Zara masih terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Ardya. Tapi setelah beberapa saat terdiam, Zara akhirnya sadar.
"Hah? Iya gue suka kok. Suka sebagai atasan yang baik. Bagi gue Raka sekarang baik kok, nggak seperti yang orang - orang katakan. Buktinya sejauh ini Raka selalu ngomong dengan baik sama gue." Jawab Zara.
"Yaa jadi intinya Lo suka sama Raka atau suka karena dia atasan yang baik menurut Lo?" Tanya Ardya lagi.
"Yaa suka ajaa, suka sebagai atasan gue." Jawab Zara dengan malu - malu.
"Sayaangg.. berhenti menggoda Zara. Lihat tuh, wajahnya sudah mulai merah." Ucap Prilly.
"Kalian berdua jangan terlalu seperti itu kalau di kantor, nggak enak sama yang lain. Kalian berdua masih saya izinkan berpacaran, tapi kalau untuk menikah salah satu dari kalian haru pindah cabang atau keluar dari kantor, yahh kalau kalian masih di sini sih nanti sampai mau menikah." Ujar Raka sembari menghabiskan makanannya.
"Iyaa gue tau kok, kan gue HRDnya. Tenang aja Raka, gue sabagai HRD akan bersikap profesional kok." Ucap Prilly.
"Tuhhh makanya, jangan jadiin dunia seakan milik kalian berdua, ingat dan lihat kita semua ada di sekeliling kalian kalau kalian romantis - romantisan kayak gitu." Seru Bella.
"Iya - iya.. sorry deh, kita nggak bermaksud seperti itu juga kok." Ucap Ardya.
"Ehh, gue refill dulu yah minum gue, udah habis nih." Ucap Zara.
"Mau gue ambilin Zar? Daripada lo keluar lagi kan dari situ?" Ucap Andika.
"Nggak usah, biar gue aja kok. Kursinya tinggal di dorong juga." Ucap Zara sambil mendorong kursinya dengan pelan memakai kakinya.
Saat selesai makan, Zara kehabisan minumnya. Zara berdiri dan berjalan ke tempat refill minuman. Setelah selesai, karyawan perempuan yang tadi melihat Zara berjalan sendirian.
Guubbbbraaakkkk (suara Zara terjatuh dengan gelasnya yang berisikan ice cokelat dengan campuran ice cream di atasnya.)
Baju Zara yang berwarna pink dusty akhirnya basah dari bahu sampai celana panjangnya.
Raka, Andika, Prilly, Ardya dan juga Bella kaget dan langsung melihat ke sumber suara. Raka yang panik segera berdiri, tapi Andika lebih cepat dari Raka. Andika berlari ingin menolong Zara segera menghampiri Zara. Raka terdiam dan duduk kembali di kursinya.
"Aduuhh maaf yah.. maaf yah Mba Zara.. saya nggak sengaja." Ucap karyawan itu.
Karyawan perempuan itu dengan sengaja menabrak Zara, karena ia kesal menurutnya kursi yang ada di samping Raka tadi adalah tempatnya tapi tidak di izinkan oleh Raka dan Zara bisa segampang itu duduk di samping Raka.
"Zar? Kenapa ? Lo nggak kenapa - kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Andika lalu membantu Zara berdiri.
"Nggak papa kok.. tapi sepertinya baju gue basah deh." Ucap zara sambil melihat bajunya.
"Aduh mba.. mba kalau jalan lihat - lihat dong. Lihat bajunya Mba Zara sampai basah seperti ini." seru Andika.
"Iyaa maaf yahh Pak Andika, saya benar - benar nggak sengaja. Saya jalan sambil megang handphone, saya benar - benar ceroboh, maafkan saya pak Andika, Mba Zara." Ucap Karyawan itu.
"Nggak sengaja apa gimana? Bisa mba jelaskan kenapa mba nggak lihat Zara jalan di depan Mba?" Tanya Andika yang sudah mulai marah. Andika tau kalau perempuan itu tidak tulus meminta maaf karena sudah menabrak Zara.
Bella yang geram melihat karyawan perempuan itu meminta maaf dengan ekspresi yang tidak tulus akhirnya berdiri menghampiri Zara dan Andika.
"Mba sengaja kan menabrak Zara?" Tanya Bella dengan gaya khasnya bertolak pinggang saat berbicara.
"Kok Mba ngomong gitu sih? Untuk apa saya sengaja menabrak Mba Zara? Kenapa saya haru sengaja? Mba kalau ngomong jangan sembarangan dong." Ucap karyawan perempuan itu.
"Terus kalau Mba nggak sengaja, kenapa mba minta maaf seperti itu, nggak ada tulus - tulusnya sama sekali." Ujar Bella.
"Loh memangnya saya harus bagaimana Mba? Saya harus bersujud begitu? Kenapa Mba yang sewot sih? Mba Zara aja nggak ngomong apa - apa." Kata karyawan itu lagi lalu memandang Zara.
"Udah Bella.. aku nggak papa kok, cuma basah aja baju aku." Ucap Zara sambil mengibas - ngibaskan bajunya.
"Tapi Mba ini memang sengaja menabrak kamu Zara, apa Mba marah sama Mba Zara karena Mba Zara yang duduk di samping Pak Raka iya?" Kata Andika dengan nada suara yang mulai meninggi lagi.
"Andika stop.. nggak papa kok kalau memang nggak sengaja, kamu bisa pergi. Oh iya nama kamu siapa? Saya belum hafal semua karyawan yang di lantai tiga." Ucap Raka yang tiba - tiba sudah ada di situ.
"Apasih Pak Raka.. saya hanya berbicara fakta yah." Seru Andika.
"Iya bener." Seru Bella juga.
"Stop yah kalian berdua !!! Oke nama kamu siapa?
Andika dan Bella kaget karena di bentak oleh Raka.
"Nama saya Nabila Pak Raka, saya di departemen keuangan di lantai tiga. Iyaa maaf banget yah. Saya benar - benar nggak sengaja, saya tadi jalan sambil megang handphone dan nggak lihat ada mba Zara di depan saya." Jelas Nabila lalu tertawa di dalam hatinya melihat Andika dan Bella di bentak Raka.
"Ohh Nabila yahh. Hmm, iyaa sudah Nabila, nggak perlu di besar - besarkan. Kamu boleh pergi, lagian Zara sudah maafin kamu kan? Iya kan Zara?" Tanya Raka.
"Iya nggak papa kok, aku juga nggak liat - liat juga tadi pas jalan." Jawab Zara.
"Ehmm makasih yah Pak Raka, kalau begitu saya permisi dulu. Ingat nama saya yah Pak, Nabila."Permisi Mba Zara." Ucap Nabila sambil tersenyum.
"Iyaa."
Nabila pergi sambil tersenyum licik.
"Lo nggak papa Zar?" Tanya Bella.
"Kayaknya si cewek tadi beneran sengaja deh nabrak Lo Zar." Ucap Bella lagi."
"Nahh baru aja gue mau ngomong gitu, dia marah kali sama Lo Zar, soalnya tadikan dia mau duduk di samping Raka, tapi Lo yang duduk di samping Raka. Dan tadi gue liat dia tuh minta maaf kayak senyum - senyum gitu. Nggak ada kayak rasa bersalah sama sekali." Ucap Andika.
Andika, Bella, Zara dan Raka kembali ke meja tempat mereka makan tadi.
"Dia pasti sengaja menabrak kamu Zara, kok kamu nggak percaya sih. Dia sengaja nabrak kamu, karena kamu bisa duduk di sampingnya Raka.
"Ehh iya juga yahh, dia cemburu tuh pasti sama Lo Zar, makanya sengaja nabrak Lo kayak gitu. Atau mungkin juga mau dapat perhatian dari Raka, iya nggak?" Ucap Ardya.
"Masa sih? Kalian jangan berprasangka buruk gitu. Dia emang nggak sengaja kok." Ucap Zara.
"Yah Kita sih cuma nebak - nebak aja sih dari tingkahnya tadi." Ucap Andika.
"Itu namanya bukan nebak - nebak, tapi kalian udah menuduh. Memaksakan banget sih kalian." Kata Raka yang juga kembali ke meja makannya.
"Hmm, tapi Lo nggak papa kan Zar? Nggak ada yang sakit?" Tanya Prilly.
"Gue nggak papa kok. Tapi baju gue basah nih. Mana jam pulang masih lama lagi." Ucap Zara sambil mengibas - ngibaskan kain bajunya lagi.
"Yahh.. iya basah banget ini. Mana kotor juga, Lo ambil ice coklat yah? Duhh nggak bisa ilang ini terus bau juga kalau lama - lama di Lo pakai, harus cepat direndam." Ujar Prilly.
"Gimana yah? Nggak papa sih nggak mau hilang nodanya, yang penting gue ganti baju aja. Nggak nyaman gue kalau kayak gini." Ucap Zara.
"Yahh. Gue nggak ada baju juga di laci gue, baru aja kemarin gue bawa pulang tuh baju baru yang baru gue beli." Kata Bella.
"Aduh gue juga nggak ada.. ohh atau gini aja, Lo ke butik yang di sebelah kantor aja, kan di sebelah butik kan? Butik cewek. Bagus - bagus kok bajunya, Lo ke sana aja. Daripada basah kayak gitu." Ucap Prilly.
"Oh beneran? Ya udah dehh aku coba kesana. ehhmm Raka gue izin dulu yah, ke sebelah nggak papa kan?" Tanya Zara.
"Iya nggak papa, pergi aja." Ucap Raka.
"Kalau gitu gue turun yahh guyss.. kalian naik aja duluan." Ucap Zara sambil mengambil pouchnya yang ada di atas meja.
"Nggak papa Lo sendirian Zar? Atau mau gue temenin?" Tanya Andika.
"Ishhh nggak usah, emangnya gue anak kecil apa. Nggak tau jalan, Lanjut aja kerjaan Lo, masih banyak kan kerjaan lo." Kata Zara sambil berjalan keluar dari restoran.
Zara mencoba terlihat baik - baik saja di depan teman - temannya. Tapi dia sangat malu dengan keadaannya seperti itu di depan Raka. Zara tidak mau terlihat kucel dan kotor di depan Raka.
"Huufftt baru juga masuk, udah dapet musuh aja." Gumam Zara di dalam Lift sendirian.
Di tengah teriknya cahaya matahari, Zara berjalan keluar dari kantor menuju butik yang ada di sebelah kantornya.
Raka yang sudah naik ke ruangannya, terus melihat Zara dari jendela ruangannya yang berada di lantai lima. Raka mengenal orang yang punya butik di sebelah kantornya, dan ia diam - diam menghubungi orang tersebut agar baju - baju yang akan di beli Zara di bayar dengan kartu debitnya. Raka juga tak lupa untuk memesan dan memeri tip agar semua pelayan yang ada di butik bersikap ramah dengan Zara. Dan Saat Zara tiba di butik, Zara di layani dengan sangat baik oleh semua pelayan - pelayan yang ada di butik tersebut. Zara memilih - milih pakaian yang akan di belinya. Dan semua terlihat sangat menggoda di matanya.
"Cantik - cantik banget sihhh. Beli yang lain nggak sih?" Kata Zara sambil melihat satu persatu pakaian yang tertata rapih dalam butik itu.
"Ahh, ngapain sih gue milih - milih, ini kan mau di pakai hari ini aja buat ganti. Kalau milih - milih kelamaan lagi gue di sini. Nanti si Bos keren itu marah - marah nyariin gue hihihi." Gumam Zara pada dirinya sendiri.
Dan saat sampai di kasir Zara kaget karena di beritahu oleh kasir tersebut sudah di bayar oleh Tuan Raka Pratama.
====