Chapter 63

1087 Kata
Baru kali ini Raka membeli baju kaos saat melakukan perjalanan dinas. Selama Raka ada meeting di luar kota, Raka tidak pernah sekalipun membeli barang - barang untuk orang lain. Raka tidak pernah memikirkan orang lain lagi setelah kepergian Rivka adik tercintanya dan Eyang Lili yang sangat ia sayangi. Tapi semenjak Zara mulai hadir kembali di kehidupannya, satu persatu kebiasaan Raka berubah menjadi lebih baik.  Raka keluar dari ruang ganti, lalu berpose di depan Zara.  “Gimana? Bagus nggak?” Tanya Raka sambil memegang ujung baju yang sedang ia pakai. “Bagus, bagus banget.. walaupun cuman baju kaos tapi tetep bagus. Kok bisa yahh.” Ucap Zara berjalan mendekati Raka.  “Ahahahahah.. Raka?? Its that youuu ??? ngapain loh nyobain baju itu? Lo mau beli ? Hahah.” Teriak Andika yang tidak sengaja lewat di depan lorong ruang ganti.  “Ihh kenapa sih Lo? Apanya yang lucu coba? Udah gila yah?” Seru Zara dengan tangannya menepuk pundak Andika.  Raka sangat malu ketika Andika datang menertawainya, Andika tau kalau Raka orang yang tidak pernah membeli baju - baju kaos yang ada di toko oleh - oleh, bukannya Raka tidak suka, tapi Raka orang yang paling malas untuk membeli hal - hal yang seperti itu.  “Hahah.. nggak.. gue heran tau, kenapa Raka nyobain baju itu.. ohh jangan - jangan Lo yahh yang nyuruh Raka nyoba tuh baju?” Tanya Andika sambil memegang pundaknya karena kesakitan di pukul oleh Zara.  “Kalau iya emangnya kenapa? Ada yang lucu?” Seru Zara dengan memegang kedua pinggangnya menantang Andika.  “Hahaha.. Zara dengerin gue baik - baik yahh, Raka itu orang yang anti membeli barang - barang yang seperti ini, Dan tiba - tiba gue ngeliat dia sekarang pakai baju seperti ini, yah gue tertawa lahh.. orang gue nggak pernah liat Raka pakai pakaian seperti ini.” Jelas Andika.  “Ohh.. beneran Raka? Aduhh maaf yahh Raka kalau aku maksain kamu memakai bajunya, pasti kamu nggak nyaman yah? Aku nggak tau kalau selera baju kamu bukan yang seperti ini, aku nggak tau kalau baju kaos seperti ini kamu nggak suka.” Setelah mengatakan semunya, Zara terduduk di kursi di depan ruang ganti.  “Andikaaa !!! Udah pergi sana, gangguin aja.” Seru Raka sambil menarik Andika pergi jauh - jauh dari ruang ganti.  “Hahaha.. apa sih, emang gue salah ngomong yah?” Tanya Andika terus berbalik ke arah Zara yang sudah mulai termenung. “Kamu kenapa? Bukan begitu maksud Andika, dan semua yang kamu bilang tadi nggak seperti itu, saya  suka kok bajunya. Andika ngomong kayak gitu karena kalau saya pergi meeting di luar kota, saya nggak pernah sekalipun membeli barang - barang seperti ini, ehm bukan lebih tepatnya nggak pernah masuk di toko oleh - oleh, karena nggak ada siapa - siapa yang mau saya belikan, bahkan untuk diri saya sendiri juga jarang. Dan kalau Andika ngajakin saya ke toko oleh - oleh pasti saya hanya menunggunya di luar atau di tempat makan. Karena nggak penting menurut saya. Jadi apa yang kamu bilang tadi itu nggak benar semua yah.” Jelas Raka.  “Iyaa Raka.. nggak apa -  apa kok, maaf yahh aku ngomong sembarangan. Terus ini bajunya gimana?” Tanya Zara sambil mengangkat dua lembar baju yang ada di tangannya.  “Yah di beli dong.. masa nggak di beli sih, kan mau di kasih ke mama sama papa saya.” Jawab Raka.  “Saya ganti baju dulu yah.” Sambung Raka lagi lau masuk kembali ke dalam ruang ganti.  Zara tersenyum mendengar apa yang di katakan Raka, Zara tidak menyangka kalau sekarang Raka sudah bisa berbicara dengan nada yang lembut tanpa harus marah -  marah.  “Kamu sudah selesai belanjanya?” Tanya Raka yang sudah keluar dari ruang ganti.  “Belum, masih mau keliling - keliling lagi. Masih banyak yang mau aku beli, titipan Prilly dan Bella.” Jawab Zara.  “Yaudah keliling lagi aja, ini baju saya titip di keranjang kamu yah sama yang kamu pegang itu. Saya kesana dulu.” Ujar Raka sambil menunjuk kafe kecil yang ada di depan toko tersebut.  “Ohh iyaa.”  Raka kemudian keluar tanpa membawa satupun barang belanjaan di tangannya.  “Loh Raka, udah selesai? Kok nggak ada plastik atau apapun yang kamu bawa keluar?” Tanya Cindy yang sedang asyik menyantap moccachino hangat bersama Putra dan juga Cindy.  “Ahh nggak.. barangnya ada sama Zara kok.” Jawab Raka.  “Ngapain Lo nanya sih Cin.. hahaha kan Raka udah punya pacar, dan otomatis karen Zara belum keluar pasti barangnya ada sama Zara.” Seru Bianca.  “Hmm.. iyaa - iyaa.. nggak usah ledekin gue kayak gitu yahh.. awas aja Lo” kata Cindy.  “Duduk di sini aja Bro.” Kata Putra.  “Iyaa gue pesen dulu deh.” Kata Raka lalu berjalan ke counter pesanan yang tidak jauh dari meja mereka.  “Ngomong - ngomong Andika juga belum keluar yah?” Tanya Raka berbalik ke Cindy.  “Belum tuh, banyak yang dia beli kali.” Jawab Cindy.  “Ehmm.. kalian nggak mau pesen apa - apa lagi?” Tanya Raka lalu mengeluarkan dompetnya dari kantong celannya.  “Nggak.. nggak ada kok, ini aja masih banyak.” Kata Cindy lalu menunjuk minuman yang ada di atas meja.  Setelah selesai memesan, Raka duduk di samping Putra.  “Kenapa Lo nggak temenin Zara belanja Raka?” Tanya Bianca.  “Ahh.. emang harus di temenin yah?” Tanya Raka kembali.  “Yah nggak juga sih.. kan biar pacar kamu nggak sendirian, masa di biarin belanja sendirian sih.” Jawab Bianca yang kebetulan duduknya di depan Raka. “Dia bisa sendiri kok, dia kan bukan anak kecil lgi. Saya juga menunggu dia di sini, nggak ninggalin dia kan.” Kata Raka.  “Hahah beda banget yah beb sama kita dulu, dulu kita pas awal - awal pacaran lengket banget, kemana - mana selalu berdua. Kalau  bisa ke toilet berdua, pasti kita juga ke toilet berdua hahaha.” Kata Bianca.  “Ihh apaan sih Lo !!! Jijik banget.” Seru Cindy menjauh dari Bianca.  “Hahahah.. bercanda kali Cin, masa iya sampai ke toilet berdua sih. Kan belum nikah, iya nggak sayang. Hahaha.” Seru Bianca.  “Yahh itu kan kalian, gue sama Zara berbeda nggak seperti kalian.” Kata Raka.  “Dan yang gue tau dari Zara.. dulu Lo ngedeketin Putra tapi tau kalau Putra udah punya Zara kan? Kok bisa sih Lo yang katanya teman Zara sendiri mengkhianati pertemanan kalian karena cowok.” Ucap Raka, membuat Bianca dan Putra saling menatap dan tidak tau harus menjawab pertanyaan dari Raka dengan apa.  ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN