun dengan penuh semangat mencari ponselnya. Raka berharap sudah ada balasan dari Zara, tapi tidak ada satupun pesan dari Zara. "Hah? Nggak ada balasannya sampai sekarang? Apa gue salah ngomong yah? Atau pesan gue bahasanya mungkin nggak perlu dibalas atau gimana yah?" Kata Raka dengan terus menatap ponselnya. "Hmmmm.." Raka kemudian turun dari tempat tidurnya, berjalan ke kamar mandi dan bersiap - siap untuk ke kantor. Setelah mandi, Raka berjalan ke dapurnya untuk membuat sarapan kecil untuk dirinya. Di depan cermin yang cukup besar di dalam kamarnya, Raka berdiri memasang dasinya. "Baru kali ini gue nungguin balasan pesan dari cewek. Parah nih gue, kayaknya ada yang nggak beres dalam diri gue deh. Dan kenapa juga sih gue harus mengirim pesan ke Zara." Ucap Raka sambil menatap cermin. "Ahhh sudahlah semua sidah terjadi, lagian cuma mengirim pesan aja kan? Nggak ada yang salah?" Tanya Raka pada dirinya yang berada di dalam cermin. Setelah menghabiskan sarapannya, dan bersiap - siap, Raka mengambil kunci mobilnya dan segera berangkat ke kantor. - KANTOR - Saat sampai di kantor, Raka berpapasan dengan Zara. Tapi Zara tidak melihat Raka, Zara langsung masuk ke dalam lift. Raka berfikir bahwa kalau Zara tidak ingin melihat Raka, atau menegur Raka. Raka bertanya - tanya dalam hatinya apa yang salah dalam isi pesannya tadi malam, sehingga Zara tidak ingin menyapa dirinya. Saat sampai di depan ruangannya, Raka sama tidak melihat Zara hanyabada Ardya yang sedang bercermin merapikan darinya di meja kerjanya di samping meja kerja Zara. "Ardya.. Zara mana?" Tanya Raka yang masih berdiri di depan ruangannya. "Ohh pagi Raka..  Ehmm, Zara kayaknya tadi ke toilet deh. Dia udah datang dari tadi kok." Jawab Ardya. "Ohh.. okey. Saya masuk dulu yah." Raka kemudian masuk ke dalam ruangannya. Raka terus bertanya - tanya apa yang salah dengan isi pesan yang di kirimnya tadi malam untuk Zara. Raka lagi - lagi kembali memeriksa handphonenya. Dan Karena suasana hatinya yang tidak karuan Raka marah - marah dengan karyawan baru yang baru saja mengetuk pintu. Karyawan yang di tugaskan oleh Andika yang mengerjakan pekerjaan yang dikirim Andika tadi malam. "APA SAJA YANG KAMU LAKUKAN ??? PEKERJAAN YANG MUDAH SEPERTI INI SAJA KAMU TIDAK BISA MENYELESAIKANNYA DENGAN BENAR !!!" Teriak Raka dari dalam ruangannya. Zara yang baru saja kembali dari toilet mendengar kemarahan Raka, kaget dan menatap Ardya. "Adrya kenapa?" Tanya Zara yang baru saja kembali dari toilet. "Ssstttt sssttt sssttt. Sini." Saut Ardya memanggil Zara karena Zara berdiri di depan pintu ruangan Raka. "Eh kenapa sih? Kok sampai marah - marah kayak gitu?" Tanya Zara ke Ardya. "Gue juga nggak tau, kayaknya karyawan baru deh." Jawab Ardya. "Hah? Yang cewek itu?" Tanya Zara. "Iyaa yang cewek itu, gue liat tadi dia masuk ke ruangan Raka sambil membawa laptop kayaknya soal kerjaan yang kemarin deh." Jelas Ardya. "Emangnya kerjaannya ribet banget yah?" Tanya Zara lagi. "Yah Lo liat sendiri aja. Ada di file yang di kirimn Andika kemarin, itu yang mentah nya yah." Zara kemudian memeriksa komputernya, dan melihat file pekerjaan yang di kirim Andika. "Gimana?" Tanya Ardya. "Iya ini udah gue liat, kayaknya sih biasa aja yah menurut gue, tapi gue nggak tau buat tuh anak baru gimana, kita kan punya kemapuan yang beda - beda." Jawab Zara. "Nah makanyaaa !!! Mungkin dia masih belum mengerti, katanya kan dia juga lulusan baru. Ehh tapi Zara, ngomong - ngomong Lo baru kali ini kan ngeliat Raka marah kayak gitu sama orang di kantor?" Tanya Ardya. "Iyaa.. duh gue jadi kasihan sama anak baru itu. Gimana yah Ardya ? Lo nggak kasihan yah ? Dia sampai di bentak - bentak kayak gitu." Kata Zara. "Yahh kasihan lah.. mana ada gue nggak kasihan sama orang kalau di marahin kayak gitu, dia juga kan masih baru. Ohh atau gini aja Zara lebih baik lo masuk aja, nyelametin dia. Lo alesan aja nanya ke Raka kalau kenapa dia nyariin Lo tadi. Karena emang dia nyariin Lo tadi kok." Kata Ardya pelan. "Ohh gitu yah? Beneran kan dia nyariin gue?" Tanya Zara lagi. "Iya beneran, pas baru aja Raka datang dia udah nyariin Lo." Jawab Ardya. " Iya deh, gue coba masuk deh yah. Tapi gue takut juga. Nanti gue kena semprot lagi sama Raka." Ujar Zara menghentikan langkahnya sebelum masuk ke ruangan Raka. "Ihhh.. di coba dulu, Lo nggak kasian sama tuh anak baru? Kalau Lo makin lama di sini, dia makin lama di marahin sama Raka. Habis tuh anak di bentak - bentak. Udah sana buruan masuk." Kata Ardya berdiri dari kursinya dan mendorong Zara ke depan pintu ruangan Raka lebih dekat lagi. "Ihh Iyaa - iyaa.. nggak usah di dorong - dorong kayak gitu, nanti pintunya ke dobrak lagi. Nanti kita di kira nguping pembicaraan mereka." Kata Zara pelan. "Hahah.. iyaa - iyaa.. Lo tarik nafas dulu, pelan - pelan aja." Kata Ardya sambil menahan suara tawanya. "Iyaa hahaha Sana - sana Lo minggir, nanti Raka liat Lo juga." Kata Zara kembali mendorong Ardya. "Hmmmm huuuu hmmmm huuuuu. Doain gue yah Ardya." Ucap Zara setelah menghela nafas panjang. Dengan hati yang deg - degan, Zara mencoba mengetuk pintu ruangan Raka. Tapi sebelum tangannya sampai di pintu ruangan Raka, Zara di Kejutkan dengan suara handphonenya yang berdering dengan sangat keras. Trriiinggg triiinggg triiingggg (suara alarm pada ponsel Zara) Zara cepat - cepat mematikan handphonenya yang berada di dalam kantong celananya. Dan berjalan menjauh dari pintu ruangan Raka. "Hahahahah.. Zara sumpah Lo lucu banget kalau panik kayak gitu." Seru Ardya. "Hahaha sialan Lo !!!! Gue kaget banget. Kenapa sih nih Alarm tiba - tiba menyala, perasaan gue udah matiin deh tadi." Kata Zara sambil mengelus - ngelus dadanya. "Makanya jangan pakai perasaan hahaha." Ucap Ardya lagi. Ardya sangat puas menertawai Zara yang panik karena bunyi alarmnya. "Haduuhh.. gue coba masuk lagi nih yahh?" Tanya Zara ke Ardya. "Iyaa lah Zara !!! Lo nggak denger tuhh, suara Raka makin marah?" Ujar Ardya. "Huuffttt iya deh iyaa.. huuffttt haaaa huufftttt.." Zara menarik nafasnya lagi dan mencoba mengetuk kembali pintu ruangan Raka. Dengan penuh keberanian Zara mengetuk pintu ruangan Raka. Dan Ardya memberikan semangat ke Zara dari meja kerjanya. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN