Setelah berbicara panjang lebar di parkiran restoran, Andika, Bella, Ardya dan juga Prilly membuka pintu mobil mereka.
“Ehh eehh Lo mau kemana Zara?” Tanya Prilly kemudian menghentikan langkah Zara membuka pintu mobil Ardya.
“Hah? Gue kan udah bilang tadi kalau gue sama kalian.” Kata Zara.
“Lahh ngapain sama kita? Kan Rak ikut, sama Raka aja yahh.” Kata Prilly lalu tersenyum.
Raka mendengar ucapan Prilly, lalu berjalan ke mobil Ardya dan langsung memegang tangan Zara.
“Sini sama gue aja.” Kata Raka dengan nada yang datar sambil memegang tangan Zara.
Zara langsung menatap tangannya yang di pegang oleh Raka.
“Ehh sorry.” Raka langsung melepaskan tangan Zara.
“Nggak papa. Yuk.” Ucap Zara menahan senyumannya.
“Senyum aja kali. Nggak usah di tahan - tahan gitu, ntar sesak nafas loh.” Seru Ardya
“Hahahahah. Zar zar.” Celetuk Prilly yang tidak bisa menahan tawanya karena tingkah lucu dari Zara.
Semuanya pun berangkat ke tempat karaoke, di tengah perjalanan Zara bertanya kenapa Raka tiba - tiba berubah fikiran.
“Raka?”
“Iya Zara.”
“Ehmm.. kenapa Lo tiba - tiba berubah fikiran mau ikut ke tempat karaoke?”
“Nggak tau juga yah, gue mau mencoba aja. Seperti yang Lo bilang tadi.”
“Hmm.. bagus deh. Tapi maaf yah kalau gara - gara gue Lo terpaksa ikut.”
“Nggak kok Zara.”
“Hmm.. okey.”
“Lo kenapa?” Tanya Raka.
“Hehe nggak kok. Gue seneng aja Lo jadi ikut juga, dan lagi - lagi kita berangkat sama - sama.” Jawab
Zara sambil tersenyum.
“Kenapa senang?”
“Nggak tau. Senang aja.”
“Lah. Lo ada - ada aja.”
Mereka semua pun bersenang - senang di tempat kareoke, Prilly dan Bella benar - benar mengeluarkan skill bernyanyi mereka berdua. Sedangkan Zara yang malu - malu bernyanyi karena ada Raka, tidak banyak gerakan, Zara bernyanyi dengan duduk manis. Raka juga hanya senyum - senyum melihat teman - temannya menghabiskan waktu bernyanyinya. Dan hampir tiga jam mereka menghabiskan waktundi tempat karaoke.
“Waaahh seru banget yah hahaha.. ternyata suaranya Andik bagus banget, baru kali ini loh gue dengar Lo nyanyi.” Seru Bella.
“Iya lahh, dulu waktu kuliah gue selalu di panggil untuk maju ke depan untuk nyanyi terus gombalin cewek - cewek. Dan jangan sampai Lo jatuh cinta yah sama gue karena habis denger gue nyanyi.” Ucap Andika lalu memasukkan satu tangannya ke kantong celananya dan berpose di depan Bella.
“Idihh hahah nggak deh yahh.. kan udah gue bilang, gue udah punya inceran di kantor, mau suara Lo sebagus apa kek, gue tetap nggak akan suka sama Lo hahaha.” Kata Bella berjalan melewati Andika yang sedang berpose begitu saja.
“Ah udah capek - capek berpose juga hahaha. Atau Lo Zar, jangan sampai Lo suka sama gue, Lo juga suka sama suara gue kan tadi?” Kata Andika menggoda Zara.
“Hahahah apaan sih Lo Andika. Kita tuh suka sama suara lo aja.. ada - ada aja sih, nggak jelas deh hahaha.” Seru Zara berjalan sambil tertawa terbahak - bahak.
“Hahah emang nih Andika, suka kepedean banget.” Ucap Bella.
“Ngapain Lo nanya ke Zara juga sih, emang belum jelas yah Zara sukanya sama siapa?” Tanya Ardya.
Zara langsung memalingkan wajahnya ke Ardya dan memasang wajah kesal, dan menyuruh Ardya berhenti membicarakannya.
“Iya - iyaa.. nggak kok. Tenang dong Zar, nggak usah kayak macan gitu. Takut gue hahaha.” Seru Ardya.
“Hahah udah balik yuk.. makasih yah traktirannya hari ini Ardya, Prilly, dan juga pak Bos Raka.” Kata Bella.
“Iya sama - sama.” Balas Ardya.
Setelah selesai karokean, Ardya dan Prilly pulang bersama, Bella dan Andika membawa mobil sendiri - sendiri, lalu Raka dan Zara juga pulang bersama.
“Ini nggak papa Lo nganterin gue lagi?” Tanya Zara ke Raka.
“Nggak papa kok Zar, toh arah rumah gue juga searah sama rumah Lo.” Jawab Raka.
“Tapikan Lo nggak mau pulang ke rumah Lo.. ehm maksud gue rumah Lo yang tepat di samping rumah gue hehe.” Kata Zara sambil menutup pintu mobil Raka.
“Iyaa.. rumah gue yang sekarang searah kok sama rumah kita Zar.”
“Hah? Rumah kita?”
“Iya kan rumah kita sebelah - sebelahan.
“Oh iya. Hehe.” Kata Zara yang salah pengertian.
“Terus rumah Lo yang sekarang di mana Raka?” Tanya Zara.
“Ada lah pokoknya.. yang penting searah kok sama rumah kita. “
“Kenapa nggak ngasih tau aja sih pastinya dimana?” Tanya Zara.
“Bukannya nggak mau ngasih tau, tapi nanti kalau gue kasih tau Lo bakal sering mampir lagi, kayak sih Andika, dikit - dikit mampir, dikit - dikir mampir. Bosen banget tiap hari ketemu dia.” Jelas Raka.
“Ih ya ampun gue kirain kenapa hahah nggak kok kasih tau dong. Pleasee.” Ucap Zara lagi.
“Bercanda yah gue. Tapi Kenapa Lo mau tau emangnya? Lo mau ngasih tau nyokap gue?” Tanya Raka.
“Ihh suudzon banget sih, ya nggak gitu juga. Kan kita sekantor dan apalagi gue sekertaris Lo siapa tau kan nanti ada kebutuhan mendadak dan Lo nggak bisa ke kantor jadi gue bisa ke rumah Lo untuk bawa berkas yang mau di tanda tangani atau apa gitu yang urgent.” Jelas Zara.
“Oh iya juga yah. Nanti deh yah, nanti pasti gue bakalan kasih tau kok.” Kata Raka.
“Hmm.. ya udah deh, terserah Lo aja.”
“Okeyy.. by the way kamu nggak mau turun yah? Rumah kamu udah nungguin tuh.” Kata Raka menunjuk rumah Zara.
“Ohh iyaa yah.. saking seriusnya gue ngomong sama Lo sampai nggak merhatiin jalanan.” Ujar Zara sambil memakai tasnya.
Suasana malam yang begitu dingin dan sudah sangat sunyi membuat Zara takut untuk turun sendirian.
“Hmm Raka boleh minta tolong nggak?” Tanya Zara dengan raut wajah yang takut.
“Boleh kok. Apaan?” Tanya Raka kembali.
“Temenin gue sampai gue masuk di dalam rumah dong. Gue takut nih sendirian, tuh Lo liat di sekeliling udah nggak ada siapa - siapa.. sereemmm.” Kata Zara yang seperti anak kecil .
“Lucu banget sih.”
“Makasih.”
“Puufftt..”
“Ketawa aja kalau mau ketawa.”
“Ehh ehem ehem.. Iya iyaa sini gue anterin masuk.” Raka kemudian mematikan mobilnya, lalu keluar dari mobilnya. Raka membukakan pintu mobilnya untuk Zara.
“Ayo keluar tuan putri.” Ucap Raka sambil tersenyum.
“Hehe maaf yah gue ngerepotin.” Kata Zara lalu keluar dari mobil Raka.
“Nggak kok, udah masuk sana. Gue balik yah.” Ucap Raka.
“Ihh tunggu gue masuk dulu.” Ucap Zara merengek.
“Ya Allah iyaa.. gue tungguin, udah sana masuukk.” Seru Raka.
“Hehe makasih yah Raka. Hati - hati di jalan.” Kata Zara sambil membuka pintu pagarnya lalu melambaikan tangannya ke Raka.
“Iya sama - sama. Gue balik yahh, sampai besok.” Ucap Raka sambil berjalan ke mobilnya.
“Iyaa see you tomorrow Raka.” Kata Zara lalu masuk ke dalam rumahnya.
Zara pun masuk kedalam rumahnya, dengan wajah yang penuh senyuman.
“Assalamualaikum.. Zara pulaaanggggg.” Seru Zara.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa OH MY GOODDD !!!!” Teriak Zara.
Julian, Ibu Nadine dan juga Pak Ardani langsung berlarian keluar mendengar suara teriakan dari Zara.
“Kenapa Lo? Hah? Ada apa? Siapa yang jahatin Lo?” Teriak Julian yang masih berlarian di tangga rumah.
“Kenapa Zara? Ada apa? Kenapa kamu teriak - teriak begitu malam - malam? Tanya Pak Ardani.
“Zara nggak kenapa - kenapa kok. Hehe.. maaf yah, Zara udah teriak - teriak nggak jelas. zara cuma lagi senang aja kok.” Jawab Zara sambil senyum - senyum.
“Ya ampun nih anak, bikin kaget aja. Mama tau nih apa yang buat dia teriak - teriak kayak gini. Raka kan?” Kata Ibu Nadine.
Zara pun menggangguk pelan mendengar tebakan dari mamanya.
“Ahh dasar Lo !!! Gue kirain kenapa. Mana gue hampir jatuh di tangga lagi.” Ucap Julian sangat kesal.
“Ya Maaf.. gue kan terlalu senang.” Kata Zara.
“Emangnya kenapa Nak? Kenapa kamu sampai senang begitu? Kamu di tembak sama Raka?” Tanya Pak Ardani.
“Aamiiiinnnnn !!!” Zara teriak dengan kencangnya.
“Idih najis Lo. Ganjen banget.” Seru Julian lagi sambil berjalan ke dapur.
“Maaaa Juliaannnn” ucap Zara bermaksud di bela dengan Ibu Nadine.
“Julian.. nggak usah gangguin adikmu ah. Dia lagi jatuh cinta.” Ucap Ibu Nadine sambil merangkul Zara.
“Raka anaknya tetangga sebelah kan? Anaknya Pak gibran kan?” Tanya Pak Ardani.
“Iya Pah.. gantengkan dia Pah?” Tanya Zara.
“Hah? Papa sih jarang ngeliat dia yah. Apalagi mungkin akhir - akhir ini papa nggak pernah liat.” Jawab Pak Ardani.
“Masih gantengan Julian kok Pah.” Seru Julian yang sudah duduk di bar kecil rumahnya.
“Ishhh mentang - mentang situ ganteng, terus di sukain banyak cewek jadi makin kepedean dasarrr.” Kata Zara.
“Hahahah kalian ini selalu saja bertengkar. Duduk sini Zara sayang, cerita dulu.” Kata Pak Ardani menarikkan kursi di bar kecil rumahnya.
“Ayo nak. Biar mama yang buatkan minuman untuk kalian.” Ucap Ibu Nadine.
Zara dan Ibu Nadine berjalan ke Bar rumah mereka, Zara duduk di samping Pak Ardani.
“Jadi kenapa Lo sampai teriak - teriak kayak gitu? Kenapa sama Raka?” Tanya Julian.
“Hehee.” Zara tertawa kecil.
“Dihh.. belum apa - apa udah ketawa.” Seru Julian.
“Juliaann.. dengarkan dulu apa kata adik kamu, jangan di ganggu dulu.” Ujar Ibu Nadine sambil meracik minuman untuk Julian, Zara dan Pak Ardani.
“Iyaa - iyaa.” Kata Julian.
“Raka nggak ngapa - ngapain sih. Cuma Zara nggak nyangka aja kalau Raka anaknya baik, nggak seperti yang aku bayangin dulu. Nggak seperti waktu dia ngelempar bingkai foto aku—“
“Lahh—“ baru saja Julian ingin memotong pembicaraan Zara, Ibu Nadine sudah menatapnya.
“Biarkan adik kamu menyelesaikan ucapannya dulu Julian.” Kata Pak Ardani yang juga sangat sabar mendengar cerita putrinya itu.
Blleeeeeeee. Zara menjulurkan lidahnya ke Julian.
“Raka bisa bersikap baik Maa Paa.. dan dia juga bisa tertawa, dan saat dia tertawa dia tuh jadi ganteng bangeeeettttt. Dan saat dia berbicara, aku natap dia rasanya tuh adem bangeettt.” Jelas Zara lagi sambil membayangkan kembali wajah Raka.
“Terus kamu jadi makin suka sama Raka?” Tanya Pak Ardani.
“Iya Paah hehe.” Jawab Zara dengan polosnya.
“Hmm Papa sih ngedukung aja siapa yang kamu suka, yang penting kamu bisa menjaga diri kamu, dan pastikan orang itu tidak akan menyakiti hati kamu.” Ujar Pak Ardani lagi.
“Mama juga setuju selama Zara bahagia, mama juga ikut bahagia.” Ucap Ibu Nadine.
“Ihh apaan sih main setuju - setuju aja, emangnya mau nikah.” Seru Julian.
“Bukan gitu maksudnya Julian, Papa sama mama cuma mendukung apa yang menurut papa dan mama benar, biar adik kamu ini nggak salah mengambil keputusan nantinya.” Jelas Pak Ardani.
“Awas aja kalau sampai Raka nyakitin Lo lagi, habis tuh anak sama gue.” Ujar Julian.
“Iyaa - iyaa, kita kan juga nggak tau kalau Raka bakalan suka juga sama Zara atau nggak. Tapi semoga aja Zara nggak bertepuk sebelah tangan.” Ucap Zara lagi.
“Kalau kamu benar - benar suka sama Raka, kamu nggak boleh nyerah sebelum dia nunjukkin kalau dia nggak suka sama kamu.” Ucap Ibu Nadine sambil menyajikan minuman untuk kedua anaknya dan juga untuk Pak Ardani.
“Bener tuh kata mama, soalnya mama juga dulu gitu ke Papa, iya kan Maa?” Tanya Pak Ardani sambil mencoba minuman yang dibuatkan istrinya. “Enak banget.”
“Bener banget tuh. Aduh mama jadi malu ceritainnya.” Ucap Ibu Nadine sambil duduk di dalam bar berhadapan dengan Pak Ardani.
“Cerita dong Maa. Ayo Maa Paa.” Seru Zara.
“Iya cerita dong Maa Paa.. Julian juga mau denger, sapa tau Julian bisa belajar dari pengalaman Mama dan Papa juga.” Ucap Julian sambil tertawa.
“Kerja yang bener dulu kamu, baru pacar - pacaran.” Kata Pak Ardani.
“Lahh.. Zara kok di biarin, Julian yang dilarang. Harusanya kan kakak yang di biarin bukan adiknya yang di biarin.” Kata Julian lagi.
“Kan adik kamu nggak boros kayak kamu. Jadi kamu harus nyari uang sendiri dulu baru baru bisa pacaran.” Jelas pak Ardani.
“Tapi aku kan udah kerja di kantor papa.” Ujar Julian.
“Iyaa, kamu udah kerja di kantor papa, makanya papa bilang kerja yang bener.” Ujar Pak Ardani.
“Iyaa - iyaa.. jadi ini jadi cerita nggak? Kalau nggak lain kali aja deh. Tuh liat tuh anak udah molor aja.” Kata Julian menunjuk Zara.
====