Chapter 45

1188 Kata
Zara masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Zara melemparkan badannya di kasur yang berukuran king size.  “Huufftt istirahat dulu deh. Masih ada dua jam sebelum meeting.” Gumam Zara pada dirinya sendiri.  Tidak lama kemudian ada pesan masuk di ponsel Zara.  Dddrrrttt drrrrtttt drrrtttt (getaran ponsel Zara) Zara melihat dengan setengah matanya yang terbuka karena sudah sangat mengantuk.  “Halo sekertaris barunya Raka.. salam kenal yah Zara, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Jangan lupa save nomor gue di ponselmu.”  Ternyata isi pesan dari Cindy, tapi Zara mengabaikannya karena tidak ada yang perlu di jawab dan juga Zara sudah sangat mengantuk.  Zara menghabiskan waktunya yang tersisa dua jam sebelum meeting untuk tidur siang.  Raka yang memang tidak terbiasa untuk tidur siang, akhirnya memutuskan untuk berjalan - jalan sendirian di sekitar hotel.  Raka menghampiri satu demi satu toko souvenir yang berada di pinggir jalan. Dan Raka menemukan satu hal yang sangat unik di matanya yaitu sepasang sendal kayu yang ukirannya sangat cantik. Raka terfirikirkan kaki mungil Zara, jika Zara memakainya pasti akan sangat cocok. Pikir Raka. Akhirnya Raka membeli sepasang sendal tersebut untuk di berikan ke Zara. Setelah berjalan - jalan, Raka kembali ke hotel dengan memegang kantongan plastik berwarna putih yang berisikan sendal yang baru saja ia beli untuk Zara.  “Dari mana Lo?” Tanya Andika yang kebetulan baru saja keluar dari kamarnya dari pintu belakang menuju ke kolam renang.  “Jalan - jalan.” Jawab Raka dengan singkat, padat dan jelas.  “Sendirian?” Tanya Andika lagi.  “Ya iyalah sendirian, lo nggak liat apa gue sendirian di sini?” Ketus Raka.  “Santai aja kali hahah.. terus apa yang ada di dalam kantong plastik itu?” Tanya Andika lagi.  “Ihh banyak nanya banget sih Lo. Mau tau aja urusan orang.” Kata Raka lagi.  “Ih hahah kenapa Lo, gue kan cuma nanya. Kalau nggak mau di jawab ya udah sih nggak apa - apa juga.” Kata Andika.  “Lo sendiri ngapain di sini?” Tanya Raka.  “Bersanti dong.” Jawab Andika.  “Kok Lo bersantai sih? Ini kan udah jam berapa. Lo nggak mandi apa pergi meeting?” Tanya Raka.  “Lahh gue sudah mandi tau, Lo nggak liat baju gue udah ganti. Dasar Lo sok tau banget Lo.” Ucap Andika sambil melihat ponselnya.  “Siapa tau aja kan Lo belum mandi, lo kan suka gitu. Nggak mandi.” Ucap Raka.  “Enak aja. Ehh Raka.. kok ini tumben udah jam segini nggak ada telepon ataupun pesan dari Cindy? Biasanya kan kalau udah dekat mau meeting dia ngespam gue lagi.. ntah itu telepon atau pun Chat. Waahh sepertinya dia udah menemukan laki - laki yang tepat Raka. Dan dia idan move on dari Lo. Wahhh selamat yaahh Raka, akhirnya Lo terlepas juga dari cewek gila itu.” Kata Andika yang tidak berhenti berbicara.  “Andika stop. Iya Cindy memang sudah menemukan orang baru.” Ucap Raka pelan.  “Tuh kann. Akhirnyaaaa.”  “Cindu udah menemukan pengganti Lo.” Ucap Raka sambil duduk di kursi tidur di samping Andika.  “Hah? Maksud Lo?” Tanya Andika.  “Iya maksud gue, pengganti Lo. Lo mungkin nggak akan pernah di hubungin lagi sama Cindy. Tapi Zara yang akan di telepon berulang kali sama Cindy.” Jelas Raka.  “Hah? Kok bisa? Nggak Lah !! Dia kan nggak tau nomornya Zara. Kenalan aja belum.” Ucap Andika.  “Tadi udah di kasih tau sama Zara sendiri.” Jawab Raka.  “Hah? Tadi? Kapan? Ngomong yang jelas Raka.” Tanya Andika lagi.  “Jadi tadi gue sama Zara lagi duduk di pinggir kolam ini, terus gue lagi asyik - asyiknya ngoborol sama Zara, ehh tiba - tiba ponsel gue berdering dan itu telepon dari Cindy.. terus Cindy nggak sengaja mendengar suara dari Zara. Gue ngasih tau kalau Zara sekertaris gue yang baru, Daaann Cindy minta nomer ponselnya Zara. Dan lagi seperti itu lah akhirnya hmmm.” Jelas Raka.  “Kok di kasih sih nomornya dan kenapa juga Lo bilang kalau Zara itu sekertaris Lo yang baru?” Tanya Andika. “Nahh itu dia yang gue sesalkan. Tapi biar gue nggak bilang juga pasti bagaimanapun Caranya Cindy akan berusaha untuk mendapatkan nomor ponsel Zara.” Ucap Raka.  “Huufftt iya juga sih. Cindy kan emang anaknya kayak gitu. Dia kan berusaha terus sampai mendapatkan apa yang dia inginkan meskipun caranya selalu salah. Terus gimana dong? Pasti di ponsel zara sekarang udah banyak banget tuh spam teleponnya ataupun pesan - pesan dari Cindy.” Ujar Andika sambil menepuk jidatnya.  “Lo udah ketemu sama Zara?” Tanya Raka.  “Belum tuh, gue baru aja nih keluar dari kamar gue. Masih tidur mungkin si Zara.” Jawab Andika.  “Lo coba bangunin dia deh, gue mau mandi dulu. Siapa tau aja dia ketiduran. Ini udah mau magrib juga.” Kata Raka sambil berjalan menuju pintu kamarnya. “Hmm okey deh.. gue ke kamarnya dulu.” Kata Andika.  “Ehh Lo nggak udah masuk di kamarnya, cukup di depan aja.” Seru Raka sebelum masuk ke kamarnya.  “Iya - iyaa.. ngapain juga gue masuk ke dalam kamarnya. Orang kamar kita sama semua kok modelnya. Coba aja kamarnya Zara beda, ya pasti gue masuk lah.” Kata Andika sambil tertawa.  “Iya terserah Lo dehhh.” Kata Raka lalu menutup pintu kamarnya.  Tok tok tok (suara ketukan pintu kamar Zara)  “Zaraaa.. ohh Zaraaa.” Teriak Andika sambil mengetuk pintu kamar Zara berulang kali.  “Iyaa - iyaa tunggu sebentar !!!” Teriak Zara dari dalam kamar mandi.  Zara buru - buru keluar dari kamar mandi dengan handuk di atas kepalanya karena rambutnya basah setelah keramas.  “Kenapa Andika?” Tanya Zara sambil membukakan pintu untuk Andika.  “Ohh Lo udah bangun? Gue kirain belum. Raka nyuruh gue bangunin Lo, katanya takut Lo ketiduran.” Jawab Andika. Andika masih berdiri di depan pintu kamar Zara.  “Ahahah nggak lah. Mana mungking gue ketiduran, gue tuh orangnya tepat waktu banget. Jadi kalian berdua nggak usah khawatir. Malah gue yang takut kalau kalian berdua ketiduran.” Ujar Zara.  “Hahah nggak lah, buktinya gue udah berdiri di sini dengan wajah yang sangat sangat fresh. Iya kan? Hahah.. ehh aduhh gue sampai lupa. Itu Zara, ponsel Lo nggak kenapa - kenapa kan?” Tanya Andika.  “Hah? Maksudnya kenapa - kenapa? Lo telepon gue?” Tanya Zara kembali.  “Nggak, itu Kan katanya Cindy udah tau kontak Lo yah?” Tanya Andika.  “Ehh iya.. aduhh, tadi ada pesannya yang masuk, tapi gue nggak tau isinya apa. Gue bacanya samar - samar karena gue ngantuk banget tadi.” Ucap Zara lalu berlari masuk ke dalam kamarnya mencari ponselnya. “Ehh handphone gue mati Andika, lobet deh kayaknya. Gimana dong ini? Cindy marah nggak yah?” Tanya Zara.  “Oh haha ya udah biarin aja, kalau marah juga nggak papa sih.” Ucap Andika.  “Hmm.. yaudah kalau gitu gue siap - siap dulu yahh. Lo masuk aja kalau mau.” Ucap Zara.  “Iya deh, kayaknya Lo punya makanan enak tuh.”  Andika lupa kalau Raka sudah menitip pesan kalau Andika tidak boleh masuk ke kamar Zara.  ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN