Setelah mengambil satu rangkap berkas dari lemarinya, Raka kemudian memberikannya ke Zara yang sedang duduk manis menunggunya.
Zara pelan - pelan membaca semua isi kontrak kerja yang di berikan Raka.
"Baca dan pahami dulu semuanya." Ucap Raka yang duduk memandangi Zara yang sedang membaca kontraknya.
"Kalau ada yang nggak aku setujui gimana?" Tanya Zara.
"Ya ngomong.. biar kita pertimbangkan." Jawab Raka lalu menyandarkan badannya dan mengangkat satu kakinya ke kaki yang satunya.
"Kenapa harus gitu sih posisinya? Harus banget yah sok keren kayak gitu? Kan gue jadi nggak fokus." Batin Zara. Zara sesekali memperhatikan Raka yang juga sedang memperhatikannya.
"Ini yang aku harus ikut kalau meeting di luar, kalau aku nggak bisa atau aku sakit apa aku di denda yah?" Tanya Zara dengan polosnya.
"Iya kamu di denda satu bulan gaji selama kamu nggak bisa buat temenin saya meeting di luar." Ujar Raka.
"Hah? Seriusan?"
"Iya serius."
"Hmm.. gimana dong yahh."
"Makanya kamu harus ikut, kalau nggak gaji kamu jadi pertanggung jawabannya.
"Iya - iya.. aku usahain untuk bisa selalu ikut meeting." Jawab Zara sambil menghela nafas panjang.
"Haha saya bercanda kok, mana ada yang seperti itu. Kalau sakit yah nggak papa kok kalau nggak bisa ikut, tapi kalau nggak kenapa - kenapa terus nggak bisa ikut itu nggak boleh yahh , karena itu juga bagian dari pekerjaan sekertaris yang harus mengetahui jadwal dan perkerjaan saya di luar." Jelas Raka.
"Haahh aku kira beneran. Iya aku mengerti kok, aku tanda tangan sekarang yah." Kata Zara lalu mengambil pulpen yang ada di atas meja.
"Iyaa, semoga kita bisa bekerja sama lebih lama dan lebih baik lagi." Ucap Raka.
"Kamu mau bekerja sama lebih lama sama aku?" Tanya Zara.
"Iii yaa Kenapa nggak kalau emang cocok?" Tanya Raka kembali.
"Cocok? Cocok apanya?"
"Yahh cocok dengan pekerjaan kita kan." Jawab Raka.
"Ohh hengg iyaa - iyaa. Baiklah kalau begitu semoga yah." Ucap Zara lalu memberikan kontraknya ke Raka kembali. Raka kemudian menandatangani kontrak yang juga sudah di tanda tangani oleh Zara.
"Jadi aku pesan tiket kan untuk besok? Kalau tiket pulangnya sekalian aja?" Tanya Zara.
"Nggak.. nanti liat kondisi dulu, biar disana aja baru pesan tiket. Saya sudah nggak ada jadwal meeting minggu ini kan?" Tanya Raka.
"Iya sudah nggak ada, minggu depan baru padat lagi." Jawab Zara.
"Oke, ya sudah kalau begitu nggak usah pesan tiket pulangnya dulu." Ucap Raka.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu."
Raka berniat untuk menanyakan kembali pesan yang ia kirim tadi malam, Raka memberanikan diri untuk membicarakan langsung ke Zara.
"Eh tunggu Zara, apa kamu sudah baca pesan yang saya kirim tadi malam?" Tanya Raka.
"Udah kok, udah aku balas juga malah. Apa kamu nggak baca yah balasan pesan aku?" Tanya Zara.
"Hah? Emang iya kamu balas? Kayak nya nggak ada deh, karena saya udah cek handphone saya beberapa kali." Jawab Raka dan kembali memeriksa ponselnya.
"Eh maksud saya karena banyak pekerjaan yang masuk melalui ponsel saya, makanya saya periksa ponsel beberapa kali." Kata Raka lagi.
Raka tidak mau kalau Zara tau dirinya semalaman menunggu balasan pesan dari Zara.
"Hahah.. kalau periksa terus - terusan karena nunggu balasan pesan aku juga nggak papa kok Raka." Batin Zara.
"Oh masa sih? Padahal aku udah kirim loh tadi pagi pas aku baru bangun. Aku kira kamu udah baca dan nggak ngebalasnya lagi. Coba Tunggu aku cek dulu yah di handphoneku. Kata Zara sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya.
Raka tidak sabar ingin melihat balasan pesan dari Zara.
"Ohh ya Ampun, paket data saya habis Raka, makanya nggak ke kirim. Aduh aku lupa kalau hari ini sudah harus isi paket data lagi." Ujar Zara yang masih memeriksa ponselnya.
"Ohh gitu yah. Kenapa nggak pakai WIFI di kantor aja kalau lagi di kantor?" Tanya Raka.
"Emang ada?" Tanya Zara kembali.
"Adalah.. kamu kira kantor ini nggak mampu pasang WIFI yah?" Seru Raka.
"Ih hahaha sensitif banget sih. Aku kan nggak tau kalau ada WIFI di kantor." Jawab Zara sambil tertawa.
Raka tersenyum melihat Zara yang tertawa.
"Aku coba sambungkan yah." Kata Zara sambil menyambungkan wifi di ponselnya.
Triiinggg
Trriingg
Trriingg (suara ponsel Zara)
"Wahh banyak sekali pesan yang baru masuk, ckckck aku harus ngecek paket data aku nih kalau udah mau habis, takutnya ada sesuatu yang penting jadi ketinggalan." Ucap Zara sambil memeriksa ponselnya.
Raka juga memeriksa handphonenya dan segera membaca pesan dari Zara.
"Haii Raka.. Good morning.. maaf yahh, aku baru balas sekarang. Tadi malam aku udah tidur. Iya sama - sama, aku cuma memberikan kamu saran yang menurut aku baik kok. Selebihnya terserah kamu, karena kamu adalah orang yang paling tau diri kamu sendiri."
Raka tersenyum saat membaca balasan pesan dari Zara.
"Udah kamu baca?" Tanya Zara.
"Iyaa udah, sekali lagi makasih yah Zara." Kata Raka lagi.
"Ihh nggak usah makasih - makasih terus. Aku kan nggak ngelakuin apa - apa. Aku cuma memberi kamu saran aja, terus aku cuma minta kamu bisa lebih baik lagi ke orang lain. Tapi kalau kamu nggak mau, ya itu terserah kamu aja. Kamu juga tau yang mana yang baik dan yang mana yang benar." Kata Zara.
"Iya Zara.. akan aku coba yah." Kata Raka lalu duduk kembali di sofanya.
"Pelan - pelan aja. Aku ada di samping kamu." Ucap Zara.
"Hah? Kamu bilang apa Zar?" Tanya Raka.
"Ehmm maksud aku, aku ada di samping kamu untuk selalu memberikan kamu support dan selalu mendukung kamu." Jawab Zara. Zara seketika salah tingkah karena ucapannya sendiri.
Tok tok tok (suara ketukan pintu)
Raka dan Zara bersamaan melihat ke arah pintu ruangan Raka.
"Ehh ada Zara yah? Maaf yah kalau ganggu." Kata Andika dengan gayanya yang sangat santai masuk ke ruangan Raka.
Raka sangat kesal melihat Andika datang di saat yang tidak tepat, mengganggu waktunya bersama Zara.
"Kenapa Andika?" Tanya Raka yang mencoba memasang raut wajah yang baik - baik saja.
"Ini tambahan materi untuk meeting besok. Gue juga harus pergi kan besok?" Tanya Andika sembari memberikan dokumen ke Raka.
"Ah? Oh iya Lo juga harus ikut." Jawab Raka.
"Yess meeting di Bali lagi, asyikk bisa liburan." Seru Andika.
"Kerja, bukan liburan." Cetus Raka.
"Iya, tapikan bisa sambil jalan - jalan gitu." Kata Andika lagi.
"Dan ini meetingnya sama Pak Handoko, kamu tau kan?" Tanya Raka.
"Iya aku tau kok, semoga anaknya nggak ada, biar dia nggak ngegangguin hidup gue dengan berpuluh - puluh teleponnya. Jawab Andika.
"Semoga aja."'
Zara tidak tau apa yang di maskud Raka dan Andika. Zara hanya terduduk diam di sofa.
"Oh iya, Zara juga ikut kan? Ini meeting pertamanya di luar kota?" Tanya Andika lagi ke Raka.
"Iya dia ikut." Jawab Raka.
"Woowww senangnya ada personil baru, nggak cuma gue doang sama Raka. Kalau gue meeting sama Raka di luar kota tuh nggak asyik, soalnya dia nggak mau jalan - jalan. Mageran banget anaknya, nanti gue ajak Lo jalan - jalan Zar, biar nggak bete di hotel terus." Ucap Andika lalu melirik ke Raka.
"Beneran? Iya loh yah? Awas kalau nggak, lagian gue juga baru sekali pernah ke bali, dan itu udah lama banget, udah lupa - lupa ingat." Kata Zara.
"Kan kan? Hahah okeyy Zar, kita emang partner nih hahah." Seru Andika melirik Raka lagi.
"Ingat kita ke sana bukan liburan , tapi kerja." Kata Raka.
"Iyain aja Zar. Hahahha." Kata Andika. Andika senang sekali bisa mengganggu Raka seperti itu.
"Iya - iya, kalau gitu gue permisi dulu deh." Kata Zara.
"Eh mau kemana? Duduk di sini aja dulu, ntar lagi juga udah mau jam istirahat, nggak papa kan pak Bos?" Tanya Andika ke Raka.
"Hmmm." Raka hanya bergumam.
"Tapi gue harus pesan tiket untuk besok." Ujar Zara.
"Oalah nihh.. nggak usaha khawatir gitu, pakai tab gue aja, di situ udah ada data - data gue sama Raka tinggal Lo tambahin aja data Lo. Terus kalau udah nanti tinggal Lo copy, biar Lo nggak kesusahan kalau mau pesan ticket lagi." Jelas Andika sembari memberikan tablet yang di pegangnya dari tadi.
"Ohh iya baiklah kalau begitu, sini Tabnya. Zara kemudian mengambil tablet milik Andika, lalu memasukkan data - datanya untuk pembelian tiga tiket ke Bali.
"Ehh by the way, tadi Lo habis marahin anak baru yah Raka?" Tanya Andika.
"Iyaa. Kerjaan dia nggak ada yang beres." Kata Raka.
"Emang iya? Kayanya sempat gue lihat kemarin udah bener kok." Kata Andika.
"Lo liatnya nggak sampai pekerjaan dia selesai kan? Baru sampai di point ke tiga kan pekerjaan dia kemarin? Masa segitu aja nggak bisa sih. Itu gampang banget loh." Seru Raka.
"Ohh iya juga sih. Tapi apa harus Lo marah lagi sampai segitunya? Gue denger Lo marah banget, mana masih pagi juga." Kata Andika.
"Harus.. karena kalau nggak di marahin, kerjaannya akan selalu seperti itu. Gue nggak mau yah, punya karyawan yang tiap hari harus di marahin hanya karena pekerjaan yang gampang dan sedikit." Jelas Raka lalu berjalan kembali ke meja kerjanya.
"Iya - iyaa.. lagian siapa sih yang terima dia? Untung bukan gue yang interview, kalau gue yang interview bisa - bisa Lo marahnya ke gue lagi. Karena memilih orang yang seperti itu." Ucap Andika.
"Ya kalau bukan Lo, pasti si Prilly. Kan hanya kalian berdua yang gue kasih hak menyeleksi karyawan yang melamar di perusahaan ini." Ucap Raka.
"Iya juga sih hahah.. jangan - jangan tuh anak kenal lagi sama si Prilly. Makanya dia lulus seleksi, biasanya Prilly juga kalau memilih orang nggak pernah salah kan?" Tanya Andika.
"Ah nggak tau lah.. itu urusan kalian. Mana tadi pas gue tanya dia nggak bisa ngejawab apa - lagi. Parah banget." Kata Raka.
"Beneran dia nggak bisa ngejawab?" Tanya Andika.
"Beneran untuk apa gue bohong hah? Kalau memang dia nggak bisa berkembang yah udah lepas aja." Kata Raka.
Zara mendengar percakapan Andika dan Raka, Zara mencoba mengalihkan pembicaraan mereka, agar suasana hati Raka tidak kacau lagi.
"Andika ini gimana yah?" Zara pura - pura bertanya ke Andika.
"Hah? Yang mana?" Tanya Andika kembali.
"Ini kembalinya ke awal gimana?" Tanya Zara menunjuk asal - asalan sambil memperlihatkan tanya kembali ke Andika.
Zara berhasil membuat Andika untuk tidak membahas masalah yang tadi.
====