Raka tidak bisa mengangkat tangannya dari sandaran Zara. Akhirnya karena Raka juga sudah mulai mengantuk, Raka pun tertidur sambil memeluk Zara. Di dalam tidur Raka, Raka kembali bermimpi kejadian saat baru - barunya Riva meninggal dunia, semua yang di mimpikannya terasa sangat nyata.
Semua yang ada dalam mimpi Raka terasa sangat nyata, dan dimana hari pertamanya Raka bertemu dengan Zara, mimpi itu terus membuatnya merasa sangat sesak nafas.Dan saat Raka terbangun di jam tiga pagi, Badannya sudah keringat dingin, basah sampai di wajahnya. Ia kembali mengalami sesak nafas, tapi iya tidak tega untuk membangunkan Zara yang sedang tertidur di dalam pelukannya. Raka hanya bisa bersikap lebih tenang, Raka menarik nafasnya dalam - dalam lalu membuangnya kembali dengan pelan agar Zara tidak terbangu dari tidurnya. Mimpi itu terus berulang di dalam tidur Raka kembali selama beberapa minggu sejak saat Raka melihat Zara kembali di kehidupannya. Tapi Raka juga tidak bisa menyalahkan Zara karena dia terus di hantui oleh mimpi itu, kenangan yang begitu membuat Raka selalu bersedih dan sangat tersiksa ketika mimpi itu muncul kembali. Raka berharap dengan keputusannya menerima Zara di hidupnya, tidurnya bisa menjadi lebih tenang dan melupakan semua kesedihan dan rasa amarah yang di rasakannya terhadap kedua orang tuanya. Di dalam lubuk hati kecil Raka juga sebenarnya tidak ingin memendam begitu banyak kemarahan dan rasa benci terhadap kedua orang tuanya. Tapi Raka belum bisa mengontrol perasaan yang ia rasakan selama beberapa tahun terakhir ini.
- ESOKNYA -
Zara yang masih dalam pelukan Raka terbangun duluan karena sinar matahari yang menyinari wajah Raka. Raka berusaha bersikap tidak terjadi apa - apa, Raka tidak ingin menceritakan ke Zara kalau ia tadi malam bermimpi kenangan masa lalunya.
“Oh Tuhan.. sungguh pemandangan yang luar biasa.” Gumam Zara.
Raka yang mendengar ucapan Zara langsung terbangun dari tidurnya, dan karena kaget Raka segera melepaskan Zara dari pelukannya.
“Ihh kok aku langsung di lepasin?” Seru Zara sambil memasang wajah cemberutnya.”
“Kita semalaman kayak gini?” Tanya Raka dengan wajahnya yang sangat tidak percaya.
“Yahh kayaknya.. karena aku bangun, masih dalam pelukan kamu.” Jawab Zara dengan santainya lalu kembali memeluk Raka.
“Ini benerankan kita udah pacaran?” Tanya Raka lagi.
“Iyaa beneran.. kamu nggak mimpi. Nih nih nihh. Sakit kan?” Tanya Zara sambil mencubit - cubit pipi Raka.
“Hahah.. iya sakit - sakit.” Seru Raka sambil memegangi pipinya.
“Ehh itu terus gimana keputusan kamu? Kita kasih tau ke orang - orang kalau mita berdua pacaran atau gimana?” sambung Raka.
“Ohh iyaa.. kayaknya jangan dulu deh Raka. Jangan ngasih tau orang kantor dulu, nanti aja. Aku nggak mau orang - orang di kantor jadi ribut membuat gosip, biarkan berjalan dulu dengan apa adanya, toh kita baru hari ini juga jadiannya.” Ujar Zara.
“Hmm.. ya udah kalau itu mau kamu. Tapi kalau Andika gimana?” Tanya Raka.
“Kalau Andika di kasih tau dong. Nanti dia marah - marah sama kamu kalau nggak di kasih tau. Dia kan sahabat yang posesif banget haha.” Jawab Zara sambil tertawa.
“Iya juga sih haha.. ya udah ntar kita berdua kasih tau bareng - bareng yah. Gimana kira - kira reaksi dia kalau tau kita berdua pacaran yah, pasti di kayak nggak percaya gitu.” Kata Raka.
“Kalau menurut aku sih, dia akan santai aja, dia kan udah tau kalau aku suka sama kamu. Pasti dia dengan gayanya yang sok cool bakalan ngomong, ah itu sih udah dapat gue bayangkan kalau akan terjadi, akhirnya, yaudah selamat yah. Pasti bakal kayak gitu doang hahah.” Kata Zara sambil bangun dari tidurnya.
“Hahah bisa juga sih itu.. tapi kamu kayaknya udah tau banget yah andika orangnya kayak gimana.” Kata Raka yang juga bangun dari tidurnya dan duduk di samping Zara.
“Iyalah.. kan tiap hari udah sama - sama, sekantor dan dekat juga sama aku. Emangnya kenapa? Kamu cemburu?” Tanya Zara.
“Hah? Nggak tuh.. biasa aja.” Jawab Raka . Dengan ekspresi wajahnya yang datar.
“Nggak cemburu tapi mukanya kayak gitu, gimana sih.. ciee cemburu ciee cieee.” Zara tertawa terbahak - bahak lalu menggelitik Raka.
Zara dan Raka tertawa terbahak - bahak dan akhirnya kembali terjatuh di tempat tidur dengan posisi Zara berada di bawah badan Raka. Raka menatap Zara yang berada di bawahnya, mereka berdua saling menatap tanpa berkata apapun. Dan akhirnya Raka melayangkan ciuman pertamanya tepat di bibir Zara yang berwarna merah muda tanpa sentuhan lipstick sedikit pun. Saat sadar krena telah mencium Zara, Raka melepaskan bibirnya dari bibir Zara lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Zara. Tapi karena Zara juga tidak ingin kehilangan kesempatan itu, Zara menarik Raka lalu melayangkan ciuman di bibir Raka. Zara dan Rak kembali berciuman sampai beberapa menit.
Tok tok tok.. (suara ketukan pintu) membuat Zara dan Raka kaget dan langsung melepaskan bibir mereka satu sama lain.
“Rakaaa Rakaaaa !!!” Terak Andika dari balik pintu.
“Andika? Iyaa iyaa tunggu bentaran.” Teriak Raka lalu berdiri dan mengelus rambut Zara.
“Aku gimana?” Tanya Zara.
“Gimana apanya?” Tanya Raka kembali.
“Nanti Andika nanya kenapa aku ada di sini, aku jawab apa?” Tanya Zara dengan wajahnya yang panik.
“Yah nggak apa - apa kan? Kamu bilang aja kamu ketiduran disini. Jujur juga nggak apa - apa, kita kan nggak ngelakuin apa - apa.” Jawab Raka dengan santainya.
“Ihh nggak apa - apa?” Tanya Zara lagi.
“Lah emangnya kenapa? Udah ah itu Andika nanti ngomong apa kalau makin lama dibukain pintu.” Jawab Raka lalu berjalan ke pintu untuk membukakan pintu untuk Andika.
“Lo udah nggak mabok?” Tanya Andika lalu masuk ke dalam kamar Raka.
“Udah nggak kok, tenang aja. Cuman kepala gue masih agak sedikit pusing.” Jawab Raka.
“Lohh Zara? Kok Lo ada di sini?” Tanya Andika.
“Lah kan Lo yang nyuruh gue di sini tadi malam? Lo yang ngomong kalau sisanya Lo yang urus yah Zara. Dasaarrr !!!” Kata Zara. Zara bersikap seperti biasanya agar Andika tidak berfikiran negatif tentangnya.
“Hah? Jadi dari tadi malam Lo tidur di sini? Kalian tidur bareng?” Tanya andika.
“Berisik banget sih Lo pagi - pagi. Iya Zara tidur di sini, dan Zara tidur bareng gue, dan yang perlu Lo garis bawahi kita nggak ngelakuin apa - apa , kecuali kita bertukar perasaan yang seseungguhnya dan sekarang gue sama Zara udah pacaran.
“WHAAATTTT ???!!! Teriak Andika.
“Iyaa gue sama Raka udah pacarn, pacaran dari semalem.” Celetuk Zara.
“Wahh wahhh waaahh..” Andika bertepuk tangan dan tersenyum. Betapa bahagianya Andika karena sahabatnya Raka sudah mampu berani mengambil keputusan untuk tidak sendiri lagi.
“Selamat - selamat.. udah gue duga kalau kalian akan pacaran. Gue turut bahagia bro.” Ucap Andika.
“Bener - bener sok cool nih orang.” Celetuk Zara.
“Hahah kenapa sih Lo Zara.. suka banget ngatain gue kayak gitu, gue kan emang udah cool dari lahir hahaha. Eh tapi tunggu.. kalian nggak mgelakuin hal yang macam - macam kan?” Tanya Andika.
“Yah nggak lah.. lo kira kita berdua mau ngapain? Kita nggak akan berbuat sejauh itu.” seru Raka.
“Siapa tau aja.. kan Lo tadi malam mabuk, orang yang mabukkan suka kelepasan.” Kata Andika.
“Nggak Andika.. kalaupun Raka mabuk, kan gue tetap sadar. Gila aja kalau gue diem aja, nggak mungkin kan.” Kata Zara.
“Iya - iya.. gue percaya kok sama kalian berdua. Intinya selamat kalau kalian udah jadian. Akhirnya hal yang di tunggu - tunggu Zara datang juga. Iya nggak Zara? Lo pasti senang banget kan? Hahah.” Seru Andika.
“Huusshh.. jangan berisik nanti Raka besar kepala kalau Lo bocorin semuanya.” Ucap Zara sambil tertawa dan melirik Raka.
Andika sangat tidak menyangka kalau Zara dan Raka akan berpacaran secepat itu. Karena Andika menduga butuh waktu yang lama untuk Raka bisa menerima orang lain di hidupnya kembali setelah kehilangan Rivka adiknya dan Eyang Lili, orang - orang yang sangat Raka sayangi. Zara mampu membuat Raka mengambil keputusan yang sangat berpengaruh di hidup Raka. Andika berharap kalau Zara benar - benar mampu menjaga sahabatnya.
====