Chapter 55

1137 Kata
Raka mengetuk pintu kamar Zara untuk memastikan apakaha Zara sudah bangun atau tidak. Karena Raka mencoba menghubungi handphone Raka tapi tidak bisa ia hubungi.  "Guysss kayaknya teleponnya udah dulu yahh, gue mau selsesain mandi, Raka kayaknya udah nyariin gue deh." Kata Zara.  "Yahh.. tapi kan cerita Lo belum selesai Zara.. gantung banget nih."' Seru Bella.  "Hahaaha ntar deh gue hubungin kalian lagi yah. Tapi apa yang gue ceritain barusan udah hampir semua kok." Kata Zara.  "Ya udah Zar, lo mandi aja dulu.. nanti Si Macan marah lagi sama Lo, karena nggak menjawab panggilannya di luar." Kata Prilly.  "Hahah.. iya ntar gue hubungin lagi. Oh iyaa, pesanan kalian yang mau kalian titip, kirim chat ke gue lagi yah.. sapa tau ntar gue bisa singgah beliin kalian." Kata Zara.  "Okeyy Zara.. jangan sampai lupa pesanan gue yah, pokoknya itu wajib Lo beliin gue, nanti gue yang hubungin Raka deh, biar Lo ke sana dulu buat beli pesanan gue.” Kata Prilly.  “Kamu pesan apa sih sayang sampai wajib gitu?” Tanya Ardya.  “Ada deh.. mau tau aja deh.” Jawab Prilly.  “Hahaha iyaa - iyaa.. udah dulu yahh.. byee guysss.” Zara kemudian menutup sambungan teleponnya, dan bergegas menyelesaikan mandinya. Zara mengecek handphonenya dan ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Raka.  Raka menghentikan ketukan pintu di kamar Zara, karena mengira Zara masih tidur.  Setelah Zara mandi, Zara menghubungi Raka dan memberitahu kalau dirinya sudah bangun dan baru saja selesai mandi dan bersiap - siap untuk jalan - jalan.  Raka pun kembali ke depan pintu kamar Zara.  Tok tok tok…  “Iyaa tunggu sebentar.” Teriak Zara.  Sebelum Zara membukakan pintu Zara kembai bercermin di cermin besar yang berukuran satu badan. “Okeyy sudah cantik.. waktunya ketemu Raka.” Gumam Zara pada dirinya sendiri.” Zara pun membuka pintu kamarnya untuk Raka.  “Selamat Pagi Rakaaa.” Seru Zara. “Ahh selamat pagi Zara.. sudah siap?” Tanya Raka. Raka berdiri di depan pintu kamar Zara, wajah yang bercahaya dan penuh ketampanan membuat Zara salah tingkah menatap Raka.  “Iyaa sudah.. yuk mau kemana?” Tanya Zara. “Kita ke pantai dulu yuk, mumpung masih belum terlalu panas.” Jawab Raka.  “Bolehh.. tapi Andika mana?” Tanya Zara.  “Dia ada di loby, udah nungguin kita dari tadi. Ohh iya kita sarapan dulu yah di bawah sebelum berangkat.” Kata Raka sambil menekan tombol lift.  “Ohh iyaa.. aku juga sudah lapar banget banget ini.” Kata Zara.  “Haha iyaa - iyaa.” Seru Raka.  Terlihat Andika yang sedang duduk sendiri sambil bermain handphone.  “Andika sarapan yuk.” Seru Zara.  “Hahaha.. ini udah jam berapa kalian baru mau sarapan? Gue udah sarapan tadi, kelamaan kalian.” Jawab Andika.  “Hahah santai aja dong. Kita kan tadi malam tidurnya lama, makanya baru bangun.” Jawab Zara.  “Iyaa kitaaaa.. mentang - mentang tadi malam tidur berduaan.” Seru Andika.  “Andika ihh apaan sih.. ini bukan yang seperti Lo fikir yahh? Awas aja lo sampai ngomong sembarangan. Gue hajarlo !!!” Kata Zara sambil mengepal tangannya.  “Hahah santai aja dong.. gue udah tau semuanya dari Raka, nggak usah ngegas !!! Udah sana sarapan !!! Gue udah nggak sabar nih keliling Bali lagi.” Seru Andika.  Raka dan Zara pun akhirnya masuk ke ruang makan untuk sarapan pagi. Zara mengambil beberapa menu  untuk dia coba.  “Banyak sekali Zara.. kamu makannya emang banyak begitu yah?” Tanya Raka.  “Hahah nggak.. ini kan satu - satu macam, aku mau coba semuanya karena kayaknya semuanya enak - enak deh. Kita makan coba sama - sama yah haha.”Jawab Zara.  “Yahh.. jangan sampai saya yang harus menghabiskan semuanya.” Kata Raka sambil mengambil satu tusuk sate dari piring yang di ambil Zara.  “Hahah nggak kok, aku yang makan semuanya, tapi kamu juga makan.” Kata Zara lagi sambil mengunyah makanannya.  “Iyaa - iyaa.. makan gih. Nanti Andika masuk ke sini marah - marah karena kita terlalu lama sarapannya.” Kata Raka.  “Biarin aja.. aku belum pernah liat Andika marah kok. Sekali - sekali kita buat Andika marah. Hahaha.” Seru Zara.  “Haha bisa aja sih kamu. Kalau Andika tuh emang nggak pernah marah, dia bukan marah tapi ngoceh.” Kata Raka.  “Hahah.. kayak emak - emak dong tukang ngoceh.” Kata Zara sambil menikmati satu demi satu makanannya. “Bener hahaha.” Seru Raka sambil tertawa.  “Ehmm.. baru kali ini aku liat kamu tertawa seperti itu Raka.” Ucap Zara sambil menatap Raka.  “Ah? Masa sih? Berarti kamu orang yang berhasil membuat saya tertawa seperti ini.” Kata Raka lalu berdiri mengambil juz buah yang sudah di sediakan. “Ih apaan sih tuh orang.. udah di buat melayang malah pergi begitu aja. Apa dia nggak ngerasain apa - apa yah pas ngomong kayak gitu? Keseelll.” Gumam Zara pada di dirinya sendiri.  Raka pun kembali, dan di susul oleh Andika.  “Kalian belum selesai makan?” Tanya Andika.  “Ehhh buseettt !!! Lo makan sebanyak itu Zara?” Tanya Andika yang melihat ada beberapa piring di depan Zara.  “Ihh berisik.. malu tau di liatin orang.” Seru Zara sambil menundukkan kepalanya.  “Hahahah.. sorry - sorry.. habis gue kaget ngeliat bekas makanan sebanyak itu.”  Balas Andika.  “Zara mau mencoba semua jenis makanannya, makanya banyak kayak gitu.” Kata Raka yang membawa dua gelas juz buah di tangannya. “Buat gue yah?” Tanya Andika.  “Buat Zara lah.. ngapain buat Lo, kan Lo udah tadi.” Jawab Raka lalu memberikan satu gelas juz di tangan Zara.  “Hahaha.. ambil sendiri aja kenapa sih, jangan kayak  orang susah deh.” Seru Zara lalu meminum juz yang di berikan Raka.  “Mau di ambilin jugaaa.” Seru Andika dengan memasang wajah manisnya di depan Raka.  “Ihhh jijik hahahah. Kenapa sih Lo Andika? Sana deh ambil sendiri.” Teriak Zara sambil tertawa.  Raka sedikit tidak suka melihat kedekatan antara Zara dan Andika. Tapi Raka tidak punya hak sama sekali untuk melarang Zara dan Andika untuk menjaga jarak. Raka belum menyayikini perasaannya yang tumbuh saat ini untuk Zara.  “Kita mau kemana nih ntar?” Tanya Andika.  “Kata Raka kita ke pantai dulu kan yah? Kan belum terlalu panas juga.” Jawab Zara.  “Mobilnya gimana?” Tanya Raka.  “Ohh iyaa.. udah kok, udah gue urus tenang aja. Kita tinggal berangkat, dan ngasih tau drivernya kita mau kemana aja. Dan juga katanya drivernya tau semua jalan ke tempat Yang akan kita tuju. Tinggal di sebutin aja.” Jawab Andika.  “Widiihhh.. Andika emang the best dehh pokoknya.”  seru Zara. Ddrrrrrtttt drrrtttt drrrtttt (suara ponsel Raka)  Handphone Raka berdering dan itu dati Cindy. Andika dan Zara yang melihat kalau itu Cindy, langsung menatap Raka yang juga kaget dengan panggilan masuk Cindy lagi. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN