Chapter 56

1120 Kata
Raka ragu - ragu untuk menjawab telepon dari Cindy.  “Kenapa nggak Lo blokir aja sih Raka? Gue dari kemarin udah blokir nomor Cindy.” Seru Andika.  “Gue nggak bisa. Kenapa juga harus gue blokir? kita masih ada urusan pekerjaan, jadi nggak usah di blokir.” Jawab Raka.  “Ya kan cuma sampai kita kembali ke Bandung, nggak selamanya juga kan di blokir. Lagian Lo mau terus - terusan di ganggu sama dia. Kita di sini mau kerja, dan juga mau liburan. Bukannya mau pusing ngurusin dia. Udahlah blokir aja dulu.” Kata Andika.  “Coba aja di jawab dulu Raka, mungkin ada sesuatu hal yang penting yang ingin Cindy sampaikan.” Kata Zara.  “Hahah sumpah kalian berdua ini kok sama aja sih. Ngapain juga di jawab Zaraaaaa?? Please yahh kalau kalian berdua masih mau berurusan sama Cindy, lebih baik gue jalan - jalan sendirian tanpa kalian berdua.” Kata Andika.  “Ngambekkam yah Lo sekarang.” Kata Raka yang terus melihat handphonenya berdering. “Nggak gitu Andika.. kita cuma mau atau aja apa yang mau dia sampaikan. Gue sendiri juga sudah momblokir nomornya Cindy kok, terus nomornya Putra juga udah gue blokir. Kita dengerin aja dulu apa yang mau di katakan oleh Cindy.” Jelas Zara.  “Beneran Lo udah blokir Cindy dan Putra?” Tanya Andika.  “Iyaa beneran.. nih liat, untuk apa gue bohong sih.” Jawab Zara sambil memperlihatkan handphonenya ke Andika.  “Bagus deh.” Kata Andika.  “Gue jawab telepon dari Cindy dulu yah.” Kata Raka lalu berdiri dan menjauh dari Zara dan juga Andika untuk menjawab telepon dari Cindy.  “Kenapa harus ke sana sih? Kan bisa ngomong di sini. Apa seprivasi itu pembicaraan mereka?” Gumam Zara.  “Hahaha kenapa Lo? Cemburu?” Tanya Andika.  “Ihh bukan cemburu.. tapikan kita juga mau tau apa yang Cindy katakan.” Kata Zara.  “Kita? Lo aja kali, gue nggak haaha.” seru Andika sambil tertawa terbahak - bahak.  “Nggak lucu. Lebih baik gue habisin makanan gue daripada denger Lo ngomong tau nggak.” Kata Zara yang kemudian mengambil lagi makanan yang masih tersisa di meja makannya. “Hahaha.. gitu doang ngambek.” Seru Andika. Sementara itu, Raka sudah mendapat tempat untuk duduk dan menjawab telepon dari Cindy.  “Halo. Ada apa lagi sih Cindy?” Kata Raka.  “Kok gitu sih ngomongnya.. huuhhh akhirnya kamu ngejawab telepon aku juga. Kamu dimana sih Raka? Kamu belum balik ke bandung kan? Aku minta maaf Raka,  aku tau kalau semalam aku salah, aku minta maaf.” Kata Cindy.  “Iya saya sudah maafkan, udah kan?” Kata Raka.  “Ihh tunggu dulu, pleasee kita ketemu dulu sebelum kamu pulang. Aku juga mau minta maaf sama Zara dan juga Andika. Aku janji aku nggak akan ngerepotin, atau membuat kalian marah lagi. Please kita ketemu dulu Raka.” Kata Cindy.  “Gini yah Cindy.. saya, Andika dan Zara udah maafin kamu, dan mereka juga udah nggak mau ketemu sama kamu. Ehh nggak sih, bukan nggak mau, tapi mereka nggak ada mau. Andika sama Zara mau jalan - jalan, mereka nggak mau di pusingkan lagi sama sesuatu yang harusnya nggak akan jadi masalah.” Jelas Raka lalu duduk di kursi sekitar taman hotel.  “Iyaa - iyaa.. aku nggak akan membuat masalah. Atau gini aja, gue sama supir gue anterin kalian jalan - jalan deh. Biar aku yang membawa kalian ke tempat - tempat wisata yang ada di bali. Kamu kasih tau aja ke Zara dan juga Andika. Kalau penawaranku kurang, bilang juga ke mereka kalau ada sesuatu yang mau mereka berdua beli, biar gue yang bayarin.  Ini sebagai tanda permintaan maaf gue. Gue sadar atas apa yang terjadi kemarin malam, please kita ketemu dulu.” Kata Cindy.  Cindy meyakinkan Raka agar Raka mau bertemu kembali dengan dirinya.  “Gimana yah Cindy..” kata Raka.  “Atau gini aja deh.. biar aku yang ngomong ke Andika dan juga Zara kalau kamu nggak mau ngomong.” Kata Cindy lagi.  “Hmm.. baiklahh.. kalau begitu tunggu sebentar.” Kata Raka.  Raka berjalan kembali memasuki restoran hotel. “Lama banget sih.” Seru Andika yang melihat Raka berjalan belum sampai di meja makan mereka.  “Kenapa Raka?” Tanya Zara.  “Ini Cindy mau ngomong sama kalian.” Kata Raka sembari menaruh handphone di depan Andika dan Zara dengan mengaktifkan mode speakernya.  “Apa - apaan sih Lo?” Tanya Andika berbisik yang hanya di dengar oleh Raka dan juga Zara.  “Dengerin aja.” Kata Raka.  Zara juga menatap Raka dengan tatapan kebingungan.  “Halo.. Andika.. Zara..” Kata Cindy.  “Mau apa lagi sih Lo? Belum puas sama keributan yang temen Lo buat itu?” Tanya Andika. Wajah Andika benar - benar sudah tidak mood mendengar suara Cindy.  “Andika.. Zara.. gue minta maaf atas apa yang terjadi kemarin malam. Maaf kalau ada kata - kata gue yang nggak berkenan sama kalian kemarin malam. Tapi apa kalian nggak mau maafin gue? Bukan gue kan yang membuat semua itu terjadi. Jadi pleasee, maafin gue. Gue minta maaf soal kata - kata gue yang menyinggung kalian.” Jelas Cindy.  “Sebelum itu.. gue mau nanya dong ke Lo Cindy.” Kata Zara.  “Iyaa nanya aja Zara.”  “Kenapa kemarin malam Lo pakai ngejodohin gue sama Putra, sedangkan Lo sendiri tau kalau Putra udah punya pacar. Dan Lo juga tau kan kalau Putra ngedeketin gue lagi?” Tanya Zara.  “Ya ampun Zara.. ternyata tingkat kepercayaan diri Lo tinggi juga yah. Zara gini yahh, apa Lo anak kecil yang di jodoh - jodohin kayak gitu? Gue tuh cuma bercanda aja kok. Lagian Putra juga nggak serius buat ngajakin Lo balikan, apa Lo denger kata - kata dia yang serius buat ngajakin Lo balikan? Nggak ada kan? Kenapa Lo percaya diri banget sih hahah. Dan kemarin malam, Putra juga udah ngajakin pacarnya datang kok. Pas kalian udah balik pacar Putra baru aja datang.” Jelas Cindy.  Zara terdiam menderngar semua yang di katakan Cindy. Zara memikirkan kata - kata Cindy yang sangat benar. Zara sangat malu mendengar semua ucapan Cindy, dan dengan penuh percaya dirinya lagi, Zara bertanya tentang hal itu ke Cindy. Zara tidak tahu harus menyimpan di mana mukanya saat itu. Zara benar - benar malu dengan semuanya, apalagi ada Raka yang mendengar penjelasan dari Cindy.  “Halo? Zara? Lo denger apa yang gue bilang kan?” Tanya Cindy. “Ah iyaa gue denger kok. Iyaa, gue udah maafin Lo kok.” Kata Zara yang salah tingkah benar - benar menahan malunya.  “Ahhhh kenapa gue nggak mikir sejauh itu sih?? Aduuh mau di taruh dimana nih muka gue, kenapa gue kepedean begini siiiihhh !!!! Ahh rasanya mau kabur aja dari sini.” Batin Zara.  ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN