“Ehh.. nggak usah.. kalian nggak usah anterin kami lagi. Cukup sampai di sini aja.” Kata Raka.
Raka tidak mau terlalu merepotkan Cindy, Putra dan juga Bianca.
“Loh nggak apa - apa Bro.. hitung - hitung ini masih permintaan maaf gue ke kalian. Nggak seharusnya gue berbuat kasar ke kalian saat itu. Dan mungkin juga gue udah di bawah pengaruh alkohol saat itu.
“Udahlah, nggak usah di bahas lagi. Lo udah minta maaf sama kita sampai seperti ini juga sudah kita maafkan, kita juga nggak mau merepotkan Lo.”
Kata Raka.
“Nggak lahh.. gue nggak repot sama sekali kok, gue sama Bianca juga lagi kosong, nggak ada kegiatan apa - apa, jadi biarkan kita temenin kalian untuk jalan - jalan.” Kata Putra.
“Raka.. udah yahh, nggak apa - apa.. terima aja tawaran dari Putra, dia kalau berbuat baik nggak tanggung - tanggung.” Ujar Cindy mengambil tasnya dan berdiri dari kursinya.
“Putra.. gue ke kasir yah minta billnya.” Sambung Cindy lagi.
“Iya Cin.. ntar gue susul yahh.” Ujar Putra.
Putra mengambil dompet dari dalam tas kecilnya, lalu berdiri menyusul Cindy ke kasir. Bianca juga berdiri tetapi dia ingin ke toilet. Tinggal Raka, Zara dan Andika yang masih berada di meja restoran.
“Gimana? Kalian masih ingin di anterin sama Putra dan juga Cindy?” Tanya Raka.
“Ehmm. Apa kamu nggak nyaman yah di anterin sama Putra?” Tanya Zara.
“Gue sih oke - oke aja, kalau dia masih mau nganterin kita yah kenapa nggak. Daripada kita pusing - pusing nyari driver lagi, kan lebih baik diantarin sama mereka.” Kata Andika.
“saya bukannya nggak nyaman sih, lebih ke nggak enak aja. saya kan juga baru kenal sama mereka, sama Putra dan juga Bianca, masa iya kita udah di anterin kemana - mana. Seperti merepotkan orang aja.” Kata Raka.
“Jadi mau kamu gimana?” Tanya Zara.
“Apa kita terima aja?” Tanya Raka kembali dengan melihat ke Andika dan juga Zara.
“Menurut aku sih, sama kayak Andika. Kita terima aja tawaran mereka, kan mereka cuma nganterin kita aja. Tapi terserah kamu Raka, kita sih ikut aja, ia nggak Andika?” Kata Zara.
“Hmmm.. ya udah kalau kayak gitu. Kalian berdua setuju, yah saya juga harus setuju.” Kata Raka.
“Ehh tapi acting kalian sebagai orang yang pacaran tuh keren banget, sampai nggak ada yang curiga.” Seru Andika.
“Haha iya juga yahh.. tapi Cindy kelihatannya masih nggak percaya gitu, dia masih sering memperhatikan apa yang di lakukan gue sama Raka.” Kata Zara.
“Hahah dia bukannya nggak percaya, tapi dia cemburu, cemburu ngeliat Lo pacaran sama Raka.”
“Ehh.. sssssttt.” Raka melarang Andika dan Zara berbicara karena Cindy dan Putra sudah kembali.
“Gimana? Kalian mau kan gue anterin?” Tanya Putra lalu duduk kembali di kursinya.
“Iyaa.. Lo anteri kita aja. Tapi nggak usah bayarin kita lagi.” Jawab Andika yang masih berusaha menghabiskan buah sebagai makanan penutup mulut.
“Iyaa - iyaa.. baiklah kalau itu mau kalian.” Kata Putra.
“Gimana? Udah selesai? Jalan sekarang aja yuk.” Kata Bianca yang baru saja kembali dari toilet.
“Iya kita udah selesai kok.” Kata Zara sambil memakai tas kecilnya.
Akhirnya Raka, Zara dan Andika di antar kembali dengan Putra dan juga Cindy untuk pergi ke tempat buah tangan yang ada di Bali.
Zara menghampiri setiap sudut yang ada di toko itu, memasukkan semua barang - barang pesanan yang di titip oleh teman - temannya. Zara sesekali membuka handhonenya untuk melihat isi chat dari Bella, dan Prilly. Saat sedang asyik berjalan Zara dan Raka bertabrakan di lorong perbelanjaan.
“Ehh.. maaf Raka.” Seru Zara dengan keranjang yang ada di tangannya.
“Nggak.. saya juga nggak liat - liat kalau jalan.” Balas Raka.
“Hehe.. ohh iya kamu nyari apa Raka?” Tanya Zara.
“Ahh saya juga nggak tau harus nyari apa, nggak ada yang saya perlukan dan nggak ada juga yang harus saya belikan untuk orang lain.” Jawab Raka kemudian melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“Hah? Kenapa kayak gitu? Kamu kan punya kedua orang tua yang harus kamu bawain buah tangan. Ayo sini !!! Biar aku bantu pilihin untuk orang tua kamu.” Kata Zara sambil menarik tangan Raka.
“Ehh nggak usah Zara.. nggak perlu kok.” Seru Raka yang pasrah saja di tarik dengan Zara.
“Ihh.. ayoo .. biar aku bantu pilihin.”
Zara membawa Raka ke tempat pakaian - pakaian wanita dan juga pria. Zara mengambil satu baju untuk berwarna abu - abu yang untuk perempuan dan dua lagi untuk Pria.
“Nihh.. coba deh Raka.” Kata Zara sambil meletakkan satu baju di depan badan bidang milik Zara.
“Hah? Kok malah saya yang nyobain?” Tanya Raka kebingungan.
“Iyaa.. ini untuk kamu juga.. ini untuk mama kamu dan ini untuk papa kamu. Biar couplean gituu.. couple keluarga.” Kata Zara.
Zara sangat bersemangat memilihkan baju - baju untuk Raka dan juga kedua orang tuanya.
“Ihh.. nggak.. nggak.. saya nggak mau Zara.” Seru Raka lalu menjauh dari baju yang tadi di tempelkan Zara di badannya.
“Kamu kok jahat sih. Nggak mau terima apa yang aku pilihin. Kalau Cindy liat gimana? Nanti dia berfikir kalau kita bener - bener nggak pacaran karena kamu nggak menuruti kemauan pacar kamu. Hayoo.” Kata Zara mencoba membujuk Raka.
“Tapi saya nggak mau kayak gitu Zaraa.. masa couplean sih sama nyokap dan bokap saya.. nggak - nggak. Kayak anak kecil tau.” Ujar Raka.
“Hmm.. yaudah.. aku kembaliin aja. Maaf yah kalau kamu nggak suka.” Kata Zara dengan memasang wajahnya yang bersedih.
“Ihh apasihh.. iya - iyaa.. sini - sini saya coba, ambil aja semunya nggak usah di kembaliin.” Kata Raka sambil menarik Zara yang sudah mulai berjalan ingin mengembalikkan pakaian tersebut ke tempat pakaian yang tadi ia ambil.
“Beneran?” Tanya Zara yang langsung tersenyum sangat lebar.
“Iya beneran.. nggak mau? Yaudah saya pergi aja.” Kata Raka.
“Ihh iyaa - iyaa.. jangan.. jangan ngambek gitu dong. Tapi beneran di kasih ke orang tua kamu yah, dan kamu juga nanti pakai bajunya. Jangan di beli aja. Yah - yahh.” Kata Zara sambil mendekatkan wajahnya ke Raka.
“Yeeyyyy !!!!”
“Iyaa - iyaa.. sini cepetan.” Raka meminta baju yang dia coba di ruang ganti.
====