Chapter 39

1319 Kata
Ardya, Prilly, Andika dan juga Bella masuk kembali ingin berkenalan dengan Mamanya Zara dan juga Kakak Zara, Julian.  Raka keluar tanpa mengeluarkan sepatah katapun dengan mereka.  “Permisi tanteee.. wahh tante mamanya Zara yah? Ternyata Zara cantik kayak gini turun dari Mamanya.” Seru Bella.  “Apaan sih Bella.” Kata Zara. “Kamu juga Cantik.” Ucap Julian pelan.  “Apa??” Tanya Bella.  “Oh? Ah nggak kok. Kenalin aku kakaknya Zara. Julian.” Kata Julian menjulurkan tangannya.  Bella membalas tangan Julian dan memberikan senyuman untuk Julian.  “Udahh kali, lepasin tangan temen gue.” Seru Zara.  “Ehh iya maaf.” Kata Julian dengan malu - malu.  Ardya, Prilly dan juga Andika mengenalkan dirinya ke Ibu Nadine dan Julian.  “Salam kenal semuanya.. wah senangnya, Zara punya banyak teman - teman yang baik seperti kalian.” Kata Ibu Nadine.  “Iya tantee.. Zara juga anak yang baik kok.” Kata Prilly.  “Belum lagi, dia masih muda udah bisa jadi sekertaris CEO, mana CEOnya galak lagi.” Kata Bella.  “Hahah.. nggak kok Bell.. mama aku tau kok gimana sikap Raka, jadi dia nggak pernah khawatir soal yang  bgtuan. Mama aku juga akrab banget sama Mamanya Raka, jadi yahh mama tenang aja.” Jelas Zara.  “Enak banget yahh, bosnya tetanggaan hahah.” Seru Prilly.  “Kamu yang itu hari ke rumah kan? Andika kan?” Tanya Ibu Nadine.  “Iya tantee.. aku kira tante ingat dari tadi, makanya aku agak ragu tadi mau kenalin diri lagi hehe.” Kata Andika sambil menggaruk pelan kepalanya.  “Haha.. iya maaf yah tante lupa - lupa ingat.” Kata Ibu Nadine.  “Ehh.. kalian pulang aja, ini udah jam berapa loh. Kalian juga harus bersih - bersihkan?” Tanya Ibu Nadine.  “Iyaa tante.. kita tadi masuk karen kami fikir tante belum datang.” Kata Ardya.  “Iyaa.. ya udah kalian pulang yahh, istirahat. Makasih banyak karena kalian sudah nemenin Zara di sini. Nanti kalau Zara sudah baikkan , kapan - kapan tante ajak kalian makan di rumah yah.” Kata Ibu Nadine.  “Beneran yah tante. Kami tunggu undangannya Loh.” Kata Prilly.  “Iyaa tenang aja, kalian request deh mau makan apa yah?” Kata Ibu Nadine lagi.  “Mama aku jago masak. Dia bisa masak apa aja.” Ucap Zara.  “Asyiiikkk.. tapi terserah tante sih, karena kita semua juga nggak pilih - pilih makanan kok tante.” Kata Bella.  Setelah berbincang - bincang, Ardya, Andika, Prilly dan juga Bella pun pulang. Tersisa Ibu Nadine, Zara dan juga Julian di dalam kamar Zara. “Woii Zar.. tadi yang namanya Bella belum punya pacarkan?” Tanya Julian sambil tersenyum.  “Hahaha.. udah gue duga. Lo suka sama teman gue yah.” Kata Zara.  “Ehhmm.. kayaknya sih. Dia belum punya pacarkan, bantuin gue deketin dia yah.” Kata Julian.  “Iya - iya nanti deh yah.” Balas Zara.  Esoknya, Zara sudah pulang ke rumah. Di dalam kamarnya yang begitu luas, Zara berbaring di tempat tidurnya, melihat ponselnya. Zara menunggu pesan atau telepon dari Raka. Tapi tidak ada pesan atau telepon dari Raka. Zara berinisiatif mengirim pesan duluan ke Raka, untuk memberi tahunya kalau Zara sudah pulang ke rumah.  Sembari menunggu balasan dari Raka, Zara memasukkan pakaiannya ke dalam koper untuk di bawa meeting. Tidak lama kemudian, Raka membalas pesan Zara. Zara melompat ke atas tempat tidurnya, begitu mendengar ponselnya berbunyi.  “Alhamdulillah, syukur deh kalau kamu sudah pulang. Itu artinya kamu sudah bisa beraktivitas kembali lagi. Ingat, jangan terlalu capke lagi atau pun lupa minum air putih. Saya tidak bisa bekerja tanpa sekertaris saya. Dan ingat, besok kita berangkat ke Bali. Sampai bertemu di bandara.”  Balasan pesan Raka membuat Zara tersenyum, meskipun isi pesannya, tidak ada manis - manisnya sama sekali. Tapi Zara sudah sangat senang pesannya di balas oleh Raka.  Zara melanjutkan packingnya untuk ke Bali besok, Zara tidak ingin ada satupun yang ketinggalan.  Setelah packing, Zara turun ke bawah untuk makan malam bersama keluarganya.  Dari tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai satu, Zara bisa melihat ke ruang makannya yang sudah ada Julian, mama dan Papanya.  “Ehh Zar.. sini cepetan.” Panggil Julian.  “Apaan?” Tanya Zara tidak ingin berlari turun ke bawah, karena Zara tau dan malas harus meladeni ke jailan kakaknya.  “Ihh.. cepetan.. gue nggak mau ngejailin Lo tau !!! Ini ada paket makanan, nggak tau dari siapa. Kata orang yang antar katanya ini untuk Zara. Gitu doang.” Kata Julian. “Hah? Beneran? Beneran Maa Paa? Aku juga nggak pesen apa - apaan kok. Terus nggak ada juga yang ngabarin aku kalau mau ngirim makanan. Tanya Zara yang baru saja sampai di meja makan.  “Iyaa beneran ihh.. nggak percaya banget sih sama gue. Fans lo kali !!!”  Julian lagi.  “Beneran sayang.. coba deh kamu periksa lagi, siapa tau ada di dalammya nama pengirimnya.” Kata Ibu Nadine.  Zara mengeluarkan satu demi satu box makanan dari paper bagnya, tapi tidak menemukan nama pengirimnya.  Dddrrrttt dddrrtttt drrrtttt ( tidak lama ponsel Zara berdering )  Ada pesan yang masuk dari Raka.  “Tadi saya singgah makan, terus pesan kamu masuk. Jadi saya pesankan kamu saja, dan keluarga kamu. Di makan, dan salam sama keluarga kamu. Maaf kalau kamu tidak suka makanannya.”  Begitu selesai membaca pesan dari Raka, Zara kembali memperhatikan makanan tersebut.  “Aaaaaaaaahhhhhh.” Teriak Zara dengan senyum merekah di wajahnya.  “ZARAAA !!!! Kenapa sih Nak? Papa kaget tau ih.” Kata Pak Ardani.  “Iya ih apaan sih Lo ??!!! Udah gila yah ???” Seru Julian.  “Hmmm, kalau gini sih mama tau nih. Pasti makanan itu dari Raka kan?” Kata Ibu Nadine.  “Seratus buat Mamaaaa.” Teriak Zara lagi.  “Ya Ampun sayangg.. Papa kira kamu kenapa.. hahaha anak papa ini baru juga di kirimkan makanan udah teriak - teriak kayak gitu.” Ucap Pak Ardani.  “Iyaa ihh lebay banget sih Lo. Udah cepetan buka makanannya, biar gue bisa makan. Laper banget nih gue.” Ucap Julian sambil menarik salah satu box dari tangan Zara.  “Iiihh tunggu dulu, gue mau fotoin dulu terus kirim ke Raka. Biar dia bisa tau kalau makanannya sudah sampai dengan selamat.”  Ibu Nadine dan Pak Ardani saling menatap dan tertawa melihat tingkah Zara.  “Ihhh dasarrr !!! Ya udah cepetan di foto.” Seru Julian.  Zara memotret makanan yang di kirimkan oleh Raka, kemudian mengirimkan fotonya ke kontak Raka dan mengatakan kalau makanannya sudah sampai dengan selamat.  “Udahh nihh.. makan sana, yang banyak.. Biar Lo makin subut tuhh badannya.” Seru Zara sambil memberikan kembali satu box makanan ke Julian.  “Dari tadi kek, baru dikirimin makanan aja sampai kayak gitu.” Seru Julian.  “Biarin.. ihh sirik aja Lo.” Kata Zara.  “Udah - udah.. ayo makan dulu, jangan bertengkar terus.”  “Zara kamu sudah selesai packing?” Tanya Ibu Nadine.  “Iya sudah kok Maa.” Jawab Zara.  “Ingat jangan sampai ada yang ketinggalan dokumen - dokumen kamu.” Kata Ibu Nadine lagi.  “Siap Mama.” Seru Zara.  “Kabarin Papa yah kalau kamu sudah selesai meeting, Papa mau tau hasil meeting pertama kamu di luar kota gimana.” Kata Pak Ardani.  “Siap juga Papa.. papa tenang aja deh, papa kayak nggak tau aja, Zara kan anaknya percaya diri banget ngomong di depan publik. Tenang aja, Zara pasti menghasilkan yang terbaik.” Ting tong ting tong (suara bell rumah Zara) “Siapa yah malam - malam kayak gini?” Tanya Ibu Nadine yang ingin berdiri membukakan pintu untuk tamunya.  “Ehhh Mama biar Zara aja.. Mama lanjutin makannya yah.” Kaya Zara lalu mencuci tangannya.  “Tunggu, biar gue temenin. Ini kan udah malem, kita nggak tau siapa yang datang. Cctv juga lagi rusak.” Kata Julian.  Zara dan Julian berdiri untuk membukakan pintu tamu yang malam - malam datang ke rumah mereka. Dan tamu itu ternyata Ibu Fara Mama Raka.  ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN