Chapter 32

1631 Kata
Zara tidak sengaja melihat layar ponsel Alia, dan membaca pesan yang akan di kirimkan Alia yang bertuliskan Zara sepertinya kenal dekat dengan Mamanya Pak Raka. Saat itu Alia dengan cepat mengambil ponselnya dan mematikan layarnya ponselnya.  "Ehh Iya mba Zara, tadi saya sedikit pusing makanya singgah senderan dulu takutnya pingsan di jalan." Ucap Alia yang berbohong ke Zara. Alia sambil memegang kepalanya.  "Ohh.. ya ampun, mau saya temani turun ke bawah mba?" Tanya Zara yang masih bertanya - tanya kalau isi pesan yang dia baca di ponsel Alia adalah dirinya.  "Ehh nggak papa nih mba? Nanti mba Zara di cariin sama Pak Raka gimana?" Tanya Alia.  Alia tidak ingin menolak tawaran Zara karena Alia ingin bertanya sejauh mana Zara mengenal Raka.  "Nggak kok.. tadi aku udah titip pesan sama Ardya, aku juga bawa handphone kok." Jawab Zara sambil menunjukkan ponselnya.  "Ohh iya deh mba Zara.. maaf yah kalau ngerepotin." Ucap Alia.  "Iya nggak merepotkan sama sekali kok Mba Alia." Kata Zara.  Saat di lift yang hanya ada Zara dan Alia, Alia tidak mau membuang - buang kesempatan untuk menanyakan kedekatan Zara dan juga Raka.  "Ehmm.. Mba Zara.. boleh nanya nggak Mba?" Tanya Alia.  "Boleh.. kenapa harus izin dulu haha." Seru Zara. "Hehe.. ehmm.. Mba Zara kan baru yah di kantor ini, tapi kok bisa deket sih sama Pak Raka? Pak Raka kan susah banget di deketin, apa Mba Zara emang sebelumnya udah kenal sama Pak Raka?" Tanya Alia tanpa ada rasa tidak enak dengan Zara. "Hmm.. kenapa yah kok banyak banget yang nanyain hubungan aku sama Pak Raka? Emang sepenting itu yah? Terus kenapa kalau aku dekat dengan Pak Raka? Kalian semua mau jawaban apa dari aku?" Tanya Zara.  "Aduuhh maaf yah Mba Zara.. maaf banget kalau Mba Zara sampai tersinggung seperti ini." Ucap Alia.  "Nggak kok, aku nggak tersinggung sama sekali, cuman yahh aku heran aja kenapa kalian yang nanyain aku pertanyaan kayak gitu banyak banget. Sampai ganti - gantian kalian nanyain aku. Apa kalian sesuka itu sama Pak Raka? Terus apa Pak Raka suka salah satu dari kalian?" Kata Zara sambil berjalan keluar dari lift dan berhenti untuk mendengarkan jawaban dari Alia.  "Iya Mba Zara.. aku tau kalau banyak banget yang menyukai Pak Raka di kantor ini, dan kami semua yang menyukai Pak Raka nggak pernah sama sekali di notice sama Pak Raka, bahkan berbicara pun hanya soal pekerjaan, makanya pas Mba Zara masuk di kantor ini, kami semua yang menyukai Pak Raka bertanya - tanya Mba Zara ini sebenarnya siapa? Mba Zara sampai bisa pulang bersama Pak Raka. Dan maaf banget nih Mba Zara, kalau emang Mba Zara bukan siapa - siapanya Pak Raka dan Mba Zara nggak menyukai Pak Raka, tolong kami untuk bisa dekat dengan Pak Raka. Atau paling tidak saya aja deh Mba, karena aku sangat sangat menyukai Pak Raka, aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama Pak Raka. Mba zara nggak suka kan sama Pak Raka?" Kata Alia yang sudah menjelaskan panjang lebar dengan Zara.  "Hah? Maksud Mba Alia aku comblangin ke sama Pak Raka begitu?" Tanya Zara lagi sambil keluar dari lift karena sudah sampai di lantai satu.  "Iya Mba Zara.. mungkin lebih tepatnya seperti itu. Hehe. Bisa kan mba Zara?" Ucap Alia.  "Aduhh Mba Alia.. gimana yahh? Aku nggak bisa. Aku di sini mau bekerja bukan untuk hal - hal yang seperti itu.  "Hemm kenapa Mba Zara? Apa Mba Zara suka yah sama Pak Raka?" Tanya Alia lagi.  Tapi belum sempat Zara menjawab, ponsel Zara berdering dan itu dari Ardya. Ardya menyuruh Zara cepat kembali karena Raka sudah mencari Zara.  "Ehh aduhh maaf yahh Mba Alia, obrolannya di lanjut nanti. Soalnya aku udah di cariin sama Pak Raka. Mba Alia jangan lupa minum obat kalau masih pusing. Saya Permisi dulu yah Mba Alia." Ucap Zara sambil menekan tombol lift dan segera masuk ke dalam Lift.  "Ehh tapi mba Zara belum jawab pertanyaan saya. Mba Zara nggak suka kan sama Pak Raka?" Tanya Alia sembari pintu lift tertutup dan Zara tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkna Alia.  "Apaan sih pertanyaannya, gue kan suka sama Raka. Suka bangeeettt, dia kira dia doang yang suka sama Raka huuffftt. Mana mungkin gue mau comblangin kalian, kalau gue sendiri juga suka sama Raka. Haduhh ada - ada aja." Gumam Zara pada dirinya sendiri.  Sementara itu di ruangan Raka, Ibu Fara berkeliling melihat semua isi ruangan Raka. Karena Ibu Fara baru pertama kalinya masuk ke ruangan Raka.  "Mau sampai kapan mama melihat - lihat ruangan Raka? Kalau nggak ada yang mau mama bicarakan, lebih baik mama pulang sekarang. Raka banyak kerjaan Maa, Raka ada meeting besok di Bali. Jadi mama jangan nambah - nambah kerjaan Raka.  "Iya sayang iyaa.. Mama mengerti.. mama cuma nggak bisa berpaling aja, mama baru kali ini kan ke kantor kamu, dan sampai bisa ketemu kamu di ruangan kamu juga. Mama nggak nyangka kamu bisa membangun kantor sebesar ini dan kamu bisa mempunyai ruangan yang seperti ini." Ucap IBu Fara lalu duduk di sofa di depan meja kerja Raka.  "Maa.. udah yah basa - basinya. Ngapain sih mama datang ke sini? Raka kan udah bilang kalau jangan pernah mencari Raka ke kantor, Raka nggak suka." Ucap Raka sambil membukakan minum untuk Ibu Fara.  "Terus mama harus mencari kamu di mana Nak? Kalau mama kangen sama kamu gimana? Apa mama nggak boleh ketemu kamu kalau mama kangen sama kamu? Kamu sendiri juga tidak memberi tahu alamat apartemen kamu, cuma ini satu - satunya tempat yang mama tau untuk mencari kamu Nak. Mama sangat merindukan kamu Raka, dan Papa, Papa terus nanyain kamu. Papa mau kamu untuk makan malam bersama, kita nggak pernah makan bersama lagi kan Raka." Jelas Ibu Fara.  "Ngapain sih? Ngapain mau makan malam sama aku? Ngapain baru sekarang ngajakin aku makan malam? Dulu kan kita nggak pernah makan malam bersama ? Mama sama Papa sibuk sama kerjaan masing - masing, sampai nggak pernah makan malam sama aku, Rivka dan juga eyang. Jadi ngapain sekarang ngajakin aku malam?" Tanya Raka dengan sikap cueknya.  "Hmm.. iya maafin mama sama Papa.. memang dulu kami sangat sibuk sampai nggak punya waktu sama kalian semua. Makanya sekarang mumpung kita masih bisa berkumpul, ayo kita makan bersama nak. Mama ingin memperbaiki semuanya sama kamu Nak.0 Ujar Ibu fara sambil meminum teh yang di berikan Raka.  "Raka sibuk Maa." Jawab Rak.  "Mama mohon sama kamu Raka, atau paling tidak kamu mampir ke rumah lagi yah. Papa juga cariin kamu Nak." Ucap Ibu Fara.  "Iya nanti Raka lihat, kalau Raka nggak sibuk." Ucap Raka.  "Mama tunggu yah Raka. Jangan kamu cuma ngomong doang di sini." Ucap Ibu Fara.  "Hmm."  "Mama boleh peluk kamu?"  "Nggak. Kalau mama masih mau lama di sini, lebih baik mama jangan minta yang macam - macam. Raka nggak suka, Raka udah izinin Mama ketemu sama Raka kan, jadi jangan minta yang lebih lagi." Ucap Raka yang membuat suasana menjadi semakin dingin.  Tok tok tok (suara ketukan pintu)  "Permisi." Seru Zara.  "Ehh Zara.. sini nak." Ucap Ibu Fara.  "Iya tante.. ehmm maaf kamu manggil aku? Kenapa? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Zara ke Raka.  Zara berdiri di samping sofa tepat di samping Ibu Fara.  "Anter mama aku turun." Ucap Raka.  "Loh Raka? Mama kan masih mau di sini? Mama belum ngobrol banyak sama kamu." Ucap Ibu Fara.  "Mama nggak usah minta lebih yah, aku udah ijinin mama masuk sampai ke sini, sekarang lebih baik mama pulang." Ucap Raka.  "Raka kok kamu ngomongnya gitu sih? Ini mama kamu loh." Seru Zara.  "Bisa lakukan perintah saya nggak? Kamu kerjakan di sini?" Kata Raka.  "Kaa—"  Ibu Fara langsung memegang tangan Zara agar tidak terpancing emosi.  "Mama boleh ngobrol - ngobrol dulu nggak sama Zara di sini?" Tanya Ibu Fara.  "Hmmm." Raka hanya menghela nafas, Raka tidak mengizinkan ataupun tidak mengizinkan Ibu Fara untuk ngbrol dengan Zara.  "Udah tante.. nggak usah di hiraukan.. mungkin lagi kumat." Bisik Zara ke Ibu Fara.  Zara pun duduk di samping Ibu Fara, Zara dan Ibu Fara bercerita banyak hal tanpa menghiraukan adanya Raka di ruangan itu. Raka yang melihat kedekatan antara mamanya dan juga Zara, sesekali tersenyum. Raka sangat senang karena malihat kedekatan mereka.  "Sepertinya mereka memang sudah terbiasa yah bercerita hal - hal yang nggak penting. Lucu juga kedengarannya." Batin Raka yang berpura - pura sibuk bekerja.  Setelah lebih dari setengah jam Raka membiarkan Ibu Fara dan Zara bercerita di ruangannya, akhirnya membuka suara lagi.  "Nggak mau pulang nih? Zara juga kan mau bekerja. Udah berapa banyak waktu Zara yang mama buang." Seru Raka. "Hmm iyaa - iyaa.. Zara anter tante yuk turun sekarang." Kata Ibu Fara menatap Zara dan tersenyum.  "Ishh orang lagi asyik ngobrol juga." Seru Zara. "Nggak papa Zara, tante udah senang sekali bisa berkunjung ke sini. Apalagi juga tante ketemu kamu, nanti kita lanjutin aja di rumah ngobrolnya." Ucap Ibu Fara yang lagi - lagi berusaha tersenyum.  Zara mengerti akan senyuman yang di berikan Ibu Fara. Zara tidak melanjutkan apa yang ingin di katakannya lagi. "Iya tante, ayoo aku anter." Kata Zara tanpa melihat sedikit pun ke Raka.  "Kalau gitu mama pulang yah Raka, jaga kesehatan kamu." Ucap Ibu Fara mengambil tasnya di sofa.  "Iyaa hati - hati." Balas Raka.  "Nggak mau ikut nih anterin mama pulang?" Tanya Zara menatap Raka.  "Mama?" Tanya Raka.  "Iya mama kamu kan." Jawab Zara.  "Nggak.. udahh sana turun." Seru Raka lagi.  "Ayo tante kita pergi dari sini, suasananya sudah mulai panas." Ucap Zara lalu membanting pintu ruangan Raka. Zara dan ibu Fara berjalan keluar dari ruangan Raka. "Hahah kamu nggak perlu seperti itu Zara. Tante beneran nggak papa kok." Ujar Ibu Fara.  "Habis aku kesel tante sama dia." Seru Zara.  "Hahahah.. iya tante paham apa yang kamu rasakan. Tapi lebih baik kamu simpen aja tenaga kamu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, dari pada kesal sama Raka kan." Ucap Ibu Fara.  "Hmm iya juga sih. Heheh iya deh tante." Ucap Zara.  ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN