Sementara itu di lantai lima, karena Zara di panggil oleh Raka, Zara mengikuti Raka ke ruangannya. Zara juga ingin berterima kasih karena pakaian yang di kenakannya saat itu sudah di bayarkan oleh Raka.
"Ssstt sstt.. gimana?" Tanya ardya ke Zara sebelum memasukki ruangan Raka.
"Beres." Jawab Zara sambil mengedipkan matanya dan mengangkat satu jempol tangannya.
Ardya tertawa.
Saat masuk ke ruangan Raka, Raka mengambil dua minuman kaleng dari kulkas ruangannya.
"Zara kamu mau?" Tanya Raka.
"Oh iya boleh deh, aku haus habis jalan dari toko sebelah." Jawab Zara.
"Oh iya makasih yah kamu udah bayarin baju aku." Ucap Zara lagi.
"Iya sama - sama." Balas Raka.
"Ehmm tapi kenapa kamu bayarin? Kan bukan kamu yang membuat baju aku basah." Tanya Zara.
"Ah? Nggak.. saya memang sudah titip pesan ke yang punya butik, kalau ada karyawan saya yang datang ke butiknya di kasih aja, biar saya yang bayar. Tinggal nunjukkin id carnya aja, tapi di saat hari kerja." Jawab Raka yang sudah menyiapkan alasannya dari tadi karena memang cuma Zara yang ia bayarkan.
"Yahh kirain cuma gue doang." Batin Zara.
"Ohh hmm iya makasih yah Raka." Ucap Zara lagi.
"Iyaa sama - sama.. oh, iya ini dokumen yang harus kamu bawa juga besok. Sebelum kamu masukkan ke dalam tas kamu, Kamu cek ulang semua dulu, apa semuanya sudah saya tanda tangani atau belum." Jelas Raka sambil memberikan satu dokumen ke tangan Zara.
"Oh iya siap baik. Apa nggak ada lagi? Kalau nggak ada saya permisi keluar." Tanya Zara.
"Iyaa, udah itu aja. Kamu boleh keluar." Jawab Raka.
Zara berdiri dari sofa dan berjalan keluar keluar dari ruangan Raka. Seperti biasa, saat Zara sudah hampir keluar dari ruangan Raka, Raka memanggil Zara kembali.
"Zara." Kata Raka pelan.
"Iya? Kamu panggil aku lagi yah?" Tanya Zara karena suara Raka yang begitu pelan.
"Iya.. baju kamu bagus, sangat cocok sama kamu." Ucap Raka, lalu berpura - pura bekerja kembali.
"Ah? Oh.. iya makasih." Kata Zara, heran mendengar ucapan Raka.
Zara keluar dari ruangan Raka, bertanya - tanya apa dia tidak salah dengar atas ucapan Raka barusan.
"Itu tadi dia muji gue kan?" Tanya Zara pada dirinya sendiri.
"Kenapa lagi Lo?" Tanya Ardya tapi matanya tetap menatap laptopnya.
"Ah? Nggak.. hahaha." Jawab Zara. Zara tidak mau menceritakannya ke Ardya, cukup untuk dia simpan sendiri untuk dirinya karena Zara masih malu kalau harus menceritakan dan takut kalau Ardya bilang Zara hanya terlalu percaya diri.
"Idih hahaha.. nggak jelas banget. Ehh tadi gimana si Nabila?" Tanya Ardya lagi.
"Dia pergi dengan wajah yang kesal banget, kayaknya marah banget deh sama gue. Tapikan gue nggak salah apa - apa kan yah?" Kata Zara.
"Iya Lo emang nggak salah, kayaknya dia cuma mau caper aja sama Raka. Dia jelas banget kalau suka sama Raka. Terus tadi gue dengar dia minta maaf, dia minta maaf sama Lo?" Tanya Ardya lagi.
"Iya dia minta maaf sama gue, tapi kayak nggak ikhlas gitu hahah.. tapi nggak papa lah, nggak boleh suudzon, toh dia udah minta maaf." Ucap Zara.
"Hahaha aneh banget sih tuh cewek, gue seneng banget dapat kopi gratis." Ucap Ardya sambil meminum kopi yang di rampasnya dari Nabila.
Ardya tidak tau aja kalau kopi tersebut sudah di bayar oleh Prillu.
"Bae - bae Lo sakit perut. Orangnya nggak ikhlas loh. Hahaha." Seru Zara sambil tertawa.
"Wah iya juga yah.. nggak papa dehh, itu urusan belakangan hahahah." Ujar Ardya juga.
"Ohh Ardya, besok gue sama Raka dan Andika mau perjalan dinas ke Bali. Lo jaga kantor dengan baik yah." Ucap Zara.
"Iyaa tenang aja, gue akan menjaganya dengan sepenuh hati. Seperti gue menjaga Prilly dengan sepenuh hati gue hahah." Ujar Ardya.
"Idih hahah iya deh iya.. langgeng yah kalian berdua." Kata Zara.
"Eh tapi ini pertama kalinya kan Lo meeting di luar kota sama Raka?" Tanya Ardya.
"Iya first time. Doain gue yah, biar bisa bawain meeting dengan lancar." Ucap Zara.
"Duhh Lo mah nggak perlu di doain lagi, Lo itu bisa ngehajar habis - habisan kalau soal meeting. Pertanyaan apapun pasti Lo bisa jawabkan." Ujar Ardya.
"Hahaha aamiin deh yahh.. semua ucapan adalah doa." Ucap Zara.
"Hahah iyaa - iyaa aamiin." Ardya kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Ehh gue mau turun dulu yah ke bawa Zar. Kalau telepon di meja gue bunyi, tolong sambungin ke bawah aja yah, keruangan Prilly." Ujar Ardya sambil berdiri dari meja kerjanya.
"Ohh iyaa.. ntar gue sambungin kalau ada yang nelvon yahh." Ucap Zara.
Ardya pun turun ke lantai satu untuk memberikan laporan yang di minta oleh Prilly.
"Permisiii !!!" Teriak Ardya sambil masuk ke dalam ruangan Prilly.
"Ehh sini kamu cepetan !!!" Seru Prilly.
"Kenapa sayang? Kok kamu kayaknya udah nungguin banget aku datang?" Tanya Ardya.
"Husshh jangan terlalu berisik nggak enak sama yang lain tuh." Ucap Prilly.
"Iya - iyaa.. memangnya ada apa? Ohh iya ini laporan data yang ada di lantai lima yang kamu tadi pagi." Kata Ardya sambil memberikan satu map pink.
Prilly mengambil map pink itu dan segera memeriksa kelengkapannya.
"Hengg okeyy.. ntar aku periksa lebih jelas lagi. Sini kamu duduk dulu, aku mau ngomong." Kata Prilly sambil menarikkan satu kursi di sampingnya untuk Ardya duduk.
"Mau ngomong apa?" Tanya Ardya.
"Kamu tadi ngambil kopinya Nabila yah?" Tanya Prilly.
"Ih kamu tau dari mana? Bella yah?" Tanya Ardya kembali.
"Bukan.. dari Nabila langsung, dia ceritain apa yang terjadi di atas tadi. Aku ketemu di toilet." Jawab Prilly.
"Oalahh.. iya haha aku ngerampas kopi dari tangannya. Soalnya dia lama banget tadi di atas dan nggak jelas banget tujuannya mau ketemu Raka. Katanya untuk berterima kasih doang karena Raka udah belain dia pas di kantin. Jelas bangetkan cari perhatiannya." Jelas Ardya.
"Bangettt.. dan kamu tau nggak sayang, masa dia nyuruh aku buat gantiin kopi yang kamu ambil." Kata Prilly sambil tertawa kecil karena orang - orang yang ada di ruangannya sedang sibuk bekerja.
"Hah? Masa? Ya ampun dia nggak ikhlas ngasih ke aku sayang." Ujar Ardya.
"Iyalah dia nggak ikhlas, orang kopinya kamu rampas. Itukan dia beli untuk Raka, bukan untuk kamu." Kata Prilly.
"Tapi nggak minta di ganti juga kali hahaha, parah banget sih. Terus kamu udah ganti?" Tanya Ardya.
"Iyaa aku tadi nyuruh OB buat anterin uangnya ke Prilly. Dan kata dia makasih lagi hahha, parah banget sih." Ujar Prilly.
"Ya ampun.. nggak habis fikir aku yangg, kalau aku ceritain ke Bella dan Zara pasti mereka ketawa banget nih." Ucap Ardya.
"Iyalahh, apalagi si Bella, pasti nggak berhenti ketawa. Apalagi kan katanya dia ada di atas pas Nabila ada di atas kan?" Tanya Prilly.
"Iya ada Bella juga. Ehmm nanti aku ganti uang kamu yah sayang.. bagaimana kalau kita makan malam aja ntar pulang kantor?" Tanya Ardya.
"Asyiikk.. iyaa yukk makan malam di tempat biasa aja. Ehh, ya udah kamu balik gih, sapa tau Raka nyariin kamu." Ucap Prilly.
"Iyaa deh kalau gitu aku naik yah sayang." Ucap Ardya lalu berdiri dari kursinya.
"Iyaa dahhh." Kata Prilly lalu mendorong kembali kursi yang tadi di pakai Ardya.
Trriinggg triiinggg triiinggg.. (suara telepon Zara)
Zara menjawab teleponnya, dan itu dari loby yang ada di bawah, memberitahu kalau mamanya Raka datang ingin bertemu dengan Raka.
Kemudian Zara menyambungkan teleponnya, untuk menanyakan hal tersebut dengan Raka.
"Halo." Jawab Raka.
"Halo.. Raka.. katanya dibawah ada mama kamu, mama mau bertemu sama kamu." Kata Zara.
"Aduh kenapa lagi sih datang ke kantor, udah berapa kali di bilangin jangan datang di kantor, bilang aja saya nggak ada di kantor." Jawab Raka.
"Hmm Raka kenapa sih? Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Mama kamu sudah datang jauh - jauh dan hanya ingin ketemu sama kamu. Toh kamu emang sudah lama kan nggak mampir lagi di rumah kamu." Seru Zara.
"Saya lagi sibuk, nggak mau di ganggu." Ucap Raka.
"Ya sudah kalau begitu, kamu saja yang ngomong langsung sama Mba Alia di Loby. aku nggak mau berbohong sama orang tua." Teriak Zara dan segera menutup teleponnya.
"Loh? Halo? Halo?"
Zara mematikan teleponnya. Zara tidak peduli Raka akan marah atau tidak, karena Zara memang tidak mau berbohong terlebih lagi itu orang tua Raka yang dia kenal baik juga.
Tidak lama kemudian Ibu Fara Mama Raka diantar naik oleh Alia, Customer Service di lantai satu, Zara kaget akan kedatangan Ibu Fara karena tadi Raka mengatakan kalau dia tidak ingin bertemu dengan IBu Fara.
"Loh Tante?" Tanya Zara. Zara cepat berdiri dari kursinya lalu mengambil tangan Ibu Fara lalu menciumnya. Ibu Fara membalas tangan Zara sambil mengelus lembut rambut Zara.
Alia heran melihat kedekatan antara Ibu Fara dan juga Zara.
Begitu juga Raka langsung membukakan pintu ruangannya untuk Ibu Fara, lalu melihat Zara dan tersenyum.
"Masuk Maa." Ucap Raka.
"Haha katanya nggak mau ketemu. Ngapain juga sih dia senyum sama gue." Batin Zara.
"Zara sayang tante masuk dulu yah." Kata Ibu Fara lalu membelai kembali rambut Zara.
"Oh iya silahkan masuk tante." Kata Zara mempersilahkan Ibu Fara masuk ke ruangan Raka.
Sedangkan Alia kaget mendengar Zara memanggil mamanya Raka dengan sebutan tante.
"Hah? Tante? gue nggak salah dengarkan tadi? Apa mereka keluarga? Atau saling kenal aja? Duhh bingung. Kalau keluarga berarti nggak perlu di khawatirkan kan? Masih ada kesempatan kan dekat sama Pak Raka?" Gumam Alia pada dirinya sendiri dalam hatinya. Dan masih berdiri di depan pintu ruangan Raka.
"Ehmm Mba Alia? Apa Mba Alia menunggu di sini?" Tanya Zara sambil melambaikan tangannya di depan wajah Alia.
"Ehh iya Mba.. maaf, kok saya jadi melamun di sini hehe. Saya nggak nungguin kok mba, saya permisi dulu yah." Jawab Alia.
"Ya ampun haha iya mba, makasih yah, Mamanya Pak Raka sudah di antar sampai kesini." Ucap Zara.
"Iya Mba Zara." Alia berjalan perlahan menjauh dari ruangan Raka.
Ardya yang baru saja kembali dari toilet, melihat sekeliling ruangan.
"Eh, Zar tadi gue nggak salah lihat kan? Mamanya Raka datang kan?" Tanya Ardya dengan nafas yang ngos - ngosan karena berlari.
Alia berhenti sejenak,m karena mendengarkan percakapan antara Zara dan juga Ardya. Alia penasaran dengan hubungan zara dam Ibu Fara.
"Iyaa ada tuh di dalam. Lo kenapa deh sampai ngos - ngosan kayak gitu?" Tanya Zara.
"Hahah.. gue lari tau dari toilet, gue kaget karena mamanya Raka datang dan bisa masuk sampai kesini. Kan biasanya Raka nggak mau ketemu sama Mamanya, banyak banget alesannya kalau mamanya datang." Jawab Ardya sambil meminum air mineral yang ada di mejanya.
"Duduk tau kalau minum." Seru Zara.
"Iyaa - iyaa. Ini gue duduk." Ucap Ardya lalu menarik satu kursi yang ada di depan meja kerjanya. "Hmm.. Iya gue juga kaget sih haha.. karena tadi tuh gue sempat menghubungi ke dalam sambungin teleponnya ke Raka, terus dia bilang dia nggak mau ketemu, katanya bilang aja dia lagi keluar atau apa gitu. Gue kan kesal gue sempat bilang kalau kasian mamanya udah datang jauh - jauh tapi nggak mau di temuin. Terus gue bilang gue nggak mau bohong sama orang tua. Yah gue nyuruh Raka aja buat menghubungi mba Alia sendiri buat ngomongin semua alesannya. Tapi tiba - tiba Tante Fara di antar ke atas smaa Mba Alia." Jelas Zara.
"Wahh.. kayaknya Raka mau ketemu sama Mamanya karena elo deh Zar." Ucap Ardya.
"Lah, kok gue?" Tanya Zara.
"Iya kayaknya karena omongan Lo deh Zar, dia sampai mau ketemu sama Mamanya. Karena kalau Lo nggak ngebantah dia tadi, terus nggak ngomong kayak gitu, pasti Raka nggak ketemu lagi sama Mamanya. Duhh makin di dengar aja Lo Zar sama Raka." Ucap Ardya menggoda Zara.
"Ihh apaan sih Lo.. nggak ah. Kalian tuh yah, apa - apa di sangkutkan sama gue. Kali aja kan Rakanya sendiri yang tergerak dari hatinya untuk ngelakuin hal yang nggak pernah kalian lihat." Ucap Zara.
"Yahh kita liat aja sih Zar, gue sih ngedukung aja yahh kalian berdua hahah." Seru Ardya.
Di sisi lain, Alia yang mendengar obrolan Zara dan juga Ardya semakin bertanya - tanya tentang apa sebenarnya hubungan antara Zara dan juga Raka.
"Apaan sih Ardyaaa.. udah ah gue mau ke toilet dulu. Kalau Tante Fara mau pulang Lo cepet - cepet hubungin gue yah, gue bawa handphone kok." Ucap Zara lalu mengambil ponselnya lalu berjalan menuju toilet.
Alia langsung berjalan cepat setelah mendengar kalau Zara ingin ke toilet.
"Loh Mba Alia masih di sini? Kenapa Mba? Ada yang ketinggalan?" Tanya Zara yang mendapati Alia berdiri di belakang tembok mejanya.
Alia sangat kaget sampai ponselnya terjatuh di lantai.
====