Zara tidak memperdulikan orang - orang yang menatapnya. Zara menegakkan badannya dan berjalan dengan penuh percaya diri.
Tok tok tok (suara ketukan pintu)
“Iya masuk Zara.” Ucap Raka.
Zara masuk dengan wajah sedikit kesal.
“Kerjaan yang tadi saya berikan apa sudah selesai?” Tanya Raka.
“Iya sudah Kok, ntar saya copykan yah.” Jawab Zara.
“Nggak usah, kamu kirim melalui email aja. Kamu bisa pulang sekarang.” Ucap Raka.
“Loh tapikan ini belum jam pulang, masih setengah jam lagi. Kamu juga mengusir aku dari kantor?” Tanya Zara.
“Hah? Nggak.. saya liat wajah kamu lesu sekali. Jadi kamu nggak papa pulang sekarang, lagian kamu juga harus mempersiapkan dokumen - dokumen penting untuk meeting pertama kamu di luar kota besok. Jadi jangan mengecewakan saya, dan pulang saja sekarang untuk beristirahat.” Kata Raka.
“Ohh ya ampun aku kira. Kamu juga mengusur saya dari kantor karena masalah tadi.” Ucap Zara.
“Hmm.. kamu duduk dulu.. kita bicara sebentar.” Ucap Raka berdiri dari meja kerjanya, dan berjalan ke sofa.
Zara dengan wajah yang lesu duduk di sofa, berhadapan dengan Raka.
“Maaf kalau tadi sikap saya terlalu berlebihan.” Ujar Raka pelan.
“Kenapa minta maaf, itu semua kan memang hak kamu. Jadi kamu nggak perlu minta maaf.” Kata Zara.
“Hmm.. kamu mau minum?” Tanya Raka.
“Nggak.. aku tadi habis minum juga kok di ruangan Prilly.”
“Ohh okee.”
Raka berdiri menuju kulkas kecil di samping meja kerjanya.
“Apa kamu memang kalau marah seperti itu yahh?” Tanya Zara.
“Seperti bagaimana?” Tanya Raka kembali.
“Yahh gitu.. menyeramkan.” Jawab Zara sedikit tersenyum.
“Puufftttt.” Raka kaget sampai menyemburkan sedikit minumannya.
“Hahahha.. maaf yahh, aku sampai membuatku kaget. Itu cuma pendapat aku aja sih, soalnya kan aku baru pertama kali melihat kamu marah. Dan ternyata benar apa yang di katakan orang - orang kalau kamu marah berubah jadi monster.” Ucap Zara sambil tertawa.
Brrrrraaaakkkk (Andika mendobrak pintu)
“Apaan - apaan sih Lo? Kenapa maun dobrak aja, kalaunya rusak gimana?” Seru Raka.
“Sorry sorry.. gue denger Lo habis marah - marah yah di bawah? Kenapa lagi sih Raka?? Gue kan udah bilang buat kurang - kurangin amarah Lo.” Ucap Andika bertolak pinggak di depan Raka.
“Zara kamu bisa keluar sekarang, dan silangkan kamu pulang yah.” Ucap Raka.
“Hah? Lo kenapa Zara? Lo sakit? Mau gue anterin pulang?” Tanya Andika sambil duduk di samping Zara.
“Gue nggak papa Andika.. udah yah gue pulang dulu. Sampai ketemu besok di bandara.” Ucap Zara sambil berdiri dari tempat duduknya.
Andika sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Andika tidak mengizinkan Zara untuk keluar dulu dari ruangan Raka.
“Eiitsss eeitss.. mau kemana? Lo di sini dulu, ceritain semua yang terjadi tadi. Karena Lo juga ada di bawahkan tadi?” Tanya Andika ke Zara.
“Aduuhh ngapain sih Lo mau tau, nggak penting juga buat Lo, ngapain udah sana kembali bekerja. Mau gue potong gaji Lo, karena buang - buang waktu untuk hal yang nggak penting?” Seru Raka berdiri dari sofanya.
“Ini penting buat gue tau, biar gue bisa nasehatin Lo lagi dan lagi.” Ucap Andika.
“Nggak perlu, gue udah nggak perlu di nasehatin lagi sama Lo. Gue udah pu—“
“Lo udah punya? Udah punya orang yang peduli sama Lo? Siapa?” Tanya Andika sambil melirik Zara.
Zara juga menunggu jawaban dari Raka, tapi Raka tidak melanjutkan kalimatnya, karena Raka belum siap untuk memberitahu Andika kalau sekarang ia sudah punya Zara, yang selalu menasehatinya. Meskipun Zara juga tidak tahu kalau orang yang akan disebut oleh Raka adalah dirinya.
“Zara kamu keluar sekarang, nggak perlu mendengarkan ocehan dari orang ini. Ingat semua dokumen yang harus kamu bawa. Jangan sampai ada yang ketinggalan.” Ucap Raka.
“Okeeyy.. kalau gitu saya permisi yahh.. Andika gue duluan yah.” Ucap Zara.
Zara keluar dari ruangan Raka, tapi Andika mengejar Zara.
“Byee Raka.. Zara tungguuu !!!” Teriak Andika.
“Andikaaaa !!!!” Teriak Raka.
Tapi Andika mengabaikan Raka, Andika sengaja tidak mendengarkan Raka dan cepat - cepat berlari keluar dari ruangan Raka.
“Kenapa lagi sih Andika?? Gue mau pulang nih.” Seru Zara.
“Hahaha gue penasaran tau apa yang terjadi tadi.” Kata Andika yang sudah duduk manis di kursi Zara
“Gue juga penasaran Zar.. ceritain dong.” Seru Ardya yang mendengar ucapan Andika.
“Aduuh Andika Ardyaa.. kalian nih yahh kayak perempuan aja.. tukang gosip.” Kata Zara sambil membereskan barang - barangnya di atas meja.
“Kita kan peduli sama kalian berdua, jadi kita pengen tau Zaraaa.” seru Ardya.
“Iyaaa nanti dehh yahh, atau ntar gue telepon kalian semua deh di grup buat ceritain detailnya, gue mau pulang nih gue capek banget deh kayaknya.” Ucap Zara.
Di tengah - tengah percakapan mereka, Zara tiba - tiba memegang kepalanya dan terjatuh pingsan di lantai.
“Ehh Zar.. Zaraaa !!! Lo kenapa heiii ??!!!” Ardya segera berdiri dan memegangi Zara sambil menepuk - nepuk pipi mungil Zara.
“Zaraaa !!! Aduuh kayaknya dia beneran kecapean dehh.” Seru Andika.
“Ardya cepet kita bawa ke rumah sakit.” Kata Andika lagi.
Raka yang mendengar teriakan Andika dan Ardya, langsung keluar dari ruangannya.
“Hah? Kenapa Zara? Ada apa?” Tanya Raka.
“Nggak tau tiba - tiba pingsan.” Jawab Ardya.
Raka segera mengambil Zara dari Ardya dan menggendong Zara.
“Ardyaaa Andikaaa.. ayo cepat kita bawa ke rumah sakit, terserah pakai mobilnya siapa, ayoo cepetannn !!!!” Teriak Raka.
“I iiyaa iyaa.. Andika pakai mobil gue aja.” Ardya cepat - cepat mengambil kunci mobilnya dan berlari menyusul Raka.
Raka menggendong Zara sampai ke Loby, semua orang menatap Raka yang sangat khawatir akan keadaan Zara.
“Ehhh kenapa Zara ?? Hah??” Tanya Bella.
“Dia pingsan Bella.. nyusul ke rumah sakit aja yahh, kasih tau Prilly juga.” Seru Ardya. Ardya berlari mengejar Raka yang sudah menunggu di depan pintu kantor.”
Zara pun akhirnya di bawa ke rumah sakit terdekat, Raka terlihat sangat khawatir dengan keadaan Zara.