“Baiklah kalau gitu gue balik ke kamar gue dulu yah, gue mau mandi. Aku mandi dulu yah.” Kata Zara sambil melihat ke Andika lalu memegang pipi Raka dan berjalan keluar dari kamar Raka.
“Iyaa.”
“Ehh tungguu.. aku udah pesan tiket buat kita pulang ntar sore yah. Kalian masih mau jalan - jalan atau gimana?” Tanya Zara lagi yang masih berdiri di depan pintu.
“Ohh iyaa.. kalau gue sih mau mau jalan - jalan sih. Masih ada yang pengen gue beli, ada titipan nyokap juga.” Jawab Andika.
“Kamu masih mau jalan - jalan?” Tanya Raka ke Zara.
“Hmm.. kayaknya aku mau istirahat aja deh di kamar, atau kalau nggak mager aku mau renang tuh di depan. Kalau kamu mau jalan - jalan, jalan - jalan aja sama Andika, temenin Andika. Siapa tau Andika kesepian.” Kata Zara sambil tertawa kecil.
“Yee mentang - mentang udah jadian.” Seru Andika.
“Yah udah kamu istirahat aja yah. Aku pergi sama Andika ntar, kalau sudah mandi juga.” Kata Raka.
“Iyaa.. have fun deh kalian berdua. Aku ke kamar yahh.” Kata Zara lalu keluar dari kamar Raka.
Dan setelah Zara keluar dari kamar Raka, Andika langsung mencecar Raka dengan berbagai pertanyaan yang muncul di kepalanya.
“Raka.. Rakaa.. wow gue nggak nyangka Kalau Lo bisa pacaran sama Zara. Lo bisa keluar dari zona nyaman Lo yang nggak mau memasukkan kembali orang lain di hidup Lo.” Seru Andika setelah menutup rapat pintu kamar Raka.
“Yahh begitu lah. Zara berhasil membuat gue perlahan menjadi Raka yang dulu, yang tidak egois.” Kata Raka.
“Hmm.. tapi apa Lo yakin Raka? Lo bisakan untuk mengatasi trauma Lo?” Tanya Andika lalu duduk di kursi di depan meja.
“Sebenarnya bukan trauma sih, tapi lebih ke rasa takut gue aja. Selama ini Gue takut untuk terlalu dekat dengan orang lain lagi, gue takut kalau orang itu akan ninggalin gue. Rasa sedih yang gue rasakan saat itu kalau gue ingat lagi, rasanya d**a gue sangat sesak, sakit, dan selalu merasa sendirian sejak saat itu. Makanya gue selalu sendiri dan menutup diri dari orang - orang di sekitar gue. Lo dan Zara punya sifat yang hampir sama, meskipun gue selalu bilang gue nggak butuh kalian, tapi kalian selalu memaksa memaksa dan memaksa untuk tetap tinggal di sisi gue. Itu yang membuat gue bisa luluh dengan kalian.” Jelas Raka sambil mengambil baju dari dalam kopernya.
“Hmm.. bagus deh kalau Lo bisa melawan rasa takut Lo. Semoga Lo bisa baik - baik aja ke depannya. Gue senang banget karena Lo akhirnya bisa pacaran juga sama Zara. Zara pasti senang banget karena Lo udah membuka hati Lo untuk dia.” Kata Andika.
“Emangnya Zara sesuka itu yah sama gue?” Tanya Raka.
“Iyalah.. Lo nggak liat tuh gimana dia pedulinya sama Lo? Dia tuh suka banget - banget sama Lo. Lo nya aja yang nggak peka - peka.” Seru Andika.
“Gue bukannya nggak peka.. yah karena alasan gue tadi itu. Gue takut.” Jawab Raka.
“Iya - iya.. semoga Lo langgeng deh yah sama Zara, jangan ngecewain dia. Dia suka banget sama Lo.” Kata Andika.
“Iyaa semoga yah. Gue akan berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk Zara. Karena Gue juga suka sama Zara, gue nggak akan ngecewain dia.” Kata Raka.
“Iya deh iyaaa..” seru Andika.
“Haha.. Ehh by the way thanks yah Lo udah bawa gue dengan selamat sampai ke hotel haha.” Kata Raka lalu tertawa.
“Eh iya Sialan Lo !!! Lo sampai muntahin gue tau nggak.. sumpah jijik banget gue sama Lo. Untung aja Lo sahabat gue. Kalau nggak, gue udah buah Lo di jalanan tau nggak.” Balas Andika.
“Hahah iyaa sorry deh yahh.. gue nggak tau bisa semabok itu. Padahal belum satu botol yang gue minum. Memalukan banget, parah hahah.” Kata Raka.
“Iyaalahh hahah.. lain kali Lo nggak usah sok - sokan minum kalau emang nggak bisa. Yang ada nanti Lo permaluin diri Lo lagi. Hhahaha.” Kata Andika tertawa terbahak - bahak.
“Dan Lo tau nggak hal yang paling memalukan yang Lo lakuin tadi malam?” Tanya Andika.
“Gue tau kok, gue ingat semuanya. Haah sialan !!! Kenapa gue sampai segitunya yah hahah.” Seru Raka.
“Lo sampai nyatain perasaan Lo ke Zara yang gue sendiri kaget Lo sampai ngomong kayak gitu. Cindy sama Bianca sampai curiga tau sama kalian.” Kata Andika.
“Hah? Beneran? Kok bisa? Kan gue nggak ngomong hal yang mencurigakan?” Tanya Raka yang terus berdiri di depan pintu kamar mandi karena sudah dari tadi ingin mandi tapi tidak jadi - jadi terus karena Andika mengajaknya bercerita.
“Lo nggak mau mandi dulu? Hahah udah dari tadikan Lo mau mandi?” Tanya Andika sembari membuat kopi yang ada di meja Raka.
“Haha selesaikan dulu deh, gue penasaran kenapa Cindy sama Bianca penasaran.” Ucap Raka kemudian merampas kopi yang telah di buat Andika, lalu Raka mencicipinya duluan.
“Wooii !!! Ah dasar Lo kebiasaan banget sih ngerebut kopi gue.” Seru Andika menarik kembali gelas kopi dari tangan Raka.
“Haus gue. Hahah.. jadi apa yang membuat Cindy dan Bianca curiga?” Tanya Raka lagi.
“Ehh bukan Bianca sih.. Cindy doang. Dia curiga karena katanya Lo kayak baru nyatain perasaan Lo sama Zara. Sedangkan Lo kan sama Zara udah pacaran, kenapa baru di nyatakan tadi malam.” Jelas Andika.
“Lahh iya juga yah.. Cindy kok bisa pinter banget gitu hahahah.” Seru Raka.
“Dihh ketawa lagi !!! Zara hampir ketahuan tau. Untung aja tuh anak pinter banget ngelesnya, dan di tambah gue juga nambah - nambahin apa yang Zara bilang, makanya Cindy sampai percaya lagi.” Kata Andika.
“Hah? Emang iya? Zara bilang apa sampai Cindy percaya?” Tanya Raka.
“Iyaa dia bilang Lo udah biasa ngomong kayak gitu, dan dia ngelempar pertanyaan ke gue kalau kapan Lo dan Zara pacaran, yah gue pas di tanya sama Zara juga kaget, mana nggak nyiapin script lagi. Cindy tuh sampai bilang kalau Lo sama Zara cuma pura - pura pacaran karena Zara nggak mau malu sama Bianca dan Putra kalau sampai sekarang Zara belum punya pacar.” Kata Andika lagi.
“Wahh kasian banget Zara kalau kayak gitu. Hah.. kenapa sih gue ceroboh banget.” Kata Raka.
“Nggak kok.. Zara juga pinter bisa ngeles. Dan juga Bianca nggak termakan sama omongannya Cindy. Bianca bahkan membela Zara, saat Cindy mengatakan hal itu.” Ujar Andika lalu menyalakan televisi dan menyandarkan badannya di sofa.
“Alhamdulillah.. hufftt kasian Zara. Eeh tapi kan gue sama dia udah beneran pacaran? Haha Zara jadi pacar guee?? Ahh senangnya.” Kata Raka lalu meminum kembali kopi Andika.
“Nggak usah lebay Lo !!!” Seru Andika lalu melemparkan bantalan sofa tepat di badan Raka.
“Cepetan mandi deh Lo, nanti makin panas nihh.. gue juga udah laper banget tau.” Sambung Andika.
“Iya - iyaa.. cerewet banget sih Lo ckckck.” Raka lalu berjalan menuju kamar mandi.
“Woiii Gue balik ke kamar gue yah !!! Lo ke kamar gue aja kalau Lo udah selesai , jangan Lama Lo.” Teriak Andika dari depan pintu kamar mandi.
“Okeyyy !! Tutup pintu gue yahh !!!” Teriak Raka juga.
“Okeyyy !!!” Andika keluar dari kamar Raka dan kembali ke kamarnya.
Sementara itu di kamar Zara, Zara sudah selesai mandi dan sedang memakai skincare rutinnya. Zara mendapat panggilan telepon grup dari teman - temannya.
“Zara !!!! Lo kemana aja sihh? Kita hubungin Lo dari kemarin tau nggak. Ishh.” Teriak Bella dari balik layar.
“Iyaa.. Lo dari mana Zaarrraaa ??? Kita tuh khawatir banget. Andika sama Raka juga susah banget di hubungin, kalian semua dari mana deh?” Tanya Prilly.
“Ya Allah satu - satu dong.. jadi gini.. kemarin tuh kita semua pergi jalan - jalan, juga cari pesanan kalian, dan kita di ajakin Cindy ke Villanya, terus—“
“Hah? CINDY ??? Kok bareng Cindy lagi?” Belum selesai Zara berbicara, Prilly bertanya dengan memasang wajahnya yang sangat serius.
Prilly kaget karena sebelumnya Zara, Raka dan Andika bertengkar dengan Cindy dan juga Putra.
====