Setelah menyapa Andika, Zara berjalan masuk ke dalam rumah Raka. Tidak ada sepatah katapun yang di keluarkan untuk menyapa Raka. Raka juga bergegas menyuruh Andika masuk ke dalam mobil dan mereka berdua langsung pulang.
Ibu Fara yang masih penasaran dengan cerita pertengkaran Raka dan Zara, mencoba bertanya kembali ke Zara.
“Iya.. tantee.. pokoknya tadi Zara di bentak - bentak sama Raka. Kayaknya Raka masih marah banget sama aku deh tante.” Ujar Zara.
“Rak bentak - bentak kamu? Kapan? Kok bisa nak?” Tanya Pak Gibran.
“Iya Paahh.. jadi tadi tuh katanya Zara ngelamar kerjaan di kantornya Raka. Zara nggak tau kalau itu kantornya Raka, kayaknya Raka kaget aja pas ngeliat Zara lagi tadi. Raka dan Zara kan udah jarang ketemu pas kejadian Raka ngelempar bingkai foto milik Zara. Sekalipu ketemu, Raka dan Zara nggak pernah bertegur sapa. Dan yahh meskipun lima tahun sudah berlalu, Raka masih tetap Raka yang dulu Pahh.. dia masih menyimpan amarah yang begitu besar.” Jelas Ibu Fara sambil membuatkan kopi panas untuk Pak Gibran.
“Haaahhh.. sampai kapan anak itu terus - terusan seperti itu? Kenapa tidak ada pintu maaf di dalam hatinya? Kejadian ini sudah bertahun - tahun, tapi dia masih saja seperti itu.” Ujar Pak Gibran.
“Kita juga nggak bisa memaksakan dia harus bagaimana Paa. Mama yakin suatu saat nanti Raka pasti akan memaafkan kita, kita hanya perlu bersabar sedikit lagi.” Ujar Ibu Fara.
“Sabar yah om.. tantee.. banyak - banyak berdoa aja.” Kata Zara sembari memindahkan cake coklat ke wadah Ibu Fara.
“Ehh terus gimana? Apa kamu nggak papa kalau harus bekerja dengan Raka? Tante dengar Raka memanggil kamu kembali, terus kamu jadi sekertarisnya yah? Kamu yakin mau mengambil pekerjaan itu?” Tanya ibu Fara sambil mengambil satu potong cake coklat yang di bawa Zara.
“Apa? Jadi sekertarisnya Raka?” Tanya Pak Gibran Kaget.
“Iya om hehe.. nggak papa kok tante, Zara yakin Zara bisa memahami dan memaklumi sikap Raka. Tante nggak perlu khawatir.” Jawab Zara.
“Aduh Zara.. kalau kamu nggak tahan, kamu cari kerjaan lain aja yah. Tante nggak bisa bayangin kalau sikapnya ke kamu bisa kasar lagi.” Ujar Ibu Fara menepuk pelan pundak Zara.
“Semangat Zara.. om sama tante hanya bisa mendukung kamu.” ujar Pak Gibran.
“Iyaa makasih yah Om.. tantee.. kalau gitu Zara pilang dulu om.. tantee.. mau siap - siap buat besok hehe.” Ujar Zara sembari berdiri dari kursi.
“Oh iya sayang.. ini makasih banyak yahh, selalu aja tante di bawain makanan. Bilang sama mama kamu makasih banyak.” Ujar Ibu Fara.
“Iya tante.. sama - sama.. Zara pamit yah, assalamualaikum.” Kata Zara sembari menyalami tangan Ibu Fara dan Pak Gibran.
====
- KANTOR -
Suasana pagi di kantor sangat berisik sampai Zara menyapa semua karyawan dengan keceriaannya.
“Selamat Pagii... Permisiiii..” Sapa Zara ke semua karyawan yang ada di devisi dekat ruangan Raka.
“Eh.. selamat Pagi.. Loh Lo kan yang kemarin? Yang kemarin di bentak - bentak sama Pak Raka.. kok datang sih? Perasaan kemarin Pak Raka menyuruh kamu untuk tidak datang ke sini lagi deh?” Seru Bela yang sangat blak - blakan.
“Buseeett.. nyerocos aja kayak kereta api. Jaga tuh omongan lo. Ckckck.. Zara maafin yahh, nih anak emanh suka gitu.” Ujar Prilly sambil membekam mulut Bella.
“Hahaha iya nggak papa kok.. gue di panggil kembali semalam sama pak Andika, dan di suruh masuk hari ini.” Jawab Zara.
“Ohh tapi Pak Raka tau kan?” Tanya Prilly.
“Iya tau kok.. Pak Raka sendiri yang suruh Pak Andika untuk manggil gue lagi.” Jawab Zara.
“Wahh hebat.. emangnya ada Lo sama Pak Raka? Gue cuma nanya yah.” Seru Bella.”
“Ishh apaan - apaan sih Lo.. ehh lupa, kita belum kenalan. Kenalin nama gue Prilly, gue manager HRD di sini, kalau ini Bella si bawel. Dia kepala tim kreatif kita. Kalau Lo butuh sesuatu bilang ke gue aja yah.” Ujar Prilly.
“Ohh iyaa.. salam kenal Prilly.. Bella.. semoga kita semua bisa bekerja sama dengan baik yah.” Ujar Zara.
“Good Morniiiingggg.” Seru Ardya dari kejauhan.
“Good morning berissiikk.” Celetuk Bella.
“Wahh ada tiga bidadari nih.. wanita cantik bertambah lagi.” Seru Ardya sambil merangkul Prilly dan juga Bella.
“Hai Zara.. kenalin nama gue Ardya.” Seru Ardya lalu mengambil tangan Zara.
“Haii salam kenal Ardya.. mohon bantuannya yah.” Balas Zara.
Tidak lama kemudian suasana tiba - tiba menjadi hening, semua karyawan yang tadinya masih berdiri dan saling menyapa segera berlarian menuju mejanya masing - masing. Zara kebingungan melihat semuanya berlarian.
"Ehh cabut - cabut yuk." Kata Prilly mengajak Bella.
"Byee Zara.. Kita lanjut ntar yaahh." Seru Bela sembari berjalan menuju ruangannya.
Prilly dan Bella kembali ke ruangannya masing - masing, sedangkan Ardya mempunyai meja khusus di samping ruangan Raka.
“Ohh ternyata si Bos sudah datang toh.” Ujar Zara yang melihat Raka dan Andika berjalan bersama.
“Zara sssttt sini duduk sini dulu.” Bisik Ardya.
“Nggak usah di sini aja. Biar sekalian menyapa mereka.” Ujar Zara sambil melihat Raka dan Andika.
“Ihh nggak us...” Ardya ingin melarang Zara untuk menyapa Raka karena takut kalau Zara kecewa kalau di abaikan oleh Raka.
“Pagi Pak Raka.. Pagi Pak Andika.” Kata Zara sambil melemparkan senyuman manisnya.
“Pagi.” Balas Raka yang langsung berjalan begitu saja melewati Zara.
“Pagi Zaraaaa.. oh udah dateng yahh.. cepet banget datengnya hahahah.” Balas Andika.
“Wahh aura Pak Andika sama Pak Raka beda banget yah.” Bisik Zara ke Andika.
“Beda gimana?” Tanya Andika.
“Kalau Pak Raka horor.. kalau Pak Andika komedi.. puufttt.. bener nggak Ardya?” Tanya Zara sambil tertawa kecil.
“Puffttt bener banget Zara.. hahah. Gue kira Pak Raka nggak bakal ngejawab sapaan Lo, nyatanya di jawab dengan singkat dan padat hahaha.” jawab Ardya berbisik sambil menahan tawanya.
“Andika.. tolong adakan meeting pagi ini, untuk membahas pekerjaan anak baru itu. Lima belas menit lagi saya ke ruang meeting.” Seru Raka dari pintu ruangannya.
“Anak baru itu? Maksudnya gue? Gue kan punya nama. Emang sesusah itu yah nama gue?” Tanya Zara sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Hahahah.. jangan diambil hati, emang suka gitu dia.” Kata Andika.
“Nggak ada hal yang mau di presentasikan kan Dik?” Tanya Ardya.
“Nggak ada kok.. paling Raka cuma mau kenalin kalian sama Zara, terus gimana cara kerja kita di kantor. Zara kan sekarang ini sekertarisnya Raka.” Ujar Andika.
“Kok Lo manggilnya Raka Raka aja sih? Nggak pakai pak gitu?” Tanya Zara.
“Dia udah biasa Zar.. tapi kalau sama kita - kita doang sih.” Jawab Ardya.
“Kita - kita? Maksudnya?” Tanya Zara lagi.
“Iya.. gue, Andika, Prilly sama Bella. Kita semua tuh teman sekolah dulu, tapi yah bukan berarti kita temenan nggak ngehormatin dia yah sebagai atasan. Kita tetap menghormati dia kok, terus kita juga udah pernah bilang ke Raka kalau lagi sama kita semua, manggilnya namanya aja.” Jawab Adrya lagi.
“Ohh gituu.. wahh hebat banget kalian bisa temenan sama Raka dari jaman sekolah. Terus - terus gimana Raka di sekolah? Dulu dia seperti ini juga nggak?” Ujar Zara.
“Ya Ampun.. pertanyaan Lo nggak habis - habis Zar. Udah dulu deh yah, kita mau meeting nih.” Kata Andika.
“Eh hahah maaf yahh, terbawa suasana gue.” Seru Zara.
“Iyaa - iyaa.. Ardya Lo sama Zara ke ruang meeting yahh, temenin Zara dulu. Gue mau siapin yang lain buat meeting.” Ujar Andika.
Meeting pertama yang di ikuti Zara berjalan dengan lancar. Zara di perkenalkan kepada semua karyawan - karyawan yang ada di kantor.
Setelah meeting, Raka memperlihatkan meja yang akan di tempati Zara. Sebagai sekertaris, meja Zara berada tepat di depan ruangan Raka.
====