Chapter 57

1104 Kata
Zara benar - benar malu sudah bertanya sesuatu hal yang tidak seharusnya ia tanyakan ke Cindy.  “Okee .. kalau gitu nggak ada kesalahpahaman lagi kan di antara kita?” Tanya Cindy.  “Ahh iyaa.” Jawab Zara. “Jadi kalian semua masih ingin bertemu gue dulu kan?” Tanya Cindy lagi.  “Mau ngapain lagi sih ketemu sama kita? Memangnya masih ada yang harus kita bicarakan? Nggak ada kan? Masalah pekerjaan semua sudah beres.” Ucap Andika.  “Andika Lo kenapa sih? Lo kayaknya marah banget sama gue, kenapa sih? pleaseee, gue mau manebus kesalahana gue sama kalian. Gue janji akan membuat kalian bete, gue udah nyuruh supir gue untuk anterin kalian kemana aja. Dan kalau perlu gue bayarin semua apapun yang kalian mau beli di sini.” Kata Cindy.  “Kenapa Lo jadi tiba - tiba baik begini?” Tanya Andika.  “Yah karena gue tau gue salah, gue takut kalau kesalahan gue membuat Raka nggak mau lagi bekerjasama dengan perusahaan bokap gue. Dan juga kalau bokap gue tau apa yang terjadi tadi malam, dia pasti akan marah lagi sama gue.” Jelas Cindy.  “Ohh jadi maksud Lo ini sebagai tanda tutup mulut begitu?” Tanya Andika. “Yahh nggak juga Andika.. kalaupun bokap gue tau, setidaknya gue udah minta maaf sama kalian dan gue udah di maafin sama kalian. Karena bokap gue pasti nggak mau kalau membuat kalian marah gara - gara gue. Dan gue masih ingin berteman dan belajar sama kalian.” Jawab Cindy.  Zara dan Raka mendengarkan perdebatan antara Andika dan juga Cindy sambil menghabiskan makanan mereka yang tinggal sedikit lagi.  “Udahlah Andika.. terima aja ajakan Cindy.. lumayankan, apa yang mau Lo beli di bayarin sama Cindy.” Ucap Raka.  “Tuhh, Raka aja udah mau. Masa Lo nggak mau sih Andika.” Kata Cindy.  “Kamu mau kan terima ajakan Cindy kan Zar?” Tanya Raka berbisik.  “Ah iyaa, aku sih terserah kalian aja.” Jawab Zara.  “Oke Fine. Tapi Lo bayarin apa yang gue mau beli, gue punya uang sendiri kok.” kata Andika.  “Beneraannn? Asyiiikkk.” Seru Cindy. “Tapi tunggu ada syaratnya.” Kata Andika.  “Apa syaratnya Andika?” Tanya Cindy.  “Lo harus kasih tau ke temen Lo itu yang namanya Putra kalau dia harus minta maaf sama kita semua, jangan lari dari kesalahannya.” Kata Andika.  “Ohh okeeyy.. ntar gue suruh dia ikut juga, kirim alamat kalian yah, biar gue kesana sama supir gue. Byeeee.”  “Eehh eehh kok Putra di suruh datang juga sih?” Seru Zara.  Cindy langsung menutup sambungan teleponnya.  “Lohh kenapa Putra di suruh datang juga sih Andika?” Seru Zara kembali.  “Emangnya kenapa Zara?” Tanya Andika.  “Gue nggak mau ketemu dia lagi Andika.. huufffttt.” Jawab Zara . “Tapikan dia harus minta maaf sama kita, dia juga harus memperbaiki kesalahannya, jangan melarikan diri seperti itu.” Kata Andika.  “Tapi sebenarnya kan Putra juga nggak melarikan diri, buktinya kemarin mereka datang nyariin kita. Tapi kitanya yang menghindar.” Kata Raka.  “Iya juga sih.. tapi gimana dong, Cindy pasti udah ngasih tau ke Putra, buat dia di suruh datang juga.” Kata Andika.  “Bisa kasih tau Cindy aja nggak sih, bilangin kalau nggak usah nyuruh Putra juga ikut. Aku nggak mau ketemu dia lagi.” Kata Zara menatap Raka.  “Iyaa - iyaa.. tunggu bentaran coba saya hubungin Cindy kembali.” Kata Raka sembari mengambil handphone di atas meja.  Raka kemudian menghubungi cindy kembali, tapi ternyata Cindy sudah memberi tahu Putra bahkan juga Putra sudah di jalan menuju ke hotel yang di tempati Raka. Mau tidak mau Zara harus bertemu dengan Putra.  “Zara.. katanya Cindy udah ngasih tau ke Putra, dan Putra katanya langsung mengiyakan apa yang di beritahukan oleh Cindy. Bahkan Putra sudah menuju ke sini.” Kata Raka.  “Zara.. maafin gue yahh.. gue juga tadi asal ngomong aja ke Cindy. Bagaimana ini?” Tanya Andika.  “Nggak apa - apa kok.. udah terlanjur juga. Yah gue harus hadepin aja.” Kata Zara.  “Ada saya kok.. kamu tenang aja yah.” Kata Raka pelan.  “Ah, iyaa.” Jawab Zara malu - malu. Zara, Raka dan Andika keluar dari restoran dan menunggu Cindy dan juga Putra datang.  “Gue ke kamar gue dulu yahh. Ada yang gue ambil.” Kata Zara sambil berdiri dari tempat duduknya.  “Ohh iyaa Zar.” Kata Andika.  Raka berdiri di depan hotel menunggu Cindy dan juga Putra.  Tidak lama kemudian Cindy dan Putra datang hampir bersamaan. Raka yang melihat mobil Cindy, segeranm berjalan menghampiri Cindy, dan masuk ke dalam mobil Cindy.  “Raka, kok masuk duluan? Zara sama Andika mana?” Tanya Cindy dari dalam mob. “Saya akan keluar lagi, saya cuma mau bilang sama kamu, kalau tolong hari ini jangan membuat hal - hal yang menjengkelkan ataupun merugikan saya, Andika dan juga Zara. Karena mereka berdua adalah tanggung jawab gue, jadi kalau sampai mereka kenapa - kenapa karena kamu. Saya nggak bakalan pernah lagi untuk berhubungan dengan kamu lagi. Dan saya akan benar - benar memblokir semua kontrak kamu.” Kata Raka.  “Iyaa Raka iyaa.. aku janjii.. aku nggak akan merepotkan semuanya. Okey? Udah puas? Udah sana panggil Zara dan Andika suruh cepetan.” seru Cindy.  “Terus Putra Mana?” Tanya Raka.  “Mungkin lagi parkir mobil.” Jawab Cindy.  “Tolong kamu juga beri tahu Putra, tolong jangan membuat Zara kepikiran lagi dengan tingkah laku Putra. Tolong.” Kata Raka.  “Iyaa Raka.. ntar yah aku kasih tau ke Putra. Biar di bisa menjaga sikapnya lebih baik.” Kata Cindy.  Andika dan Zara pun keluar dengan tas kecil yang masing - masing bergantung di leher mereka. Raka juga sudah keluar dari mobil Cindy. Raka tidak mau kalau Andika dan Zara tau kalau dirinya baru saja berbicara dengan Cindy. Karena Raka tidak mau kalau mereka berdua merasa kalau Raka repot karena mereka. “Haii Zara.. Andika. Udah siap?” Tanya Cindy.  “Iyaa udah.” Jawab Zara.  “Ya udah yuk masuk, kita langsung jalan aja.” Kata Cindy yang berdiri di depan mobilnya.  “Putra gimana?” Tanya Andika.  “Tuh Putra di dalam mobilnya.” Jawab Cindy.  “Nggak turun dulu?” Tanya Andika. “Kayaknya mau turun kok, karena dia matiin mobilnya.” Jawab Cindy.  Dan akhirnya seorang perempuan keluar dari mobil Putra, dan perempuan itu adalah kekasih Putra yang dulunya menjadi selingkuhan Putra. Detak jantung Zara menjadi sangat kencang saat melihat perempuan itu. Raka yang melihat raut wajah Zara yang pucat, langsung memegang tangan Zara, seolah mengatakan tenang saja karena Zara sedang bersamanya dengan dirinya.  ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN