Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, Zara sudah selesai memesan tiket keberangkatannya besok bersama Andika dan juga Raka. Zara berdiri dari sofa ingin keluar dari ruangan Raka.
“Kalau begitu saya istirahat dulu Raka.” Ujar Zara berjalan ke pintu ruangan Raka.
“Ohh iya.. silahkan.” Ucap Raka.
“Zar tunggu.. Turun aja yuk Zar di kantin.” Ucap Andika sambil merangkul Zara.
“Yuk.. makan di bawah aja deh.” Balas Zara.
Raka geram melihat Zara di rangkul seperti itu sama Andika. Raka berjalan cepat mengejar Zara dan juga Andika
“Tunggu - tunggu. Boleh saya ikut kan?” Tanya Raka tiba - tiba masuk di tengah - tengah Zara dan juga Andika untuk melepas rangkulan dari Andika.
“Hah? Lo mau makan di bawah?” Tanya Andika heran.
“Iya, emangnya kenapa? Nggak boleh? Lo yang punya kantor?” Seru Raka.
“Nggak usah ngegas gitu kali. Gue cuma nanya, Lo kan nggak pernah makan di kantin, terus karyawan yang lain nanti bilangnya apa kalau Lo makan di kantin? Dan Lo mau satu meja sama siapa kalau makan di kantin?” Tanya Andika lagi.
“sama kalian lah.” Jawab Raka dengan santainya.
“Hah? Emang nggak kenapa - kenapa kalau bos makan sama karyawannya?” Tanya Andika.
“Loh nggak kenapa - kenapa apanya? Emang ada larangan yah bos nggak bisa makan satu meja sama karyawannya?” Tanya Zara.
“Tuhh.. jawab tuh pertanyaan Zara.” Ucap Raka.
“Yah nggak ada sih. Tapi kan karyawan taunya kalau Raka itu tipekal orang yang suka menyendiri. Dan selama ini Lo itu nggak pernah makan di restoran kantor. Apa Lo bisa nyaman dengan sikap mereka nanti kalau ngeliat Lo?” Tanya Andika.
“Kenapa gue harus pusingin apa kata mereka sih? Mereka semua itu karyawan gue, dan ini kantor gue. Jadi terserah gue dong mau makan di luar atau di kantor. Gimana sih Lo.” Jawab Raka.
“Ya udah terserah Lo aja.” Ucap Andika.
“Gue beres - beres dulu yah, kalian berdua turun aja duluan. Nanti gue nyusul.” Kata Zara sembari menyimpan dokumen - dokumen yang tadi dia bawa ke ruangan Raka ke meja kerjanya.
“Lah nggak usah. Kita tungguin Lo aja, emang berapa lama sih Lo beres - beresnya.” Ucap Andika.
“Iya - iya.. cepet kok.” Kata Zara sambil merapikan meja kerjanya dan mengambil pouch kecilnya.
Zara, Raka dan Andika berjalan bersama menuju kantin di lantai dua. Zara senang karena Raka mau makan bersama di restoran kantornya. Selama ini Raka sama sekali tidak pernah makan di restoran kantornya sendiri. Karena Raka tidak nyaman kalau ada saja yang menegurnya saat makan.
Ardya, Bella dan juga Prilly sudah terlihat makan di satu meja yang sama . Andika dan Zara berjalan ke meja Ardya, sedangkan Raka lagi memesan makanan duluan.
“Eh eh.. kalian datang sama Raka kan? Itu Raka kan?” Tanya Bella.
“Iyaa.. ntah setan apa yang merasukinya, sampai dia ikut makan di sini.” Jawab Andika.
“Mungkin mau mendekatkan diri sama kalian, kan semalam kalian udah buat dia nyaman berada di dekat kalian.” Ucap Zara yang masih berdiri di samping Andika.
“Wahhh.. bener - bener berubah.” Seru Prilly sambil tepuk tangan.
“Husshhh. Jangan buat sesuatu yang orang - orang melihat ke arah kita. Raka mau duduk di sini, mau gabung sama kita. Nanti ada gosip yang aneh - aneh lagi.” Ucap Zara.
“Gosip apaan?” Tanya Bella menghentikan menyuap makanannya.
“Ntar deh, gue ambil makanan dulu yah. Titip.” Ucap Zara sambil meletakkan pouch kecilnya di meja.
“Iya - iya.”
“Ehh, tungguin Zar.. gue juga mau ambil makanan.” Seru Andika.
“Hayukk.”
Zara dan Andika mangambil makanan bersama, dan mereka berdua terlihat sangat dekat. Lagi - lagi Raka tidak menyukai kalau Zara dan Andika seperti itu.
Raka belum menyadari perasaannya terhadap Zara.
“Ehmm.. boleh duduk di sini?” Tanya Raka ke Ardya, Bella dan juga Prilly.
“Duduk aja.. boleh kok.” Kata Ardya.
Raka kemudian menarik kursi lalu duduk dan meletakkan makanannya.
“Raka.. boleh nanya nggak?” Kata Prillybdengan suara yang pelan.
“Boleh, tanya apaan?” Tanya Raka sambil mengaduk makanannya.
“Kok Lo makan di sini sih? Baru kali ini gue liat Lo makan di resto kantor.” Ucap Prilly.
“Iya Raka, kok tumben makan di sini.” Sambung Bella.
“Kenapa sih? Memangnya nggak boleh yah gue makan di restoran kantor gue sendiri?” Tanya Raka kembali.”
“Yah nggak.. kan selama ini Lo sama sekali nggak pernah mau makan bareng sama kita di sini. Atau kalau Lo pernah makan makanan di resto, Lo pasti nyuruh pelayan untuk anterin ke ruangan Lo.” Ucap Prilly.
“Yah gue pengen aja, pengen mastiin juga kerjaan orang - orang yang di restoran udah bener apa nggak, terus makanan yang mereka sajiin tetap enak apa nggak.” Ucap Raka yang hanya membuat - buat alasannya.
“Ohhh.. gue kirain.”
“Lo kirain apa?”
Tidak lama Raka duduk, ada seorang karyawan wanita yang mendatangi meja Raka.
“Wahh Pak Raka.. Pak Raka baru kelihatan makan di sini, boleh saya duduk di samping bapak?” Kata karyawan wanita yang sedikit kecentilan.
“Nggak Bisa.” Jawab Raka dengan tegas.
“Puuufttt.” Bella, Ardya dan juga Prilly tertawa kecil.
“Loh kenapa pak? Kan masih kosong juga di samping bapak.” Kata Karyawan perempuan yang masih berusaha duduk di samping Raka, dengan gayanya berusaha menggoda Raka.
“Itu tempat saya yah Mba, jadi permisi.” Ucap Andika yang membawa piring makannya dan juga segelas Ice Coffe di tangannya.
“Tuh orangnya sudah datang.” Kata Raka.
“Kan masih satu lagi nih kursinya, pas bangetkan untuk kita.” Kata karyawan perempuan lagi.
“Tempatnya dia tuh. Sini Zara duduk.” Kata Andika menarikkan kursi di samping Raka untuk Zara dudukki.
“Permisi yah.” Ucap Zara.
“Udah Full kan Mba? Mba makan di meja yang lain saja, masih banyak tuh yang kosong.” Kata Andika menunjukkan meja - meja yang kosong itu karyawan perempuan itu.
Karyawan perempuan itu pun pergi dengan wajah yang kesal.
“Hahahha kasian banget sih.” Kata Ardya.
“Husshh.. jangan berisik.” Kata Prilly.
“Lagian dia juga sih, dia tuh jelas banget mau ngedeketin Pak Raka kita yang ganteng ini.” Ucap Bella.
“Ohh, dia tadi mau duduk di sini?” Tanya Zara.
“Iya Zara, tapi nggak di bolehin sama Raka, and dia masih tetap maksa gitu, untung aja Andika datang.” Ucap Ardya.
“Yahhh harusnya dia di kasih duduk aja, gue kan bisa cari tempat yang lain.” Di belakang sini juga nggak papa.” Kata Zara sambil melihat meja yang sudah kosong di belakangnya.
“Apaan sih Zar. Mana mungkin kita biarin orang lain duduk di tempat Lo, dan Lo duduk di meja terpisah sama kita sendirian.” Ucap Prilly.
“Hmmm.”
“Udahh makan ajaa.” Kata Raka melanjutkan makannya.
“Tuh liat baru sehari aja Lo makan di sini, sudah ada aja yang ngincer Lo Raka.” Ucap Andika.
“Raka mah biar nggak makan di sini, udah jadi inceran juga. Siapa yang nggak mau sama cowok yang masih muda sudah jadi bos, dan ganteng pula. Cuma sayang, dia pemarah.” Ucap Zara.
“Ohh jadi Lo mau sama Raka?” Tanya Ardya meledek Zara.
Zara terdiam mendengar ucapan Ardya, dan seketika membeku melihat Raka.
====