Chapter 30

2250 Kata
Zara menatap Nabila menunggu Nabila menjelaskan semuanya ke Raka dan semua pandangan juga tertuju pada Nabila. "Halo? Saya nanya, ini kenapa ramai - ramai berkumpul di sini? Ada apa? Apa kalian nggak punya pekerjaan untuk di selesaikan? Dan Mba Nabila kenapa ada di sini? Bukankah meja kerja mba Nabila ada di lantai tiga?" Tanya Raka.  Ardya, Bella dan juga Zara menatap Nabila dengan senyuman tipis di bibir mereka.  Tapi Nabila belum membuka suara sama sekali.  "Ehmm Pak Raka.. biar saya yang jelaskan Pak Raka. Jadi begini, tadi Nabila dan Zara berdebat di sini. Nabila ingin bertemu Pak Raka, ntah apa tujuannya atau laporan apa yang ingin dia sampaikan ke bapak. Terus Zara memberitahu mba Nabila kalau Zara harus memberitahu bapak dulu kalau mba Nabila ingin bertemu karena itu semua sudah menjadi bagian dari pekerjaan Zara sebagai sekertaris Pak Raka. Tapi Mba Nabila marah ke Zara, karena katanya kenapa harus di beri tahu dulu, Mba Nabila kan bukan tamu? Benar begitu kan Mba Nabila?" Kata Bella melemparkan ucapannya ke Nabila.  "Iya benar Pak Raka. Memang benarkan Pak? Kenapa harus di beri tahu bapak dulu? Toh saya bukan tamu, dan saya tinggal ngetok pintu sendiri aja nggak papa kan Pak?" Tanya Nabila dengan tegas. "Begini yah Mba Nabila, dan dengar juga untuk semua karyawan yang ada di sini, atau kalau perlu untuk siapa saja memberitahukan ke semua karyawan yang belum tau. Semua yang di katakan sama Zara sudah benar, sejak kapan ada orang yang langsung masuk ke ruangan saya tanpa harus melapor dulu sama Zara? terkecuali Andika yah. Jadi untuk siapa saja harus melapor dulu sama Zara kalau ingin bertemu dengan saya." Ucap Raka sambil melihat sekelilingnya sekelilingnya agar semua orang yang ada di lantai lima paham apa yang di sampaikan Raka.  "Tuh.. kayaknya emang harus Pak Raka yang ngomong langsung sama Mba Nabila, biar Mba Nabila mengerti. Dan saya rasa orang - orang yang ada di lantai lima tau aturannya seperti apa kok. Iya kan semuanya?" Kata Zara lalu melihat semua orang - orang yang menonton perdebatan antara dirinya dan juga Nabila.  "Iya benar kok, kami semua di sini tau aturannya." Ucap salah satu pegawai yang berada paling dekat dengan mereka.  "Iya maaf yah Pak Raka, saya nggak tau. Saya fikir kalau karyawan bapak sendiri nggak papa masuk tanpa harus di lapor dulu sama Pak Raka." Ucap Nabila dengan senyuman manja diwajahnya tanpa merasa bersalah sama sekali. "Oh my god, ini cewek bener - bener datang ke sini biar di notice aja sama Raka. Nggak ada malunya sama sekali." Batin Bella sambil menatap sinis Nabila.  "Iya nggak papa. Lain kali jangan membuat keributan seperti ini, kamu lihat kan semuanya jadi tidak fokus bekerja di jam kerja karena ada kamu di sini membuat keributan." Ucap Raka.  "Iya maaf yah Pak Raka, maaf yah semuanya." Kata Nabila sambil melihat ke semua karyawan yang ada di lantai lima. "Kamu juga harus minta maaf sama Zara, lain kali kamu tidak bisa seperti ini lagi. Semua karyawan yang ada di sini jadi tidak fokus bekerja karena keributan yang kamu buat." Kata Raka lagi.  "Iya maaf yah pak.. Mba Zara saya minta maaf yah mba, saya sudah marah - marah sama mba Zara. Mba Zara nggak marah kan?" Kata Nabila dengan santainya.  " iya nggak papa." Singkat Zara. Zara sudah malas untuk meladeni Nabila lagi.  "Ehmm.. jadi apa boleh saya masuk ke ruangan bapak Untuk berbicara sebentar?" Tanya Nabila tanpa malu - malu.  "Lahh masih aja mau masuk?" Batin Zara.  "Apa yang mau kamu sampaikan? Apa itu sangat penting?" Tanya Raka.  "Iya penting banget pak." Jawab Nabila.  "Ehmm.. kalau nggak salah tadi Mba Nabila cuma mau menyampaikan rasa terima kasihkan sama Pak Raka? Dengan memberikannya juga kopi yang di tangan Mba Nabila? Apa itu sangat penting?" Tanya Zara.  "Apa benar cuma itu Mba Nabila?" Tanya Raka.  Zara sengaja berbicara seperti itu, Zara ingin memberi balasan ke Nabila yang sudah membentak - bentaknya tadi.  "Wahhh itu sangat penting yah Mba Nabila? Apa masih ada kopi untuk saya? Saya lagi ngantuk banget nih. Atau kopinya buat saya saja yah Mba Nabila? Nggak papa kan Pak Raka? Pak Raka nggak ngantukkan?" Seru Ardya lalu merampas satu cup kopi di tangan Nabila.  Nabila tidak bergeming melihat kopi yang di bawanya di rampas oleh Ardya. Raut wajah Nabila sangat kesal melihat Ardya.  "Makasih yah Mba Nabila." Ucap Ardya lalu berjalan meninggalkan Raka, Zara, Nabila dan juga Bella yang masih berdiri menyelesaikan obrolan mereka.  "Tapi kopi itu buat Pak Raka." Ucap Nabila pelan.  Ardya tidak menggubris ucapan dari Nabila, iya tetap berjalan menuju meja kerjanya kembali, sambil mengangkat kopi itu di tangannya. "Puufftttt.." Bella tertawa kecil sambil menutup mulutnya melihat Ardya mengambil kopi di tangan Nabila. "Kamu ingin berterima kasih soal apa sama saya? Apa saya sudah membantu kamu? Saya merasa tidak melakukan kebaikan sama kamu hari ini." Ucap Raka.  "Ehmm nggak Pak.. boleh kita berbicara berdua saja pak? Saya nggak enak kalau di lihat dan di dengar sama yang lain di sini." Kata Nabila sambil memasukkan rambutnya ke belakang telinganya, dan lagi - lagi memberikan Raka senyuman manjanya.  "Lohh saya yang jadi nggak enak sama yang lain kalau sampai harus ngobrol berdua sama kamu. Karena semuanya sudah mendengar alasan kamu datang ke sini. Kalau kita bicara berdua, nanti di kira kita ada apa - apanya lagi." Kata Raka.  "Bener banget tuh Pak Raka. Nanti kalian semua mikir yanh nggak - nggak, iya kan?" Seru Bella sembil menatap dengan sengaja karyawan yang ada di lantai lima.  Semu karyawan yang ada di lantai lima juga sangat bisa di ajak bekerja sama, dan terlebih lagi mereka semua tau kalau Nabila hanya ingin mendekati Raka.  "Silahkan kamu katakan saja di sini, lalu kembali ke ruangan kamu. Kamu sudah menghabiskan waktu berapa lama di sini, kamu buang - buang jam kerja kamu dengan hal sepele seperti ini." Ucap Raka dengan tegas.  Raut wajah Nabila sudah berubah menjadi sangat kesal.  "Ini semua gara - gara perempuan ini. Kalau dia nggak sok jadi sekertaris yang benar dan hanya cari muka ke Pak Raka, pasti gue sudah ngoborol banyak sama Pak Raka tadi.  Sialan.. gue di permalukan seperti ini, lihat saja nanti apa yang bakal gue lakuin sama Lo cewek brengsek." Gumam Nabila dalam hatinya sambil melihat Zara dengan tatapan tajam.  "Halo? Jadi apa yang mau kamu sampaikan? Kalau nggak ada, lebih baik kamu kembali bekerja. Selesaikan apa yang harus kamu selesaikan. Pintu keluar lantai lima ada di sebelah sana." Ucap Raka sambil menunjuk pintu keluar dari lantai lima.  "Apa pak Raka sangat sibuk? Apa saya tidak bisa berbicara sebentar sama Pak Raka? Hanya sebentar saja pak." Tanya Nabila lagi yang kali ini sudah memaksa.  "Bukannya saya sibuk, tapi kalau bukan sesuatu yang penting lebih baik tidak usah, saya tidak ingin membuang - buang waktu saya." Ucap Raka.  "Ehmm Pak Raka.. lebih baik saya kembali ke meja kerja saya saja yah Pak Raka.. mungkin Mba Nabila butuh privasi sama Bapak." Ucap Zara.  "Saya juga deh Pak Raka, permisi yah Pak." Ucap Bella lalu berjalan ke ruangannya yang berada di sebelah pintu masuk.  "Sudah - sudah, kamu lebih baik kembali ke ruangan kamu, saya nggak mau membuang - buang waktu saya." Ucap Raka mengusir Nabila kembali, lalu berjalan menuju ruangannya.  Belum jauh Zara berjalan, Raka sudah memanggilnya lagi.  "Zara kamu ikut saya ke ruangan saya, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu." Ujar Raka sambil menunjuk Zara.  "Oh iya baik Pak, permisi yah Mba Nabila." Kata Zara tersenyum meninggalkan Nabila seorang diri. "Sialaaannnn !!!!" Batin Nabila.  Dengan hati yang penuh amarah, Nabila terpaksa kembali ke ruangannya dengan penuh rasa malu, karena semua orang yang ada di lantai lima, melihat semua kejadian tersebut. Nabila seperti orang yang kalah dalam kompetisi. Semua karyawan yang ada di tempat melihat Nabila sampai Nabila keluar dari pintu ruangan lantai lima.  Suasana yang tadinya tegang, sudah kembali normal. Semua karyawan kembali fokus dengan kerjaan masing - masing.  Sebelum Nabila kembali ke ruangannya, Nabila masuk ke toilet untuk berkaca. Wajahnya sangat kesal dan penuh amarah. "Aaaaahhhhhh.. sialaaannn !!! Kenapa sih semuanya nggak berjalan lancar. Kenapa juga harus ada sekertaris baru itu. Uuurgghhhhh." Gumam Nabila sambil berdiri di depan cermin melihat diriny sendiri.  "Heii Mba Nabila kenapa? Kok teriak - teriak sendiri sih? Mana di toilet lagi." Ucap Prilly yang baru saja keluar dari bilik toilet "Ehh Mba Prilly.. Mba Prilly kok ada di toilet lantai tiga?" Tanya Nabila.  "Iyaa.. lagi ada yang saya periksa tadi. Mba Nabila kenapa teriak - teriak seperti itu?" Tanya Prilly lagi.  " ehmm Mba Prilly dengar semua yahh? Aduh saya jadi malu." Ucap Nabila.  "Hahah.. iyalah saya dengar semuanya. Kenapa? Kenapa dengan Zara? Kok kedengarannya Mba Nabila marah sama Mba Zara, Mba Nabila tadi ngomong kalau kenapa harus ada sekertaris kan? Jadi yang mba Nabila maksud, itu Mba Zara. Memangnya ada apa?" Tanya Prilly sambil mencuci tangannya.  "Iya Mba Zara, tapi Nggak kok mba, saya nggak kenapa - kenapa." Ucap Nabila.  "Ih nggak apa - apa mba Nabila.. Mba Nabila bisa cerita sama saya, nggak usah sungkan seperti itu. Kan Mungkin aja ada  yang bisa saya bantu." "Hmm gimana yah mba.. jadi begini Mba Prilly, Mba Prilly tau kan tadi kejadian di kantin? Yang saya nabrak Mba Zara?" Tanya Nabila.  "Iya.. tau kok.. memangnya kenapa dengan itu?" Tanya Prilly lagi. Prilly sandar di tembok samping kaca untuk mendapatkan posisi yang enak mendengarkan cerita dari Nabila.  "Iyaa.. kan tadi aku nabrak Mba Zara, terus datang Pak Raka ngebelain aku, terus nyuruh aku minta maaf sama Mba Zara.  "Ohh memangnya tadi Pak Raka membela Mba Nabila yah? Kayaknya nggak deh, atau gimana yah?" Tanya Prilly.  "Pak Raka ngebelain aku Mbaa, Mba Prilly sih nggak ngeliat langsung kejadiannya tadi dari dekat." Jawab Nabila.  "Ahh iya juga sih.. ehmm tapi kenapa dengan itu? Kenapa kalau Pak Raka membela Mba Nabila?" Tanya Prilly.  "Iyaa jadi barusan ini, aku mau ke ruangannya Pak Raka. Mau ketemu langsung sama Pak Raka, tapi sebelum sampai di lantai lima, saya mau berpapasan sama Mba Zara. Terus aku ngasih tau kalau aku mau ke ruangannya Pak Raka, tapi Mba Zara bilang katanya semua orang yang mau ketemu sama Pak Raka harus dia lapor dulu sama Pak Raka. Aku kan nggak tau kalau semua orang yang mau ketemu sama Pak Raka harus di lapor dulu, aku kira itu cuma akal - akalannya Mba Zara aja, dia kan suka sama Pak Raka tuhh.. kali aja dia bilang kayak gitu karena dia nggak mau kalau aku ketemu sama Pak Raka." Jelas Nabila.  Prilly dengan sabarnya mendengarkan cerita dari Nabila.  "Hah? Mba Nabila kok bisa ngomong kayak gitu? Kenapa Mba Nabila ngomong kalau Mba Zara suka sama Pak Raka? Memangnya Mba Zara pernah ngasih tau yah ke Mba Nabila kalau dia suka sama Pak Raka?" Tanya Prilly.  "Yahh nggak pernah sih. Tapi kan kenapa coba sampai dia ngelarang aku masuk ke ruangan Pak Raka? Kalau dia nggak suka sama Pak Raka, pasti dia cuek aja dong." Kata Nabila.  "Hmm.. apa karena itu Mba Nabila jadi marah banget sama Mba Zara?" Tanya Prilly lagi.  "Itu salah satunya Mba Prilly." Jawab Nabila.  "Hah? Itu salah satunya? Terus masih ada lagi?" Tanya Prilly berdiri dari sandarannya.  "Iyaa Mbaa, jadi tadi aku sempat marah - marah di lantai lima, soal yang barusan Mba. Terus semua orang di lantai lima melihat kejadian itu. Sampai - sampai Pak Raka datang, dan menjelaskan kalau memang semua orang yang mau ketemu sama dia itu harus di lapor dulu. Kayaknya Mba Zara sudah sukses deh menggoda Pak Raka, sampai - sampai Pak Raka membela dia di depan semua orang. Karena kenapa aku baru tau kalau ada peraturan dari Pak Raka yang seperti itu? Parah banget sih Mba Zara sampai bisa menggoda Pak Raka seperti itu. Ahh kalau di ingat - ingat lagi, rasanya aku malu banget Mba Prilly." Nabila tidak berhenti mengeluarkan semua uneg - unegnya yang tidak benar.  "Aduuhh kayaknya Mba Nabila ini memang salah paham deh. Udah lama kok Pak Raka membuat peraturan seperti itu, Mba Nabila aja mungkin yang baru tau. Dan kalau soal Mba Zara menggoda Pak Raka kayaknya Mba Nabila salah deh, itu bisa menjadi fitnah loh Mba Nabila." Kata Prilly memberitahukan Nabila dengan sangat sabar.  "Ah masa sih Mbaa, kenapa aku baru tau sih. Sumpah deh malu banget aku Mbaa." Ujar Nabila lagi.  "Tapi tunggu deh, kenapa Mba Nabila sampai mau bertemu dengan Pak Raka hanya karena ceritanya Pak membela Mba Nabila tadi?" Tanya Prilly yang baru tersadar atas apa yang di ucapkan Nabila.  "Iyaa karena aku mau berterima kasih langsung sama Pak Raka, aku tadi mau ketemu Pak Raka dengan membawakan Pak Raka satu cup kopi cappucino tapi itu juga di rampas sama Ardya pacarnya Mba Prilly." Ucap Nabila.  "Loh kok malah di rampas Ardya?" Tanya Prilly heran.  "Iyaa katanya dia lagi haus dan ngantuk, makanya dia yang ambil minumannya. Ganti dong Mba Prilly." Ucap Nabila. Nabila sangat tidak mempunyai malu, karena minumannya lagi harus di ganti sama Prilly.  "Ah? Ohh iya Mba ntar saya ganti deh, saya nggak bawa dompet." Ucap Prilly.  "Iya gantiin yah Mba Prilly, Mba Prilly kan pacarnya Pak Ardya." Ucap Nabila lalu tersenyum.  "Ya ampun Ardya kenapa sih pakai ambil minuman orang ini." Gumam Prilly dalam hatinya.  "Iyaa ntar yah Mbaa Nabila.. ehmm kalau gitu saya duluan yah, sepertinya saya sudah di cariin sama yang Lain. Mba Nabila juga kembali yahh, dan jangan salah paham lagi." Ucap Prilly sambil berkaca dan bersiap untuk keluar dari toilet.  "Iyaa Mba Prilly, makasih yah udah mendengarkan uneg - uneg aku." Ucap Nabila.  "Siaapp.. permisi yahh."  Prilly pun keluar dari toilet dan meninggalkan Nabila di toilet karena sudah banyak juga karyawan lantai tiga yang ingin menggunakan toilet. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN