“Sayaangg hahahh.. Zara sama Raka udah pacaran tau, kamu nih mulutnya sembarangan. Kamu jangan sok tau dulu makanya.” Kata Prilly yang sedang membuat cemilan untuk Ardya.
“Beneran? Kok bisa ? Beneran Zara?” Tanya Ardya yang sangat - sangat tidak percaya dengan apa yang Prilly katakan.
“Ihh kok nggak percara sih !! Beneran tau.” Seru Prilly.
“Iyaa benar Ardya.. Lo kok kayak nggak percaya gitu sih sama gue. Dasar !!” Kata Zara.
“waahhh hebat banget Lo Zara, bisa pacaran sama Raka. Gila gila.” Seru Ardya sambil bertepuk tangan.
“Nggak usah lebay dehh.. gue malu tau.” Kata Zara yang lagi - lagi tidak bisa menahan rasa senangnya karena telah berpacaran dengan Raka.
“Nggak Zaraa.. itu hal yang emang perlu di banggakan. Bayangin aja, begitu banyak perempuan sebelum Lo masuk ke kantor yang mengejar - ngejar Raka, nggak ada satupun yang mampu masuk ke dalam hatinya Raka. Dan Lo orang yang baru masuk, baru seumur jagung udah bisa mendapatkan hatinya Raka. Raka itu tertutup banget kalau soal hal pribadinya ke kita - kita, dan kita juga baru banget dekat kayak gini sama Raka yah karena Lo juga. Sumpah gue salut sama Lo Zara.” Jelas Ardya.
“Bener sih apa yang di bilang sama Ardya.. Lo emang harus bangga karena bisa pacaran sama Raka, Zar..” kata Prilly yang sudah duduk di samping Ardya.
“Hmm.. gue nggak mau terlalu seperti itu, ngapain juga sih. Ini tuh soal hati, bukan soal pertandingan. Gue pacaran sama Raka yah karena emang gue suka sama Raka. Bukan untuk menunjukkan ke orang - orang kalau gue berhasil mendapatkan Raka. Nggak gitu guys konsepnya.” Jelas Zara.
“Gue setuju sama Lo Zara.. emang nih Ardya sama Prilly aneh - aneh aja. Pasangan kompak emang.” Kata Bella.
“Hahha.. iya iya.. sorry yahh Zara.. kita nggak ada maksud apa - apa kok. Yang paling penting turur berbahagia karena akhirnya orang yang Lo suka selama ini, bisa suja juga sama Lo. Langgeng yah Zara.” Kata Ardya.
“Iyaa makasihh.. makasih karena kalian juga selalu support gue. Ehh iyaa.. Ardya jangan kasih tau orang - orang di kantor dulu yah, nggak usah ada yang tau kecuali kita.” Kata Zara.
“Ohh iyaa.. tapi kenapa nggak boleh ada yang tau? Raka nggak mau?” Tanya Ardya.
“Nggak.. gue yang nggak mau. Nggak nyaman aja kali yah kalau orang - orang di kantor pada tau kalau gue sama Raka pacaran.” Jawab Zara.
“Malah baguskan kalau orang - orang di kantor tau. Biar Raka nggak di gangguin lagi, dan Lo juga bisa lebih nyaman kalau nggak ada yang gangguin Raka lagi. Apa Lo mau kalau kejadin seperti Nabila tempo hari terulang lagi? Atau kejadian Alia?” Tanya Ardya.
Zara mendengarkan apa yang di katakan Ardya, Zara mulai memikirkan saran dari Ardya.
“Hmm.. tapi balik lagi ke Lo sih Zar, ini cuma saran gue. Kalau Lo nggak mau juga nggak apa - apa, terserah Lo aja. Mana yang baik menurut Lo Zara.”
Kata Ardya.
“Iya Zara.. Gue juga setuju sama Ardya. Tapi terserah Lo aja, mana yang membuat Lo nyaman. Jangan terlalu di paksain. Kan yang jalanin hubungan Lo sama Raka. Jadi yang mana terbaik dan ternyaman Lo aja. Kita cuma bisa memberikan Lo saran.” kata Prilly.
Zara terlihat termenung memikirkan ucapan Ardya dan Prilly.
“Woii Zaraaa !!! Nggak usah tegang begitu kenapa? Hahah santai dong.. jangan di bawa susah. Masa baru sehari pacaran udah pusing mikirin yang lain aja. Jangan dulu, harus bahagia - bahagia dulu dong.” Kata Bella.
“Ehh hahah iyaa nggak kok. Makasih yahh saran kalian semua. Nanti gue coba fikirin dan ngomongin kembali ke Raka. Gue juga mau minta pendapatnya Andika.” Kata Zara.
“Iyaa.. coba di rundingkan dulu aja. Bukan masalah besar juga kok.” Kata Prilly.
“Iyaa..”
“Okeyy - okeyy .. sekarang kita bahas pesanan gue aja gimana? Biar nggak tegang - tegang amat hahah.” Seru Bella.
“Jadi Zara.. pesanan gue ada semua kan?” Tanya Bella.
“Pesanan gue juga dong hahah.” Seru Prilly.
“Iya tenang aja.. ada semua kok.. lengkap. Karena barang yang Lo mau gampang - gampang semua, nggak susah untuk di cari.” Jawab Zara.
“Pesanan Lo juga ada semua kok Prill.. gue beli di toko yang di saranin Bella juga.” Sambung Zara.
“Hahah iya kan? Itu udah biasa gue beli juga kalau ke Bali, makanya gue saranin Lo kemarin biasa gue beli. Karena di sana lengkap.” Kata Bella.
“Iya lengkap banget, gue juga beli beberapa di barang di sana pesanannya Julian.” Ujar Zara.
“Ehh tapi Lo buat apa beli barang sebanyak itu Bell?” Tanya Zara.
“Mau gue bagi - bagi ke keponakan - keponakan gue, jadi Minggu depan itu mau ada acara ulang tahunnya nyokap gue. Gue mau kasih sebagai sovenir - sovenir gitu. Kalian nanti datang juga yah, bawa pasangan kalian masing - masing. Nggak apa - apa kok kalau gue sendiri hikkkss.” Kata Bella dengan memasang wajahnya yang sedih.
“Hahah.. nggak usah sedih Lo, nanti gue bawain kakak gue deh. Biar Lo nggak sendiri.” Kata Zara.
“Lohh kenapa kakak Lo Zara? Andika kan juga sendiri, sama Andika aja Lo hahah.” Ujar Ardya.
“Woii woii.. jangan ngejodoh - jodohin gue sama Andika, udah di bilang gue itu sama Andika nggak cocok. Dan dia juga udah seperti kaka gue, yahh meskipun terkadang dia sangat menyebalkan. Tapi gue nggak pernah menganggap Andika lebih dari itu. Dan Andika juga seperti itu.” Jelas Bella.
“Hahah.. iyaa - iyaa nggak kok.. bercanda gue.” Seru Ardya.
“Terus Lo mau kalau sama kakaknya Zara?” Tanya Prilly menggoda Bella .
“Yahh kita liat dulu, cocok apa nggak. Kalau nggak cocok yah skip.. cari yang lain hahah.” Jawab Bella.
“Hahah iyaa kalian pdkt aja dulu, nggak usah terlalu terburu - buru juga. Kakak gue baik kok orangnya, tenang aja.” Kata Zara.
“Gue udah kasih nomor Lo ke kakak gue, dan dia juga sangat senang karena akhirnya nomor Lo udah gue kasih, kemarin - kemarin nggak gue kasih hahah.” Kata Zara lagi.
“Beneran?” Tanya Bella.
“Iyaa beneran.. nihh tunggu gue kirimin chatnyabdi grup.” Zara mengambil ponselnya dan mengirim bukti Pesan dengan Julian ke grup mereka.
Bella terlihat fokus membaca Capturan pesan yang di kirimkan oleh Zara.
“Aaahhh.. Zara gue malu nih.. kakak Lo beneran tertarik sama gue?” Tanya Bella.
“Kayaknya sih hahah.. tunggu aja, pasti nggak lama kemudian dia ngirimin Lo pesan deh pasti.” Kata Zara.
“Ehh iyaa Zarr nihh baru aja masuk hahahah. Aaaaaaaaaaaahhhhh” Teriak Bella.
“Bellaaaaa kamu kenapa????” Terdengar suara mama Bella berteriak panik karena mendengar Bella berteriak.
“Nggak apa - apa Maaaa !!!” Teriak Bella dari dalam kamarnya.
“Hahahah.. makanya jangan teriak kayak gitu Lo. Nyokap Lo sampai kaget kayak gitu.” Seru Prilly yang terlihat dari balik layar sedang asyik menonton film bersama Ardya dan juga adiknya.
“Hahah.. maklum lah sayang.. Bella kan baru pertama kali di kirimin pesan sama Cowok. Mana sama kakaknya Zara lagi.” Kata Ardya.
“Sialan Lo !! Lo kira gue nggak selaku itu? Banyak kok yang ngirimin gue pesan, guenya aja yang nggak mau sama mereka. Nggak tertarik.” Kata Bella.
“Hahah percaya deh percaya.. kita percaya kok sama Lo hahah.” Ucap Ardya.
Prilly tertawa di samping Ardya.
“Ehh udah dulu yahh, kita mau nonton film dulu. Adek gue udah mulai rese’ nih.” Kata Prilly.
“Hahah iyaa Prill, Ardya.. have fun yahh.” Kata Zara.
“Woii Bella.. jangan terlalu gugup Lo balas pesanmya kakaknya Zara.. udahh yahh, sampai jumpa besok yah di kantor guysss.” Kata Prilly lagi.
“Dahhh Zara.. dahh Bella.” Seru Ardya.
“Byyeee Prilly.. Ardyaaa .” Ujar Zara dan Bella bersamaan.
Prilly sudah mematikan sambungan teleponnya bersama Bella dan Zara. Tinggal Bella dan Zara yang masih sibuk membahas Julian.
“Zara.. gimana ini? Apa yang harus gue balaskan ke kakak Lo?” Tanya Bella sambil menggigit jarinya.
“Ihh kok nanya Gue hahah.. terserah Lo aja Bella, kan harus Lo yang ngejawabnya, santai aja kali. Kakak gue nggak perlu sampai Lo deg - degan gitu. Kakak gue banget tau orangnya.” Kata Zara.
“Tapi nggak apa - apa nih, Lo setuju kan kalau gue dekat sama kakak Lo?” Tanya Bella.
“Ya ampun Bella !!! Uuuggghh kok nanya gitu lagi loh, kan tadi gue tawarin Lo deket sama kakak gue. Pake nanya gitu lagi.” Ucap Zara.
“Hmm.. ya udah doain yahh, semoga gue sama kakak Lo cocok hahah.” Kata Bella lagi.
“Hahah apasih Bella.. iyaa aamiin - aamiin, semoga yahh.. semoga kakak gue juga masuk dalam kriteria Lo. Udah lahh, Lo chattingan dulu saja sama kakak gue deh yahh. Byyeee.” Kata Zara sebelum menutup sambungan teleponnya.
“Hahah.. iya iya. Okeyy dehh.. sampai ketemu besok yahh Zara.. barang gue jangan sampai lupa yahh..” ucap Bella lalu melambaikan tangannya dari balik layar.
“Siaaappp.” Zara mematikan ponselnya dan meletakkan ponselnya di pinggir kolam renang.
Zara yang saat itu memakai baju crop dan celana pendek memutuskan untuk berenang. Dan sebelum membasahi seluruh badannya, Raka datang bersama Andika membawa beberapa kantongan belanja.
“Zaarrr.. Lo kok berenang nggak bilang - bilang sih. Mau gue temenin nggak? Hahah.” Tanya Andika lalu duduk kursi panjang yang terbuat dari rotan di samping kolam renang, di ikuti Raka yang juga duduk di samping kursi Andika.
“Nggak usah !! Hahah.. by the way kalian dari mana banyak banget belanjanya.” Tanya Zara ke Raka dan Andika.
“Barangnya Andika nih banyak banget.” Jawab Zara.
“Gue habis dari nyari ini Zar, nyokap gue mau banget sendal kayak gini. Dan baru dia bilang tadi malam. Jadi yah gue beli banyak aja, biar dia bagi - bagiin juga sama tante - tante gue.” Kata Andika.
“Oalahh.. kenapa nggak bilang kemarin yah, padahal ada juga tuh di tempat yang kemarin.” Kata Zara lalu berenang ke ujung kolam.
“Iyaa.. nyokap gue baru ngasih tau gue juga tadi.” Kata Andika.
“Terus kalian udah packing kan?” Tanya Zara lagi.
“Udah kok. Tinggal masukin barang ini aja yang terkahir.” Kata Andika.
“Iya aku juga tinggal ini yang terakhir.” Kata Raka.
“Kamu beli apa?” Tanya Zara ke Raka .
“Ohh ini baju untuk mama, aku ngeliat terpajang dan bagus dan teringat sama mama jadi beliin aja.” Jawab Raka.
“Ohh iyaa ini juga untuk mama, papa kamu dan kak Julian.” Kata Raka lalu menangkat satu paper bag besar di tangannya.
“Hah? Apaan itu? Kenapa pakai di beliin segala sih.. kan aku juga udah beliin mereka.” Ucap Zara lu berenang ke arah tempat duduk Raka.
“Mau aja.. perkenalan sebagai calon mantu.” Ucap Raka lalu tersenyum.
“Ah? Hahahah.. cieee udah tau yahh yang kayak gitu - gituan, aduhh baru juga pacaran sehari. Udah mau jadi calon mantu aja.” Ujar Andika sambil tertawa terbahak - bahak.
“Pufffttt.” Zara juga tertawa kecil.
Zara tidak menyangka kalau Raka akan mengeluarkan kata - kata yang seperti itu, manusia yang super dingin ternyata bisa gombal juga, pikir Zara.
“Ihh emangnya ada yang salah yah? Aku benerkan? Atau kamu nggak mau sampai ke jenjang yang lebih serius bareng aku?” Tanya Raka.
“Waduh waduhh hahah.. udah yahh Raka, kalau Lo mau ngomong kayak gitu lebih baik pas nanti kalian berdua aja deh, jangan ada gue dong.” Kata Andika sambil menutup telinganya.
“Hahah.. kenapa sih.. kalau nggak mau dengar yah Lo masuk aja sama ke kamar Lo.” Kata Raka sambil tertawa.
“Andika geli dengar kamu ngomong kayak gitu. Dia kan nggak pernah dengar kamu ngomong gombal seperti itu.” Ucap Zara.
“Ihh aku nggak gombal loh ini. Aku serius, aku mau ke jenjang yang lebih serius bareng kamu.” Ucap Raka dengan santainya.
“Ohh god tolong sayaaaa.” Seru Andika sambil menatap ke langit.
“Hahaha.. udah masuk aja Andika.. Raka lagi serius tuh katanya hahah.” Seru Zara.
“Nggak.. gue mau ngadem woii.. ini tuh hari terkahir kita di sini kan, ntar sore kita udah mau balik. Berenang juga ah.” Kata Andika.
Andika lalu berdiri dari kursinya, mengeluarkan ponsel dan dompetnya dari kantong celananya.
“Eh ehh mau ngapain sih Lo?” Tanya Raka dengan sinis.
Andika memegang celananya hendak ingin membukanya.
Zara langsung menutup matanya.
“Tenang woi !!! Gue pakai dalaman gilee, nggak usah tegang gitu. Gue mau berenang juga, mumpung masih sempat.” Ucap Andika. Andika kemudian membuka celana pendek yang ia kenakan dan membuka baju yang ia kenakan. Tersisa celana boxer dalamannya.