Saat sampai di rumah sakit, Raka berlari dan meminta tolong agar Zara segera di tangani sama dokter. Untung saja sedang tidak banyak pasien di rumah sakit yang harus segera di tangani, Raka sudah sangat panik.
Setelah Zara di periksa oleh dokter, dokter menyatakan kalau Zara hanya kecapean. Dan bisa pulang hari itu juga. Tapi Raka tidak ingin Zara pulang ke rumah dulu, Raka ingin kalau Zara beristirahat dulu di rumah sakit. Zara masih belum sadar, Raka meminta Zara di pindahkan di ruangan VIP yang seharusnya tidak perlu.
“Huhhh syukur dehh, gue kira Zara kenapa - kenapa. Panik banget gue tadi liat kalian lari - larian.” Ucap Bella.
“Iyaa gue juga panik banget huuhh. Tapi kenapa Zara tiba - tiba pingsan? Dan kenapa di kasih kamar? Kan kata dokter dia bisa pulang sekarang?”Tanya Prilly.
“Tuuhh.” Seru Andika melirik ke arah Raka.
“Hah? Puffttt peduli banget kayaknya.” Seru Bella.
Tapi Raka tidak mendengar sama sekali apa yang teman - temannya bicarakan, dia terus menunggu Zara sadar.
“Gue juga heran.” Seru Andika sambil tertawa kecil.
“Tapi dia tiba - tiba pingsan tadi?” Tanya Prilly.
“Iyalahh.. masa di sengaja sih pingsannya.” Jawab Andika.
“Iya sayaaaangg.. Zara tadi lagi sibuk ngeresin barang - barangnya, karena udah mau pulang. Terus kita ajak cerita tadi, ehh tiba - tiba dia megang kepalanya dan terjatuh deh. Untung aku sama Andika lihat. Kalau nggak kepalanya bisa terbentur di lantai.” Ujar Ardya.
“Kayaknya dia syok deh soal kejadian tadi di kantor.” Seru Bella.
“Huussshhh.” Semua menyuruh Bella diam.
“Ih kenapa sih ?” Tanya Bella.
“Ituuu..” Prilly menunjuk Raka yang sudah berbalik ke arah mereka.
Tapi Raka tidak marah atas ucapan Bella, dia malh merasa bersalah kalau memang Zara pingsan karena dia.
Tidak lama kemudian, Zara sadar.
“Gue dimana?” Tanya Zara sambil melihat sekelilingnya.
“Haaahhh?? Gue di rumah sakit? Kok bisa?” Tanya Zara yang langsung bangun dari tidurnya.
“Heii heii tenang dulu. Kamu tadi pingsan di kantor, kata dokter kamu kecapean.” Jawab Raka.
“Terus kenapa ini tangan gue di infus?” Tanya Zara lagi lalu menjunjuk tangannya yang di infus.
“Iya itu vitamin, kata dokter kamu harus istirahat dulu.” Jawab Raka.
“Lohh tapi kan kita ada meeting besok.” Kata Zara lagi.
“Tenang Zara, semuanya udah di atur sama bos kita. Meetingnya di tunda dulu, sampai Lo benar - benar pulih.” Ucap Andika berjalan menghampiri tempat tidur Zara.
“Hah? Lah emang nggak papa? Kan tiket juga udah di beli. Nggak sayang tuh? Gue kan cuma kecapean aja, nggak sakit apa - apa.” Kata Zara lagi.
“Bisa denger aja nggak apa kata saya? Kalau kamu sampai pingsan lagi disana siapa yang repot? Kamu cuma ngerepotin orang aja kalau sampai pingsan di sana. Pokoknya kamu harus di rumah sakit sampai besok atau sampai kamu benar - benar pulih. Saya mau pulang dulu. Mama kamu akan sampai di sini sebentar lagi.” Ucap Raka dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi lalu berjalan keluar dari kamar pasien.
“Kalau yang lainnya sudah nggak ada keperluan apa - apa sama Zara, silahkan pulang saja. Biarkan Zara istirahat, biar bisa kembali bekerja dengan cepat.” Ucap Raka lagi.
Setelah memastikan Zara baik - baik saja, Raka meninggalkan rumah sakit dan membayar semua administrasi Zara. Tersisa Andika, Ardya, Prilly dan juga Bella yang masih menemani Zara di kamar pasien yang cukup besar yang di ambilkan Raka.
“Isshh dia ngomong apaan sih?” Seru Bella.
“Hahahah baru juga gue mau ngomong kayak gitu. Dia perhatian atau gimana sih hahah atau alasan doang ngomong biar cepat kembali bekerja hahha lucu banget sih tuh bos kita.” Kata Prilly.
“Hahaah gue aja yang di ajak ngomong nggak tau dia ngomong apaan. Nggak ada titik komanya tau nggak, nyerocos aja. Kayak ada yang ngeburu dia hahah.” Ujar Zara.
Bella mengambilkan Zara air putih yang sudah di sediakan Raka di dalam kulkas di samping tempat tidur Zara.
“Minum dulu Nih Zar.” Kata Bella sambil membukakan air botol untuk Zara.
“Makasih yah Bell.” Kata Zara lalu meminum air yang diberikan Bella.
“Ehh ehh Zar.. lo harus tau, tadi Raka loh yang gendong lo sampai ke rumah sakit.” Seru Prilly. berlari mendekati Zara.
“Hah? Beneran? Dari kantor? Kok bisa? Bukannya terakhir gue sama Lo yah Adrya? andika?” Tanya Zara.
“Iyaa beneran dari kantor.” Jawab Bella karena Bella yang melihat Raka berlari dengan wajah paniknya.
“Raka langsung keluar dari ruangannya waktu gue sama Ardya teriak. Elo sih bikin panik.” Kata Andika sembari memutar TV yang ada di kamar Zara.
“Ya ampun.. kenapa bukan Lo aja sih yang gendong gue? Atau Lo Ardya. Kenapa harus Raka?” Tanya Zara.
“Nahh itu dia. Tadi Lo itu pingsan di tangan gue tau nggak. Eh tiba - tiba Raka keluar terus ngambil Lo, dan gendong Lo. Gue sama Andika di suruh siapin mobil. Ya kita refleks aja sih tadi hahah iya nggak Dik?” Jelas Ardya.
“Iyaa bener.. sampai di rumah sakit kita semua baru sadar kalau yang paling panik tuh Raka Zar. Padahal Lo kan cuma kecapean kata dokter, dokter malah nyuruh Lo pulang tau nggak sih hari ini. Tapi Raka malah ngomong kalau Lo harus istirahat dulu. Makanya dia ngambilin kamar sebesar ini buat Lo, padahal nggak perlu kan?” Jawab Andika.
“Iya sihh.. mungkin dia takut gue bakalan lama sakit atau gimana, gue kan harus ikut dia meeting.” Ucap Zara.
Tidak lama kemudian Raka kembali ke kamar Zara.
“Kalian kok masih di sini?” Tanya Raka. Raka membawa beberapa macam makan di tangannya.
“Yah kita temenin Zara lah.. Lo nggak liat apa orang tuanya belum datang???” Bentak Prilly.
“Lo sendiri katanya mau pulang, kok balik lgi sih?” Tanya Bella.
“Iya, ngapain balik lagi?” Tanya Ardya.
“Gue bawain Zara makanan, gue tadi ketemu dokter di bawah, kata dokter Zara harus makan. Makanya gue ke balik lagi bawain dia makanan.”
====