Di pinggir kolam yang di penuhi suasana yang sejuk, membuat Raka duduk dengan sangat nyaman.
“Aku tahu apa yang kamu Rasakan Raka, kamu bileh menangis kalau kamu mau menangis, jangan di tahan - tahan. Okey?” Kata Zara yang berusaha membuat suasana hati Raka tidak sedih lagi dengan memainkan air di kakinya.
Raka menarik nafas panjang, tapi tangisannya tidak bisa ia bendung lagi. Akhirnya Raka mengeluarkan satu demi satu tetes air mata dan membasahi pipinya.
“Nggak apa - apa Raka, menangis lah.. ada aku di sini yang siap menemani kamu.” Ujar Zara.
Tiba - tiba Raka menyenderkan kepalanya di bahu mungil milik Zara dan membuat Zara kaget, jantungnya berdetak sangat cepat karena deg - degan tidak menyangka Raka bisa menyenderkan kepalanya di bahu Zara.
“Saya pinjam bahu kamu sebentar yah Zara.”
“Lama juga nggak apa - apa kok.” Ucap Zara. Zara menahan nafasnya sedikit demi sedikit karena tidak tahan berada di dekat Raka sedekat itu.
Raka menangis di pundak Zara, baru kali ini lagi Raka merasakan kenyamanan. Rasanya sangat nyaman berada di dekat Zara.
Beberapa menit Raka menyandarkan kepalanya di pundak Zara, tanpa berkata apa - apa.
Dddrrrrttt dddrtttt drrrttt. (Ponsel Raka tiba - tiba berdering)
Mengagetkan Raka dan juga Zara, Raka lekas bangun dan memeriksa ponselnya. Cindy menghubungi Raka, saat itu Raka tidak menjawab telepon dari Cindy, Raka menyimpan ponselnya di sampingnya dan mengabaikan telepon dari Cindy.
“Kok nggak di jawab Raka?” Tanya Zara sambil melirik ke ponsel Raka.
“Dari Cindy.” Jawab Raka.
“Ohh, emang kenapa kamu nggak mau menjawab telepon dari Cindy? Apa segitu mengganggunya dia yah?” Tanya Zara.
“Nggak juga sih, tapi saya malas aja. Nggak tau kenapa dia suka banget sama saya. Dia nggak malu - malu buat nunjukin kalau dia suka sama saya.” Jelas Raka.
“Hahah kenapa harus malu untuk mengakui perasaan sih Raka, dia kan mau nunjukin ke kamu kalau dia emang suka sama kamu.” Kata Zara.
“Iya sih tapi kan nggak gini juga, Cindy kalau tau kita ada di sini dia bakalan gangguin waktu saya terus di sini.” Kata Raka.
“Hmmm boleh liat fotonya nggak Raka? aku penasaran sama orangnya.” Kata Zara.
Raka mengambil ponselnya dan mencari foto yang bersama Cindy.
“Yahh nggak ada foto bareng dia, kayaknya saya nggak simpan deh foto yang ada dianya.” Jawab Raka yang masih mencari - cari foto Cindy di Ponselnya.
“Yahh.. ohh di profil kontaknya aja, pasti dia pasang fotokan?” Kata Zara lagi.
“Ohh iya bener juga. Ehh, tapi Cindy menelpon lagi.” Kata Raka memperlihatkan ponselnya.
“Hahah parah banget, udah berapa kali dia nelvon?” Tanya Zara.
“Nggak tau nih, udah puluhan kali.” Jawab Raka.
“Di coba angkat aja, siapa tau pentingkan ? Siapa tau berhubungan sama pekerjaan.” Kata Zara dengan penuh semangat.
“Nggak ah, nggak usah.” Kata Raka.
“ pleasee “ kata Zara dengan mata yang berbinar - binar.
“Okeyyy.”
Raka kemudian menjawab telepon dari Cindy. Raka mengaktifakn mode speaker agar Zara bisa mendengarnya apa yang di katakan oleh Cindy.
“Akhirnya kamu angkat juga, seengak mau itu yah kamu berbicara dengan aku?”
“Ada apa Cindy?” Kata Raka sambil menatap Zara.
“Kok ada apa sih? Kan kita mau meeting, kenapa sih susah banget angkat telepon aku. Aku tuh kangen banget sama kamu, kok kamu gitu sih. Selalu nyuekin aku.”
“Puuffttt.” Tiba - tiba Zara tertawa mendengar ucapan Bella.
“Maaf.” Kata Zara berbisik. Raka hanya menangguk menatap Zara lalu ikut tertawa pelan.
“Hah? Siapa itu? Kamu lagi sama perempuan lain yah? Pantas aja kamu nggak mau angkat telvon aku , kamu sekarang udah berubah yah Raka.”
“Cindy.. dengerkan apa yang akan saya bilang baik - baik yahh. Memang siapa kamu kalau saya lagi sama perempuan lain? Apa urusannya dengan kamu? Dan lagi sejak kapan saya pernah menjawab telepon kamu. Kamu itu hilang ingatan atau bagaimana sih.”
“Raka kamu taukan kalau aku tuh suka banget sama kamu, aku kurang apa sih Raka ? Kenapa kamu nggak mau membuka hatimu untuk aku ? Aku kurang apa Raka?”
“Cindy heii.. kita nggak bisa memaksakan untuk orang lain suka sama kita, kamu juga nggak ada kurangnya, kamu baik, kamu pintar, kamu cantik, tapi saya yang nggak bisa sama kamu. Kamu bisa mendapatkan laki - laki yang lebih baik dari saya. Jadi tolong berhenti mengganggu saya, setiap kali saya datang kesini. Saya di sini hanya untuk bekerja, tidak lebih.” Jelas Raka.
“Kenapa sih? Apa perempuan yang lagi sama kamu itu yang sudah mengisi hati kamu? Kamu udah suka sama dia iya?”
“Dia sekertaris saya Cindy, kamu jangan ngomong sembarangan !!!” Raka mulai marah.
“Loh kok kamu marah? Kalau kamu nggak suka yah tinggal bilang aja, nggak usah pakai nada tinggi seperti itu.”
“Ah sudah yah, saya rasa tidak ada yang harus kita omongin lagi. Saya tutup teleponnya.” Raka sudah siap untuk menekan tombol mematikan telepon pada ponselnya.
“Eh eh ehh, tunggu dulu kenapa sih buru - buru banget. Kirimkan kontak sekertaris kamu, saya harus kenalan sama sekertaris kamu.”
“Untuk apa sih?” Tanya Raka lalu menatap Zara.
“Kok untuk apa? Saya kan harus berhubungan langsung sama sekertaris kamu.”
“Nggak apa - apa, kasih aja kontak aku.” Bisik Zara.
Raka mengernyitkan keningnya, bermaksud bertanya ke Zara, apa Zara yakin akan memberikan nomornya ke Cindy.
“Iyaa nggak apa - apa Raka.” Bisik Zara lagi.
“Halo?? Rakaa?? Kok nggak di jawab sih.”
“Nggak usah, sama Andika aja.” Kata Raka.
“Loh kok sama Andika, kan tadi kamu bilang perempuan yang di sebelah kamu itu sekertaris kamu, kenapa jadi Andika lagi sekarang?”
“Yahh dari pada kamu ganti - ganti kontak di ponsel kamu, lebih baik hubungin Andika aja terus. Toh Andika juga masih ikut meeting kok.” Kata Raka berbalik dan mengeluarkan kakinya dari dalam kolam renang.
“Tapi kan yang jadi sekertaris kamu bukan Andika, kenapa saya masih harus berhubungan sama Andika? Gimana sih cara kerja kamu? Kok nggak profesional begini. Lebih baik aku tanya papa aku aja deh, biar meetingnya di batalin dan kontrak kerja sama kita juga di batalin.”
“Ihh tuh kan, kasih aja.” Bisik Zara, Zara kemudian mengeluarkan kakinya juga dari dalam kolam dan duduk bersila di pinggir kolam renang sambil menatap Raka.
“Ya sudah batalkan saja kalau kamu bisa meyakinkan papa kamu, papa kamu lebih percaya sama saya.”
Cindy sebenarnya tidak bisa membatalkan kontrak meskipun Ia membujuk Papanya, karena Papa Cindy tau kalau Cindy selalu bekerja tidak profesional, selalu mengatas namakan orang tuanya.
“Ihh kok gitu, jangan kasih aja.” Bisik Zara lagi.
“Halo halo Mba Cindy, kenalkan saya Zara sekertaris Pak Raka.” Zara merampas telepon dari tangan Raka.
“Zaraaa.” Ucap Raka pelan tapi menatap Zara tajam karena Zara tiba - tiba merampas ponselnya.
“Ohh halo Zara, salam kenal. Tolong yah Lo save nomor gue ini di ponsel Lo kalau Lo nggak mau karena hanya karena Lo nggak mau memberikan nomor ponsel kamu, kontrak kerja sama perusahaan Raka dan papa aku di batalkan. Jangan sampai Lo salah pilih.”
“Iya Mba Cindy, saya akan segera menghubungi Mba Cindy pakai ponsel saya sendiri.” Kata Zara lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celana pendeknya yang ia kenakan.
“Zaraaa, kamu yakin?” Tanya Raka lagi.
“Iya aku yakin Raka. Kenapa sih? Toh cuma ngasih kontak doang.” Bisik Zara.
“Okey, mana Raka? Gue masih mau ngomong sama Raka.”
Zara kemudian memberikan ponsel Raka kembali ke tangannya.
“Apa lagi? Belum puas? Sekertaris saya sudah mau memberikan kontaknya, terus kamu mau apalagi?”
“Lahh, kontaknya sekertaris kamu nggak penting - penting banget kok. Aku kan cuma mau ngomong sama kamu, kalau urusan sama sekertaris kamu, yah itu nanti aja.”
“Apaan sih sudah nggak jelas banget. Sudah yah, saya mau istirihat dulu.” Kata Raka. Raka sudah mulai eneg mendengar ocehan dari Cindy.
“Okeyy see you to ninght Rakaaa. Aku udah nggak sabar ketemu kamu.”
Zara langsung mematikan sambungan teleponnya, tanpa membalas ucapan Cindy yang terakhir.
“Zara kamu apa - apaan sih? Kok kamu mau ngasih nomor kamu? Kalau kamu di terror terus gimana?” Tanya Raka.
“Kalau kamu nggak mau aku di terror yah kamu tinggal angkat telepon Cindy kan Raka? Nggak ada susahnya kan?” Tanya Zara kembali.
“Tapi—“
“Tapi kenapa? Kamu terganggu yah sama sikap dia?” Tanya Zara lagi.
“Siapa yang nggak terganggu kalau sikapnya seperti itu Zara? Kamu denger sendiri kan tadi? Dia ngomong udah kayak ngelantur tau nggak sih.” Kata Raka.
“Hahah iya - iyaa.. tapi tenang aja, aku terbiasa kok meladeni orang - orang seperti Cindy. Kamu tenang aja, aku bisa mengatasinya, nggak usah khawatir okeyy?” Kata Zara meyakinkan Raka.
“Tapi kan—“
“Nggak usah tapi - tapian, toh cuma di telepon - telepon doang kan? Yah tinggal di matiin aja ponselnya, nggak usah aktifkan handphone aku juga nggak apa - apa kok.” Kata Zara.
“Tapi kalau orang tua kamu nyariin kamu gimana?” Tanya Raka.
“Nanti sebelum aku matiin handphone aku, aku kasih kabar dulu ke mereka, ceritain semuanya dulu, biar mereka bisa mengerti. Gampang kok Raka.”
“Hmmm Zaraa.” Ucap Raka.
“Udahh deh, tenang aja okeyy. Aku masuk dulu yahh, mau istirahat sebentaran. Kamu juga gih, masuk istirahat dulu. Jangan duduk sendirian di situ.” Kata Zara lalu berdiri dari pinggir kolam renang.
“Iyaa sebentar saya masuk, saya nggak sendirian kok. Banyak orang tuh baru mau berenang.” Kata Raka.
“Kan kamu nggak kenal.” Seru Zara lagi sebelum masuk ke dalam kamarnya.
“Kenalan aja kalau nggak kenal.” Kata Raka lalu tertawa kecil.
“Ihh dasar hahahah.” Seru Zara.
“Udahh sana , masuk. Istirahat, jangan sampai ketiduran yang lama yah.” Kata Raka lalu memasukkan kembali kakinya ke dalam kolam renang.
“Siap Pak Bos.” Seru Zara sambil memberi hormat ke Raka.
====