Chapter 77

3114 Kata
“Iya kok sama Cindy lagi? Bukannya kemarin kalian bertengkar yah? Sampai pindah hotel?” Tanya Cindy juga.  “Haduh ceritanya panjang banget, gue juga sampai bingung harus mulai dari mana.” Kata Zara sembari memakai skincarenya.  “Ceritain aja, kita punya banyak waktu kok. Ini kan weekend.” Kata Prilly.  “Iya ceritain aja Zara.. nggak usah pake lama deh yah.” Kata Bella.  “Hmm.. yaudah dengerin.. jadi pas kemarin yang gue ceritain masalah kami itu sama kalian, Cindy nelfon Raka, dan dia minta maaf dia terus membujuk - bujuk Raka.” Kata Zara.  “Terus Raka maafin gitu?” Tanya Bella.  “Iyaa Raka maafin, karena Raka juga nggak enak sama Pak Handoko dan dari cara Cindy minta maaf tulus banget, makanya kita semua udah maafin dia toh dia juga nggak salah - salah banget. Cuma si Putra aja tuh yang bikin kesalahan , sampai mukul sama Raka.” Jelas Zara.  “Emangnya Cindy ngomong apa pas minta maaf? Tapi dia benar - benar minta maaf kan? Nggak ada maksud lain lagi?” Tanya Prilly yang sedang menikmati santapan mie instant foviritnya. “Nggak tau awalnya dia ngomong apa sama Raka. Tapi pas dia ngomong ke gue dan Andika terdengar sangat memohon, dia menawarkan untuk mengantar gue, Raka dan Andika jalan - jalan, dan dia juga nawarin untuk membayar semua barang atau apa saja yang kita beli.” Jawab Zara.  “Hah? Seriusan kayak gitu? Wahh itu sih nggak boleh di sia - siain emang kalau kayak gitu.” Seru Bella yang terlihat sedang bermalas - malasan di atas tempat tidurnya.  “Hahah.. ya gue sama Andika nggak mungkin lah terima tawaran kayak gitu, masa di sogok sih haha. Parah banget kalau kayak gitu.” Ucap Zara.  “Terus Lo lepasin gitu aja tawaran Cindy yang itu?” Tanya Bella.  “Iya lahh.. emang Zara sama Andika kayak Lo ?? Matre? Hahah.” Seru Prilly.  “Sialan Lo hahah.. bukannya gue matre tapikan kapan lagi kita di bayarin sama anak orang yang punya perusahaan terbesar di Bali, hitung - hitung ngerjain dia kan. Hahah” Kata Bella.  “Bener juga sih. Tapi nggak boleh ah, nggak boleh nolak harusnya Zara hahah. Kan kita juga bisa dapat traktriran lewat Lo dan Andika dari Cindy. Jadi kita nggak perlu gantiin duit lo kan Zar hahah.” Seru Prilly juga yang mendukung saran Bella.  “Hahah.. kalau itu sih nggak usah di gantiin, nggak apa - apa.. oleh - oleh buat kalian.” Kata Zara.  “Iiihhh janganlahh pesanan gue banyak banget tau, masa iya nggak di gantiin.” Teriak Bella lalu bangun dari tidurnya.  “Gila aja Lo Zar.. pesanan gue juga sama Ardya banyak banget.” Kata Prilly lalu mengambil air mineralnya.  “Nggak apa - apa lahh.. tenang aja.. bonus dari bos Raka udah keluar kok, jadi gue mau berbagi rejeki sama kalian.” Kata Zara lagi.  “Lahh.. jangan.. ihh.. kalau Lo nggak mau di ganti full, ya udah setengah aja. Kalau Lo nggak mau gue nggak mau nitip - nitip lagi loh apa - apa sama Lo kalau Lo keluar kota. Yahh di ganti yah Zar.” Kata Prilly.  “Wihh bener - bener ibu manajer HRD idenya cemerlang banget. Tuuhb denger Zara.. kayak gitu aja yahh? Gue juga nggak enak tau sama Lo.” Kata Bella.  “Haha.. iya deh terserah kalian maunya gimana. Besok gue bawain barang titipan kalian ke kantor.” Kata Zara sambil membaringkan badannya di tempat tidur. “Ehh ehh kok Lo tidur sih? Lo nggak jalan - jalan lagi?” Tanya Bella lagi.  “Iya kok Lo tidur si Zara.” Kata Prilly.  “Gue capek banget.. lagi nggak mau jalan - jalan lagi. Mau istirahat gue.” Jawab Zara.  “Emangnya kalian balik ke bandung kapan?” Tanya Bella.  “Ntar sore kok, udah pesan tiket juga tadi. Gue juga udah packing beberapa barang gue.” kata Zara.  “Cepet banget.. kirain seminggu biar makin lama nggak ngeliat wajahnya Bos yang super - super duper jutek itu hahah.” Kata Bella sambil tertawa.  “Ehh iyaa kita sampai lupa sama pertanyaan awal kita. Terus Lo ngapain aja kemarin? Kok sekarang Lo capek banget?” Tanya Prilly.  “Ohh iyaa.. astagaa.. iyaa jadi kan kemarin tuh gue sama Raka dan Andika jalan - jalan nyari pesanan kalian terus belanja - belanja yang lain juga, nah habis itu kita juga di ajakin makan lagi sama Putra.” “Loh loh loh kok Putra juga ada sih?” Tanya Bella dan Prilly bersamaan.  “Hhahah ya Ampun sampai bersamaan gitu. Iyaa gue lupa bilang tadi. Jadi Andika minta Putra juga untuk datang minta maaf sama kami semua, nah habis itu Putra ngajakin kita makan di salah satu restoran favoritenya, katanya sebagai permintaan maaf.” Jelas Zara.  “Oohh gitu.. syukurlah kalau kalian semua udah baikan. Yang penting Cindy dan Putra mengakui kesalahannya.” Kata Zara.  “Iya makanya kita maafin mereka semua, lagian hitung - hitung nambah teman gitu kan. Ohh iyaa.. kemarin juga Putra datang sama pacarnya. Dan pacarnya itu adalah dulu yang jadi selingkuhan Putra saat pacaran sama gue.” Kata Zara.  “Wahhh.. dia juga tinggal di sana? Terus - terus gimana Zara? Apa dia ada rasa bersalah saat ketemu sama Lo?” Tanya Bella.  “Yang pasti nggak adalah. Iya kan Zara? Ucap Prilly sambil tertawa terbahak - bahak.  “Kok Lo tau sih Prill? Hahah.. tapi ngapain juga sih dia mau ngerasa bersalah, itukan udah terjadi lama banget, jadi dia pasti biasa aja. Gue juga nggak apa - apa kok, meskipun dalam lubuk hati gue berkata aduh kok ketemu dia juga sih hahah.” Kata Zara.  “Hahah iya juga Zar.. pasti ada rasa sebel juga kan? Terus - terus gimana pas kalian pertama ketemu lagi?” Tanya Prilly.  “Yahh dia kayak memamerkan Putra gitu, dan dia malah nanya ke gue, apa gue udah punya pacar atau belum, haduuh.” Kata Zara lalu menepuk jidatnya.  “Dan kalian tau apa yang terjadi?” Tanya Zara.  Bella dan Prilly mendengarkan dengan sangat serius dari balik layar ponsel.  “Hahah apa Zara? Apa yang terjadi?” Tanya Bella.  “Raka.. Raka langsung ngomong ke Bianca, Bianca yah guys namanya haha. Raka ngaku kalau dia itu pacar gue. Ya Ampun gue sendiri juga kaget tau nggak pas Raka ngomong kayak gitu. Mana dia sambil megang tangan gue hahah.” Jelas Zara sambil tertawa.  “Hah? Beneran? Hahah kok bisa?” Tanya Bella dengan sangat semangat.  “Wahh gilaa !!! Raka sampai kayak gitu? Adududuh Raka ternyata perhatian dan gerak cepat banget hahah.” Seru Prilly.  “Iyaa gue sama Andika sampai saling ngeliat loh waktu Raka ngomong kayak gitu.” Kata Zara lalu bangun dari tidurnya dan keluar di balkon kamarnya untuk bersantai.  “Hahah gila !!! Kalau gue ada di sana gue juga bakal kaget banget sih, dan mungkin Raka bisa ketahuan kalau dia bohong. Karena gue pasti bakal ketawa kalau ada di sana.” Seru Bella.  “Lo sih emang nggak bisa di ajak kompromi haha.” seru Prilly.  “Hahah gue nggak tau lagi deh.. gue juga nggak nyangka Raka bisa kayak gitu. Apalagi Andika, kalau kalian liat mukannya Andika, muka herannya dia sambil iya - iya aduhh pasti kalian bakal ketawa. Apalagi Lo Bell. Haha.” Kata Zara lalu kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil minuman dingin lalu keluar kembali ke balkon dan duduk di kursi ayunan yang sangat nyaman. Dan terlebih lagi ada kolam renang dan tumbuhan hijau yang membuat suasana menjadi sangat tenang.  “Makanya gue tadi ngomong kalau gue ada di sana pasti bakal ketahuan kalau Raka bohong.” Ucal Bella.  “Ehh tapi apa Cindy dan Putra nggak curiga? Mereka berdua kan tau kalau kalian itu nggak pacaran? Atau gimana?” Tanya Prilly.  “Nah itu dia.. Cindy curiga kok, mala dia sempat ngomong katanya kok udah pacaran aja kan kemarin kalian belum pacaran, yahh gue sih ngomong aja kalau kemarin kita memang masih merahasiakannya. Dan karena keadaan sekarang yang terpaksa Raka harus ngomong kalau dia itu pacar gue. Cindy dan Putra percaya percaya aja, yah meskipun dalam lubuk hatinya masih ada keraguan. Hahah.” Jelas Zara.  “Ada bagusnya juga sih kalau Raka ambil tindakan kayak gitu. Biar Cindy juga bisa berhenti untuk terus - terusan mendekati Raka. Biar dia tau kalau Raka udah punya Lo.” Kata Bella yang juga sudah mengganti posisinya menyandarkan badannya di sofa.  “Ohh iyaa.. bener juga tuh, buar hidupnya Raka aman dari gangguan dia. Andika juga bisa aman tanl harus terus di teror dengan telepon - teleponnya Cindy.” Kata Prilly.  Sebenarnya Zara ingin memberi tahu Bella dan Prilly kalau dirinya dan juga Raka sudah berpacaran. Tapi Zara masih ragu - ragu.  “Iyaa sihh.. hmm ehh iyaa kemarin tuh ada hal yang paling ngeselin. Jadi pas di Villanya Cindy, kan Bianca sama Putra beli minuman tuh, minuman beralkohol gitu. Gue nggak tau deh namanya apa, tapi familiar gitu. Kalian juga pasti tau deh kalau liat botolnya juga. Sempat ada pas di tempat karokean.” Kata Zara.  “Ohh iya - iya gue tau.” Ujar Bella.  “Gue nggak tau hahah.” Seru Prilly.  “Jangan sok polos deh Lo Prill. Hahah. Terus kenapa dengan minuman itu Zara?” Kata Bella.   “Iyaa jadi kemarin Raka juga minum itu. Raka sampai mabuk, dan mabuknya tuh ngerepotin banget. Masa iya dia mabuk hanya karena minum satu gelas aja. Gue liat yang lainnya yang minum nggak ada sama sekali yang mabuk, padahal mereka minum lebih banyak dari Raka. Huufffftt.” Kata Zara yang sudah memasukkan badannya ke dalam selimut.  “Hah? Masa? Hahah ya Ampun Raka.. dia kenapa minum kalau emang nggak kuat minum?” Tanya Prilly.  “Nahh itu dia.. gue juga nggak tau kalau dia nggak kuat minum. Andika juga nggak tau, katanya sih Raka jarang minum minuman seperti itu, dan mungkin merk yang pernah Raka minum berbeda dengan minuman yang di beli Putra.” Kata Zara.  “Gilaa !!! Hahah kocak banget sih Raka. Pasti kharismanya langsung turun.” Ujar Bella.  “Hahah.. banget. Malah dia sempat muntah, dan muntahnya terkena di bajunya Andika.” Ucap Zara.  “Iya? Ahahaha kasian banget Andika nasib - nasib.. untung dia sahabatan sama Raka. Kalau nggak pasti dia kesal banget itu hahah.” Ucap Prilly.  “Nah itu dia hahah.. Andika juga ngomong kayak gitu. Kesel sih kesel tapi namanya tetap sahabat yahh mau gimana lagi hahah.” Ujar Zara.  “Seru banget sih.. pantesan aja Lo ngilang, ternyata emang ada kejadian yang seru banget hahah. Terus Raka sekarang gimana?” Tanya Prilly.  “Udah sadar tuh, dari tadi malam. Nggak tau jam berapa yah tadi malam itu. Sekarang dia kayaknya lagi mandi, mau pergi sama Andika.” Jawab Zara yang sedang bersantai di ayunan besar depan kolam renang.  “Raka ingat dia ngapain aja pas mabuk?” Tanya Bella.  “Awalnya nggak.. tapi nggak lama kemudian dia ingat semuanya. Untung aja dia ingat kalau ngga, uhh gue juga kesal banget.” Kata Zara.  “Haha sabar Zara.. itu bisa jadi kenangan buat Lo nanti, lumayan juga baru pertama kali meeting di luar kota udah dapat kenangan yang kocak abis hahah.” Ujar Prilly.  “Iya juga sih.. ya nggak apa - apalah. Hmm guyss kayaknya gue harus ngasih tau ini ke kalian juga deh.” Kata Zara.  Setelah berfikir panjang, Zara akhirnya ingin memberitahukan ke Bella dan Prilly kalau dirinya dan Raka sudah berpacaran. Zara tidak ingin menyembunyikan apapun dari sahabat - sahabatnya. “Apaan Zara? Jangan bikin kita deg - degan gitu deh.” Ucap Bella sambil menyantap nasi goreng yang baru saja di bawakan oleh bibi pembantu rumah tangganya.  “Iya nih.. ekspresi Lo kok gitu amat. Kita jadi deg - degan gini.” Kata Prilly juga.  “Hahah.. tenang guyss.. ini kabar bahagia kok—“  “Hah? Apaan? Jangan bilang Lo mau nikah Zar?” Tanya Bella.  Byuuuuuurrrrr (Zara menyemburkan minuman yang baru saja iya tuangkan ke dalam mulutnya)  “Hahahah.. gue salah yah Zar?” Tanya Bella sambil tertawa terbahak - bahak.  Zara dan Prilly juga ikut tertawa.  “Ahh kayaknya gue tau deh apa yang Lo mau bilang Zara.. kan bukan mau nikah kan? berartii hmmmm Lo pacaran sama Raka?” Tanya Prilly.  “Ihh Prilly kok pinter banget sih hahah.” Ucap Zara.  “Hah? Beneraaannn ???? Aaaaaaaahhhhh akhirnyaaaaa !!!! Congratss Zaraaaa !!! Cinta Lo nggak bertepuk sebelah tangan lagi.” Teriak Bella sampai melupakan nasi gorengnya.  “Aaaaaauuuuu akhirnyaa yahh.. selamat Zara !!! Wahh Zara benar - benar yahh.. Lo keren banget deh Zara.. Lo mampu menghancurkan benteng Raka yang sudah dia buat dengan sangat kokoh Zara. Nggak ada orang yang mampu merobohkan bentengnya sampai Lo hadir kembali di dalam hidupnya. Dan secepat itu Lo bisa mengambil hatinya kembali.” Kata Prilly.  “Gue juga nggak nyangka sih bakal secepat ini. Dan ternyata Raka udah lama suka sama gue dan dia juga tau kalau gue suka sama dia. Tapi yang dia bilang sama gue kemarin - kemarin dia belum siap untuk menerima orang lain lagi di hidupnya. Karena dia takut kalau orang yang di cintainya akan pergi meninggalkan dia lagi.” Kata Zara.  “Ohh jadi karena itu? Mungkin Raka masih trauma kali yah, karena dulu dia kehilangan adik dan juga eyangnya yang hampir bersamaan. Mana lagi Adiknya dan eyangnya adalah orang terdekat Raka.” Kata Bella.  “Iyaa makanya itu.. dia masih takut untuk menerima orang lain di hidupnya. Bahkan tadi malam pas dia ceritakan alasannya selama ini dia sampai nangis, dan katanya dadanya terasa sesak kalau mengingat kejadian itu lagi. Raka benar - benar tidak siap kehilangan Adik dan juga Eyangnya.” Jelas Zara.  “Huuufftt kasian Raka.. semoga Lo sama Raka bisa bahagia yah Zara.. semoga Lo bisa membuat Raka ikhlas dan tidak perlu merasa takut lagi akan kehilangan orang - orang terdekatnya.” Kata prilly.  “Iyaa amiinn dehh.. makasih yahh Bell, Prilly.” Kata Zara.  “Ehh ohh iyaa.. jadi kalian berdua di kantor gimana? Apa anak - anak kantor nggak apa - apa di kasih tau?” Tanya Bella.  “Ehmm.. kalau soal itu sih, gue belum mau. Gue nggak mau dulu kalau orang - orang dikantor tau kalau gue sama Raka pacaran. Gue nggak mau ada kehaduhan di kantor. Kalian tau kan berapa banyak cewek - cewek yang suka sama Raka di kantor? Bisa - bisa gue di sinisin sama mereka. Apalagi Nabila.. pasti dia marah banget tuh sama gue, udah ngerebut pangeran hatinya hahaha.” Jawab Zara.  “Lahh ngapain Lo pusingin Zara.. kan nggak apa - apa, itu mah derita mereka. Siapa yang di suka sama Raka yah itu yang jadi pemenangnya , masa iya cinta harus di paksakan.” Kata Prilly.  “Setuju tuh gue.” Seru Bella.  “Yahh kalian nggak tau gimana rasanya kalau sinisin sama teman sekantor, duhh nggak enak banget tau. Dulu gue soalnya pernah kayak gitu di kantor lama gue. Pernah juga ada karyawan cowok yang menurut teman - teman kantor gue dia ganteng, kerenlahh , terus cowok itu suka sama gue, dan jadilahh cewek - cewek yang suka sama teman cowok gue itu malah buat gosip yang nggak - nggak sama gue. Dan orang - orang yang dengar gosip itu malah termakan sama omongannya mereka. Aduh itu nggak enak banget sumpah.” Jelas Zara yang sudah berganti posisi. Zara duduk di pinggir kolam renang yang kebetulan saat itu kolam renang masih sepi. Tidak ada pengunjung hotel yang berenang. “Hati - hati Zara.. nanti Lo jatuh tau kalau mau berdiri - berdiri kayak gitu.” Seru Prilly.  “Nggak.. nih gue mau pindah ke situ yang lebih dingin.” Kata Zara sambil menunjukkan salah satu pinggir kolam renang memakai kamera belakang ponselnya.  “Terus - terus Zara.. Lo keluar dari kantor Lo yang lama karena masalah itu?” Tanya Bella.  “Ya nggak lahh.. masa iya karena masalah sepele kayak gitu gue keluar sih. Nggak.. gue keluar dari kantor karena yah masa kontrak gue udah habis. Dan gue nggak mau lanjut lagi di situ saat itu, ya karena saat itu gue juga mau lanjut sekolah gue kan, S2.” Jawab Zara.  “Tapi kan Zara.. di kantor Lo yang sekarang beda sama kantor Lo yang dulu. Yang sekarangkan ada kita kita, yang siap nemenin Lo juga kalau orang - orang di kantor sinisin Lo cuma karena Lo pacaran sama Raka.” Kata Prilly.  “Nahh itu.. baru gue mau bilang. Lagian kan Lo sekertaris di kantor, kenapa harus takut sama bawahan hahah.. aneh banget sih Lo Zara.” Kata Bella. “Hmm.. iyaa sih.. tapi tetep ah.. gue belum mau ngasih tau ke yang lain kalau gue pacaran sama Raka.” Kata Zara.  “Terus Raka gimana? Dia setuju?” Tanya Prilly.  “Setuju kok. Dia ikut aja sama gue. Katanya terserah gue mana yang membuat gue nyaman.” Jawab Zara sambil tersenyum malu. “Hahahah iya deh iyaaa.. seneng yahh kalau kita baru jadian, apalagi jadiannya sama orang yang emang kita suka. Tinggal Bella lagi nih, buruan gih nyari pasangan juga, biar kita bisa ngedate bareng. Pasti bakalan seru banget.” Kata Prilly.  “Tuhh Andika ada.. kenapa nggak sama Andika aja?” Tanya Zara.  “Zaraaaa !!! Nggak yahh.. gue sama Andika itu nggak bisa di satuin tau nggak.. bagaikan air dan api hahaha.” Kata Bella dengan nada tingginya.  “Atau gimana kalau Lo gue jodohin aja sama kakak gue? Mau nggak?” Tanya Zara.  “Nahh boleh tuh Zara.. jodohin aja.” Seru Prilly.  “Hah?? Kak Julian? Emang dia mau gitu sama gue?” Tanya Bella.  “Kayaknya dia mau kok sama Lo hahah.. karena waktu kalian ada di rumah sakit yang pas gue pingsan itu, kakak gue sempat nanyain nama Lo lagi sama gue. Katanya Lo cantik.” Jawab Zara sambil memainkan air di kakinya.  “Tuhh ada lampu hijau tuh. Sikat Bell. Hahahah.” Teriak Prilly yang lagi membukakan pintu untuk Ardya yang sedang bertamu di rumah Prilly.  “Haii sayanggg aku masih telvonan nih sama Bella dan Zara.” Kata Prilly ke Ardya.  “Hah? Ya Ampun aku kira udah selesai, lama banget kalian telvonannya. Bener - bener yahh kalau cewek, ckckck pasti lagi gosip kan kalian?” Kata Ardya smabil melambaikan tangannya ke kamera.  “Hahah.. haii Ardya. Ciee yang lagi ngapel.” Kata Zara yang juga melambaikan tanganya untuk Ardya.  “Hahah.. nanti Lo juga akan di apelin kok sama Raka.” Teriak Prilly yang sedang berjalan ke dapur untuk mengambilkan minum untuk Ardya.  “Hah? Raka? Di apelin sama Raka? Lo tembak Raka aja Zara , biar cepet daripada Lo nunggu Raka nembak Lo, nggak bakalan deh itu..” Kata Ardya.  Ardya belum mengetahui kalau Zara dan Raka sudah berpacaran.  ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN