Raka kembali ke kamar Zara dengan membawa beberapa kotak makanan di tangannya.
“Hah? Itu semua buat Zara?” Tanya Bella.
“Iyaa.. semuanya.” Jawab Raka.
“Raka emang kamu fikir aku makan sebanyak itu yah?” Tanya Zara.
Zara melihat Raka dengan tatapan keheranan.
“Ya nggak.. saya nggak tau aja kamu sukanya makan apa, jadi saya beliin macam - macam. Kamu makan aja yang kamu suka.” Jawab Raka.
Andika, Ardya, Prilly dan juga Bella saling menatap seakan memberi kode.
“Ohh okeee.. Zara Lo pilih gih mana yang Lo suka, biar kami yang makan sisanya. Kita semua kan juga belum makan dari tadi. Iya nggak guyss?” Kata Andika lalu mengambil semua makanan dari tangan Raka.
“Ehh, tapi kan itu buat Zara.” Seru Raka.
“Aasssyiiikkk makan - makaaannn.” Kata Bella.
Andika, Ardya , Prilly dan Bella tidak ada yang memperdulikan Raka. Andika mempersilahkan Zara memilih makanan yang Zara sukai dahulu.
“Nggak papa Raka.. itu berarti makanan ini rejeki mereka, toh aku juga cuma makan satu porsi. Mereka juga belum makan, dari tadi nemenin aku terus.” Kata Zara.
“Tuuhh.. dengerin tuh Zara.. sini dehh gabung juga sama kita. Lo kan belum makan juga dari tadi, apa Lo nggak laper habis gendong Zara dari kantor?” Tanya Andika yang sengaja meledek Raka.
Raka tidak merespon Andika, ia sibuk melihat Zara yang makannya sangat lahap.
“Raka kamu makan juga gih sama yang lain, jangan ngeliatin aku makan doang.” Kata Zara.
“Ehh, iyaa iyaa.. nggak papa, ntar aja.” Ucap Raka.
“Jangan ntar - ntar, makan sekarang yahh. Andika tolong dong satu kotak untuk Raka.” Kata Zara.
“Nihh makan aja, nggak usah malu - malu gitu. Ini kan Lo semua yang beli. Ayo makan, mau gue suapin?” Kata Andika lagi yang tidak henti - hentinya mengganggu Raka.
“Nggak.. nggak usah makasih. Sini makanannya.” Kata Raka lalu merampas makanan dari tangan Andika.
Akhirnya Zara makan di dampingi Raka yang duduk di samping tempat tidurnya.
“Ehmm Raka.” Ucap Zara pelan.
“Iyaa Zara.” Jawab Raka.
“Kata anak - anak, tadi kamu yah yang memggendong aku di kantor sampai ke rumah sakit?” Tanya Zara.
“Nggak.”
“Nggak?”
“Iyaa nggak gitu.. saya gendong kamu dari depan ruangan aku, masuk ke lift terus sampai parkiran, masuk ke mobilnya Raka, terus sampai rumah sakit aku gendong kamu lagi. Nggak dari kantor sampai rumah sakit, udah pingsan dong saya kalau dari kantor sampai rumah sakit.” Jelas Raka.
“Hahahah.. ternyata kamu bisa bercanda juga yah.” Seru Zara.
“Alhamdulillah.. kamu udah bisa ketawa lagi. Berarti kamu udah nggak kenapa - kenapa.” Kata Raka.
“Aku kan emang nggak kenapa - kenapa Raka. Aku cuma kecapean aja, cuma butuh istirahat aja.” Kata Zara.
“Iya iyaa.. hmm maaf yah kalau tadi di kantor saya buat kamu syok.” Kata Raka pelan.
Andika, Ardya, Prilly dan Bella mendengar Zara dan Raka berbicara. Mereka pelan - pelan meninggalkan kamar Zara, agar Zara dan Raka bisa berbicara lebih leluasa lagi tanpa adanya gangguan dari mereka.
“Hah? Nggak kok.. kenapa juga aku harus syok? Aku sudah liat kamu marah lebih dari itu tau.” Kata Zara.
“Hah? Kapan?” Tanya Raka.
“Lima tahun lalu kan hahah.” Seru zara.
“Ohh ya ampun. Iya juga yah.”
“Iya kan? Jadi gue nggak papa kok, jangan kamu fikir aku sekarang ada di rumah sakit karena syock ngeliat kamu marah - marah tadi di kantor. Nggak kok, aku murni kecapean. Mungkin aku terlalu semangat buat meeting di Bali, jadinya kayak gini deh.” Jelas Zara sambil menutup kotak makanannya yang sudah ia habiskan.
“Hmm iya bagus deh kalau kayak gitu. Sini saya yang bereskan.” Ucap Raka lalu berdiri mengambil kotak makanan Zara yang sudah habis.
“Loh yang lain pada kemana?” Tanya Raka yang baru sadar kalau teman - temannya sudah tidak ada di dalam kamar Zara.
“Hahah.. tadi keluar, katanya mau cari minuman dingin.” Jawab Zara.
“Hah? Kapan? Kok saya nggak denger?” Tanya Raka.
“Kamu terlalu serius ngomong sama aku, makanya nggak sadar kalau mereka keluar.” Jawab Zara.
“Masa sih? Aduh jadi malu saya.” Kata Raka sambil membereskan semua bungkus makanan yang masih ada di meja.
“Raka makasih yah kamu udah bawa aku ke rumah sakit, udah bayarin semua administrasinya dan udah kasih aku kamar VIP seperti ini yang harusnya nggak perlu.” Ucap Zara.
“Iyaa sama - sama. Ini juga emang masuk fasilitas kantor kok, kamu kan jadi sekertaris saya, jadi kamu nggak usah sungkan.” Kata Raka.
“Ohh iya.. apapun itu makasih yah Raka.” Kata Zara lagi.”
“Iyaa.”
Tidak lama kemudian, Ibu Nadine Mama Zara dan Julian kakak Zara sampai di rumah sakit. Julian sebagai kakak yang sangat posesif terhadap Zara, tidak berhenti mengoceh karena Zara bisa pingsan seperti itu.
“Zaraaa !!!” Teriak Julian.
“Ihh salam - salam kek. Dasarrr.” Seru Zara.
“Iya Assalamualaikum.” Kata Julian dan matanya tertuju pada Raka yang sedang berdiri di samping Zara.
“Walaikumsalam.” Jawab Raka.
“Walaikumsalam.. nah gitu dong.. gitu kan bagus.” Ucap Zara.
Raka tidak bisa langsung keluar saat Mama dan kakak Zara datang. Terpaksa Raka hanya berdiri di samping Zara.
“Kamu nggak papa kan sayang? Dokter bilang apa?” Tanya Ibu Nadine sambil mengelus pelan kepala Zara.
“Nggak papa kok mama.. katanya cuma. Kecapean doang, emang sih hari ini Zara juga kurang minum air putih terus lagi banyak kerjaan juga di kantor. Jadi tumbang kayak gini deh.” Kata Zara.
“Lo tuh yahh udah di bilangin harus banyak minum, liatkan sekarang Lo kayak gini.” Kata Julian dengan posisinya bertolak pinggang di depan Zara.
“Iya - iyaa.. gue kan lupa, nggak usah marah - marah gitu deh. Kebisaan banget sih.” Kata Zara.
“Nihh kenalin dulu Raka, bos aku di kantor.” Ucap Zara lagi.
“Lahh ngapain kenalan? Orang udah kenal juga.” Seru Julian.
“Juliaannn???” Kata Ibu Nadine.
Julian menghentikan ucapannya, dan menatap Raka lalu memberikan senyuman mengambang di wajahnya. Zara tertawa kecil melihat sikap kakaknya yang masih ke kanak - kanakan.
“Hai Nak.. makasih yahh udah bawa Zara ke rumah sakit. Maaf kalau Zara ngerepotin kamu.” Ucap Ibu Nadine sambil menjulurkan tangannya ke Raka untuk salaman.
“Iya tante.. nggak kok, lagian saya juga kebetulan masih ada di kantor, jadi harus cepat di tolongin.” Kata Raka.
“Lo udah tau gue kan?” Tanya Julian ke Raka.
“Iya tau kok kak.. sering liat kalau di rumah.” Jawab Raka.
“Isshh kenalan yang resmi dong. Kenapa kayak gitu sih? Julian Raka ini atasan gue tau di kantor, jadi Lo harus sopan kalau ngomong.” Kata Zara.
“ZARA.. gue ini lebih tua yah dari kalian, jadi meskipun Raka atasan Lo di kantor memangnya kenapa? Toh gue juga sopan kok ngomongnya. Benerkan Raka?” Ujar Julian menatap Raka.
“Iya bener kak.”
“Ya sudah.. Nak Raka pulang aja, kan sudah ada kami yang menjaga Zara. Ohh iyaa sekali lagi makasih juga kamu sudah bayarin administrasinya.” Kata Ibu Nadine.
“Iya sama - sama tante. Kalau gitu saya pulang dulu.. Zara cepat pulih yah, saya tinggal dulu.”
“Mari kak.. Mari tante.” Ucap Raka lagi lalu berjalan keluar.
Sebelum sampai di pintu, Andika, Ardya, Prilly dan juga Bella kembali ke kamar Zara.
====