Setelah membuka pakaiannya, Andika langsung loncat ke dalam kolam renang.
“Hahah.. pelan - pelan kenapa sih. Kalau kepala Lo kejedot mau Lo?” Seru Zara sambil melemparkan air ke Andika.
“Kamu nggak mau ikutan?” Tanya Zara ke Raka.
“Ayolah Raka.. yukk mumpung belum banyak orang nih. Come on broo.” Ucap Andika.
“Nggak ah.. malas gue udah mandi, nanti habis berenang mandi lagi. Males.” Kata Raka.
“Yakin kamu nggak mau? Kita udah mau pulang nih. Nggak mau buat kenangan foto - foto gitu. Kita berenang bertiga.” Kata Zara terus membujuk Raka.
“Nggak Zara.. aku malas, kalian berdua aja yah. Kalau foto - foto kan tinggal begini aja juga bisa.” Kata Raka lalu duduk di pinggir kolam renang mengeluarkan ponselnya dan memasang mode kamera.
“Hahah.. dasar Lo kalau udah ngomong nggak mau pasti nggak mau. Ya udahlah.. foto yukk Zara.” Kata Andika menarik Zara lalu merangkul Zara.
“Tangan Lo ngapain? Zara cewek gue, jangan Lo rangkul - rangkul kayak gitu.” Ucap Raka lalu berbalik ke Andika.
“Hhahaha.. iyaa - iyaa.. nih gue lepas.”
Zara tersenyum melihat Raka yang selalu cemburu dengan Andika.
“Makanya kalau kamu nggak mau aku di rangkul Andika, kamu juga berenang dong. Kan jatuhnya kayak aku yang pacaran sama Andika kalau fotonya kayak gitu. Iya nggak Andika?” Kata Zara.
“Nahh bener banget tuhh. Sekarang Posisi Lo di depan, dan gue sama Zara berdua di belakang, yah udah kayak orang pacaran banget kan hahaha.” Kata Andika sambil tertawa.
“Hmm.. nggak mempan yahh.. aku tetap malas berenang. Udah ah, kamu naik juga. Apa kamu nggak kedinginan itu, ayo naik aja.” kata Raka menyuruh Zara untuk keluar dari kolam.
“Yahh malah Zara yang di suruh keluar. Gimana sih Lo. Jangan mau Zar.” Andika tertawa sambil mempengaruhi Zara.
“Hahah .. iyaa Raka aku masih mau berenang yahh.. ntar aja naiknya, aku nggak kedinginan kok.” Kata Zara.
“Hahahh.. tuhh Zara masih mau berenang.. Lo aja yang masuk sini.” Kata Andika yang lagi - lagi membujuk Raka.
“Nggak.. ya udah Zara sini ayo kita foto.” Kata Raka sambil menjulurkan tangannya ke Zara.
Zara langsung memegang tangan Raka dan mengambil pose dalam rangkulan tangan Raka.
“Iya deh iyaaa.. gue emang cuma nyamuk di sini.” Seru Andika.
“Hahahaa.. makanya cari cewek dong. Tuhh Bella—
“Ehh apaan sih Lo Zara.. jangan jodoh - jodohin gue sama Bella lagi deh.. kita tih nggak cocok tau.” kata Andika yang langsung memotong pembicaraan Zara.
“Ihh.. kepedean hahah.. gue tuh belum selesai ngomong. Gue mau bilang kalau Tuh Bella udah gue jodohin sama Kakak gue, Julian. Dia nggak sendiri lagi.” Kata Zara yang masih ads di bawa rangkulan raka.
“Hahah jangan kepedean Lo. Orang Zara belum selesai ngomong, main di potong - potong aja. Mana kesimpulannya salah lagi.” Kata Raka.
“Hahah ya Sorry.. gue kira kan gue mau di jodohin lagi sama Bella. Kan itu udah kebiasaan anak - anak. Kata Andika.
“Ya udah.. makanya Lo cari juga pasangan Lo, biar nggak sendiri, dan nggak ngikutin gue mulu.” Kata Raka.
“Nggak ahh.. gue lebih suka ngikutin Lo hahahah.” Seru Andika lalu berenang ke sisi lain kolam renang dan kembali lagi ke Zara dan Putra.
“Ehh.. terus Bella sama kakak Lo udah jadian?” Tanya Andika.
“Belum lahh.. baru juga tadi gue kasih kontaknya Bella di kakak gue. Baru pendekatan gitu.” Jawab Zara.
“Ohh kirain.” Ucap Andika.
“Emangnya kenapa?” Tanya Raka.
“Yah nggak apa - apa gue nanya aja.” Kata Andika.
“Ohh.. gue kirain Lo cemburu hahah.” Kata Raka.
“Ya Nggak lahh.. gue malah senang kalau Bella sudah dapat pacar. Biar kalian bisa pergi ngedate bareng , dan ninggalin gue.” Kata Andika dengan raut wajah yang sedih.
“Hahah gue kira endingnya apaan. Mau gue carikan juga? Atau di kantor juga banyak kok, cewek - cewek yang cantik.” Kata Zara.
“Aduh kayaknya kalau di kantor nggak deh, terlalu banyak drama cewek - cewek yang di kantor.” Kaa Andika.
“Kok gitu? Drama gimana maksudnya?” Tanya Zara.
“Iya nggak ada yang benar - benar tulus. Mereka cuma ingin sama uang aja. Contohnya banyak yang suka sama Raka juga hanya menyukai Raka karena uangnya Raka, karena Raka seorang Bos di kantor. Jadi mereka berlomba - lomba untuk menjadi kekasihnya Raka.” Jelas Andika.
“Siapa yang nggak mau kalau bosnya ganteng kayak gini, mana masih muda dan udah punya perusahaan sendiri. Pasti orang - orang bakal berusaha untuk mendapatkan dia dong pasti. Kalian jangan befikir kalau mereka hanya ingin uang aja. Kan nggak ada yang salah kalau mereka beneran suka sama Raka.”
Kata Zara.
“Tapi itu alasan utama mereka untuk mendekati kita Zara.” Kata Andika lagi.
“Hmmm.. gitu yah… menurut gue sih yahh Lo pandai - pandainya aja mencari yang Lo rasa benar - benar tulus.” Kata Zara.
“Iyaa Zara.. huffftt ngapain juga sih mikirin gituan kalau udah waktunya juga pasti akan datang dengan sendirinya. Kayak Lo sama Raka.. Lo yang datang dengan sendirinya. Hahahah.” Ujar Andika sambil tertawa terbahak - bahak lalu berenang kembali.
“Ihh dasar hahah.. bagus banget sih masuk - masuknya.” Kata Zara.
Zara dan Andika berenang setengah jam lagi, dan Raka dengan sabarnya menunggu Zara dan Andika di pinggir kolam renang.
Setelah selesai berenang, Zara, Raka dan Andika kembali ke kamar mereka masing - masing. Zara dan Andika mandi kembali setelah berenang.
Dan saat setelah mandi, Zara kembali memakai skincarenya dan teringat kejadian tadi pagi, kejadian saat dirinya dan Raka ciuman.
“Aaaaaahhh.. oh my god oh my god gue hampir lupa kalau gue tadi pagi habis ciuman sama Raka. Baru sehari jadian udah ciuman aja. Hahah.” Gumam Zara sambil memegang bibirnya di depan cermin.
Setelah selesai memakai skincarenya Zara membaringkan dirinya dintempat tidurnya, dan beberapa menit kemudian Zara tertidur. Dan saat bangun jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga siang. Zara buru - buru bangun dan segera memeriksa kembali semua barang - barangnya agar tidak ada barang lagi yang tertinggal karena Zara, Raka dan Andika sudah harus berangkat ke Bandara.
Zara bersiap - siap untuk berangkat ke bandara. Zara mengetuk pintu kamar Andika, dan mengetuk pintu kamar Raka.
“Udah siap?” Tanya Raka.
“Iyaa udahh.. kamu udah periksa semua barang - barangnya kan? Nggak ada yang ketinggalan kan?” Tanya Zara.
“Iyaa udah nggak ada kok.” Jawab Raka.
Tidak lama Andika juga keluar dari kamarnya dnegan membawa koper dan membawa tas ranselnya.
“Yuk guyss.” Kata Andika.
“Udah Lo periksa semua barang - barang Lo kan? Nggak ada yang tertinggal?” Tanya Zara.
“Iya udahh.. nggak ada yang tertinggal kok.”
Zara, Raka dan Andika berangkat ke bandara, dan menunggu ke berangkatan mereka untuk pulang ke bandung. Setelah beberapa jam akhirnya Zara, Taka dan Andika sampai di bandung.
- Bandung -
“Aaahhh akhirnya sampai juga.” seru Andika.
“Iyaa akhirnya bisa ke tidur di kamar sendiri lagi. Hahah.” Balas Zara.
“Mobil Lo, di mana Andika?” Tanya Raka.
“Di sana deh kayaknya.” Jawab Andika sambil membunyikan klakson mobilnya dengan kunci mobilnya.
“Nahh itu dia. Kalian berdua balik sama - samakan? Kan udah pacaran.” Seru Andika sambil berjalan ke mobilnya.
“Iyaa dongg.. Hati - hati yahh Andika. Sampai ketemu besok di kantor.” Kata Zara.
“Iyaa byee guysss.. kalian juga hati - hati yahh..” kata Andika.
“Hati - hati Lo.” Kata Raka juga.
“Siap broo.” Seru Andika lalu masuk ke mobilnya.
Zara dan Raka juga masuk ke dalam mobilnya.
“Zaraa.. kamu mau makan dulu?” Tanya Raka sambil menyalakan mobilnya.
“Ehmm bolehh.. habis naik pesawat jadinya lapar.” Jawab Zara sambil memegang perutnya.
“Okeyy.”
Raka mengendarai mobilnya, mencari tempat makan yang terdekat. Setelah sampai di tempat makan Zara dan Raka turun dari mobil. Raka membukakan pintu mobil untuk Zara. Zara tersenyum melihat sikap Raka yang berubah menjadi lebih perhatian. Raka juga menarikkan kursi untuk di duduki oleh Zara saat telah mendapat meja.
“Makasih Raka.” Kata Zara memberikan senyuman hangat di wajahnya.
“Sama - sama Zara.” Balas Raka.
Seorang pelayan pun datang memberikan buku menu untuk Zara dan Raka. Zara dan Raka pun memilih makanan dan minuman untuk mereka nikmati. Dan sembari menunggu makanan dan minuman yang mereka pesan, Zara mengeluarkan ponselnya untuk melihat hasil foto - foto selama mereka di Bali.
“Raka liat deh, hasil foto - fotonya Andika kemarin bagus - bagus banget.” Kata Zara lalu memperlihatkan ponselnya ke Raka.
“Ohh Andika sudah kirimin kamu yah?” Tanya Raka sambil melihat foto di ponselnya Zara.
“Iyaa.. tadi malam deh kayaknya dia kirim.” Jawab Zara.
“Ohh iyaa bagus - bagus juga yahh.. ada bakat tuh anak jadi fotografer.” Kata Raka.
“Iya yah hahah.” Seru Zara.
“Ohh iyaa.. Zara.. sekarangkan kita udah pacaran.. apa nama panggilan kita nggak mau kamu ganti?” Tanya Raka malu - malu.
“Maksudnya nama panggilan?” Tanya Zara.
“Maksud aku kayak orang - orang pacaran gitu. Tapi kalau kamu nggak mau juga nggak apa - apa sih.”
Kata Raka lagi.
“Oalahh hahah.. aku kirain apa. Siapa sih yang nggak mau. Dari kamu aja kamu mau di Panggil apa? Sayang? Baby? Honey? Atau my husband?” Kata Zara tersenyum menggoda Raka.
“Hahah.. Zaraa.. kamu kok bisa gampang banget sih ngomong yang seperti itu? Apa kamu nggak merasakan hal aneh yang bergejolak di dalam diri kamu saat mengatakan itu? Kok aku nggak bisa yah seperti kamu?” Tanya Raka.
“Hmm.. hmm.. hmmm.. yang kayak gitu aja di fikirin.. udah jangan di fikirin, buat terbiasa aja sama diri kamu, jangan terlalu memaksakan untuk jadi seperti orang - orang di luar sana . Kamu yah kamu, yah apa adanya kamu aja. Jangan terlalu di bebani Raka, mungkin kamu seperti itu karena kamu udah lama nggak banyak ngomong ke orang lain.” Jelas Zara.
“ hmm iyaa Zara.. aku harap kamu bisa mengerti yah Zara.. aku harap kamu nyaman sama aku.” Kata Raka.
“Iyaa Rakaa.. aku tuh suka sama kamu. Kita nggak di paksa untuk pacaran, kita pacaran atas dasar suka sama suka, jadi aku pasti akan nyaman sama orang yang aku suka. Kamu jangan terlalu banyak fikiran tentang hubungan kita deh.. baru juga sehari udah tegang kayak gitu.” Kata Zara. Zara mengomeli Raka sambil melihat - lihat foto - fotonya.
“Iyaa Zara.. Zara sayang.” Kata Raka lalu mengambil tangan Zara dan menggenggamnya.
“Yaaa Tuhaaaannnn.. kenapa dia jadi sweet gini sihhh. Oh my god jantungku rasanya mau copot saking deg - degannya.” Gumam Zara dalam batinnya.
“Jadi panggilannya sayang nih?” Tanya Zara tersenyum malu. Pipinya sudah merona karena Raka memegang tangannya.
“Iya sayang aja dehh.” Kata Raka.
“Permisiiiii..” seru Pelayan yang membawakan pesanan makanan dan minuman yang di pesan oleh Raka dan Zara.
“Maaf mengganggu yahh Mas Mbaa.. hehee makanan dan minumannya udah jadi soalnya.” Kata Pelayan sambil meletakkan pesanan makanan dan minuman di atas meja Zara dan juga Raka.
“Hahah.. iyaa Mbaa nggak apa - apa kok. Mba bisa aja deh.” Kata Zara lalu melepaskan tangan Raka dan meletakkan makanan Raka di depannya.
“Mba sama Mas cocok banget.. yang satunya ganteng, yang satunya cantik. Mbanya artis yah?” Tanya pelayan restoran.
“Hah? Bukan Mba.. saya hanya wanita biasa hahah.” Jawab Zara.
“Masa sih.. habisnya mba cantik banget.. dan elegant gitu. Rambutnya panjang hitam berkilau, wajahnya mulus banget.. haduh perfect banget pokoknya.”
Kata pelayan lagi yang masih berdiri dengan memegang nampannya.
“Haha udah deh mba.. mba berlebihan sekali memuji saya.” Kata Zara tertawa kecil.
Raka tersenyum mendengar semua pujian yang di lontarkan oleh pelayan restoran tersebut untuk Zara.
“Hahah.. maaf yahh Mbaa Mas kalau saya banyak bicara hehe.. saya permisi kalau gitu yah Mas Mbaa.. silahkan di nikmati.” Kata Pelayan Restoran.
“Iya makasih yah Mbaa.” Kata Zara dan Raka bersamaan.
“Semua yang pelayan itu bilang tadi benar semua loh Zara. Kamu emang cantik.. kayak bidadari.” Kata Raka.
“Hmm.. emangnya kamu pernah liat bidadari apa? Gombal mulu dari tadi.” Kata Zara.
“Pernah.” Jawab Raka.
“Beneran?” Tanya Zara dengan raut wajah yang sangat serius.
“Beneran. Ini sekarang aku lihat, di depan aku.” Kata Raka.
“Hah? Mana?” Tanya Zara lagi yang belum mengerti apa maksud Raka.
“Nih lagi makan.” Kata Raka lagi.
“Puuffttt.. hahah apaan sih.. gombal lagi deh.” Kata Zara sambil tertawa terbahak - bahak.
“Aku nggak gombal Zara.. kamu memang cantik. Aku suka.. suka banget banget sama kamu.” Kata Raka sambil memandangi wajah Zara.
“Aku jadi ingat pas kamu mabuk kemarin, omongan kamu persis seperti itu. Tapi versi yang nggak mabuknya, jadi makin percaya kalau kamu beneran suka sama aku.” Kata Zara.
“Hahah.. jangan di ingetin lagi. Aku jadi malu, untung kemarin belum jadi pacar kamu pas mabuk, kalau nggak aduhh mau di taruh dimana nih wajah aku. Hahah.” Kata Raka.
“Loh kenapa? Aku malah suka.” Kata Zara sambil menikmati makanannya.
“Kamu suka kalau aku mabuk?” Tanya Raka.
“Ihh bukan itunya.. kamu nggak boleh mabuk lagi awas aja kalau kamu sampai mabuk lagi.” Jawab Zara.
“Iya.. aku nggak akan mabuk lagi. Tenang aja, yang kemarin cuma coba - coba kok.” Kata Raka.
“Pak Rakaaa ?? Mba Zaraa ?? Wahh kebetulan sekali kita ketemu di sini. Kalian baru pulang dari Bali yah? Gimana meetingnya lancar nggak? Saya duduk di sini yah Pak Rakaa.. soalnya saya datang sendiri nih, kita gabung aja nggak apa - apa kan Pak Raka ? Mba Zara?” Tiba - tiba Nabila datang dan langsung duduk di samping Raka. Nabila terus - terusan berbicara membuat Zara dan Raka hanya bisa saling menatap keheranan, dan bersikap seperti biasanya. Zara sangat kesal karena Nabila duduk tepat di samping Raka.
====